Oleh : Arief Maulana

Mungkin sudah menjadi bawaan biologis kita sebagai manusia, untuk selalu memberikan sebuah penilaian atas sesuatu yang baru kita lihat. Belum apa-apa sudah memberikan penilaian, belum apa-apa sudah membentuk prasangka suka-suka kita. Tapi apa benar yang terlihat seperti yang kita prasangkakan? Apa benar yang menurut pandangan kita (biasanya selalu benar) adalah benar adanya seperti itu? Bagaimana kalau sebaliknya, justru kita yang salah.

Tidak ada yang benar-benar tahu, siapa yang paling benar dan siapa yang paling salah. Hakim pengadilan saja untuk memutuskan seseorang salah harus melihat banyak faktor, mulai dari : bukti-bukti tindakan kejahatan, alasan kenapa terdakwa melakukan itu semua (terkait dengan seberapa berat vonis hukuman dijatuhkan), dsb. Barulah kemudian vonis dijatuhkan. Apalagi kita. Punya apa kita untuk menilai dan menghakimi seseorang?

Selain itu, sungguh, menghakimi kehidupan orang lain itu sebuah pekerjaan sia-sia yang membuang waktu berharga Anda. Apa untungnya bagi Anda? Toh tidak akan mengubah kehidupan dia. Ingat, Anda tidak bertanggung jawab atas kehidupan orang lain, begitu pula dengan orang lain yang tidak bertanggung jawab atas kehidupan Anda. Jadi untuk apa kemudian membuang-buang waktu percuma.

Rentetan selanjutnya yang menjadi efek buruk berikutnya adalah… berprasangka negatif. Kalau prasangka kita terhadap seseorang sudah negatif, maka hal benar apapun yang dilakukan oleh orang lain akan selalu tampak salah di mata kita. Ujung-ujungnya kita akan terjebak dalam perdebatan argumen membela ego, bukan lagi argumen untuk membela hal yang dianggap benar. Semua karena di pikira kita sudah tertanam, “Saya benar, Anda salah“.

Daripada menghabiskan waktu untuk kehidupan orang lain yang nyata-nyata tidak berdampak pada kehidupan Anda, lebih baik fokus pada kehidupan diri sendiri. Tingkatkan kualitas hidup. Jelas dengan begitu, Anda mengambil langkah langsung untuk masa depan yang lebih baik.

Berhenti KEPO ya sama hidup orang, mendingan crosscheck sama hidup sendiri dan evaluasi. Plus, jangan lupa banyak-banyak bersyukur. Karena seadil-adilnya manusia dalam menghakimi, tidak akan bisa adil 100%. Semoga bermanfaat.

Yakin Anda Hakim Yang Adil ?
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us
Tagged on:             

4 thoughts on “Yakin Anda Hakim Yang Adil ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 470,417 bad guys.