Oleh : Arief Maulana

Apakah Kita Layak Sukses
Terima kasih untuk rekan-rekan yang sudah menjawab pertanyaan sederhana saya di posting sebelumnya. Well, sekedar pengen tahu aja gimana jawaban Anda semua. Pertanyaan itu muncul setelah saya melihat salah satu episode Mario Teguh Golden Ways edisi “Who Am I”.
Episode itu mengingatkan saya pada 2 posting lama : “Visi, Pemimpin Anda Menuju Sukses” dan “Berkat Tuhan Datang Tepat Pada Waktunya”.
Hampir semua orang ketika ditanya “Kenapa Harus Saya Yang Jadi Orang Sukses”, selalu memberikan jawaban bahwa dirinya layak untuk menjadi orang sukses. Layak karena memiliki kapasitas diri yang oke sebagai efek dari pengembangan diri yang senantiasa dilakukannya. Tapi, maaf itu adalah penilaian diri kita sendiri. Pernahkah kita berpikir bagaimana Tuhan menilai kelayakan kita untuk menjadi orang sukses? Apakah visi sukses kita layak dimata Tuhan hingga pada akhirnya Dia memiliki alasan untuk mewujudkan itu semua?
Mari kita coba merenung sedikit lewat perumpamaan sederhana ini :
Read more »
Oleh : Arief Maulana
Sama seperti postingan “Kenapa Harus Saya“, kali ini saya ingin memberikan pertanyaan refleksi lagi untuk Anda semua. Jawab dengan jujur yah? Karena kalau Anda bohong bukan saya yang rugi. Dan dalam hal ini tidak ada jawaban salah atau pun benar.
Pertanyaannya adalah… Read more »
Oleh : Arief Maulana

berbagi tidak pernah rugi
Rekan-rekan, jujur saja saya pernah terjebak dalam satu paradigma yang salah mengenai konsep berbagi. Saya share disini agar Anda tidak mengalami hal yang sama.
Flash back ke masa lalu, dimana saya masih aktif di bisnis konvensional modern berbasis network alias MLM dan sering mendapatkan income yang terbilang cukup besar. Saat itu, gaya hidup saya sedikit berubah jadi agak-agak ekslusif gitu.
Maklumlah disamping uang saku rutin yang diberikan orang tua, bonus-bonus yang banyak lumayan untuk menaikkan standar kualitas apa-apa yang saya miliki. Jelas ini menimbulkan sedikit perbedaan yang muncul dengan sendirinya, jika dibandingkan dengan teman-teman seangkatan.
Saat itu, adik-adik saya (Firman dan Wulan) seringkali meminta untuk ditraktir. Entah itu traktiran makan ataupun traktiran nonton film di Cinema 21. Sayangnya setiap kali mereka meminta, saya selalu menolaknya. Terdengar kejam dan pelit yah! Read more »
Oleh : Arief Maulana

Formula 1
Sebagian dari Anda mungkin sudah mengetahui mungkin saja juga tidak, bahwa dulu saya pernah berkecimpung di MLM.
Walau sekarang sudah tidak aktif, saya bersyukur karena disanalah pendidikan bisnis pertama yang langsung menuntut diri untuk terjun langsung ke lapangan dan menghadapi konsumen (prospek).
Nah, sering kali ketika ikut dalam meeting umum : OPP (Open Plan Presentation), NDT (Network Developtment Training) ataupun meeting ekslusif leader tertentu : EM (Exlusive Meeting), ada sejumlah pernyataan yang seringkali diulangi oleh pembicaranya.
Seperti kata Pak Tung Desem Waringin, perulangan sesuatu akan membuatnya nancep di benak kita. Pernyataan mana yang saya maksud? Read more »
Oleh : Arief Maulana
Capucino adalah salah satu yang paling saya sukai dari sekian banyak jenis kopi. Awal saya mengenal capucino adalah awal kuliah dulu. Waktu itu, saya ada ritual setiap kamis malam jum’at yang menuntut harus begadang semalam suntuk sampai pagi. Ritual mengerjakan Laporan Praktikum Fisika Dasar. Sebuah laporan yang bisa sampai lebih dari 20 lembar A4, dan semuanya harus ditulis tangan. Sejak saat itu saya jadi senang minum capucino, meski tidak setiap hari karena ada yang bilang ngga baik juga kalau terlalu sering minum kopi.
Nah tahukah rekan-rekan, ternyata dari capucino pun kita bisa belajar mengenai proses pencapaian sebuah kesuksesan. Apapun itu goalnya, mau goal besar atau kecil sama saja. Toh letak bedanya hanya di tindakannya. Goal besar, ya tindakan besar. Mari kita explore capucinonya.
Read more »