Posts tagged: sekolah kehidupan

Rendah Hati, Kunci Belajar Dari Sekolah Kehidupan

Oleh : Arief Maulana

Kerendahan Hati, Kunci Belajar Dari Sekolah Kehidupan

Kerendahan Hati

Seperti biasa, sebelum melakukan rutinitas “Sunday Reflection” untuk menyambut Senin dengan penuh semangat, saya menyempatkan diri untuk menonton tayangan Mario Teguh Golden Ways. Salah satu tayangan favorit yang cukup membantu untuk tetap berada di dalam kerangka berpikir dan bertindak positif serta memompa motivasi dalam mengejar impian demi impian yang ada dream book saya.

Agak telat sebenarnya karena 30 menit sebelumnya saya habiskan untuk keluar makan malam bersama teman-teman 1 kontrakan. Tapi daripada tidak sama sekali. Toh, masih ada hal-hal positif yang saya dapatkan. Di sela-sela menonton MTGW, saya juga membuka twitter. Apa yang bisa saya sharing ya saya tweet. Sedikit berbagi dengan follower yang mungkin ingin menonton tapi tidak bisa karena suatu hal.

Read more »

Sekolah Hidup Di Gunung Merapi

Oleh : Harum Sekartaji

KELAS BERSYUKUR

“Penak kok mbak ning kene. Nek mbengi yo anget.Ora popo…sing penting sehat, donga dinonga nggih.” Sebait ucapan simbah itu kira-kira mengalir demikian, sambil merangkul bahu saya dengan erat. Keikhlasan dan kesederhaan. Hanya itu yang terlintas ketika mendengar tuturnya. Bagaimana tidak? ruang kelas di lereng dingin merapi yang disulap menjadi kamar tidur bersama itu hanya beralas tikar. tetap, beliau mensyukurinya dengan mengatakan sebagai ‘tempat yang enak dan hangat’.   Read more »

Berguru Pada Bakul Mie Ayam

Oleh : Bang Dje

Pada Mei 2000 saya merantau ke Jakarta. Semula saya tinggal di Condet. Hanya enam bulan di sana saya pindah ke Tanah Abang. Di sinilah saya mengenal seorang bakul mie ayam. Sebut saja namanya Arief.

Arief lulusan Madrasah Tsanawiyah di Kebumen, Jawa Tengah. Dia sudah menikah tetapi belum memiliki anak. Di Jakarta dia mengajar mengaji kepada anak-anak kecil di musholla dekat rumah. Kebetulan rumah kontrakan kami persis berhadap-hadapan.

Awalnya adalah Satu

Arief mencari nafkah dengan berjualan mie ayam. Dia memiliki satu gerobag. Pagi hari sebelum adzan shubuh berkumandang dia telah mengayuh sepedanya ke pasar untuk berbelanja berbagai kebutuhan. Saat bertemu di masjid untuk shalat shubuh biasanya dia telah selesai berbelanja. Setelah itu kerja keras dimulai.

Mengolah ayam, membuat kuah, membagi mie, menyiapkan kompor dan menata semuanya di gerobag. Tidak ketinggalan berbagai peralatan seperti mangkok, sumpit (ini temennya mie), sendok garpu, beberapa buah gelas dan beberapa botol air putih untuk pelanggan yang minta minum (gratis). Ada pula yang tidak boleh tertinggal yaitu kecap, saus, sambal dan acar. Sekitar jam delapan biasanya semua telah siap. Sesekali saya memesan untuk sarapan (ssst… tentu saja saya selalu dapat porsi lebih banyak).

Read more »

WordPress Theme Design