Oleh : Arief Maulana
Awal saya mendengar konsepnya, sedikit kaget juga. Pasalnya Nasi Goreng Cinta adalah bisnis frenchise nasi goreng, namun foundernya membalut dalam menggunakan strategi affiliate marketing untuk memasarkan lisensi frenchisenya.
Karena jenis produknya sedikit berbeda dan ada semacam penggabungan konsep frenchise dalam affiliate marketing, akhirnya saya putuskan untuk melihat seperti apa produk-produk yang ditawarkan di dalam website utama NasiGorengCinta.com itu sendiri. Saya coba kupas sekilas disini.
Produk utama dalam website itu pada dasarnya adalah bertemakan “Bagaimana Mengumpulkan Modal” yang nantinya bisa digunakan untuk membeli Lisensi Frenchise Nasi Goreng Cinta ini sendiri. Jadi harga Rp.200.000,- itu harga panduan bagaimana Anda bisa mengumpulkan modal, bukan harga lisensi Frenchisenya. Harga Frenchisenya sih 30 Juta.
Read more »
Oleh : Arief Maulana

Jam Tangan Seiko
Minggu lalu, saya mengantarkan orang tua pergi ke Tunjungan Plaza 1 Surabaya. Niat keduanya sih mau cari jam tangan baru untuk ibu dan juga ayah. Kenapa ke TP? Kata ayah sih karena beliau pernah liat ada iklan di koran yang merekomendasikan beberapa toko jam tangan terbaik, dan itu ada di TP. Sayangnya nama toko yang ada di koran, ayah lupakan. Alhasil kami bertiga niat dari rumah untuk mencari seketemunya aja di TP. Mana yang oke ya itu nanti yang akan kita beli jam tangannya.
Kita sampai di TP sekitar jam 11. Belum banyak counter yang buka memang. Hingga akhirnya penelusuran mengantarkan saya ke TP 1 lt.2, Counter Milenium. Waktu kita datang, toko itu kebetulan baru dibuka oleh salah satu penjaganya, Ko Adi.
Sementara orang tua saya sibuk memilih jam, saya cukup mengamati proses tawar menawar dan transaksi jual beli yang terjadi. Saya buka notes blackberry dan mulai mencatat point-point pembelajaran bisnis untuk hari itu. Guru kehidupan sedang menerangkan pelajaran bisnis.
Oleh : Arief Maulana
Makin tinggi levelnya, makin tinggi incomenya
Berbicara soal bisnis memang tidak ada habisnya. Karena suka atau tidak suka inilah salah satu jalan untuk meraih kebebasan financial, kebebasan waktu, kebebasan pikiran, dan kebebasan batin.
Saya memang bukan seorang marketer sukses sekelas Hermawan Kertajaya, apalagi pebisnis top sekelas Donald Trump. Namun dari pengalaman dan perjalanan singkat dalam memulai dan mempelajari dunia bisnis yang notabene sangat tidak ada hubungannya dengan jurusan tempat saya kuliah, saya mencoba membagi level pebisnis online menjadi 3. Read more »
Oleh : Bang Dje
Pada Mei 2000 saya merantau ke Jakarta. Semula saya tinggal di Condet. Hanya enam bulan di sana saya pindah ke Tanah Abang. Di sinilah saya mengenal seorang bakul mie ayam. Sebut saja namanya Arief.
Arief lulusan Madrasah Tsanawiyah di Kebumen, Jawa Tengah. Dia sudah menikah tetapi belum memiliki anak. Di Jakarta dia mengajar mengaji kepada anak-anak kecil di musholla dekat rumah. Kebetulan rumah kontrakan kami persis berhadap-hadapan.
Awalnya adalah Satu
Arief mencari nafkah dengan berjualan mie ayam. Dia memiliki satu gerobag. Pagi hari sebelum adzan shubuh berkumandang dia telah mengayuh sepedanya ke pasar untuk berbelanja berbagai kebutuhan. Saat bertemu di masjid untuk shalat shubuh biasanya dia telah selesai berbelanja. Setelah itu kerja keras dimulai.
Mengolah ayam, membuat kuah, membagi mie, menyiapkan kompor dan menata semuanya di gerobag. Tidak ketinggalan berbagai peralatan seperti mangkok, sumpit (ini temennya mie), sendok garpu, beberapa buah gelas dan beberapa botol air putih untuk pelanggan yang minta minum (gratis). Ada pula yang tidak boleh tertinggal yaitu kecap, saus, sambal dan acar. Sekitar jam delapan biasanya semua telah siap. Sesekali saya memesan untuk sarapan (ssst… tentu saja saya selalu dapat porsi lebih banyak).
Read more »
Oleh : Arief Maulana
Menjual juga butuh integritas. Rekan-rekan beberapa waktu yang lalu, ketika kebetulan YM sedang saya on-kan (biasanya sering off) ada seseorang tiba-tiba menyapa dan menanyakan bagaimana kabar bisnis saya. Ya, saya jawab aja ‘Alhamdulillah baik’.
Tidak selang beberapa percakapan, orang ini lalu kemudian menawarkan sebuah produk berupa plugin wordpress. Katanya sih, kebetulan lagi ada diskon dari harga aslinya USD 149. Sebenarnya, saya pribadi sedikit tahu mengenai plugin yang dimaksud sales tadi dan cara kerja plugin tersebut seperti apa.
Hanya saja, karena kapasitas pengetahuan terbatas (cuma general aja) ya saya tanya lagi agak detil ke orang ini. Kebetulan juga waktu sesi chat berlangsung koneksi modem internet saya sedang down, sehingga online YM dari BB. Pun lagi-lagi karena cuaca sedang buruk, untuk membuka situs via browser opera mini dari BB agak berat.
Berbekal alasan itulah saya minta yang bersangkutan untuk memberikan penjelasan detil. Alih-alih mencoba menjelaskan, orang ini malah meminta saya untuk googling. Padahal sudah saya beritahu sedang tidak bisa browsing waktu itu.
Ini memancing saya untuk kemudian mempertanyakan apakah produk itu sudah pernah dia coba sendiri atau belum. Dan jawabannya adalah… ‘Yah, mas maaf saya juga belum coba, baru ditawarin.’ Berkaca dari kasus ini, kalau Anda jadi saya bagaimana sikap Anda? Kira-kira bakal beli produknya apa ngga?
Read more »