Oleh : Arief Maulana

Artikel ini seharusnya diposting 1 minggu yang lalu. Entah kenapa, urusan kerja praktek dan tugas akhir di kampus membuat saya sedikit lengah dan lupa. Untunglah setelah membaca beberap kisah Hermes For Charity ingatan itu kembali. Tanpa panjang kata, langsung saja saya ketik dan posting. Tentu saja ini masih erat hubungannya dengan beberapa bencana yang menimpa dan menguji kesabaran serta ketabahan bangsa kita akhir-akhir ini.

Rabu siang menjelang sore waktu itu (7 Oktober 2009), ringtone Traffic by DJ Tiesto tiba-tiba mengusik ketenangan kantor tempat saya praktek kerja. Yah, apa boleh buat saya lupa menyilent HP. Sebuah SMS masuk dari ayah saya. Saya liat sepintas, SMS itu adalah Forward Message yang isinya (singkatan saya panjangkan biar lebih jelas) :

Subhanallah… gempa di Tasik 15:04, gempa di Padang 17:16, gempa susulan jam 17:58. Esoknya gempa di Jambi jam 8:52. Coba lihat Al-Qur’an terjemahan. Nomor surat dan ayat sesuai jam tersebut. Sebarkan ke teman-teman yang sayang negeri ini. Kiamat sudah dekat, mari kita sama-sama untuk bertaubat.

Mungkin beberapa dari rekan-rekan muslim sudah mendapatkan SMS ini, mungkin juga baru tahu lewat posting ini. Well, nanti coba kita cek satu persatu apa bunyi ayat dan surat dimaksud dalam Kitab Suci Al-Qur’an.

Yang jelas SMS ini membuat saya tak sabar ingin lekas tiba di rumah pada hari itu. Selain untuk mengecek apa bunyi ayat Al-Qur’an dimaksud, saya sudah bisa menduga selepas maghrib pasti akan ada diskusi kecil-kecilan sebagaimana kebiasaan keluarga kami.

Oke, kita cek di terjemahan Al-Qur’an :

15:04 = Al Hijr (Batu Gunung) : 4 – Dan Kami tiada membinasakan (penduduk) suatu negeri melainkan ada baginya ketentuan yang ditetapkan.

17:16 = Al Israa’ (Perjalanan Malam) : 16 – Dan apabila Kami menghendaki untuk membinasakan suatu negeri, Kami menyuruh orang-orang yang hidup mewah (supaya taat kepada Allah) lalu mereka berbuat kedurhakaan dalam negeri itu, maka benarlah berlaku atasnya ketentuan Allah (siksa-Nya), lalu Kami menghancurkan sehancur-hancurnya*.

* : Kehancuran sesuatu bangsa antara lain disebabkan kedurhakaan para pemimpinnya.

17:58 = Al Israa’ (Perjalanan Malam) : 58 – Dan tidak ada suatu negeri (yang durhaka penduduknya) melainkan Kami yang membinasakannya sebelum hari Kiamat, atau mengazabnya dengan azab yang keras. Adalah yang demikian itu tertulis di dalam Kitab*.

* : Semua ketentuan Allah telah ditulis di Lauhul Mahfuzh.

08:52 = Al Anfaal (Rampasan Perang) : 52 – (keadaannya) sama dengan keluarga Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya, mereka ingkar dengan ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi keras siksanya.

Terlepas benar tidaknya ketepatan waktu terjadinya, tidak ada salahnya jika kita sekedar mencari tahu apa maksud / pesan yang ingin disampaikan. Well, dalam diskusi kecil tersebut saya tidak banyak bicara justru malah banyak bertanya. Dan hasil diskusi kami kurang lebih sebagai berikut.

Segala Ketentuan Atas Manusia, Bumi, Langit dan Seisinya Telah Tertulis Di Lauhul Mahfuzh

Negeri kita memang berada di daerah jalur gempa. Potensi gempa ataupun bencana lain sebagai efek dari gempa / pergeseran lempeng bumi besar sekali. Fakta ini tentu bukan terjadi seketika  atau saat ini, melainkan sejak dulu Indonesia memang tetap di daerah berpotensi gempa. Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa baru sekarang bencana-bencana itu tiba?

Pada dasarnya semua sudah tertulis. Apa yang akan terjadi sudah direncanakan dan tinggal melaksanakan saja. Ngeri memang, tapi itulah yang sedang terjadi saat ini. Bencana tidak bisa kita hindari. Yang bisa adalah mengurangi dampaknya.

Sebagai contoh, Ayah dan Ibu saya, pernah beberapa kali mengalami kecelakaan sepeda motor. Padahal mereka sudah safety riding, tapi ada saja kejadiannya. Tapi yang disyukuri adalah, tidak sampai berakibat fatal. Ini menjadi satu bukti tersendiri bahwa memang sudah waktunya kena musibah. Waktu tidak bisa diubah, yang bisa adalah dampak atau efeknya.

Bila memang efek dari bencana itu berujung pada kematian, maka sesungguhnya memang sudah tiba waktunya bagi mereka “yang terpilih” untuk dipanggil menghadap kepada Nya. Bukankah bila tiba waktunya, maka maut tidak dapat dimundurkan walau sepersekian detik. Dan ini jangan disamakan kasusnya dengan orang yang mati bunuh diri (karena keputusannya sendiri).

Maka dari itu, yang kita bisa lakukan adalah berusaha senantiasa untuk mengingatNya kapanpun dan dimanapun kita berada, dalam setiap tindakan. Hingga jika memang sudah tiba waktunya kita menerima musibah, dampaknya paling tidak bisa dikurangi. Dan jika harus mati dalam musibah tersebut, paling tidak kita menghadap Allah dalam keadaan mengingatNya.

Pemimpin Yang Dzolim, Salah Satu Sebab Dicabutnya Berkat dan Rahmat Suatu Negeri

Tidak bisa dipungkiri lagi, begitu banyak pemimpin yang dzolim di negeri ini. Alih-alih mengemban amanah dengan baik, mereka malah menggunakan wewenangnya dengan seenaknya. Lihat saja, bagaimana korupsi menjamur hampir di setiap instansi. Makin tinggi jabatan, makin besar saja nilai yang dikorup. Maka jangan salahkan bila berkah yang ada pada negeri ini, perlahan dicabut.

Negeri kita adalah negeri yang kaya, tapi kenapa kita tidak bisa menikmatinya? Di luar alasan rasional, sesungguhnya berkah negeri ini tengah dicabut. Tidak lagi seperti dahulu kala.

Kaya, Miskin Semua Sama-Sama Rata

Sebelum musibah atau bencana melanda, manusia boleh sombong dengan kekayaan yang dimilikinya. Berlomba-lomba memperbesar jurang kesenjangan sosial tanpa ada perimbangan untuk menolong yang miskin.

Jika yang miskin diuji dengan kesusahan hidupnya, yang kaya justru diuji dengan sifat pelit dan enggan berbagi. Malah kadang bagi yang kaya ujiannya justru lebih berat, karena sifatnya lebih kepada hal-hal yang menyenangkan dan membuat terlena akan Tuhannya.

Kesombongan hanya milikNya, yang memiliki semuanya. Alam dan isinya, manusia tidak ada apa-apanya. Maka, demi timbulnya satu rasa dan meleburkan kesenjangan, bencana meratakan semuanya. Tua muda, kaya miskin, sehat sakit, semua jadi satu dalam tenda penampungan. Rata.

Bagi yang  belum, kenapa harus menunggu diratakan? Berbagilah selagi sempat. Paling tidak mungkin doa dari mereka yang kita bantu bisa meringankan kita kelak ketika tiba waktu / giliran kita yang terkena musibah (doa fakir dan miskin tanpa hijab, langsung didengar oleh Allah).

1 Bencana Beda Nilai, Beda Rasa, Beda Arti

Jika sudah dicabut berkah atas suatu negeri, maka ketika diturunkan adzab atas penduduk negeri itu yang kena tidak akan pilih-pilih. Semua kena, hanya saja akan memiliki arti yang berbeda bagi setiap manusia.

Bencana yang datang boleh jadi adalah cobaan (bagi yang dekat dengan Tuhannya). Cobaan yang sifatnya mencubit dan mengingatkan kembali untuk lebih dekat lagi kepadanya. Artinya Allah masih sayang dengan orang tersebut hingga memberi selentikan agar kembali dekat kepadanya.

Bencana juga bisa jadi adalah teguran keras. Karena kita yang mengerti akan kebenaran yang berdasar pada agama dan keyakinan hanya diam saja melihat ketidakbenaran merajalela dimana-mana. Kita lebih memilih acuh dan tidak peduli ketimbang berusaha mengingatkan saudara-saudara kita yang telah salah memilih jalan. Ingat, dalam satu sistem salah satu tidak beroperasi dengan baik maka rusaklah keseluruhan sistem. Yang baik juga akan kena dampaknya.

Tidak bisa dibenarkan sepenuhnya bila kita berasumsi, mereka yang salah jalan biarlah langsung berurusan dengan Tuhannya. Karena kita juga tidak tahu, boleh jadi mereka yang tersesat adalah akibat dari sebuah ketidaktahuan. Maka kita yang tahu, sudah sewajarnya memberi tahu dan mengingatkan. Jadi mari saling mengingatkan.

Bencana adalah adzab, hanya bagi mereka yang jauh dari Tuhannya. Mereka yang sudah tidak malu lagi bahkan bangga bergelimang dengan segala dosa yang dilakukan. Yah, wajarlah kalau Allah bosan lantas kemudian memberikan kemudahan bagi Sang Maut, Izrail, untuk mencabut nyawa secara kolektif.

Saya kira itu pendapat dan hasil diskusi kami. Beda orang beda pemikiran, beda pendapat serta beda penafsiran. Mungkin rekan-rekan bisa setuju bisa juga tidak. Tapi yang pasti makin ke depan, tantangan makin berat. Zaman makin rusak dan makin mendekati ke akhir. Setiap yang memiliki awal, pasti ada akhirnya. Silahkan bila rekan-rekan punya pendapat…

Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat dan saling mengingatkan kita satu sama lain.

Roda zaman menggilas kita, terseret tertatih-tatih. Sumbu hidup terus diburu, berpacu dengan waktu. Tak ada yang dapat menolong, selain yang disana. Dialah… Tuhan! (Ebiet G. Ade)

Salam Sukses,
Photobucket
space

Semua Sudah Tertulis Disana, Tinggal Eksekusi Saja
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us
Tagged on:                 

25 thoughts on “Semua Sudah Tertulis Disana, Tinggal Eksekusi Saja

    1. @Mau pintar, Pakai Komputer, ingat… pemimpin juga dipilih oleh rakyat. Maka rakyat yang tidak mau tau ketika pemilihan sang pemimpin walau sedikit, ikut mensukseskan terpilihnya pemimpin itu…

      So, dont be Golput.

  • Saya sudah memeriksa dan sedikit mengkaji masalah ini. Saya juga sudah membaca beberapa komentar.
    Memang ada beberapa pendapat yang sebagian saling berseberangan.

    Misalnya ada yang tidak terima bila saudara kita yang terkena musibah dikatakan sebagai mendapat adzab. Dia menganggap hal ini tidak layak dilakukan karena mereka sedang dalam kesusahan malah kita menjatuhkan vonis yang melukai hati mereka dan bisa menambah kesedihan mereka.

    Di sisi lain ada yang mengatakan bahwa mereka memang berhak untuk mengalami musibah itu karena kemungkaran dan kemaksiatan yang (mungkin) telah mereka lakukan.

    Bagi saya pribadi setiap masalah yang menimpa, akan saya kembalikan kepada diri sendiri alias mawas diri.
    Di sini saya menawarkan dua perspektif dari dua tempat.
    1. Pandangan bagi mereka yang sedang mengalami cobaan/musibah
    Sebagian orang menngatakan bahwa ini adalah hasil akhir dari serentetan peristiwa yang telah terjadi. Ini adalah adzab dari dosa-dosa yang telah menumpuk entah dilakukan oleh pemimpinnya atau rakyatnya. Coba kita hapus kalimat-kalimat ini dan kita balik sudut pandangnya.

    Musibah ini bukan akhir melainkan awal dari perjalanan menuju sukses. Bencana ini adalah kesempatan untuk mulai dengan cara yang lebih baik, melewati jalur yang lebih baik dan mencapai hasil akhir yang lebih baik. Ini saatnya untuk menyatukan tekad dan bergerak maju.

    Orang boleh bilang ini tidak mudah. Orang boleh bilang ini tidak ringan. Dan memang butuh waktu yang panjang. Tapi jangan ada yang bilang ini tidak mungkin.

    2. Pandangan bagi mereka yang (sedang) di titik aman
    Ini adalah kesempatan bagi kita untuk mawas diri. Jangan kita merasa suci. Jangan kita menganggap bahwa yang terkena bencana adalah orang-orang berdosa sedang kita bersih dari noda. Bisa jadi kita hanya menunggu jadwal. Pertanyaan berikutnya adalah apa yang telah kita persiapkan bila hari itu tiba.

    Yang lebih mengerikan adalah bila ternyata ini adalah kenikmatan yang dipercepat. Allah membiarkan dosa kita merajalela dan menyiapkan adzab yang dahsyat di akhirat. Sedang Allah menjadikan bencana itu sebagai penyuci untuk mencuci dosa mereka yang terkena musibah dan menyiapkan kenikmatan yang kekal di surga.
    Mau pilih yang mana ?

    1. @Bang Dje, terima kasih atas masukan dan tambahannya Bang Dje… benar-benar berharga dan bisa dicermati untuk saya pribadi dan rekan-rekan pembaca lainnya.

    1. @mashengky.com, Wah saya menunggu itu mas. Kali yang kristiani ada SMS mirip-mirip gitu, trus bisa dicocokkan di Injil. Hehehe…

    1. @rudy azhar, betul. Jangan merasa diri benar. Walaupun kita di track yg benar, tapi kalau membiarkan saudara kita berjalan di jalur yg salah, maka sama saja.

      Itulah mengapa perlu saling mengingatkan satu sama lain…

  • Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya…

    @Bang Dje Betul Bang, setiap kejadian kita ambil hikmahnya saja dan kita kembalikan pada diri kita sendiri untuk dapat Instropeksi diri kita masing2 dan janganlah mudah untuk menyalahi seseorang hanya karena suatu kebetulan saja… :sip:

    1. @harto, yap. Pembenaran diri dan menyalahkan orang lain bisa jadi karena kita belum mengalami sendiri apa yg mereka alami.

      Boleh jadi ketika kita yg berada di posisi mereka, beda pula pandangan kita…

  • Semua harus diambil hikmahnya, entah kebetulan atau apa, itu semua peringatan bagi kita semua untuk senantiasa ingat dan bertindak sesuai apa yang Allah kehendaki. Jika Allah berkehendak semua pasti akan terjadi.

    1. @SUGIANA, inget aja… kiamat makin deket. Sekarang kalau macem-macem “hukum karmapala” cepet banget terjadinya.

  • Kita ambil hikmahnya, semua untuk mengingatkan kita. Ini mengingatkan kepada kita bahwa ada sesuatu yang belum benar dengan kita.

    1. @petani, betul. Jangan cuma yg di daerah bencana saja yg direkom introspeksi. Kita yg di luar juga perlu… siapa tahu kita hanya menunggu giliran saja. :mikir:

  • inilah saat kesabaran kita diuji,dan ini adalah peringatan tentang sgla kekuasaan-Nya.jika Allah sdh berkehendak maka tdK akan ada yg bisa menghlngi-Nya.g usah saling lempar sp yg salah,jika kita dikalahkan oleh kesulitan maka bilanglah HASBIALLAH WA NE’MA WAKIL…

    1. @sari, sikap saling lempar hanya menunjukkan ketidakdewasaan kita. Gimana kabar kuliah onlinenya mbak? Apa sudah menemukan…?

    1. @Lendra Andrian, mungkin Allah beserta para ajudannya sudah bosan mas. Peringatan dan batas-batas agama sudah tidak diindahkan lagi.

      JAdi… pake tindakan nyata. Maka berdiskolah bumi ini…

  • Wah…kira – kira itu patokan waktu mana yang digunakan ya…kalau di daerah saya lebih cepat 1 jam…

    Tapi ya…itulah rencanaNya..kita hanya bisa berikhtiar.

    1. @Kenali Dan Kunjungi Objek Wisata Di Pandeglang, terlepas dari ketepatan waktu kejadiannya, paling ngga kita masih bisa ambil pelajarannya.

      Apalagi setelah di check ke Al-Qur’an, makin membenarkan alasan-alasan kenapa bencana itu diturunkan…

  • hadu”,,:hiks:
    bener banget thu mas,,,, aku sampe skrang takud ama hal itu,,, ga mungkin kan tu “alah cm kebetulan”,, iya kan?? lug sudah sampe Allah marah, adzab langsung menimpa, semoga semua umat Islam segera sadar…:nangis::nangis::hiks::hiks:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 470,551 bad guys.