Oleh : Harum Sekartaji

KELAS BERSYUKUR

“Penak kok mbak ning kene. Nek mbengi yo anget.Ora popo…sing penting sehat, donga dinonga nggih.” Sebait ucapan simbah itu kira-kira mengalir demikian, sambil merangkul bahu saya dengan erat. Keikhlasan dan kesederhaan. Hanya itu yang terlintas ketika mendengar tuturnya. Bagaimana tidak? ruang kelas di lereng dingin merapi yang disulap menjadi kamar tidur bersama itu hanya beralas tikar. tetap, beliau mensyukurinya dengan mengatakan sebagai ‘tempat yang enak dan hangat’.  

KELAS KERENDAHAN HATI

Kulo mboten gadhah arto mbak, kata seorang ibu yang sedang menggendong anaknya ketika teman saya berbagi sebungkus biskuit. Sang teman bingung. Tapi tiba-tiba tersadar dan menjawab “Ini untuk si adik bu, saya gak jual kok.” Yup, dalam kondisi cukup kekurangan di pengungsian, hidup berdesakan di gedung sekolah, ibu itu tetaplah seorang warga lereng merapi yang rendah hati dan tahu diri bahwa ia harus berusaha sebelum mendapatkan sesuatu, bukan sekadar menerima pemberian orang.

KELAS KESOPANAN

Seorang anak lelaki dengan asiknya menyusun kepingan-kepingan lego yang saya bagikan menjadi sebuah mobil mungil. Dengan wajah berbinar si anak memainkan mobil buatannya seakan lantai dingin balai desa itu adalah jalan raya yang mulus. “breemmm bremmm ciiiit…” kata-kata ajaib keluar dari mulutnya. Puas bermain, dia melepas mobil dan hasil karya lain menjadi kepingan lego kembali. Memasukkannya ke dalam plastik, dan berlari ke arah saya, “Mbak niki mbak…mpun rampung dolanan.” Anak sekecil itu, tahu bahwa apa yang bukan miliknya harus dikembalikan. Wajahnya kembali bersinar ketika saya katakan bahwa semua mainan yang kami bawa itu tidak akan kami bawa kembali pulang.

KELAS KEJUJURAN

Oke…ketua kelompok tolong membagi bukunya dengan adil ya. satu orang dapat dua,” kata teman saya kepada anak-anak dalam sebuah acara bermain bersama di sebuah posko di muntilan. Tak lama anak perempuan itu maju membawa satu buku dan menyerahkannya. “Lho ini kenapa dik?”, tanya teman saya. “Sisa satu mbak, saya kembalikan.” yup, sisa satu buku itu bisa saja dia simpan sendiri. Tapi tidak, dia tahu bahwa kejujuran lebih penting.

KELAS NJAWANI

“Yo nek wong sing ora paham kearifan lokal ning kene ki pancen rodo angel nrimo artine loyalitas lan spiritualitas versi jowo. Ora ono hubungane ro mistik-mistikan, ning iki masalah prinsip. makane ha mbok awakmu kerjo karo londo-londo kae yo ojo nganti lali tetep kudu njawani.” Yang terakhir ini adalah ucapan ibu saya. Selalu mengingatkan untuk tidak lupa ‘kembali’ menginjak tanah di mana saya dilahirkan, walaupun kaki sudah melangkah ke seribu tanah lainnya.

Tepat sebulan sudah. Semoga jogja tetap berhati nyaman. Semoga merapi tetap hidup di hati kita, terutama bagi ‘anak-anak kampung’ seperti saya yang tumbuh bersamanya.

Jakarta, 27 november 2010

Source : http://harumanis.multiply.com/journal/item/222

From me :

Banyak hal yang bisa kita petik dari “sekolah kehidupan” di atas. Hal-hal yang mengajarkan kita norma-norma, tidak hanya sebatas teori para guru di kelas, namun langsung pada aplikasinya. Semoga “sekolah-sekolah” seperti ini akan terus ada dan melahirkan generasi yang lebih baik kedepannya. Semoga kita bisa jadi lebih banyak bersyukur dan tidak mudah mengeluh. Dan semoga pelajaran ini mampu menginspirasi kita untuk memiliki sikap  yang lebih baik lagi. Amin…

Terima kasih Mbak Harum, untuk sharingnya yang luar biasa ini.

Muntilant, September 2009

Regards,
arief maulana
space

Sekolah Hidup Di Gunung Merapi
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us
Tagged on:         

22 thoughts on “Sekolah Hidup Di Gunung Merapi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 470,416 bad guys.