Salah Satu Cara “Membunuh” Anak Di Usia Muda

Oleh : Arief Maulana

Sudah dua tahun lebih, saya tinggal di Kota Batam. Kota yang menurut saya cukup nyaman untuk ditempati di usia produktif. Kotanya tidak terlalu padat. Jalanan lebih sering lapang daripada macet. Kalau pun ada macet, tidak lebih karena ada kendaraan mogok atau kecelakaan biasanya.

Tapi jangan salah, begini-begini fasilitas di Pulau Batam lumayan lengkap. Mall ada, bioskop ada, tempat karaoke banyak, dan segudang fasilitas hiburan lainnya. Kalau masih merasa kurang, ya tinggal nyebrang ke Singapore yang konon biaya transportasinya PP dari Batam hanya +/- Rp.300.000,- saja.

Hanya satu yang saya tidak suka di Batam. Orang tua di sini suka sekali “membunuh” anak-anaknya di usia muda. Bagaimana bisa? Dengan mengajari mereka berkendara di usia yang tidak seharusnya.

Kalau Anda berkendara di Batam, tentu sudah sering menemui anak-anak kecil yang mengendarai sepeda motor. Dari usia, sudah bisa ditebak di bawah usia yang dipersyaratkan boleh memiliki SIM C. Tidak hanya itu, mereka juga enggan menggunakan helm. Mungkin karena harga helm lebih mahal dari harga isi kepala orang tuanya. Masih kurang parah? Tenang, tidak sedikit juga yang suka ngetril di jalanan setiap sore (khususnya di daerah Marina dekat Harris Ressort).

Tidak jarang, gara-gara ulah mereka saya jadi ikut terbawa emosi. Bukan marah kepada anak-anak itu, melainkan kepada orang tuanya. Orang tua yang mengajarkan mereka mengendarai sepeda motor di usia yang menurut saya terlalu dini. Orang tua yang tidak mau tahu, bagaimana bila terjadi sesuatu yang buruk kepada anaknya lantaran mereka tidak tahu bagaimana berkendara yang baik. Giliran anaknya meninggal karena kecelakaan, nangis-nangis menyesal. Padahal para orang tua ini yang sejak awal ikut “membunuh” anaknya dengan cara tidak langsung.

# Proses Belajar Mengendarai Sepeda Motor

Ingatan saya melayang memutar memori belasan tahun yang lalu. Saat saya belum bisa mengendarai sepeda motor. Saya ingat betul, orang tua tidak mengizinkan saya mengendarai sepeda motor hingga kelas tiga SMP. Padahal di kala itu, teman-teman sebaya saya sudah banyak yang bisa. Tapi ya begitu lah, namanya juga anak kecil dengan emosi belum stabil. Teman-teman saya banyak yang berkendara dengan ngawur, mempertaruhkan nyawa mereka. Mulai dari tidak pakai helm, tidak tahu aturan rambu dan marka jalan, tidak tahu bagaimana mengambil haluan untuk belok, kebut-kebutan, dll.

Di sisi lain, jauh-jauh sebelum saya diizinkan mengendarai sepeda motor sendiri, setiap kali saya berpergian naik sepeda motor orang tua selalu mengajarkan banyak hal-hal sederhana seperti :

  • Membiasakan diri melihat kaca spion dan menyalakan lampu sein sebelum pindah lajur sehingga yang belakang tahu kita mau belok.
  • Marka-marka jalan.
  • Bagaimana mengambil haluan ketika berbelok.
  • dll.

Intinya orang tua saya mengajarkan saya hal-hal dasar yang perlu saya ketahui sebelum terjun praktek langsung mengendarai sepeda motor. Hasilnya, pada saat tiba waktunya saya diberi izin untuk mengendarai sepeda motor, saya tahu apa-apa yang harus dilakukan dan bagaimana etika berkendara di jalan raya. Mau diuji dengan segala tes untuk mendapatkan SIM C, bisa.

# Orang Tua Yang Kekanak-Kanakan

Begitu lah saya menyebut mereka. Baik itu orang tua yang mengajarkan anaknya berkendara di usia dini maupun orang tua yang mengaku dewasa tapi tidak mengerti bagaimana berkendara yang baik di jalan raya.

Mungkin karena SIM C-nya “nembak” kali ya. Tidak pakai ujian, asal bayar / menyogok polisinya, sudah bisa dapat SIM. Ujian yang semestinya menjadi standar evaluasi kelayakan untuk mendapatkan SIM dilewatkan begitu saja. Taruhan, mereka yang sudah punya SIM pasti tidak sedikit yang gagal kalau benar-benar disuruh ujian ulang untuk mendapatkan SIMnya.

Kalau orang tuanya saja begitu, tentu anaknya tidak akan jauh berbeda. Orang tuanya ngawur dalam berkendara, maka anaknya pun sama ngawurnya.

Maka dari itu, duhai para orang tua yang kebetulan membaca tulisan ini. Please, jangan “bunuh” anakmu dengan cara memberi mereka izin atau mengajari mereka naik sepeda motor sebelum waktunya.

Ajarkan bagimana etika berkendara yang baik dan benar. Ajari mereka aturan berlalu lintas agar kami semua para pemakai jalan bisa sama-sama berkendara dengan aman dan nyaman.

Tapi kalau kalian sendiri belum bisa berlalu lintas dengan baik, buruan belajar! Kalau perlu minta Polisi cabut SIM dan ujian ulang. Daripada merugikan pengguna jalan yang lain. Masih mau “membunuh” anak sendiri? :p

Leave a Reply

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 472,229 bad guys.