REVIEW ELEGIUM : Ketika Keinginan Tak Selamanya Bisa Kau Wujudkan

Novel ElegiumELEGIUM. Nama yang singkat dan keren untuk sebuah novel yang sarat dengan emosi ketika membacanya. Novel ini ditulis oleh Rianto Astono, penulis yang juga pernah saya baca karya lainnya pada sebuah buku berjudul “Salah Kaprah Memilih Asuransi“. Saya tidak menyangka Rianto bisa juga menulis sebuah novel. Karena selain debutnya sebagai penulis, saya juga mengenalnya sebagai seorang internet maketer.

Singkat cerita, ELEGIUM mengisahkan tentang seorang anak yang tengah berjuang mati-matian untuk merawat ibunya yang sedang dirundung oleh penyakit parah yang mendekatkannya pada kematian. Kisah ini mungkin akan menjadi begitu membosankan, jika saja keluarga mereka kaya raya dan berkelimpahan. Sayangnya tidak demikian. Sang ibu dan anaknya hidup dalam tipe keluarga single parent yang kondisi ekonominya pas-pasan, cukup untuk sekedar hidup dan membiayai sekolah anaknya apa adanya.

Konflik yang dihadirkan pun tidak semata-mata hanya masalah ekonomi keluarga. Sifat keras kepala sang ibu dan ketidaksabarannya dalam menjalani setiap proses penyembuhan, kerap membuat anak-anaknya berada pada posisi yang sulit. Lelah pikiran, lelah fisik, semua bercampur menjadi satu dalam setiap waktu yang bergulir menemani sang ibu. Karuan jika akhirnya ibu sembuh. Yang ada justru semakin parah dari hari ke hari. Namun bukan anak berbakti namanya, jika hal-hal seperti itu membuat sang anak menyerah begitu saja meski keadaan tidak pernah mendukung.

Meskipun alurnya agak lambat, membaca ELEGIUM kadang membuat emosi juga. Tidak terbayang rasanya jika memiliki orang tua seperti sosok ibu yang diceritakan di dalam novel. Ibu yang lebih percaya pada pengobatan alternatif ketimbang kedokteran modern, yang pada akhirnya malah memperparah keadaan. Bahkan sempat kepikiran juga, ini tokoh ibu kenapa tidak cepat mati saja. Nyebelin. Hahahahaha…

ELEGIUM juga mengingatkan saya pada celetukan orang tua saya di waktu yang silam. Orang tua saya berharap, kelak nantinya ketika tua dan menjelang tutup usia, agar tidak sakit berkepanjangan. Alasannya sederhana, agar tidak merepotkan keluarga yang merawat atau pun yang akan ditinggalkan. Dan ELEGIUM memberikan gambaran lengkap bagaimana repotnya mengurus itu semua, apalagi jika keadaan benar-benar tidak berpihak pada kita.

Rianto Astono sebagai penulis, sukses membuat saya menelpon orang tua sekedar menanyakan bagaimana keadaan dan kesehatan mereka selepas membaca ELEGIUM. Mumpung masih ada kesempatan, mumpung masih bisa berbakti, mupung masih bisa bertemu dengan mereka. Bacalah ELEGIUM maka Anda akan lebih menghargai orang tua, terutama ketika mereka masih hidup.

Cuma satu yang saya masih belum mengerti, apa alasan penulisnya menggunakan ejaan alfabet yunani sebagai judul bab. Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

  1. Assalamualaikum wr wb,
    Akhirnya terobati juga bisa ke sini lagi setalh sekian tahun entah lupa entah terlupakan, Ga nyangka juga ya Om Rianto Astono pengarang Novel juga, saya tahunya juga dia adalah seorang IM, yan sok tahu di FB aja sih om, sukses selalu deh Om Arief….
    Wasalamualaikum wr wb.

  2. memanglah kita tidak bisa mewujudkan apa yang kita inginkan, Tuhanlah yang mewujudkan. kita mah tuganya berusaha saja semampunya, semaksimalnya selebihnya serahkan sama Allah. menurutku :D

Leave a Reply

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 471,720 bad guys.