Oleh : Arief Maulana

Keterbukaan Dalam Bisnis
Keterbukaan Dalam Bisnis

Hari ini saya menghabiskan waktu pergi bersama Wulan yang kebetulan pulang karena libur di pondok pesantrennya. Paginya saya ke kampus dulu untuk mengurus Surat Keterangan Lulus, baru kemudian ke Royal Plaza untuk nonton The Last Airbender. Selesai menonton, kami mampir dulu ke Gramedia.

Sebelum masuk ke Gramedia, saya sempat melihat ada salah 1 LSM (cukup populer dan mendunia namanya), bergerak di bidang lingkungan hidup membuka stan. Tadinya sih saya ditawari mampir. Tapi nanti lah, selesai urusan di Gramedia baru saya mampir.

Seperti niat di awal, akhirnya dari Gramedia kita mampir di stand tersebut. Disana ada mas dan mbak yang menjelaskan mulai dari permasalahan lingkungan hidup hingga aktivitas LSM tersebut dalam upaya melindungi dan melestarikan lingkungan hidup, khususnya di Indonesia. Mereka memaparkan beberapa fakta yang cukup membuat saya takjub juga. Karena ada beberapa perusahaan besar yang main sikat aja dan benar-benar merusak.

Selepas presentasi, orang yang mempresentasikan mengatakan bahwa jika memang saya peduli dengan lingkungan hidup maka bisa menyatakan dukungan dengan salah satu dari 3 hal berikut :

  1. Memberikan suara dukungan dalam bentuk pengisian data dukungan.
  2. Hadir dalam setiap kegiatan LSM tersebut.
  3. Memberikan dukungan berupa donasi.

Khusus point ketiga, orang ini menjelaskan bahwa donasi bukan paksaan. Kita bisa menyumbang kapan saja kita mau, yang penting di awal adalah dukungan suara dengan mengisikan data.

Form pengisian dibagikan dan saya pun mengisinya. Awalnya tidak ada masalah, hingga sampai pada bagian data rekening bank. Saya sedikit curiga dan bertanya, ini untuk apa? Jawab mereka itu adalah untuk data saja, sehingga ketika suatu saat saya memberikan donasi tinggal transfer aja karena sudah ada di database.

Perasaan saya ngga enak. Tetap saya isi dengan mengacak 3 digit terakhir. Hingga akhirnya sampai di bagian tanda tangan, dimana ada tulisan “memberikan kuasa”. Saya baca lagi ketentuan di bawah tempat tanda tangan yang ditulis dengan huruf sangat kecil (biar ngga kebaca mungkin). Intinya adalah bahwa saya memberikan kuasa kepada pihak LSM untuk melakukan autodebet.

Saya tanyakan kepada orang yang presentasi tadi ini maksudnya apa. Mereka masih saja mengelak bahwa ini hanya sebatas untuk data saja, tetap gimana-gimananya nanti akan dikonfirmasikan terlebih dahulu sebelum dilakukan penarikan dana dari rekening.

Saya tidak tahu, entah berapa orang yang mereka bodohi tapi yang jelas tidak dengan saya. Di form tersebut jelas-jelas tertulis ada pernyataan bahwa dengan tanda tangan tersebut, saya memberikan kuasa kepada pihak LSM untuk melakukan autodebet ke rekening saya.

Sekarang tarik benang merahnya ya. Apa yang diucapkan orang tersebut saat presentasi? Saya bisa melakukan donasi kapanpun (insidentil), sedangkan faktanya donasi dilakukan secara autodebet sejak saya menyetujui dan menandatangani form pendaftaran.

Tidak ada keterbukaan sejak awal mereka melakukan presentasi. Ini membuat saya ilfil dan akhirnya tidak bersimpatik sama sekali. Akhirnya saya pun ngeloyor pergi. Form tidak saya tandatangani dan no rekening pun sudah saya acak 3 digit terakhirnya.

Sekarang coba rekan-rekan tarik ke bisnis online / internet. Salah satu yang sulit dalam menjalankan bisnis ini adalah menumbuhkan kepercayaan. Karena dalam setiap transaksi semuanya berlangsung secara digital. Tidak ada tatap muka secara langsung. Syukur-syukur bisa kontak langsung by phone. Paling sering via email atau chatting YM.

Yang banyak terjadi adalah tidak adanya keterbukaan atas apa yang diperjual belikan. Antara apa yang dipaparkan di sales letter tidak sama dengan kenyataan yang dibeli oleh para pembeli. Contoh : misalnya bisnis investasi online. Banyak kan sekarang penawaran bisnis investasi yang menjanjikan keuntungan tanpa keterbukaan bagaimana pola investasi dilakukan, kemana duit diinvestasikan, dan bagaimana laporan hasil investasinya. Jangan-jangan cuma skema ponzi belaka.

Contoh lain lagi, misalnya di sales letter dikatakan produk akan mengajarkan a, b, c, d yang berkesan dahsyat. Padahal ketika dibaca kualitasnya tidak jauh lebih bagus dari beberapa produk yang dibagikan secara gratis. Kebetulan tadi malam ada teman yang sharing dengan saya masalah ini via twitter.

Saya sendiri, sebagai pelaku bisnis internet marketing selalu berusaha untuk terbuka kepada calon pembeli. Misalkan mereka bertanya tentang apa-apa materi di dalam sebuah produk yang dijual, ya saya berikan gambarannya. Bahkan kadang saya yang malah bertanya, keperluan atau kebutuhan yang mereka cari apa. Bila kurang pas dengan produk yang rencananya mereka beli, biasanya saya arahkan ke produk yang lebih pas sekalipun saya tidak memegang afiliasi / reseller dari produk yang direkomendasikan tadi.

Marilah rekan-rekan, apapun bisnis Anda (konvensional ataupun online) jalankan secara terbuka. Jangan lagi berpikir untuk berbisnis dengan membodohi calon pembeli. Selain bisnis Anda tidak berkah, tidak butuh waktu lama untuk meruntuhkan kepercayaan orang banyak terhadap bisnis Anda. Di zaman yang connect seperti saat ini, dimana social media (termasuk social networking site) berkembang pesat, informasi cepat sekali menyebar dengan getok tular. Kalau bisnis Anda bagus, ya info yang beredar tentu positif dan sebaliknya. Karena pembeli kita, adalah marketer kita juga. Semoga sharing ini bermanfaat.

Salam Sukses,
arief maulana
space

Pentingnya Keterbukaan Dalam Bisnis Internet
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us
Tagged on:             

67 thoughts on “Pentingnya Keterbukaan Dalam Bisnis Internet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 470,431 bad guys.