Pedulikah Kita Dengan Customer atau Calon Customer Kita ?

Oleh : Arief Maulana

customer care
customer care

Menjelang break makan siang, telepon saya berdering. Awalnya saya berpikir bahwa yang telepon adalah pemilik kapal yang meminta kapalnya disurvey atau galangan kapal yang mengundang untuk survey. Tenyata bukan. Yang menelepon saya adalah seorang wanita karir dari Jakarta (ini saya tahu setelah sedikit mengorek informasi dari dia). Dia menelpon jauh dari urusan survey, ataupun bidang perkapalan seperti yang selama ini saya terima.

Ternyata wanita tersebut menelepon menanyakan kebenaran website jualan saya. Kebetulan selain menjadi surveyor klasifikasi, saya juga menjalankan bisnis distribusi makanan sehat.

Awalnya wanita itu menelepon dengan nada ketus, curiga, dan tidak percaya dengan apa yang saya jual. Nyerocos tanpa jeda kalau boleh saya bilang, hahaha… Ujung-ujungnya curcol juga tentang masalah berat badan yang dialami olehnya.

Iseng, saya melihat ke HP sejenak. Ah, pantas saja. Menelpon dari Jakarta ke Batam, ternyata pakai telepon kantor dia. Selama dia bercerita kepada saya (meski dengan nada mirip ngomel dan komplain), saya mendengarkan saja. Saya berusaha untuk tidak memotong ceritanya dan mendebatnya. Saya biarkan dulu semuanya tuntas. Egonya, ceritanya, pokoknya semua-muanya. Malah, saya memancing dia bercerita lebih banyak lagi hingga keluhannya tuntas.

Barulah sesaat setelah dia selesai bercerita saya masuk. Saya tidak menyalahkan apa yang dia omelkan. Saya hanya berpikir, wanita ini hanya mendapatkan informasi yang salah. Tidak tahu bagaimana konsep hidup sehat yang sebenarnya. Tidak sadar bahwa penyebab dia mengalami kegemukan ada pada pola hidup dan mindset yang salah tentang diet.

Mungkin… karena saya sudah memberikan kesempatan padanya untuk berbicara panjang lebar, saya pun bisa mulai masuk pelan-pelan dan menjelaskan konsep diet sehat yang sebenarnya. Apalagi saya juga tidak menyalahkan pendapatnya. Ujung dari pembicaraan kami, saya pun memberikan kontak tim saya yang berada di Jakarta untuk memfollow up lebih lanjut. Dan dia pun (katanya) bersedia mencoba program diet sehat kami. Setidaknya awal yang baik.

Nah rekan-rekan, sering kali ketika kita menjual sesuatu, kita lupa akan satu hal. Apa itu? MENDENGAR.

melayani pelangan dengan ramah
melayani pelangan dengan ramah

Selama ini kita ketika mempromosikan atau menjual sesuatu, pernahkan kita mendengarkan apa kebutuhan calon customer kita? Ataukah kita cuek bebek, yang penting promosi, yang penting jualan, yang penting produk laku.

Customer maupun calon customer juga manusia yang ingin didengar. Mereka punya kebutuhan, begitu pula dengan kita yang ingin produknya laku. Jadi, mengapa tidak mencari jalan tengahnya. Kebutuhan mereka didengar dan produk kita bisa laku.

Saya termasuk yang percaya bahwa tanpa diyakinkan dengan susah payah, kalau memang mereka membutuhkan produk kita ya pasti akan membeli kok. Mereka tidak membeli produk kita itu ada beberapa kemungkinan :

  • Mereka tidak membutuhkan produk kita atau mungkin juga belum membutuhkan produk kita untuk saat ini.
  • Mereka butuh produk kita, tapi waktunya kurang tepat. Mungkin ada prioritas yang lain, sehingga ditunda dulu.
  • Mereka benar-benar tidak butuh dan merasa tidak butuh (ini yang sudah skeptis, hahaha…)

Meskipun mereka tidak membeli produk kita saat ini, jangan berkecil hati. Ada baiknya tetap ramah dan meladeni mereka dengan baik. Jangan terpengaruh dengan suasana hati customer kita. Ramah saja. Kenapa?

Mungkin mereka tidak butuh, TAPI INGAT siapa tahu mereka punya teman-teman yang membutuhkan produk Anda. Nah, kalau ada temennya yang butuh produk (yang kebetulan Anda jual), customer Anda tahu siapa yang harus direferensikan. Atau boleh jadi mereka sendiri yang butuh, tapi bukan saat ini. Saat mereka butuh, mereka tahu siapa yang harus dihubungi.

Jadi, berhenti iri dengan rekan kerja Anda yang mungkin bisa menjual lebih banyak. Mungkin cara mereka menangani customer, jauh lebih baik dari Anda. Daripada iri hati tidak jelas, mendingan berpikir dan mulai memperbaiki kualitas diri. Semoga sharing singkat saya bermanfaat.

NOTES : bagi rekan-rekan yang aktif di twitter, saya juga sempat share soal #customercare ini dan sudah saya rangkum via chirpstory disini —> Customer Care by @ariefmw

  1. Yang biasanya gak bisa melayani customer ataupun calon customer dengan baik hanyalah segelintir (tidak semua) orang2 yang hanya bermental karyawan, sing penting akhir bulan terima gaji dan melayani sekedarnya aja sesuai dengan moodnya. Saya sering melihat dan mengalami sendiri menerima pelayanan yang kurang ramah dari karyawan toko. Berbeda sekali jika bos-nya yg langsung yang turun tangan malah lebih ramah dan bersahabat melayani.
    rudy recently posted..Beli Rumah Tanpa Uang Tanpa KPRMy Profile

  2. Hmm..bagus sekali! ini dpt menhantarkan kita ke renungan yang panjang. Kayaknya kunci sukses seseorang itu poad upaya membahagiakan orang lain, mendengarkan, menganggap customer sebagai orang penting..dsb. Lho..kok jadi ngoceh! Trims Bang!

  3. sangat bermanfaat artikelnya,kita kada usah maksa2 orang suruh beli prodak kita,kalau emang bener2 memerlukan pasti hub kita yah kan udah tau no tlp nya.ngomong2 mas lawas yah engga pernah online lagi,aku takut kalau-lalau banyak koleg nya mas masih pada rindu tapi mas sendiri sudah melupakan.ok deh salam corat caret sampai jumpa di kota air.

  4. betul mas Arief. saya bila ketemu costumer lebih banyak mendengar apa yang dikatakan mereka, walaupun itu sangaat jauh dari topik barang yang saya tawarkan. dan mungkin hal itu sangat berkesan bagi mereka kelihatan kalau kita itu tulus dan peduli. so orderan pasti dapet.Thanks atas sarannya.

  5. Saya aru memulai untuk menjual produk….artikel Ms Arif ini akan Saya praktekkan yaitu “mendengar” para konsumen dan “berikap ramah” semoga bisa meningkatkan penjualan…..
    terima kasih
    hydenabi recently posted..Kaos bc03My Profile

Leave a Reply

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 471,744 bad guys.