Paradigma, Itu Awalnya. Selebihnya…?

Oleh : Arief Maulana

Saya selalu percaya bahwasanya kualitas hidup seseorang senantiasa berjalan beriringan dengan kualitas pribadi yang bersangkutan. Kalau kualitas pribadi kita ngga pernah ditingkatkan ya jangan berharap bakal ada perubahan kualitas kehidupan kita. Itu sebabnya pengembangan diri itu penting dan mesti senantiasa kita lakukan hingga ajal menjemput.

Exclusive Workshop
Exclusive Workshop

Ini salah satu yang saya lakukan di weekend kemarin. Kebetulan saya mengikuti salah satu ekslusif workshop 3 hari di daerah Jakarta Barat. Intinya sih lebih pada pengembangan kualitas diri dari beberapa aspek terutama aspek social skill. Beberapa point penting akan saya sharingkan disini. Sisanya, ehm… cukup saya sajalah yang tahu hahaha… Kalau mau tau ya ikutan aja sendiri.

PARADIGMA

Paradigma yang salah mengakibatkan kita memiliki sebuah pola pikir yang salah. Pola pikir (mindset) tentu saja berpengaruh pada bagaimana cara kita bersikap dan mengambil sebuah keputusan.

Bukan hal yang baru lagi. Kita semua pun tahu akan hal ini. Akan tetapi tentu pertanyaan pentingnya adalah sudahkah kita mengerti apa saja yang mempengaruhi paradigma? Seberapa peduli kita dalam mengatur arus informasi ke dalam otak kita? Apakah semuanya kita lahap begitu saja, meski itu adalah racun. Ataukah kita cukup selektif, meski saat ini susah sekali rasanya.

Para instruktur workshop memberitahukan kepada saya dan teman-teman peserta lainnya bahwa ada 2 hal utama yang mempengaruhi paradigma kita. Pertama adalah MEDIA (Berita, Film, Buku, Majalah, Social Media, Lagu). Kedua adalah LINGKUNGAN PERGAULAN KITA.

M E D I A

Media

Mau tidak mau setiap harinya kita selalu bercengkrama dengan media. Lihat saja contoh-contoh yang saya tuliskan di atas. Siapa coba yang tidak melihat berita, menonton film, membaca buku / majalah, bermain social media, ataupun mendengarkan lagu? Salah satu dari itu tentu sudah menjadi kebiasaan kita. Sudahkah kita memilah-milah semuanya?

Seorang yang senantiasa berpikir dan bersikap positif memiliki paradigma yang positif pula. Karena media adalah salah satu faktor yang mempengaruhi paradigma, maka MENJADI SELEKTIF adalah WAJIB.

Terlalu banyak mendengar berita-berita kriminal hanya akan membuat kita HIDUP DALAM KETAKUTAN dan KECURIGAAN pada semua orang. Padahal jumlah orang baik jauh lebih banyak dari para kriminal. Kenapa jadi fokus sama yang lebih sedikit?

Begitu juga dengan film. Tanpa kita sadari film-film yang kita tonton akan mempengaruhi cara berpikir kita. Saya masih ingat betul ketika masih kecil, ibu selalu mengingatkan saya untuk tidak terlalu sering menonton film. Kenapa? Karena di film semuanya disediakan. Setiap ada masalah, selalu ada bantuan datang entah bagaimana caranya. Akibatnya, kita jadi TERBIASA BERPIKIR INSTAN.

Begitu juga dengan buku atau majalah. Buku-buku apa yang biasa Anda baca selama ini. Apakah hanya komik belaka, ataukah novel yang cukup merangsang imajinasi. Atau lebih bagus lagi BUKU-BUKU PENGEMBANGAN DIRI yang positif dan menjaga otak kita untuk senantiasa menyaring hal-hal yang negatif.

Mendengarkan Lagu
Mendengarkan Lagu

Lagu-lagu. Nah, ini juga. Kelihatannya asik. Padahal justru bisa sangat berbahaya. Contoh gampang nih, orang yang cenderung suka galau biasanya punya kebiasaan mendengarkan lagu-lagu yang bertema cenderung galau. Sedih lah, patah hati lah, atau apa gitu. Dan kalau Anda coba untuk jeli, mungkin Anda akan menemui beberapa fenomena tertentu. Kehidupan para penyanyi tidak jauh-jauh dari lagu-lagu yang biasa mereka nyanyikan dan ngehit. Tanya kenapa?

Itulah kenapa pasca pelatihan saya akhirnya memutuskan untuk menghapus semua lagu-lagu yang bernada mellow galau ngga jelas kecuali musik-musik instrumen. Saya menggantinya dengan lagu-lagu yang bersemangat dan itu cukup berpengaruh! Jadi lebih semangat, Bro!

LINGKUNGAN PERGAULAN

Bergaul dengan tukang parfum, kita ikutan terkena wanginya. Bergaul dengan penjual terasi, pun akhirnya kita ikut bau terasi. Seperti itulah efek lingkungan pergaulan. Dengan siapa Anda bergaul maka seperti itulah Anda akan nantinya di masa mendatang.

Banyak bergaul dengan orang-orang yang pesimis, berpikir negatif, paranoid, cuma akan membuat Anda ikutan menjadi orang-orang yang seperti itu. Mau? Padahal katanya kalau kita mau berhasil kita mesti semangat, optimis, keep positive thinking, dll.

Dalam pelatihan, kami para peserta dijejali doktrin untuk selalu memperluas social circle seluas-luasnya. Kapanpun ada waktu, selalu menambah teman-teman baru. Makin banyak teman makin bagus. Bahkan kalau bisa setiap weekend, selalu ada teman baru di dalam list social circle kita. Prakteknya, diterjunin ke lapangan untuk kenalan dengan banyak orang-orang baru. Tentu dengan berbekal social skill yang sudah diberikan.

Bergaul
Bergaul

Mari membiasakan diri untuk menambah teman-teman baru. Bukan sekedar temen dunia maya, melainkan teman dalam kehidupan yang nyata. Why? Karena sehebat apapun Anda berkawan di dunia maya, kalau ngga pernah bergaul di dunia nyata social skill Anda ngga akan pernah berkembang. Pada akhirnya ketika harus berkomunikasi intensif dengan seseorang, mungkin itu bernegosiasi, yang ada Anda malah minder.

Ayo, jangan diem di rumah aja. Keluar dari comfort zone Anda dan tambah teman-teman baru di dunia nyata. Nanti dari sekian banyak teman kita bisa pilih mana yang sekiranya membawa efek positif dan mengintensifkan persahabatan disana agar Anda menjadi pribadi berkualitas yang positif pula.

Oke, ini dulu aja yang mau saya sharingkan. Ini cuma secuil materi pertama, yang di dalam workshop lebih banyak lagi. Beberapa cuil materi lainnya bakal saya publish dalam beberapa post ke depan. Itu kalau ngga lupa, hehehe… bye… :)

 

    • @ABE Erdien, Belakangan ini saya mencoba untuk membaca bnuku pengembangan diri. Memang dahsyat, banyak sesuatu yang konsep dasarnya kita pahami, tapi tidak berwujud dalam aplikasinya. Nah dengan membaca buku muncul sebuah motivasi dan pemikiran baru. Semoga ini menjadi paradigma awal untuk lebih baik :sip:

      • @ABE, tapi yang perlu diingat adalah… sekedar membaca tidak akan memiliki efek sebesar ketika kita mempraktekkan. Itu mengapa saya lebih suka buku pengembangan diri berbasi aplikasi langsung. Termasuk workshop ini juga sebenarnya, biar bisa langsung praktek social skill yang cukup applicable

  1. Mengenai membangun sebuah interaksi sosial yang lebih baik dan lebih luas, saya pun sedikit demi sedikit mengupayakannya.
    Makasih Mas Arief :sip:

  2. Bambang Pamungkas says:

    Ini masukan bagus, terutama yang terakhir. Tapi gimana mengatasi rasa minder ya mas? Bayangkan kalau kopdar saya ngumpul sama mas Arief, mas Lutfi, mas Cosa, mas Agus, dll, wuih gak kebayang kalau saya bakal jadi siput :hiks:

    • @Surya, betul pak. Seperti halnya ketika akan berkenalan dengan orang baru. Klo kita dari awal mikirnya yang enggak-enggak, akhirnya berimbas ke sikap dan orang jadi malah curiga sama kita.

  3. MasterClickCom says:

    Top suratop artikel ini. Sudah jarang ngisi blog dan begitu muncul lnsg di isi yg berkualitas… mantap suratap :sip:

  4. Maqui Berry says:

    Wew, sudah pernah dapat materi ini tapi tersimpan rapi dalam kenangan yang tergali kembali…
    Pradigma penting, dan thanks untuk artikel yang mengingatkan kembali betapa kita harus selektif memilih media dan pergaulan yg mengelilingi kita…:hehe::matabelo::matabelo:

  5. Lianawati natawijaya says:

    Thanks ya tapi kl kasih oleh2 semua ya jangan setengah2 lho jadinya Kan terimanya TIDAK UTUH ANY THANKS FOR YOUR IMPORTANCE SHARING GBU

    • @Ahmad, kalau sekedar mellownya sih ga masalah. Tapi yang berbahaya kadang kalau ada liriknya yang mendayu-dayu dan menggambarkan kondisi yang menyedihkan (negatif). Itu lama-lama bisa masuk ke dalam pikiran bawah sadar kita dan mempengaruhi tindakan kita. :D

  6. pola pikir memang sangat mempengaruhi tindakan seseorang. negative thinking hanya akan menyusahkan, masalahnya tv kita banyakan nyiarin acara gak bermutu yg sayangnya disukai wanita& anak-anak.

    • @Aria, mulailah dari diri sendiri dulu. Memfilter hanya hal-hal yang positif. Baru pelan-pelan pengaruhi orang-orang di sekitar kita. Orang yang berhasil / sukses, mempengaruhi lingkungan bukan dipengaruhi lingkungan. Daripada nonton tv seharian ga jelas, mending ke luar rumah. kenalan sama orang-orang baru, menambah teman gitu.

    • @Imam Kamal Nugroho, undang aku dong! siapa tahu kita bisa duet memberikan materi training. Btw cipaganti bukannya nama travel yah. kayanya ada tuh travel cipaganti dari Cilegon – Serang – Bandara Soetta.

  7. Bener banget Mas.
    Waktu muda bacaan saya itu cerpen N novel picisan gitu… dampaknya saya jadi suka melow:hehe::hehe:

  8. Saya suka neh oleh2nya,..:sip:
    memang kita kudu lebih memperhatikan lagi atau mereview ulang kebiasaan2 yang sudah tertanam kepada diri kita selama ini,bisa jadi kebiasaan kita selama ini merupakan kebiasaan yang menghalangi kita untuk menjadi lebih sukses (baik),oleh karena itu mesti diubah pola pikir kita (mindset)menjadi lebih baik. Salam Sukses!

    • @Laras, itu terjadi biasanya karena level pola pikirnya berbeda. Entah kita yang lebih rendah atau lebih tinggi. Contoh : misalnya kita biasa bergaul dengan mereka yang usianya lebih tua dan mahir dalam menyelesaikan permasalahan, maka kita cenderung punya sudut pandang berpikir yang lebih baik terhadap masalah jika dibandingkan teman-teman yang hanya bergaul dengan sesama mereka.

      Sebagai solusi, coba cari teman baru yang lebih nyambung. Biar hidup bisa lebih enak. :)

  9. Mantap banget artikelnya, saya punya anak remaja perempuan tapi senangnya dirumah terus kalau saya dorong supaya keluar bergaul sama temen minimal temen sekolahnya suka bilang males, bagaimana sarannya tks

    • @Ginanjar, coba diajak bicara baik-baik Pak. Tanyakan kira-kira apa yang bikin dia males. Apakah pernah ada kejadian yang kurang menyenangkan antara dia dgn teman-temannya di sekolah. Biasanya sih anak perempuan lebih terbuka dengan ayahnya.

  10. Terima Kasih sharenya mAs Arir…

    Saya jadi teringat sewaktu kuliah S2…
    Dosen sy menceritakan ttg terbentuknya sebuah Paradigma….
    Ternyata Pradigma itu terbentuk dari kebiasaan…
    Di contohkan : Peneliti memasukkan 5 monyet dalam suatu tempat….

    Kemudian Peneliti menaruh tangga yg diatsnya ada satu sisir Pisang….

    Kemudian seekor monyet menaiki tangga utk mengambil pisang….sewaktu monyet naik ke tangga….. Peneliti menyemprotkan air dingin ke pada 4 ekor monyet lainnya…sehingga ke4 monyet tadi mencegah utk naik tangga

    Kemudian Peneliti memasukkan lagi seekor monyet baru ….dan ketika monyet baru ts mau naik tangga utk mengambil pisang…
    monyet yang lama mencegahnya…walau tidak di semprot air dingin.

    Dan di masukkan lagi monyet Baru… yg kemudian menaikki tangga…. yang kemudian di cegah termasuk oleh monyet baru tadi walau tidak tahu alasannya…. demikian pula dg monyet baru ke 2… ke 3 dst terjadi kejadian serupa…

    Nah inipun terjadi pada lingkungan kita…. Kita melakukan suatu perubahan yang positip tetapi di cegah oleh orang-2 lama…. krn dari DULUNYA JUGA SUDAH SEPERTI ITU…

    Demikian share dari saya.
    Salam

    • @Munap said, betul. Itu kenapa untuk melakukan perubahan di awal kita lah yang harus berubah. kemudian cari teman-teman satu visi yang bisa diajak untuk membuat perubahan. Superman is dead, but superteam is the winner.

    • @sibair, paradigma dibangun dengan menyeleksi informasi yang masuk. Karena dari informasi-informasi inilah paradigma kita terbentuk. Kalau membiasakan hal-hal yang positif, pikiran secara ga langsung akan ikut jadi positif.

  11. adiwidyawan says:

    selamat pagi…
    wah wah baru kunjung2 lagi ni,heu..

    mas arief,ini kalo dalam memperluas social circle kita juga perlu selektif kan, nah…kalo kita selektf dalam berkenalan dgn org baru, kita kan belum tau potensi org itu, apakah positif atau negatif, baik buat kita atau sekitar kita.
    Gimana ya caranya supaya bisa selektif yg tepat?kamsudnya step by step sebelum mengenal org baru lebih jauh..

    terimakasih.
    :sip:

    • @Adiwidyawan, jangan selektif di awal. Kenalan ya kenalan aja. Itung-itung memperdalam social skill kita, khususnya yg berkaitan dengan masalah komunikasi. Nanti setelah beberapa kali kontak pasca interaksi pertama bakal keliatan kok orang itu oke atau ngga untuk dijadiin temen. kalau ga oke, ya tinggal di cut aja. :)

      Pesan saya sih, jangan underestimate sama orang. Kita ga pernah tahu potensi mereka seperti apa. Mungkin mereka kurang oke, tapi siapa tahu punya teman yang cukup potensial dan positif abis. :)

  12. Agus Siswoyo says:

    Kalau bicara cari teman, saya jadi ingat masa lalu saat masih kuper dan lugu (lucu lan gundek). Sejalan dengan waktu, saya mulai membuka diri dengan pergaulan internet dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai karakter.

    Nggak semuanya baik-baik sih. Ada juga yang menjerumuskan saya ke gudang maksiat. Hehehe. Apapun itu efeknya, menjalin relasi adalah kebutuhan mutlak saat ini. Dari situ terbuka berbagai peluang menarik untuk ditekuni.

  13. Pingback: Belajar Pengembangan Diri dan Menjadi Pusat Gravitasi Komunitas Bersama Arief Maulana | Catatan Motivasi Blogging Indonesia

Leave a Reply

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 471,671 bad guys.