Ganti Themes Lagi

Oleh : Arief Maulana

Setelah bertahun-tahun saya ngeblog dengan menggunakan themes Alpen 3 Collums, akhirnya terpaksa harus ganti juga. Jujur, sebenarnya saya masih menyukai themes yang lama. Sederhana, tapi tidak kaku. Secara garis besar, seluruh isi blog sudah tercermin dari themes tersebut. Jadi pertama kali orang mendarat di blog saya, mereka sudah mendapatkan suasana dan gambaran seperti apa isi blog ini.

Berawal dari keterkejutan saya saat blog ini tidak bisa dibuka. Saya coba crosscheck ke tim Kunci Host selaku pengelola hosting yang saya gunakan, ternyata permasalahan ada pada themes yang saya pakai. WordPress selalu update, sementara themes saya sudah sejak tahun 2010 saya gunakan dan tidak pernah ada updatenya. Daripada blog tidak bisa dibuka, terutama di artikel-artikel lama yang masih berguna untuk para pembaca, akhirnya saya ngalah. Blog ini, harus ganti themes.

Themes baru blog ini saya pilih karena kesederhanaannya. Paduan warnanya pun menarik untuk dilihat. Tidak menyakitkan mata, dan tidak terlalu ramai. Disamping itu, ada spot-spot banner iklan, kalau memang nantinya mau memasang iklan. Monaco Themes, begitu nama themes blog ini.

Memang belum sempurna saya mengatur semua. Tapi paling tidak ini awalnya. Basic themesnya sudah dapat, tinggal nanti ditambah dan dikurangi sesuai kebutuhan saja.

Jadi, kapan terakhir kali Anda ganti themes blog? Atau malah sudah tidak pernah ngeblog lagi? Hehehe… :D

Budaya Antri VS Matematika

Oleh : Arief Maulana

Antri

Budaya Antri

Masih berhubungan dengan postingan saya terakhir, yakni tentang budaya antri, kemarin saya mendapatkan sebuah broadcast dari teman tentang budaya antri dari seorang guru di Australia. Tanpa panjang kata, berikut ini isi broadcastnya :

—–

Continue reading

Antri Saja Tidak Bisa, Bagaimana Mau Maju?

Oleh : Arief Maulana

Antri, Budaya Antri, Antrian

Budaya Antri

Pagi tadi dengan terpaksa, saya harus kembali ke dealer Yamaha di daerah Tiban, dekat dengan tempat dimana saya tinggal selama kerja di Batam. Ini semua lantaran kemarin pagi, ketika saya datang untuk service sepeda motor tidak kebagian nomor antrian. Selain karena hanya buka setengah hari, kemarin mekanik bengkelnya juga tidak dalam formasi yang lengkap.

Jadi ceritanya begini :

Continue reading

Melihat Dengan Mata, Hati dan Logika

Oleh : Arief Maulana

Logika Cinta

Logika Cinta

Kalau ada waktu paling berkualitas untuk membicarakan hal-hal yang sifatnya mendalam berdua bersama istri, biasanya kami lakukan justru di tengah malam menjelang tidur. Saat cahaya begitu temaram, suasana yang hening, dan gadget tak lagi berada pada genggaman masing-masing. Ya maklum lah, kami berdua sama-sama social media addict dan bertemu juga gara-gara social media.

Iseng sebuah pertanyaan saya luncurkan kepada istri saya, perihal kriteria apa saja yang membuat ia akhirnya menerima pinangan saya dan jadilah kami seperti saat ini, sudah menikah. Dalam hening istri saya pun mulai bercerita banyak, menjawab sebuah pertanyaan saya. Membangun kedekatan emosi yang lebih dalam lagi.

“Bapak pernah bilang ke aku, kalau memilih pasangan itu ngga cukup pake mata dan hati (cinta). Tapi juga logika.”

Continue reading

Berhenti Menyalahkan Keadaan !

Oleh : Arief Maulana

Berhenti Menyalahkan Keadaan

Berhenti Menyalahkan Keadaan

Ditemani secangkir cappuccino, saya menikmati sebuah sore yang tenang di Kota Batam ini. Well, tidak terasa sudah satu tahun saya tinggal di kota ini. Tidak banyak yang berubah, kecuali diri saya sendiri. Entah itu secara pekerjaan, maupun secara status. Yeap, setidaknya sekarang saya sudah tidak sendiri lagi di “negeri” orang. Sudah ada yang menemani.

Terus terang saat ini saya sedang berada pada masa-masa yang tidak menentu. Menunggu kepastian SK Pengangkatan maupun penempatan lokasi kerja selanjutnya, apakah tetap di Batam atau nantinya akan pindah ke suatu tempat yang entah berada dimana. Yang jelas, sejak pernyataan hitam di atas putih saya tanda tangani, bersama dengan itu lah saya menyetujui dan siap ditempatkan dimana saja nantinya sebagai bentuk loyalitas dan profesionalisme kepada perusahaan. Sungguh kehidupan yang dinamis.

Dalam kurun waktu setahun, satu pelajaran penting yang saya dapatkan, tentang hidup yang selalu dinamis dan berubah-ubah dan bagaimana kita menyikapinya. Keadaan sudah berbeda. Dulu saya masih sendiri. Tidak ada beban pikiran apapun. Pindah, ya tinggal pindah. Just pack my stuff and bring to the next destination. Tapi sekarang tidak bisa begitu. Ada tanggung jawab baru yang saya emban, yakni keluarga kecil saya.

Continue reading

3 Prinsip Menjalani Hidup

Oleh : Arief Maulana

Ada adat jawa yang mengatakan bahwasanya pengantin baru seharusnya tinggal di rumah ortu pihak wanita, minimal seminggu. Sayangnya berhubung saya jawanya cuma numpang lahir, ngga jawa-jawa banget, ya adat tinggal lah adat. Malah saya maunya H+3 setelah menikah malah sudah balik ke Sidoarjo. Ternyata Allah berkata laen. Ada saja urusan yang membuat saya tetap tinggal di rumah mertua, di Malang sampai seminggu.

Namun, lewat momen itu pula saya jadi belajar tentang bagaimana bapak mertua yang sekarang sudah berusia 74 tahun ini kokoh memegang prinsip dalam menjalani kehidupan. Terdengar sok dan terlalu idealis mungkin, tapi memang benar itu adanya. Apalagi dengan karakter bapak yang sungguh keras, meski bisa saya “taklukkan” juga hingga akhirnya bisa menikahi anaknya. :p

Saya belajar tentang 3 prinsip hidup yang dipegang oleh bapak selama ini. Karena bagus, maka saya share disini agar bermanfaat bagi kita semua.  Ini dia 3 prinsip hidup tersebut :
Continue reading

Advertisement

Daftarkan diri Anda di newsletter saya secaca GRATIS & saya akan berikan informasi yang akan membantu bisnis pertama Anda, mulai dari sekarang.

First name

E-mail address

Privasi Anda sangat penting buat saya & Anda boleh mengundurkan diri setiap saa.t

Kategori Tulisan

Arsip