Oleh : Arief Maulana
Capucino adalah salah satu yang paling saya sukai dari sekian banyak jenis kopi. Awal saya mengenal capucino adalah awal kuliah dulu. Waktu itu, saya ada ritual setiap kamis malam jum’at yang menuntut harus begadang semalam suntuk sampai pagi. Ritual mengerjakan Laporan Praktikum Fisika Dasar. Sebuah laporan yang bisa sampai lebih dari 20 lembar A4, dan semuanya harus ditulis tangan. Sejak saat itu saya jadi senang minum capucino, meski tidak setiap hari karena ada yang bilang ngga baik juga kalau terlalu sering minum kopi.
Nah tahukah rekan-rekan, ternyata dari capucino pun kita bisa belajar mengenai proses pencapaian sebuah kesuksesan. Apapun itu goalnya, mau goal besar atau kecil sama saja. Toh letak bedanya hanya di tindakannya. Goal besar, ya tindakan besar. Mari kita explore capucinonya.
Read more »
Share on Facebook
Oleh : Arief Maulana

takut sukses
Terima kasih untuk rekan-rekan yang sesekali konsultasi. Dari Anda semua saya mendapatkan banyak inspirasi untuk terus menulis dan berbagi. Kali ini saya ingin berbagi ketakutan. Ya, saya akan meneror Anda dengan ketakutan.
Beberapa waktu yang lalu sempat ada orang yang SMS ke saya. Biasa, bertanya soal bisnis internet yang katanya adalah bisnis cepat kaya dan mudah untuk dijalankan. Orang tersebut kemudian lantas bertanya kepada saya untuk mengonfirmasikan apakah benar bisnis internet itu mudah.
Awalnya, dia menanyakan apakah bisnis google adsense itu mudah, mengingat memiliki penghasilan dalam bentuk dollar itu cukup menggiurkan. Jawab saya, “Wah, saya kurang tahu mas. Soalnya saya ngga terjun langsung di adsense. Spesialisasi saya di affiliate marketing. Tapi sepertinya SUSAH.”
Belum puas, dia pun bertanya apakah bisnis affiliate itu mudah? Saya jawab juga, “Bisnis affiliate itu SUSAH. Tidak semudah yang dibayangkan!”. Saya malah simpulkan lagi, “Apapun bisnisnya, TIDAK ADA YANG MUDAH. Semuanya membutuhkan proses dan WAKTU.” Dari ekspresi sms terakhirnya, saya menangkap ada sedikit kekecewaan mengingat 3 statement dari saya isinya : SUSAH, SUSAH, TIDAK ADA YANG MUDAH.
Read more »
Share on Facebook
Oleh : Arief Maulana
Sudah bukan rahasia lagi bahwa perkembangan social media site saat ini tengah boom. Selain kian bertambahnya pengguna layanan social media site, pun jumlah penyedia jasa layanannya semakin banyak saja. Dulu mungkin yang sempat boom adalah friendster, namun kini malah facebook dan twitter yang cukup mendominasi, meski ada yang lain juga.
Perkembangan ini tentunya harus disikapi dengan bijaksana. Karena walau bagaimanapun, kehadiran social media site bagai sebuah pisau bermata dua. Bisa menguntungkan atau bahkan merugikan kita sendiri.
Meski demikian, sangat disayangkan kalau kita ngga ikut ambil bagian di dalamnya, mengingat potensi penggunanya yang dahsyat jumlahnya (menjadi market pasar yang bagus) ataupun kekuatan news distribution yang tidak terbendung.
Saya sendiri sebenarnya dulu tidak terlalu suka dengan social media site (waktu itu masih zaman kejayaannya friendster). Hingga facebook hadir dengan format yang menurut saya waktu itu unik. Pun facebook sendiri awalnya saya gunakan untuk mengoptimize bisnis internet yang tengah dijalani. Sayangnya belum terlalu maksimal, hingga akhirnya saya menemukan cara menjadikan facebook sebagai mesin marketing yang dahsyat, yang sering didengung-dengungkan oleh orang sebagai facebook marketing.
Read more »
Share on Facebook
Oleh : Arief Maulana
Bila sebelumnya saya sudah pernah bertemu Mas Cosa secara personal dengan mas Ardy Pratama, maka tadi malam saya kembali bertemu dengan beliau dalam event yang agak resmi, yaitu Gathering Member Panduan Dasar yang berlokasi di Sonnen Café, Sinar Bintoro Surabaya.
Saya kebetulan tiba di café sekitar jam 19.30 (untung macet di jalan belum parah), dan rupanya masih seorang diri disana. Padahal acara dimulai jam 20.00. Sambil menunggu saya putuskan untuk memesan Capucino Art hingga beberapa menit kemudian ada 2 peserta datang. Satunya Mas Adit dari Malang dan satunya Mas Indra dari surabaya (ini yang beberapa hari lalu telpon saya, tanya waktu gatheringnya).
Selang tidak terlalu lama, Mas Cosa terlihat duduk di sudut café, santai dengan kaos orange. Duduk tenang sambil membawa buku gambar yang nantinya dipakai untuk presentasi materi special “Teknik Blackhat Bisnis Adsense dan Bisnis Amazon”, sebagaimana pemberitahuan Mas Cosa di situs Panduan Dasar. Saya dan teman-teman pun nyamperi kesana.
Sebagai obrolan pembuka, kita membicarakan seputar tour de Indonesianya Cosa Aranda. Termasuk cerita dia waktu kunjungan di daerah-daerah luar pulau yang notabene akses internetnya susah. Jadi kalau ada orang daerah yang sukses itu benar-benar luar biasa. Sambil ngobrol, satu persatu member Panduan Dasar mulai datang.
Total yang saya hitung member PDC yang datang kalau tidak salah ada 13 orang (termasuk saya), dari berbagai belahan kota : Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Tulung Agung, Malang, dan Solo.
Acara sempat tertunda dan baru dimulai jam 20.30. Niatnya sih menunggu seorang teman yang jago bisnis Amazon, Iphin Chow, datang langsung dari Solo (niat banget). Ceritanya Mas Iphin kesasar di daerah Ampel, dekat Pelabuhan Tg.Perak. Daripada kemaleman menunggu akhirnya Mas Cosa memutuskan memulai sesi materi.
Read more »
Share on Facebook
Oleh : Bang Dje
Pada Mei 2000 saya merantau ke Jakarta. Semula saya tinggal di Condet. Hanya enam bulan di sana saya pindah ke Tanah Abang. Di sinilah saya mengenal seorang bakul mie ayam. Sebut saja namanya Arief.
Arief lulusan Madrasah Tsanawiyah di Kebumen, Jawa Tengah. Dia sudah menikah tetapi belum memiliki anak. Di Jakarta dia mengajar mengaji kepada anak-anak kecil di musholla dekat rumah. Kebetulan rumah kontrakan kami persis berhadap-hadapan.
Awalnya adalah Satu
Arief mencari nafkah dengan berjualan mie ayam. Dia memiliki satu gerobag. Pagi hari sebelum adzan shubuh berkumandang dia telah mengayuh sepedanya ke pasar untuk berbelanja berbagai kebutuhan. Saat bertemu di masjid untuk shalat shubuh biasanya dia telah selesai berbelanja. Setelah itu kerja keras dimulai.
Mengolah ayam, membuat kuah, membagi mie, menyiapkan kompor dan menata semuanya di gerobag. Tidak ketinggalan berbagai peralatan seperti mangkok, sumpit (ini temennya mie), sendok garpu, beberapa buah gelas dan beberapa botol air putih untuk pelanggan yang minta minum (gratis). Ada pula yang tidak boleh tertinggal yaitu kecap, saus, sambal dan acar. Sekitar jam delapan biasanya semua telah siap. Sesekali saya memesan untuk sarapan (ssst… tentu saja saya selalu dapat porsi lebih banyak).
Read more »
Share on Facebook