Oleh : Arief Maulana

Ngga terasa udah 1 tahun sejak peristiwa peringatan 100 tahun Kebangkitan Bangsa Indonesia, terlepas dari berbagai pro dan kontra yang terjadi. Hampir tiap tahun kita merayakan dan membanggakan moment kebangkitan nasional ini, tapi kok ya bangsa kita ngga bangkit-bangkit dari keterpurukannya.

Berbagai alasan meluncur dari kita. Menyalahkan pemerintah, menyalahkan orang lain, menyalahkan lingkungan, menyalahkan krisis global, dll. Tapi tidak pernah ada yang MENYALAHKAN DIRI SENDIRI. Ego kita terlalu tinggi untuk mau instrospeksi diri. Padahal kebangkitan suatu bangsa benar-benar bisa terlaksana manakala setiap elemen sama-sama berkomitmen untuk bangkit dan maju, termasuk masing-masing individu bangsa ini sesuai tanggung jawab masing-masing.

Dalam kesempatan kali ini saya ingin menyoroti beberapa aspek yang mungkin bisa kita benahi dalam diri masing-masing (termasuk saya pribadi juga) untuk sama-sama bangkit dan memajukan bangsa ini. Kalau bukan kita, siapa lagi. Tentu ini adalah versi Blog Motivasi Arief, dan Anda diperkenankan setuju atau tidak setuju, hehehe… 

space

1. MORAL dan AGAMA

Bangsa ini sebenarnya ngga kekurangan orang pintar, banyak. Mulai dari pakar ekonomi, pakar politik, pakar pemerintahan, pakar hukum, dan pakar-pakar lainnya. Yang kurang adalah MORAL. Lihat saja kondisi yang ada. Korupsi, kolusi, nepotisme,  dan sejuta perilaku tidak beradab yang merasuki diri kita masing-masing, menghitamkan kesucian dan ketulusan hati. Norma-norma yang ada seakan sudah tidak mampu lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Saya masih ingat ketika masih SD dulu, ada pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Didukung dengan guru-guru teladan yang bertanggung jawab, tidak sekedar mengajar namun juga mendidik, pelajaran tersebut tidak hanya menjadi pelengkap kurikulum. Ditambah lagi dengan pendidikan agama yang juga memiliki porsi cukup memberikan satu resapan di jiwa sebagai fondasi awal dalam menapaki hidup.

Namun coba kita amati kurikulum pendidikan sekarang. Penekanan materi hanya di bidang-bidang yang sifatnya akademis dan keprofesian. Sedangkan pendidikan moral dan agama hanya menjadi pelengkap kurikulum. Maka tidak heran banyak lahir orang pintar, namun tidak bermoral. Oleh karena itu, kita bisa mencoba memperbaikinya mulai saat ini.

Kalau Anda biasa bergelimang dengan kegiatan amoral, cobalah untuk berubah. Mumpung jalan tobat masih belum tertutup. Junjung tinggi semua norma yang pernah Anda kenal. Makin Anda mengacuhkan sisi kebaikan dalam diri, makin gelap hati Anda. Lagi pula hidup di jalan yang benar bisa membawa ketenangan tersendiri.

Untuk itu kita bisa belajar banyak dari seorang Guru yang luar biasa, Mas Umar Puja Kesuma melalui Blog Bisnis Guru yang dibangun olehnya.

space

2. MENTAL dan POLA PIKIR

Sudah terlalu sering rasanya saya menyinggung masalah ini. Mental dan pola pikir yang instan, pengen cepet tapi ngga mau kerja keras, mental pengemis (lebih suka meminta daripada mengusahakannya), dll. Untunglah salah satu rekan kita, Mas Fadly Muin bersedia membangun satu sarana untuk kita sama-sama belajar, memperbaiki kondisi mental dan pola pikir kita melalui Blog Motivasi Mental.

2 kondisi mental yang sangat miris dan paling sering saya temui, mental instan dan mental pengemis. Mental instan kerapkali membutakan pikiran rasio kita, terutama bila berkaitan dengan masalah duit. Ini diamini oleh om saya, Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Rich Dad Poor Dad. Padahal segala sesuatunya membutuhkan proses dan waktu sebelum membuahkan hasil. Mental kaya cara instan terbukti sering menjerumuskan rekan-rekan kita pada jebakan money game berkedok investasi.

Sama parahnya dengan mental instan, yakni mental pengemis. Ini tidak pandang bulu, mau kaya mau miskin, siapapun orangnya bisa terkena penyakit mental pengemis. Ini pernah diulas dengan baik sekali oleh Mas Fadly Muin dengan Blog Motivasi Mentalnya.

Untuk pola pikir sendiri, saya sudah menuliskan dua artikel terkait yaitu Bagaimana Mindset Membantu Kesuksesan Kita dan 3 Hal Yang Mempengaruhi Mindset. Anda bisa baca kembali untuk menata kembali pola pikir yang tidak tepat dan meluruskannya sebelum terlambat, demi masa depan yang lebih baik.

s

3. F I N A N C I A L

Bicara soal financial menarik sekali dan tidak ada habisnya, apalagi setelah saya selesai membaca buku seri Perencanaan Keuangan karangan Safir Senduk dan juga buku Financial Quotient karangan Imam Supriyono. Satu fakta yang tidak bisa terbantahkan, hampir 80% orang dewasa memperlakukan uangnya sama seperti ANAK TK. Lho kok bisa Mas Arief? Makanya, dicari deh beberapa buku di atas. Dan jangan menyombongkan diri bahwa Anda sudah bisa mengelola uang dengan baik, sebelum membaca parameter di buku Financail Quotient.

Andai saja semua orang memiliki FQ yang tinggi, saya kira tidak akan ada keluhan kesulitan financial. Karena ketika kita mampu mengelola dengan baik, kekurangan dan kesulitan financial bisa dibatasi dalam jangka waktu tertentu saja. Selebihnya kita bisa membalik keadaan menjadi lebih baik.

Kalau masing-masing individu punya kesadaran untuk meningkatkan FQnya, saya kira pelan tapi pasti bangsa ini bisa keluar dari keterpurukan ekonomi. Kita seringkali terlalu menggantungkan diri pada pemerintah melalui program-programnya perbaikan ekonominya. Kenapa kita tidak mencoba untuk berusaha mandiri. Kalau jeli, banyak jalan untuk memperbaiki perekonomian.

s

4. N A S I O N A L I S M E

Ngga lengkap sekali rasanya tanpa membicarakan nasionalisme. Satu hal yang sudah banyak hilang dari generasi muda kita. Tak bisa disalahkan sepenuhnya karena faktor-faktor pendukungnya juga banyak hilang.  Sekolah-sekolah tak lagi memasukkan mata pelajaran lagu wajib yang bertemakan kebangsaan dan perjuangan di dalam kurikulumnya. Padahal ketika saya masih SD, hal tersebut bisa masuk demikian dalamnya dan sungguh memberi spirits dalam bertindak.

Pun demikian dengan tradisi upacara bendera. Ada satu kebanggaan manakala saya bisa masuk dalam kumpulan petugas upacara. Semua posisi pernah saya lakoni, mulai dari posisi dirigen, pasukan pengibar bendera, hingga pemimpin upacara. Semua itu cukup memupuk rasa memiliki dan bangga akan bangsa Indonesia. Nah, sekarang? Coba tanya deh sama anak-anak SD / SMP / SMA sekarang. Lagu Indonesia Raya saja banyak yang tidak hafal, atau jangan-jangan Pancasila juga ngga hafal. Perlu pembenahan sistem pemupukan rasa nasionalisme.

Lepas dari itu semua, Alhamdulillah saya dipertemukan dengan dunia online hingga bisa mendirikan Blog Motivasi ini, yang salah satu latar belakangnya adalah untuk mengedukasi dan memotivasi serta memberi spirits untuk maju dan menjadi sukses. Kalau semua bisa sukses, bangsa kita bisa maju.

Jujur, kadang saya suka sedikit menitikkan air mata kalau lagu-lagu nasional seperti : Syukur, Padamu Negeri, Indonesia Pusaka, dll dinyanyikan. Begitu megah dan diseganinya Bangsa Indonesia dulu kala ketika Jaman Perdjoeangan, kini perlahan pudarlah kharisma tersebut gara-gara penerusnya. Kondisi bangsa sekarang kayanya parah banget. Makin menurun ditengah derasnya arus yang mengikis nasionalisme.

s

5. KEBANGKITAN DAN PERUBAHAN SEPERTI APA YANG AKAN ANDA LAKUKAN?

No terakhir sengaja saya tuliskan berupa pertanyaan. Sekalian menjadi penutup dari artikel yang sudah sangat panjang ini dan melelahkan mata Anda yang membacanya.

Rekan-rekan, mari kita berkomitmen untuk berubah dan bangkit menjadi lebih baik lagi. Jangan sampai peringatan Hari Kebangkitan Nasional terus berulang setiap tahunnya tanpa ada sesuatu yang berarti terjadi. Pelan tapi pasti, saya yakin bangsa kita bisa lebih baik lagi. Untuk langkah pertama komitmen kita, saya tantang Anda untuk menuliskan di form komentar, kebangkitan dan perubahan seperti apa yang akan Anda lakukan? Dan kita lihat hasilnya beberapa waktu mendatang.

Tetap dalam Perdjoeangan,
Photobucket
space

Memaknai Hari Kebangkitan Nasional Dengan Perubahan Kecil
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us

45 thoughts on “Memaknai Hari Kebangkitan Nasional Dengan Perubahan Kecil

  • Rata-rata artikel mas Arief enak di baca kok..

    tidak neko-neko. Menjawab tantangn Mas Arief.. Dari empat poin di atas, InsyaAllah saya akan melakukan perubahan pada poin 3.FINANCIAL! Beberapa kali saya terpuruk karenanya. Mungkin sifat saya yang agag berani ambil resiko dan terkadang spekulasi. mudah-mudahan kedepan bisa lebih realisits, penuh perhitungan dan bijak dalam memanfaatkan uang.

    Salam Perdjoengan!

      1. @Agung Jatnika,
        Benar Mas…, yuk sama-sama benahi sisi keuangan kita.

        Ketika ikut training yang terkait dengan NLP, satu sisi yang ditekankan adalah sisi finansial. Beresi dulu sisi finansial, tapi bukan berarti tidak berbuat apa-apa untuk sisi-sisi yang lain.

        Salam sukses!

        1. @hade, untuk itu kita bisa belajar pada Mas Hade dengan JAVA SUGAR BUSINESSnya. Sukses di dunia online dan offline.

          :nyembah:

    1. @Fadly Muin, mantap. Apalagi setelah kita chat kemarin. Melihat semangat produktivitas mas Fadly Muin, saya beruntung mengenal sosok Mas.

  • Saya berusaha mengenali diri saya sendiri…Semoga tercapai..Insya Allah….Amiin

    Salam perdjoengan juga brow…:sip::sip::sip:

    1. @Agung Jatnika, hehehe… dinanti-nanti lho mas, online storenya. Saya waktunya terbatas banget, makanya online store ProfesionalMedia.com lambat banget pergerakannya.

  • Pak Arief, tidak terasa yahhh sudah 101 tahun kebangkitan nasional; peristiwa yang seharusnya menjadi spirit dalam melakoni kehidupan berbangsa dan bernegara.

    1. @munawar am, Halo Kang Nawar. Gimana kabarnya? Semoga sehat selalu.

      Iya justru itu. Kita terlena dengan waktu yang rasanya semakin cepat saja. Tapi, sayangnya perubahan menuju ke arah yang lebih baik tidak secepat itu.

      Semoga spirits kali Kebangkitan Nasional kali ini bisa memotivasi kita semua untuk lebih baik lagi dalam hidup berbangsa dan bernegara.

  • Halo Mas Arief, saya rasa jarang sekali anak muda seperti Mas menulis artikel tentang kebangsaan dan nasionalisme. Saya patut acungkan jempol dulu.

    Saya setuju sekali apa yang Mas sampaikan. Jika kita ingin merubah tatanan moral bangsa ini, maka sistem pendidikan secara umum harus dibenahi.

    Terima kasih atas sharing artikelnya.

    Tetap semangat Mas dan salam sukses luar biasa.

    1. @Arswino Sonata, Terima kasih mas. Saya sendiri miris melihat generasi muda sekarang yang cenderung cuek dengan kondisi bangsanya.

      Kesannya, yang penting saya hidup oke, terserah lah bangsa ini mo kaya apa.

      Saya jadi inget ajakan temen kampus untuk ikut berjuang menjadi aktivis. Tapi saya tolak. Karena saya lebih suka berjuang lewat goresan pena dan praktek langsung, daripada sekedar demo yang tidak membuahkan hasil.

      Semoga perjuangan ini tidak pernah berakhir. Sama halnya dengan blog Mas Arswin yang luar biasa.

      Oh ya, kiriman kata-kata bijaknya setiap hari keren banget mas!

      Salam Sukses

  • tidak pernah ada yang MENYALAHKAN DIRI SENDIRI…

    saya kasih koment ini mas….
    nurut saya karena kita dari dulu telah dididik untuk mencari kambing hitam..contohnya waktu saya kecil dulu, kepala saya kebentur pintu yang di salahin adalah pintunya.. bukannkah itu juga pembelajaran yang salah??????????

    1. @basuki sutjijanto, Iya mas…sering juga waktu saya kecil kalau kita tersakiti oleh yang namanya benda mati, malah benda itu yang di marahin bahkan dipukul….ha..ha..ha..
      Padahal kita sendiri yang terlalu lincah sampai-sampai kebentur deh…:ngakak::ngakak:

    2. @basuki sutjijanto, Iya mas. Bu Endang, guru bahasa jepang saya waktu SMA pernah cerita. Lain di Indonesia,lain di jepang.

      Kalau di jepang anak kecil nangis karena kebentur pintu, maka pintu tidak jadi kambing hitam. Justru anak itu dinasehati oleh orang tuanya untuk hati-hati.

      Disamping itu para orang tua juga menjelaskan secara simple hukum sebab akibat. Tidak hati-hati ya kebentur.

      Nah, kapan neeh orang tua di Indonesia bisa seperti itu?

      1. @arief maulana, Untung saya sudah terapkan yang seperti itu.. Belajarnya dari mana? Baca buku dong! he he he (Narsis)

        mengenai penerapan nilai-nilai kepada anak ini harus “super hati-hati” karena terkadang ada peristiwa yang saling bertolak belakang.

  • :hiks:sangat memprihatinkan memang,jujur saja saya sendiri lupa kapan hari kebangkitan nasional diperingati(hehe..kebangetan ya mas)tidak ada yang bisa saya lakukan untuk bangsa indonesia maju,kecuali sebisa mungkin saya menggunakan produk2 lokal,berbahasa indonesia dan melestarikan keindahan di sekitar rumah…hanya itu yang bisa saya lakukan untuk indonesiaku.

    1. @sari, wah… parah, kelamaan di saudi sono ya mbak! Bener mbak, pake produk dalam negeri.

      Dan siapa bilang tidak bisa berbuat banyak. Dengan mbak membuat blog yang infonya bermanfaat dan ditujukan untuk anak bangsa (bhs Indo), itu kan udah satu bentuk kontribusi, dimanapun kita berada.

      Terima kasih! Seger neeh kalau ada kaum hawa yang komen disini, hahaha!
      :love:

  • Tq mas arief atas artikel nya!! :sip:

    wew, slama ini sring saya temui orang2 yg pola pkir nya instan sperti yg mas ktakan!!!

    orng nya ga jauh2, ya teman saya. Wktu di ajk ke bank buat bli dposit dia mlah gak mau. kta nya CPEK, JAUH, MLEZ, BSOK AJ SICH!!! Itu yg bkin saya kesel!!:wooo: pdhal dia dah jdi member DYNASIS!!

    pdhal klo mo sukses hrus kerja kras kan!!! msa disruh jln aj gak mau!!! Sampe2 sya bilang DASAR BANCI!!!:waaa: :melet: saya tau itu buat dia tersinggung!!! :diem:

    kira2 buat orng kyak gtu mesti di apain ya mas??? :mikir:

    1. @d D4n, solusi untuk member malas seperti teman mas, kita yang stok deposit mas.

      Jadi member bayar ke kita, ntar kita transfer deposit ke dia. Beberapa member saya ada yang malas pergi ke bank, tapi rajin jalanin bisnis.

      Dengan transfer antar member semua jadi mudah. Tapi kita sebagai upline kudu telaten dan siap membantu grup bisnis!

    1. @maskuncoro, biar bangsa ini bangkit, pertanyaannya dibalik mas.

      Apakah kita pribadi sudah benar-benar bangkit dan menjadi lebih baik?

      Kalau semua orang bisa menjawab YA! Maka insya allah negeri ini akan bangkit.

      Karena kemajuan suatu negeri, tidak lepas dari kemajuan masing-masing individu yang hidup di negeri tersebut.

      Salam Sukses

    1. @Ahmad N, ayo-ayo… sadar-sadar! Kalo perlu temen2 yg pada cuek bawa ke sini biar pada tobat semua, hahaha

  • Selamat siang mas arief, ijin komentar menggunakan keyword ya mas.

    Saya ingin merubah MENTAL dan pOLA PIKIR saya kearah yang lebih baik. Semoga dengan berubahnya mental dan pola pikir, saya bisa meraih semua cita-cita, antara lain : lebih menjunjung tinggi nilai-nilai MORAL dan AGAMA, mencapai kondisi FINANCIAL yang diinginkan, dan mempunyai rasa NASIONALISME yang tinggi.

    ..hihi..kok jadi pengin merubah semua ya mas :hihi:
    Nice post

    Keep Smile

    Ricky
    Businessman

    1. @Ricky, :sip: ngga apa-apa. Malah bagus. Goalkan untuk merubah semuanya menjadi lebih baik. Lakukan secara bertahap, maka tunggulah hasil yang lebih baik akn datang.
      :uhuk:

  • Perlu timing yg tepat utk berubah…dgn hari Kebangkitan Nasional kmaren….mudahan jadi landsan yg tepat dan berkesan…

    Terima kasih atas pencerahan mtivasi ini mas…

    1. @ammadis, betul mas setiap orang punya timingnya masing-masing. Tapi bukan berarti kita nunggu timing itu datang mas.

      Usahain kita bisa membuka jalan sehingga timing itu cepat datangnya.

  • ego tinggi bisa jadi bumerang buat kita mas. mencari kesalahan orang lain dan tidak mau menyalahkan diri sendiri.

    Lebih baik kita mencari solusi dan bangkit bersama-sama.:sip:

  • Cak Arief yang baik, sebenarnya yang kita butuhkan adalah budi pekerti dan akan lebih baik kalau menjadi pelajaran disekolah kembali seperti jaman doeloe, kita dulu dicekokin PMP dengan 32 butir yang harus dihapal (..dengan praktek?) yang hanya berupa indoktrinasi.

    Nasionalisme? kalo kita tanya kepada tentara jawaban yang kita dapat mungkin bela negara, tapi saat ini nasionalisme menurut saya saat ini adalah berusaha dengan cara halal dan menjadi warga negara yang baik menghargai perbedaan dan memberikan pencerahan kepada sesama, berbagi ilmu, berbagi informasi untuk hidup yang lebih baik, memberikan motovasi untuk kehidupan esok yang lebih baik sebagaimana Cak Arief lakukan selama ini, ini adalah butir kecil dari nasionalisme tapi sangat besar manfaatnya.

    Salam, semoga Cak Arief selalu diberikan kesabaran dan kesehatan…amin.

  • Salam kenal,
    Saya pengunjung baru nih. Pada saat membuka ini mengingatkan saya tentang pentingnya sebuah perubahan. Seperti yang saya tulis pada artikel saya hari ini.
    Manusia adalah agen perubah…
    tapi maknai perubahan ini dengan bijak.

  • bagus bgt mas arif artikelnya…perubahan memang sangat diperlukan skali mas arif,,,wlo kecil skalanya.yang pasti ke arah yang lebih baik,,,,biar hidup jadi bermanfaat dan semangat.
    suksess mas arif..

    :wooo:

  • denagan kita tetep saling menyalahkan tidak akan menyelesaikan masalah bangsa yang sangat kompleks ini,karna itu mari kita bangkitkan lagi semangat juang dan semangat persaudaraan berbangsa bernegara,berbuat yang terbaik bagi bangsa kita,karna dengan tetep saling lempar batu masalah tak kan bisa selesai,dan bangsa ini pun tidak aka pernah bisa maju,salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 470,556 bad guys.