Memahami Peran Penjual, Pembeli dan Hukum Statistik

Oleh : Arief Maulana

marketing leader

Weekend kemarin, saya berkesempatan mengikuti acara Business Focus Group yang diselenggarakan di RS. Jakarta. Kebetulan materi yang dibahas minggu lalu adalah cara mengevaluasi hasil kinerja kita dalam memasarkan sebuah produk, apapun jenis produknya. Bila sudah bicara soal pemasaran, maka tidak akan luput dari metode promosi yang kita lakukan. Sudahkah efektif dan membuahkan hasil? Atau mungkin belum mendapatkan hasil dan menunggu hukum statistik berjalan.

Acara dibawakan dengan cukup apik dan bersemangat oleh mas Awi. Kami para peserta diminta untuk menuliskan metode-metode yang sudah dilakukan saat ini dan mulai mengevaluasinya. Berapa metode dan berapa pula hasil yang didapatkan dalam bentuk penambahan jumlah customer. Dari sekian banyak materi yang diberikan, ada 2 point yang cukup menggelitik saya dan akan saya sharingkan melalui tulisan ini untuk Anda semua. 

Peranan Penjual dan Pembeli

Pernahkah di antara Anda ada yang mati-matian mempromosikan usaha Anda namun tidak membuahkan hasil. Mati-matian meyakinkan calon pembeli, namun yang ada mereka tidak juga tertarik. Tertarik saja tidak, apalagi keinginan untuk membeli produk kita.

Perihal ini, Mas Awi menceritakan bahwa seringkali kita suka melangkahi peranan kita sebagai penjual. Kita kerap memaksakan kehendak ketika mempromosikan suatu produk apapun bentuknya (barang / jasa). Kalau itu yang Anda lakukan, yang ada calon pembeli Anda kabur dan pemberitaan miring tentang produk Anda pun ikut menyebar.

Seorang penjual, memiliki peranan bercerita tentang produknya dengan segala manfaatnya, yang mungkin akan didapatkan oleh calon pembeli.

Bukan memaksakannya kepada calon pembeli. “Not selling, but sharing.” Penekanan ada pada manfaat, bukan fitur produk. Berceritalah dengan hati berdasarkan pengalaman Anda merasakan manfaat dari produk yang dijual. Jadi tidak perlu berbohong ketika promosi atau menjelaskan produk Anda.

Peranan calon pembeli adalah membuat sebuah keputusan untuk memilih, apakah akan membeli produk kita atau tidak.

Meski produk kita keren seperti apapun, saat mereka tidak memiliki alasan untuk mendapatkan manfaat yang ditawarkan oleh produk kita ya jangan berharap terlalu banyak akan terjadi deal penjualan. Disinilah kemudian diperlukan sebuah sikap yang baik dan tidak memaksakan kehendak.

Selling Your Products
menjual produk Anda

Ada beberapa faktor yang membuat calon pembeli tidak melakukan pembelian atas produk Anda. Bisa saja karena memang belum membutuhkan manfaat yang ditawarkan. Bisa juga karena dari segi finansial, mereka ada prioritas lain yang lebih mendesak. Atau bisa karena alasan-alasan lainnya.

Memiliki sikap yang benar saat menawarkan produk ibaratnya adalah menaruh investasi jangka panjang. Kenapa bisa demikian? Mungkin suatu saat calon pembeli kita ini akan membutuhkan produk yang kita pasarkan. Atau mungkin bukan mereka, melainkan teman atau keluarganya. Saat itu terjadi, mereka tahu harus mengontak siapa. Siapa lagi kalau bukan Anda, yang dulu memiliki sikap ramah, jujur, baik, tidak memaksakan kehendak, dll, saat menawarkan produk Anda.

Maka sadari peran kita masing-masing. Tidak perlu terlalu memaksakan kehendak, apalagi sampai menghalalkan segala cara, mengedepankan ketidakjujuran.

Memahami Hukum Statistik

Beberapa dari Anda mungkin sudah paham dengan hukum konversi di dunia internet marketing. Dari sekian banyak yang datang ke web penjualan kita, akan ada sekian % yang tertarik. Dari sekian % yang tertarik, mungkin hanya 1 atau 2 orang saja yang akan membeli produk kita. Itulah dia, hukum statistik.

Begitu juga dengan bisnis yang Anda lakukan di dunia nyata. Semua ada hukum statistiknya. Kita tinggal menemukan formulanya, dan memperbesar nilai konversinya. Jika dari 50 orang yang Anda promosikan hanya ada 2-3 yang akan membeli dan menjadi customer Anda, maka kalau mau banyak customer ya promosinya diperbanyak.

Nilai konversi ini pun bisa berubah, Biasanya perubahan akan berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pribadi kita. Maka dari itu, pengembangan diri menjadi hal yang sangat penting disini. Jadi jangan heran kalau Anda melihat ada tim marketing yang mampu mencetak omzet dalam jumlah besar, kemudian mereka berinvestasi untuk ikut dalam seminar-seminar marketing yang dahsyat dan tiketnya relatif mahal. Itulah upaya mereka untuk meningkatkan kualitas diri.

hukum statistik

Ngomong-ngomong, memahami hukum statistik ini juga bisa meredakan stress kita akibat produk yang belum laku-laku. Kalau belum laku, ya berarti hukum statistiknya belum terpenuhi. Asal jangan mengurangi usaha yang kita lakukan, dan jangan sampai lalai ibadah kita akibat urusan bisnis ini.

Tuhan tidak pernah tidur. Selama kita berjalan dalam koridor yang benar dan senantiasa berusaha tanpa putus asa, hasilnya akan ada. Tinggal menunggu waktu saja. Ingat, berkat Tuhan datang tepat pada waktunya dan rezeki tidak pernah salah alamat.

Ini saja sharing saya. Bagi teman-teman yang memiliki pengalaman expert dalam menjalankan bisnis, saya undang untuk sharing sedikit di kolom komentar. Biar kita sama-sama saling berbagi. :)

    • @WINA PRIVATE COURSE, balik lagi yah ke tulisan di atas. Peran calon klien adl u/ memilih apa yg baik bagi dirinya. Sekalipun sebenarnya produk yg kita tawarkan bagus, kalau mereka sudah (-) dari awal jg sulit.

      Tidak usah menghabiskan terlalu banyak energi dengan calon pelanggan ini. Fokus saja cari yang lain.

  1. Penghasilan Otomatis says:

    Stop Selling, Start sharing…
    Ungkapan ini nampaknya benar2 ampuh:sip: Di bisnis offline yang saya geluti saat ini, saya merasakan ketika berhadapan dengan calon konsumen, sikap jujur, peduli, dan sharing tentang produk membuat saya closing penjualan dan menjadikan mereka konsumen, senangnya adalah saat terjadi repeat order dan ketika konsumen malah story telling. Saya tinggal pasang telinga dan mencoba memahami apa yg menjadi masalah yg memerlukan solusi dan karakter dari konsumen tersebut:lompat:

    • @Penghasilan Otomatis, i feel you. Seneng banget rasanya kalau customer kita banyak bercerita tentang manfaat yg mereka dapatkan dari produk kita. Customer satisfaction first, repeat order is bonus… :D

  2. mohammad aspuri hz says:

    Mantap dan sukses mas Arief.

    Salah satunya berpegang kpd menjaga kwalitas, kejujuran, dan layani dengan hati,keberhasilan tinggal tunggu watu.itulah yang 40 thn lalu saya mulai geluti.

  3. Pengalaman saya di bidang penjualan masih sangat minim, jadi belum punya formula (ttg konversi) yg dimaksud. Ke depan saya akan coba mencari formula itu. Pasti berguna utk meningkatkan omzet penjualan. Soalnya selama ini saya sering bingung mencari cara untuk meningkatkan omzet, hehe….
    Ditter recently posted..Melamar Kerja atau Berbisnis Sendiri?My Profile

    • @Ditter, simpel aja sih mas. Kalau sudah melakukan banyak penjualan atau promosi, nanti ketahuan berapa nilai konversinya. Kalau sudah ketahuan, tingkatin nilai konversi dengan peningkatan kualitas.

  4. Memang benar. Tidak semua orang bisa memahami peranan penjual dan pembeli apalagi memahami hukum statiska dalam dunia bisnis.
    Gimana mas Arief membahas mengenai hukum statistika ? Biar mereka dapat pengetahuan yang lebih baik. Kan tidak semua memiliki ilmu tersebut.
    Semoga terealisasi.

    • @Dimas, jangan dibayangin hukum statistik kaya di kampus yg jelimet itu. Maksudku disini adalah mengetahui berapa nilai statistik atau konversinya.

      Contoh : Misalkan hasil statistik kita dari menyebar 100 flyer promosi sbb :
      100 flyer promosi : 10 orang kontak karena tertarik : 2 orang deal pembelian

      Kalau udah ketahuan, berarti kalau mau dapat 10 customer, maka kira-kira kita harus menyebar 500 flyer promosi. Simpel kan :)

  5. Saya masih mencari cara untuk promo toko herbalku. Karena penjualan online belum seperti penjualan offline walau hanya di lingkungan kantor dan rumah. Mungkin ada yang mau share. Mas Arief, point2nya aku dapat. Terima kasih atas sharenya.
    Toko Herbal recently posted..AfiafitMy Profile

    • @Toko Herbal, promosi online bisa macem-macem :
      – update status di social media lain (facebook, twitter, dll)
      – bikin artikel bermanfaat & submit di ureport.vivanews.com
      – promosikan saat offline jg, entah dengan direct tallk atau flyer atau kartu nama.

  6. Nice posting mas Arief.

    Yang terpenting menurut saya adalah :

    1) produknya, apakah produk kita bener2 bagus atau tidak. the star is the product.

    2) Yang kedua apakah kita menggunakannya juga ? Sehingga kita bisa melakukan sharing ke customer kita.

    jangan seperti sales mobil mewah yang dia sendiri malah mungkin hanya pakai motor (kebanyakan begitu saya tau),

    kalau ada pembelian saya rasa karena faktor lain seperti misalnya si customer memang sudah lama ingin membeli mobil merk tersebut.

    3) Yang ketiga memang penting kita mengikuti training / seminar2 yg bisa meningkatkan kualitas kita sebagai penjual, public speaking dan kepribadian. Ini juga penting manakala produk yang kita jual bukan produk2 yg kita gunakan seperti traktor, dll.

    4) Yang ke empat adalah banyak latihan dan bergaul. Sehingga ilmu kita bertambah banyak, makin tinggi jam terbang dan akhirnya kita mahir seperti “james bond”, yang mana james bond selalu tepat dalam menembak, tidak membabi buta seperti rambo, selalu berhasil mengalahkan lawannya dan selalu berhasil memikat “perempuan” yang dia incar, (dalam hal ini kita analogikan sebagai customer).

    Tapi itu menurut saya ya mas arief, mohon dikoreksi, yang lainnya juga. terima kasih.

    :plis:

  7. Xaiber.web.id – Konten Blog Instan Ilmu Bisnis Online says:

    Benar sekali, saya sangat setuju dengan kedua poin di atas. Intinya, kita tidak boleh menyerah, lakukan evaluasi dan selalu mengembangkan kemampuan diri.

  8. lukman nulhakiem says:

    Saya memang tidak pernah melakukan evaluasi efektifitas dari aktivitas marketing yg saya lakukan. Itu ternyata kesalahan mendasar. Yg saya lakukan selama ini adalah selalu mencari cara baru.

    Rehat sejenak ternyata sangat membawa manfaat. Untuk selanjutnya menjauhkan diri dari cara2 yg tidak membawa hasil dan memperbaiki yg sudah terbukti menghasilkan. Terima kasih atas sharingnya Mas.
    lukman nulhakiem recently posted..Food Additive Definition and TypeMy Profile

    • @Kaget, masa? Sudah join jadi subscriber newsletter belum? KArena tiap ada postingan baru, mesti saya infokan via newsletter. Kalau saya statistik malah penting. Karena bisa jadi parameter usaha kita. Jadi ketahuan. Kalau mau dapet hasil sekian, maka usahanya harus sekian.

  9. Pingback: Buku Rekomendasi , Mimpi Sejuta Dola | Instore Excellence

Leave a Reply

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 471,788 bad guys.