Oleh : Arief Maulana

Logika Cinta
Logika Cinta

Kalau ada waktu paling berkualitas untuk membicarakan hal-hal yang sifatnya mendalam berdua bersama istri, biasanya kami lakukan justru di tengah malam menjelang tidur. Saat cahaya begitu temaram, suasana yang hening, dan gadget tak lagi berada pada genggaman masing-masing. Ya maklum lah, kami berdua sama-sama social media addict dan bertemu juga gara-gara social media.

Iseng sebuah pertanyaan saya luncurkan kepada istri saya, perihal kriteria apa saja yang membuat ia akhirnya menerima pinangan saya dan jadilah kami seperti saat ini, sudah menikah. Dalam hening istri saya pun mulai bercerita banyak, menjawab sebuah pertanyaan saya. Membangun kedekatan emosi yang lebih dalam lagi.

“Bapak pernah bilang ke aku, kalau memilih pasangan itu ngga cukup pake mata dan hati (cinta). Tapi juga logika.”

Saya terdiam sejenak. Memang benar adanya dan luar biasa bapak mertua saya ini. Sungguh bijaksana.

Memilih pasangan hidup untuk kemudian dinikahi bukan perkara main-main. Apalagi kalau kita bercita-cita memiliki sebuah hubungan berkualitas jangka panjang yang memang nantinya akan dipisahkan oleh maut semata, bukan karena pihak ketiga ataupun masalah-masalah lainnya.

Sebagai contoh misalnya, memilih hanya karena mata dan hati. Cinta dan sayang karena calon pasangan kelewat tampan / cantik. Tapi sudah kah logika ikut berperan disini? Sudah siapkah dengan konsekwensi bahwa pasangan yang secara fisik bagus, biasanya akan digilai atau disenangi juga oleh banyak orang. Otomatis akan banyak yang berusaha mendekat. Sanggup kah menahan diri untuk tidak cemburu dan tetap percara seutuhnya pada pasangan? Karena kalau tidak bisa percaya, lantas buat apa. Apa mau seumur hidup makan hati terus dan curigaan terus? Ngga capek ya? Hehehe….

Ada juga pertanyaan, “Seberapa berani kita terbuka dan jujur pada pasangan kita, tentang siapa dan bagaimana diri kita?‘ Banyak orang berusaha menghindari konflik dengan menciptakan kepura-puraan agar pasangannya yang sekarang tidak lari menjauh. Berpura-pura dulu sampai sudah terikat, baru kemudian membuka diri seutuhnya. Padahal disisi lain, komitmen juga dibangun dalam fondasi keterbukaan. Seberapa mampu kita menerima pasangan, tidak hanya hal-hal positifnya saja, namun juga sisi negatifnya sebagai satu pribadi seutuhnya.

Komunikasi
Komunikasi

Memang ada yang mengatakan bahwa “Kalau sudah cinta, biar berbeda seperti apa pun juga akan dimaklumi.” Eitss tunggu dulu. Perbedaan memang bukan untuk dipermasalah terus-menerus saat kita menjalin sebuah hubungan yang serius. Namun akan jauh lebih mudah dan nyaman untuk membangun hubungan dimana kesamaannya lebih banyak daripada perbedaannya. Setidaknya itu yang saya percaya. Pun bila ada perbedaan masih dalam batas yang bisa ditolerir. Disinilah sebuah kompromi dibutuhkan.

Ah, lagi-lagi logika mesti jalan. Logika adalah pelindung hati agar tidak tersakiti, nantinya saat hubungan sudah berjalan lebih jauh. Logika juga yang akan membuat sebuah hubungan menjadi nyaman untuk dijalani dalam jangka panjang. Karena cinta saja tidak pernah cukup.

Penampilan dan fisik oke. Perasaan juga sudah saling klop satu sama lain. Tapi di sisi lain pasangan kita madesu alias masa depan suram. Pekerjaan tidak jelas, visi hidup tidak punya, dan masih banyak lagi. Berani ambil resiko? Jangan salahkan wanita yang seolah-olah terlihat matre. Mereka hanya berpikir dalam kerangka realita. Apalagi bagi para lelaki juga punya beban tanggung jawab untuk memberikan nafkah.

Maka benarlah yang selama ini sering digembar-gemborkan oleh sebuah akun social media di twitter, Hitman System. Cinta saja tidak cukup. Logika juga perlu ikut bermain dalam permainan romansa. Agar hati tidak lagi tersakiti. Agar hubungan bisa berjalan dengan baik dan langgeng ke depannya. Dan semuanya diawali dari proses pemilihan pasangan hidup. Gunakan mata, hati, dan logika.

Menikah Untuk Bahagia
Menikah Untuk Bahagia

Oh ya ngomong-ngomong ada sebuah buku bagus yang ditulis oleh Pak Noveldy dan Bunda Noveldy, istrinya. Saya kira buku ini sangat bagus bagi yang belum menikah maupun yang sudah menikah. Judul bukunya “Menikah Untuk Bahagia“. Di dalamnya ada banyak hal yang bisa kita pelajari dan praktekkan untuk mewujudkan sebuah hubungan jangka panjang yang awet dan tentu saja nyaman untuk dijalani. Next post, saya buat reviewnya deh. :D

Saya menuliskan ini bukan berarti saya paling hebat dan mengerti dalam membangun sebuah hubungan yang solid. Saya juga tidak pernah bermaksud sok mengajari. Justru disini saya share karena kita sama-sama belajar. Daripada belajar sendiri, lebih enak belajar rame-rame kan? ;)

Terima kasih buat istri tercinta, inspirasimu menjadi sebuah tulisan panjang yang ala kadarnya ini. Love you as always.

Melihat Dengan Mata, Hati dan Logika
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us

51 thoughts on “Melihat Dengan Mata, Hati dan Logika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 470,416 bad guys.