Oleh : Arief Maulana

Gimana mau sukses kalau petunjuk suksesnya ngga diikuti.

Teachable. Sebagian orang mungkin sudah kenal betul dengan kata ini, bahkan tersenyum mendengarnya. Namun sebagian besar orang tidak mengenalnya, apalagi melakukannya. Padahal yang saya pelajari, teachable adalah salah satu sikap yang penting dan harus dimiliki oleh mereka yang memutuskan untuk berjuang di jalan kesuksesan.

Teachable secara mudah bisa diartikan sebagai satu sikap mau diajar atau mau mengikuti petunjuk yang sudah diberikan.

Robert T. Kiyosaki pernah mengatakan di bukunya, Rich Dad Poor Dad, bahwa untuk menjadi seorang pebisnis sukses paling tidak kita harus memiliki pembimbing atau mentor yang tepat. Saya rasa itu masih belum cukup. Percuma kalau kita punya mentor yang tepat (tidak hanya bisnis), tapi kita tidak mau menuruti apa yang menjadi arahan dan bimbingannya alias bersikap teachable.

Saya ada contoh sederhana, kisah nyata yang terjadi beberapa hari yang lalu (26 April 2009). Ini terjadi di jaringan bisnis viral marketing dynasis yang sudah saya bangun dan bina dengan serius sejak beberapa bulan terakhir. 

Pada tanggal 24 April ’09, seorang wanita bernama ***** mengirimkan SMS kepada saya untuk minta didaftarkan sebagai member bisnis viral marketing Dynasis. Katanya dia melihat presentasi saya melalui situs www.GoldenDynasis.com dan tertarik karena bisnis ini tidak memerlukan modal untuk memulainya.

Tanpa pikir panjang saya daftarkan dia ke Dynasis via SMS dan 3 menit kemudian dia sukses terdaftar sebagai frontline saya. New frontline, new warrior, new income pastinya, hehehe… Dan yang bersangkutan pun mendapatkan SMS konfirmasi yang sama, berisi ID dan PIN yang digunakan untuk semua akses transaksi maupun login ke situs resmi Dynasis.

Seperti biasa, setelah resmi jadi group bisnis saya, maka sms follow up yang isinya bagaimana cara menjalankan Dynasis saya kirimkan. Kalau tidak salah ada sekitar 10 SMS panjang. Ya, namanya juga jaringan luar kota. Dia di Sumatera dan saya di Sidoarjo. Apalagi 85% jaringan bisnis Dynasis saya join via online, bukan presentasi offline. So, follow upnya pakai sms.

Pada SMS pertama, bagian yang paling penting, saya meminta dia tersebut untuk MENDOWNLOAD PANDUAN MEMBER DYNASIS + BROSUR + DAFTAR HARGA di member area dynasis. Ini adalah bagian yang terpenting karena semua ilmu pengetahuan tentang bisnis ini dan bagaimana sistemnya bekerja ada di panduan dan brosur tersebut.

Ingat, untuk memenangkan peperangan kita harus memiliki persiapan yang matang, salah satunya adalah dengan mengenal betul bagaimana bisnis yang kita jalankan saat ini sebelum terjun ke lapangan.

Kemudian setelah saya kirimkan sms tersebut, member saya tersebut segera transfer ke rekening Dynasis untuk membeli deposit yang nantinya dicairkan dalam bentuk pulsa. Lantas selang sekitar 3-4 jam kemudian member itu sms saya. Isinya keluhan karena tidak ada respon dari pihak Dynasis. Dia merasa ditipu dan rugi besar karena sudah terlanjur deposit (padahal cuma 20 ribu). Disamping itu dia juga mengeluh sudah mencoba mendaftarkan 3 orang baru tapi tidak ada respon atau SMS balasan dari Dynasis.

Saya heran. Kok bisa demikian. Karena dari ratusan member aktif saya, tidak pernah ada yang kejadian seperti itu. Semua lancar-lancar saja. Dan yang pasti semua mengikuti apa yang ada di panduan member Dynasis (termasuk mengikuti panduan SMS saya).

3 hari saya mencari tahu apa yang menjadi pokok permasalahan. Bahkan saya sampai menghubungi upline tertinggi untuk minta bantuan penyelesaian masalah ini. Member yang bersangkutan pun ketika saya minta kerjasamanya kurang koperatif. Udah salah, keras kepala pula. Bahkan sampai saya belain untuk telpon interlokal ke temaptnya lewat HP dengan maksud menanyakan langsung, isinya malah diomeli dan diceramahi selama 12 menit. Ehm…buang pulsa sekitar 15 ribuan lah.

Tapi karena ingat tanggung jawab sebagai seorang leader, maka saya jaga sikap dan saya bilang, Dynasis bukan bisnis penipuan. Ini real bisnis pulsa, dan saya sudah passive income dari Dynasis. Kalau perlu nanti 20ribu itu saya ganti, transfer langsung via ATM BCA. Setelah proses panjang dan sms yang mbulet ngga karuan akhirnya ketemu. Anda tahu, saya sms dia bolak balik sebenernya cuma menanyakan dua hal :

  1. Apakah format SMSnya sudah benar? Tolong kirim (forward) sms konfirmasi yang dikirimkan ke Dynasis ke no saya untuk pengecekan.
  2. Apakah No SMS Center Dynasisnya sudah bener?

Dua pertanyaan ini simpel sekali bukan. Tapi member saya itu ngga teachable sama sekali, keras kepala pula. Kemudian bales saya bukannya menjawab pertanyaan malah mengisinya dengan omelan, marah-marah, dsb. Sampai hari ketiga, akhirnya dia SMSkan format sms konfirmasinya dan nomor Sms Center Dynasis yang dituju kepada saya.

Dan… ketemulah dimana letak kesalahannya. No SMS Center Dynasisnya salah. Dia mengirimkan ke no yang dipakai Dynasis untuk memberikan informasi sukses terdaftar beserta ID dan PIN. Padahal jelas-jelas di Panduan Member Dynasis dicantumkan peringatan bahwa semua perintah SMS dikirimkan hanya ke nomor SMS Center. Jadi jangan membalas ke no yang dipakai oleh Dynasis untuk memberikan informasi / konfirmasi kepada member.

Usut punya usut ternyata, dia sok tahu dan tidak mau membaca secara lengkap Panduan Member Dynasis.  Jadi letak kesalahan terbesar member saya adalah TIDAK TEACHABLE.

  1. Tidak mengikuti petunjuk saya untuk membaca Panduan Member Dynasis.
  2. Mbulet waktu saya minat SMSkan format sms dan no tujuannya (sampai 3 hari mbuletisasi).
  3. Udah salah, malah ngomel-ngomel dan sok menasehati saya untuk jujur dalam berbisnis dan harus tanggung jawab sama grup. (saya bingung, soalnya dia baru kali ini join bisnis ini tapi udah lebih hebat dan bijaksana dari saya).

Nah, rekan-rekan itu contoh kecil sikap tidak teachable. Jangan sampai Anda melakukan hal yang sama. Dan bicara soal teachable, hampir di semua bisnis rasanya seperti itu. Bukankah kalau kita mau sukses belajarnya harus sama yang sudah sukses?

Kalau Anda berada di bisnis online misalnya, maka mentor Anda adalah panduan bisnis online yang sudah Anda beli. Panduan itu dituliskan oleh penulis yang sudah sukses dan merupakan hasil pembelajaran serta pengalaman mereka. Bahkan boleh jadi dengan mengikuti itu, kita bisa meminimalisir kesalahan dengan belajar dari mereka.

Contoh lain lagi, Panduan SMUO yang ditulis oleh Internet Marketer Sukses, Joko Susilo. Banyak orang beli panduan tersebut. Namun lebih banyak yang tidak teachable dan mengikuti apa yang ada di panduan sehingga gagal. Padahal kalau mau mengikuti langkah-langkah yang diberikan, maka kita bisa meraih sukses yang sama dengan Joko Susilo.

Ada Mashengky dengan bisnis VCCnya. Ada Mas Agung dengan produk-produk online dan bisnis cover produk digital. Ada mas Handoko Tantra dengan paket ebook bisnisnya. Ada Pak Kusuma dengan rahasia SEOnya, Mas Nicko dengan panduan affiliate marketer suksesnya, dan masih banyak lagi.

Mereka semua adalah contoh nyata orang-orang yang sukses dengan bersikap teachable terhadap panduan SMUOnya mas Joko Susilo. Mau diajar dan tidak banyak menuntut. Action dengan satu kepercayaan bahwa, “Saya sudah pegang rahasia bagaimana menjadi sukses. Kalau saya praktekkan dan tidak menyerah di tengah jalan, pasti sukses juga.”

Butuh contoh lagi? Ada seseorang lagi, namanya Adi Wardana. Kebetulan di bisnis jaringan yang dulu dia adalah top leader terkuat penghasil omzet terbesar dan juga penyumbang bonus terbesar saya. Kecepatan pertumbuhan bisnisnya luar biasa. Dalam waktu singkat mampu menduplikasi saya penuh, baik itu dari sikap, pola pikir, sistem bisnis, dll. Akhirnya semua leader-leader saya pada kesalip incomenya, bahkan dalam waktu yang singkat Adi bisa menyamai posisi yang sama dengan saya (termasuk bonusnya).

Apa yang membedakan Adi dengan leader-leader yang lain? SIKAP TEACHABLE-nya. Dia sangat teachable, tidak banyak menuntut, action, dan ngga banyak mempertanyakan. Dia percaya, ketika bertindak dengan cara yang benar sesuai sistem, sebagaimana yang diajarkan para Top Leader, maka hasilnya pun akan luar biasa.

Kini Anda sudah membaca dan tahu apa arti penting sikap teachable untuk menunjang kesuksesan kita. Tentu saja dibutuhkan satu kerendahan hati yang luar biasa untuk bisa teachable. Kenapa? karena terkadang ketika kita memiliki postur yang lebih baik daripada “guru” kita, maka sulit sekali untuk teachable. Ego kita mengalahkan segalanya, walau harus berujung pada kegagalan.

Sekian dulu dari saya. Semoga Anda tidak lelah membacanya dan mendapatkan manfaat serta inspirasi dari tulisan ini. Jadi, ngga sia-sia bacanya.

Pesan saya, BE TEACHABLE…!

Salam Sukses,
Photobucket
space

Mau Sukses, Teachable Dong!
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us
Tagged on:         

98 thoughts on “Mau Sukses, Teachable Dong!

  • wah postingnya makin hari makin berbobot mas arif… saya jadi perlu banyak belajar juga neeh.. Menyoal masalah “teachable” saya jadi teringat saat belajar membuat SAP (Satuan Acara Perkuliahan) ada beberapa yang mau saya tambah neeh mas arif.. kalau tidak keberatan

    1. Selain “teachable” materi juga bisa mengembangkan beberapa softskil kita. Contoh dari mas arief ini bisa di bilang teachable dan mengembangkan softskil. saya yakin betul tidak semua orang bisa seperti mas arief, Ahli kapal, tapi bisa memberikan motivasi.

    2. Teaching Learning, kalau bisa teachable berarting kita juga harus mau berlajar dari orang lain. Belajar mau menerima pendapat orang lain, mendengarkan pembicaran orang lain, dan tidak malu menerima pendapat orang tersebut (memang agak sulit, walaupun itu dari mantan murid atau mahasiswa). Tapi kita harus bisa menguasai itu. karena diri kita juga harus bisa memberikan materi.

    masih ada lagi tapi dua dulu ya mas arief… nice post..
    :sip:

    1. @Boy Macklin, terima kasih tambahannya mas.

      Untuk softskill, saya pribadi memang mengenjot self upgrading disana. Soalnya dari segi akademis saya ngepress. Makanya cari kelebihan lain mas.

      Soal teaching learning… itulah kenapa Allah menciptakan 2 telinga dn 1 mulut. Agar kita lebih banyak mendengarkan dan memperhatikan yg lain daripada sibuk ngoceh sendiri.

      :sip:

    2. @Boy Macklin, ikut nambahin, kemungkinan besar tidak teachable kaena communication skillnya tidak memadai. jadinya ngomong asal-asalan dan tidak tertata dengan santun.:nyembah:

      1. @Fadly Muin, wah senangnya para pakar softskill pada turun tangan memberikan masukan. Bisa self upgrading lagi! :sip:

    1. @firza abdi, saya sih sabar mas. Posting ini bukan pelampiasan emosi kok, hehehe
      :hehe:

      Sengaja posting ini agar yang lain bisa belajar pentingnya sikap teachable. Apalagi kalau fokus kita terjun di bisnis dengan model jaringan!
      :mataduitan::mataduitan::mataduitan:

      1. klo menurut saya ngga papa kita emosi dikit…namanya juga manusia, kan pasti punya kekurangan dan kesempurnaan hanyalah milik Allah semata.

        Tapi uenaaknya, emosinya dalam hati aja mas..he..he..he..
        :ngakak::ngakak:

        1. @Handoko Tantra, hati-hati jadi gendheng mas :ngupil:
          soalnya rata-rata yg masuk RSJ itu orang yang suka mendem emosi dalam hati…
          hahahaha… :ngakak:

  • Ini sangat biasa terjadi mas, dan yg peling penting memang bagaimana cara menyikapinya sebaik mungkin.spt yg mas Arief lakukan.

    Banyak memang konsumen kita atau jaringan dibawah kita tdk paham akan apa yg dia harus lakukan.

    Hanya saja klo sya biasanya menerapkan di pola pikir sya bahwa sya membedakan, antara karakter dan ucapan seseorang. terkadang ucapannya tdk sopan dll tetapi sebenarnya jika kita bisa memahami karakter org tersebut ternyata dia bisa lebih baik ke kita dripada org yg selama ini baik ke kita, karena mungkin kita bisa menyelami pikirannya yg mana biasanya dia suka di jauhi org lain.

    Beda lagi dgn org yg ucapannya lembut dan terlihat sopan, eh ternyata dibalik itu ada karaketer yg menjelimet dan bisa dibilang sempit hati dll.

    Yah selama ini sya menerapkan bahwa sya harus bisa membedakan antara ucapan dan karakter.

    1. @Irwan M Santika, bisa dikatakan begitu.

      namun dari prespektif komunikasi, jika seseorang di lengkapi dengan communication skill yang baik, maka dia mampu bertutur sebagaimana mestinya… :no:

      1. @Fadly Muin, kurang satu lagi mas. Sikap dan pola pikir. Soale kadang banyak juga orang yg comm skillnya oke, namun tidak pada tempatnya karena persepsi yg tidak tepat…
        :bom:

  • Wah…dari ceritanya di atas… perjuangan mas ini bener-bener penuh tantangan sebagai afiliater. memang dalam berbisnis online kita mesti sabar
    dalam menghadapi tantangannya….karena kita sebagai pelayan dan melayani konsumen dimana dari situlah uang akan mengalir.

    Jadi disini menurut mas, yang bener mana nih…Pembeli Adalah Raja atau Pembeli Selalu Benar ??

    mantap mas…lanjuuut…:mataduitan:

    1. @Bligus Ardhi, Perumpamaannya bagus Mas Ardhi.
      Dan gelasnya berada pada tempat yang datar, tidak miring, atau dipegangi dengan kencang, agar tak tumpah.
      Salam ACTION!

      1. @Joko Susilo, perumpamaan yang baik pula oleh mas joko.. jadi teachable harus membawa misi yang benar dan selalu bicara benar..

    2. @Bligus Ardhi, bener banget Mas, makanya kalo di seminar2 open plan presentation suka diputerin video gelas kosong and gelas penuh.

      Gelas penuh mo diisi sebanyak apapun bakal amber keluar dan ngga ada yg masuk. Sebaliknya ketika gelas kosong, maka mampu menampung ilmu yg diberikan… Thanx tambahannya bro :sip:

    1. @Jana, ini proses editing beberapa kali mas. Dan sengaja minim iklan. Ntar saya buat blog khusus yg bahas tentang bisnis dan penuh iklan… hehehe :love:

  • mas Arief, ingat aja kata2 mas Hengky tentang Dukun Blogger :ngakak::ngakak: (Just Kidding)

    Semakin tinggi ilmu kebatinan seseorang, maka semakin mudah melihat orang-orang yang tidak mau belajar, tidak mau menerima ide / gagasan dst…

    makanya saya tidak heran ketika mas arief menceritakannya dengan naturak, sekaligus bisa menjadi pembelajaran mental buat kita-kita..

    Sangat memotifasi mas…

    1. @Fadly Muin, iya mas… artikel yg cukup menghibur ditengah penatnya urusan kuliah dan bisnis, hahaha… :ngakak:

      terima kasih :nyembah:

  • sabar…sabar…sabar…
    watak tiap2 itu berbeda mas… mas arief lagi di uji kesabaran…
    nice artikel mas…. suatu pembelajaran dan perlu belajar…..

    salam 1%

    1. @Adi Wardana, klo totalan udah 1500an di. Tapi hukum 20:80 ngga bisa dihindari.

      Kayanya iya, apalagi setelah posting artikel ini. Malah tambah banyak yg join.

    2. @Adi Wardana, oh ya yg update sekarang udah 444 member aktive hahaha…

      Kapan mau nyusul bro. Aku yakin kalo u aktiv bisa ngalahin para top leaderku.

  • memang SDM orang itu berbeda-beda, dan juga latar belakang yg berbeda2, watak, sikap pemikiran dll, kita harus menghadapi tantangan itu dengan sabar dan ikhlas demi membantu sesama… salam sabar.. and smile… hehe

    1. @LendraAndrian, betul mas. Dan itulah ujian sebenarnya dari seorang leader. Dimana manajerial skill harus mampu menyatukan teamnya agar solid.

      Thanx for visite :sip:

    1. @erick, yah… inget hukum 20:80 mas. Dari 80% omzet kita, hanya dihasilkan oleh 20% saja. Sisanya penggembira!

  • mas yang selanjutnya dari teachable yang 3 dan 4 adalah Refleks dan Insting.
    Mas arief lihat komen yang masuk..

    3. Refleks, para komen dengan cepat memberikan balasan dan “konek” dengan apa yang mas arif posting. Artinya teachable mudah dimengerti dan langsung ACTION. meminjam istilah mas Joko Susilo “Action” teachable itu mudah di duplikasi dengan berbagai macam sistemnya.

    4. Insting, coba perhatikan mas Bligus Ardhi. Langsung dapat memberikan perumpamaan dan mas Joko Susilo menjawab perumpaan itu, artinya teachable sanggup memberikan pengertian kepada orang lain dan dapat mengartikannya dari sisi yang lain tapi pengertiannya sama.
    Sip mas Arief. posting ini praktis tapi manfaatnya besar…
    :sip:

    1. @Boy Macklin, i see. thanx alot tambahannya Mas Boy.

      Saya juga belajar nulis kaya gini kan setelah punya ONBUKnya Mas Boy. Sip

  • hebat, idenya sangat menarik mungkin “senjata” digunakan untuk menghadapi kompetitor tapi ketika berhadapan dengan prospek maka “kata” adalah kuncinya.

    1. @Spiderwebiz, jangan lupa didukung dengan bukti dan product knowledge mas. Biar ngga asbun (asal bunyi) hehehe… :sikut:

  • Mantab mas keberhasilan seseorang tidak pernah akan ada tanpa banyak pengorbanan yang harus di lakukannya,ibarat satu masakan kalau satu saja bumbu dasarnya kita lupa atau kita abaikan maka masakan itu tidak akan maknyuuusss lagi,salam

  • botol yang penuh tidak mungkin lagi bisa diisi air. tapi tidak demikian dengan botol yang masih kosong. so… be empty bottle, be teachable…!!

    tambah smart aja ne mas arif

    1. @ahmadinda, harus mas. Jadi manusia yg punya nilai plus-plus kudu berkembang. Jangan sampai hari ini lebih buruk dari hari kemarin…

  • seep lah, jdi termotivasi lgi buat bisnis ol. :sip:

    Bsok2 mo crita ah ma tmn2 biar termotivasi buat ikut bisnis saya:ngelamun:

    Ok dech, bkin posting lg yg lbih MENARIK lg yach. Biar ilmu nya mas arief bsa saya CURI:ngikik:

    :baca::baca::baca:

    1. @d D4n, wah pernah mutung dari bisnis OL tah mas? hihihi… direkom kesini aja temen2nya mas. Biar tergerak trus join sama mas…
      :mimisan::mataduitan::mimisan::mataduitan:

  • wow..keren dan semoga tambah sukses mas. Oleh karena itu perlu mau belajar dari orang lain termasuk dari orang yang selama ini kita anggap kurang mampu. Kalau dia berkata benar ya harus diterima dengan lapang dada..teachable memang harus biar dapat belajar dari orang lain.

    1. @zams, bener mas. Makanya kadang-kadang saya suka juga ngobrol sama mereka yg levelnya dibawah saya (baik ilmu, kondisi ekonomi, dll). Membuat kita mudah bersyukur.

  • Walaupun Mas Arief tidak mengakui posting ini sebagai luapan emosi, hmmm…biarlah saya sendiri yang menafsirkan sebagi curhat seorang arief maulana….
    Tapi bedanya, curhat Mas Arief pasti selalu membawa manfaat untuk pembaca, bukan begitu Mas?

    Walaupun mungkin awalnya Mas Arief sedikit stres dengan member tersebut, tapi saya yakin stres itu hanya sesaat, atau dengan redaksi lain adalah shock terapi saja.
    Apalagi saat Mas Arief mengaku kasus ini adalah baru pertama kalinya dari 400 member yang sudah join. Menurut saya member seperti ini bukan datang percuma saja tetapi saya merasa leader sekaliber Mas Arief memang sudah saatnya butuh member model begituan.

    Dengan positive mind, jika suatu saat nanti mas arief atau downline2 mas arief mendapati member serupa, sudah gak stress lagi dan tahu akar masalah serta formula apa yang paling tepat untuk menghandlenya.

    So, jadikan setiap kisah sarat akan hikmah.

    Salam Istimewa!

    1. @Umar Puja Kesuma, hahaha… ada-ada aja :hihi:

      satu yg tidak saya buka disini mas. Sebenernya total member yg saya bina 1500 lebih. Jadi dihitung2 yg bermasalah ada 1100 orang. Hahaha…

      Yah, mas tahu sendirilah. Hukum 20:80 selalu berlaku. Karena kebanyakan masalahnya sama (ngga teachable), thats why saya ngerasa udah waktunya ngangkat masalah ini kepermukaan.

      Ntar 1100 orang itu (lewat top leadernya) tak suruh baca artikel ini mas. hehehe… biar pada tobat and jadi aktive semua.

      Dan inilah sekolah kehidupan. Sekolah yg membuat Andrie wongso yg ngga lulus SD bisa sukses. Selalu ada kebaikan dalam setiap kejadian.

      Termasuk posting ini mas. Sejak diposting setiap harinya ada aja member baru join langsung jadi frontline saya. hahaha…

      Btw terima kasih mas, sudah mengingatkan! Emang pak guru neeh! Mantaps
      :sip:

  • Hidup mau sukses ya harus belajar dan belajar, mana ada ongkang-ongkang kaki jadi kaya, kecuali keturunan kaya,….. tks mas Arief M, salam kenal……

    1. @toto, @toto, ada mas…
      Tukang jahit profesional yg punya Financial Quotient tinggi. hehehe…

      Tahun pertama ongkang2 kaki sendiri (jahit). Nabung, tahun kedua beli mesin jahit kedua dan mempekerjakan orang.

      Tahun ketiga beli mesin jahit ketiga dan mempekerjakan orang. Tahun ke empat beli mesin jahit kelima dan mempekerjakan 2 orang.

      Disana kita pensiun dan passive income dari para pekerja. itu tambah ongkang-ongkang lagi mas. Hehehe…

      Just kidding!

      Salam kenal, jangan lupa mampir lagi mas.

  • Menurut Saya Kadang Orang terlalu mempersoalkan masalahnya , daripada mencari solusi atas masalahnya , Seperti Mbak , yang member Mas Arief , Untung kebijakan dari Mas Arief tidak menyikapi member tersebut dengan emosi ynag berlebihan , Malah Berusaha Mendapatkan Solusinya Buat Memeber tersebut , But No Matter Lah , Sometimes ” Kejadian seperti itu malah membuat kita jadi lebih siap mneghadapi Hal2 seperti ini di kemudian hari ..

    1. @Joni, harus ada masalah untuk membuat kita matang dan bertambah dewasa. Dari sikap, pikiran, maupun emosional.

      Thanx for comming

  • Loh, seorang mentor kan berarti orang yang kita kagumi dan kita ingin seperti dia..jadi kalo udah ada mentor, otomatis kita menjadi teachable..kalo kita tidak teachable, berarti kita merasa tak seorangpun pantas jadi mentor kita…

    1. @Andre, kadang ada aja mas. Punya mentor tapi males action atau keras kepala. Watak dan karakter orang kan beda2.

      Thanx for comment!

  • Ada petunjuk (kita suci) masuk surga, tetapi tidak sedikit yang memilih jalan ke neraka padahal tidak ada kitab petunjuknya….

    Harusnya artikel di atas dapat lebih membuka mata untuk mengikuti manual book yang telah disediakan. Pencerahan yang luar biasa Mas…

  • Mau mengikuti jejak suksesor disuatu bidang adalah cara belajar yang paling efektif bagi pemula. Karena dengan cara ini seseorang bisa memimalisir trial dan eror yang pernah dilakukan pendahulunya.

    Membaca artikel diatas, saya jadi teringat saat pertama kali mengunjungi blog mas arief yang dulu, ada sebuah istilah unik yang sangat dasyat bila dipraktekan oleh pemula.

    ATM (Amati Tiru dan Modifikasi)…Mungkin artikel diatas bisa dijadikan penekanan untuk istilah tersebut.

    -Keep Spirit-

    Ricky
    The Business Man

      1. @nayantaka, jangan lupa mas… ke ATM untuk transfer habis pesen internet marketing tools, hehehe…

        Just kidding. Salam kenal.
        :hihi::hihi::hihi:

    1. @Ricky, Bener mas… justru bagian kritis adalah beberapa bulan pertama. Dimana itu adalah masa pembelajaran yang menentukan apakah kita akn sukses atau GAGAL.

      Maka dari itu diperlukan sikap teachable pada mentor pembimbing kita. :hihi:

  • Betul mas Arief… tidak semua orang teachable. Kasus yang sering saya alami ketika akan memberikan training ke para guru bahasa Inggris yang akan saya kirim ke sejumlah sekolah. Bebrapa diantara mereka (gak banyak sih) sudah merasa cukup dengan model pengajaran yang sudah diterapkan sebelumnya. Padahal kalo mereka membuka diri…Insya ALlah banyak hal baru buat mereka….terkadang mereka takut kekurangannya diketahui, malah dengan menolak Input dari kita…. kalu dipaksakan… sering mereka tersinggung dan bisa jadi ngomel….. Tapi ya itulah realitas … terkadang saya ada dalam posisi tidak ada pilihan lain kecuali memakai mereka.

    1. @sagara mubarok, susah itu mas. Kalo ngga kena batunya, suka ngga nyadar.

      Tapi sebagai leader, kita kudu tetep usaha untuk membimbing ke arah yang lebih baik.
      :uhuk:

  • Salam kenal Mas,
    Saya tau mas Arief dari Blognya Pak Joko…
    Mengenai teachable, masing-masing pribadi akan berbeda tingkatannya, banyak sekali variabel yang menjadi faktor penentu, sebut saja salahsatunya adalah nilai.
    Metode yang diperlukan untuk mengatasi hal ini adalah personal approach. Jadi disamping metode umum yang biasa digunakan, harus ada juga yang namanya pendekatan secara pribadi kepada masing2 mentee. Karena bagaimanapun juga, salah satu pilar penopang kesuksesan seorang mentor ataupun leader adalah kesuksesan dari para mentee.
    Bahkan, kita dapat mengukur berhasil tidaknya seorang leader ataupun mentor dapat dari tingkat keberhasilan para mentee.
    Terima kasih. Sukses selalu…

    1. @Vicky, makanya itu mas. communication skill menjadi ilmu penting yg kudu dimiliki calon2 leader sukses.

      Karena yaitu tadi beda orang, beda otak, beda sikap dan karakter. Dengan mengenal tipe-tipe tersebut personal approach yang tepat sasaran bisa dilakukan.
      :baca: Thanx tambahannya.

  • Sharing pengalaman yang sangat menarik Mas Arief. Saya suka tema yang diangkat mengenai teachable.

    Memang mumet jika berhadapan dengan orang yang :
    1. Sudah salah tapi keras kepala.
    2. Selalu berpikir rumit, padahal sebetulnya sederhana.

    Keep going Mas.

    Salam sukses luar biasa!

    1. @Rudy, kritis yg mana Mas Rudy… Sikap member saya yang kritis atau masa kritis yg saya jawab di koment untuk mas Ricky?

      # Kalau sikap kritis member saya, itu memang sudah seharusnya. Kalau ada sistem yang tidak benar, ada baiknya kita kritis dan mencari tahu.

      Hanya saja penekanan saya dalam artikel ini lebih pada sikap tidak teachablenya member saya.

      # Kalau yg mas maksud masa kritis, memang kebanyakan 3 bulan pertama seseorang terjun di bisnis adalah masa kritis mas.

      Soalnya biasanya bulan2 pertama, pendapatan belum ada. Disana keyakinan kita yang mengebu2 di awal mulai diuji.

      Ada yg goyah dan akhirnya memutuskan quit. Ada yg bertahan dan akhirnya bisa juga passive income di akhir.

      Oleh karena itu, pendampingan oleh leader di bulan2 pertama membernya terjun ke bisnis sangat penting.

      Sehingga masa kritis bisa lewat dan member bisa tetap survive.

      Semoga penjelasan saya tidak salah sasaran.

      Salam Sukses

  • saya sering menemui hal serupa gitu mas.. mereka seringnya sok tahu.. padahal baru tahu sebagian… ya.. jadinya bingung sendiri.. bingung dengan kesalahan sendiri yang dia anggap oranglain penyebabnya.. :phew:

  • Ass. wr,wb.
    pa kabar mas..? maaf baru berkunjung skrg…btw, tulisannya makin mantap…true story…memang begitulah “bumbu” dari bisnis online yaa…hehehhee…harus banyak2 bersabar…dan ikhlas mas…
    salam…:sip:

    1. @Agung Jatnika, nah akhirnya datang juga. Setelah menghilang dari jagat online. Saya mpe nanya ke mas boy macklin lho…

      Yah… namanya juga proses penempaan menjadi seorang leader sukses mas. Makanya saya pajang sebagai header blog, The Next Success Leader. Biar memotivasi gitu… hahaha:hihi:

  • Sore mas,
    Ya mas saya sedikit ada pengalaman tentang orang yang sok tahu, tp memang di dunia offline tepatnya bawahan saya di tempat saya bekerja. Susah mas memang ngajarin org yang sok tahu, mending ngajarin orang bodoh sekalian kali tapi mau belajar. Tapi memang di situlah perannya sebagai seorang leader atau pimpinan memanage SDM yang di bawah kita susah atau senang sukses atau ga, yang terpenting kita sudah menjalankan prosedur yang sesuai dan sudah mengajarkan apa yang perlu di ajarkan untuk kesuksesan anak buah, downline atau juga bawahan. Terimakasih Mas Artikel yang membuat saya untuk memahami lagi arti seorang Manager, semoga tetep sehat dan sukses Mas Arief, amin klo sempet main mas ke BBM:hihi:

    1. @muklis|BBM, seperti kata Mario Teguh. Aturan ada untuk dijalankan, bukan untuk dilanggar. Yang penting kita bisa menunjukkan bahwa kita mampu menjadi pribadi yang bisa diteladani.

      Saya banyak belajar dari mas muklis neeh!

  • Tantangan dalam berbisnis Mas Arief, kita harus siap menghadapi perbedaan karakter setiap manusia. Semakin mendalaminya maka semakin matang kita. Sukses Mas, sunggguh memotivasi kita semua artikelnya.

    1. @Sumartono, terima kasih. Seorang leader memang kudu siap menghadapi segala tantangan yang ada. Dengan itu kita bisa menjadi lebih baik. Terima kasih tambahannya mas Sumartono.

  • Teachable bagi saya (orang biasa2 saja) mutlak musti dilaksanakan, dengan penuh kesabaran dan keyakinan.
    Kasus member dynasis yg diketengahkan mencerminkan banyak org2 yg menyukai segala sesuatu dgn instan.
    Padahal dlm bisnis dibutuhkan kesabaran, keuletan, dan kerja keras–hukum instan tdk berlaku.

    1. @Acha, bener mas. Sabar dan ulet juga menjadi salah satu kunci sukses.

      Pola pikir instan hanya akan menuntun kita untuk bertidak didasarkan pada emosional bukan hanya rasio semata.
      :hihi:

  • Pingback: Bagaimana Menyikapi Masalah Dalam Hidup Kita | ARIEF MAULANA - The Next Success Leader

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 470,416 bad guys.