Oleh : Arief Maulana

robert t kiyosakiBeberapa waktu yang lalu sempat ada kekhawatiran dengan Blackberry yang saya gunakan. Yang saya khawatirkan bukan karena gadget tersebut bermasalah melainkan, bisa tidaknya saya memperpanjang layanan Blackberry Internet Service yang mematok sekian ratus ribu setiap bulannya. Karena percuma rasanya punya BB kalo ngga dimaksimalkan, khususnya di fasilitas internetnya. Toh masih ada HP jadul yang saya pegang untuk komunikasi dengan teman-teman lama + menjalankan bisnis pulsa.

Alhamdulillah kekhawatiran itu ngga bermasalah. Pintu rezeki dibukakan oleh Allah dan ada saja jalan untuk menutup itu semua, tanpa mengurangi pendapatan dari bisnis internet. Dan gara-gara itu juga, saya jadi inget satu materi penting yang dibawakan pertama kali ketika saya ikut “Seminar Financial Intelligent Power” beberapa tahun yang lalu. Materinya adalah aset vs liabilitas, yang diawali dengan pemutaran video Robert T.Kiyosaki mengenai penjelasan keduanya ini.

Banyak dari kita, ketika mulai merasakan pendapatan yang cukup banyak melakukan kesalahan besar dengan membelanjakan sebagian besar pendapatan untuk sebuah liabilitas, bukan aset. Padahal para pebisnis sukses, rata-rata selalu menginvestasikan pendapatan mereka di jalur aset. Hingga nantinya ketika aset mampu memberikan pendapatan berlebih, itulah yang digunakan untuk membeli liabilitas.

Bingung apa itu aset dan apa itu liabilitas? Oke, saya jelaskan singkat dengan bahasa yang mudah dipahami. Kalau pengertian aslinya, silahkan googling atau ke wikipedia. Ini versi gampangnya :  

ASET = Sesuatu yang bisa menambah uang ke dalam ‘kantong’ kita.

LIABILITAS = Sesuatu yang membuat kita mengeluarkan uang dari ‘kantong’.

Tebak-tebakan dikit. HP itu aset apa liabilitas? Rumah itu aset apa liabilitas? Kendaraan (sepeda motor / mobil) itu aset apa liabilitas? Jawabannya… TERGANTUNG BAGAIMANA KITA MENEMPATKANNYA.

HP akan menjadi sebuah liabilitas kalau tidak Anda gunakan untuk mendapatkan penghasilan. Karena setiap bulan Anda harus mengeluarkan uang untuk membeli pulsa. Lain lagi kalau Anda menggunakan HP untuk berbisnis pulsa. Alih-alih keluar uang beli pulsa, Anda bisa dapet pulsa gratis + untung lebih.

Rumah, banyak yang mengira itu aset. Rumah itu liabilitas karena setiap tahun kita mesti mengeluarkan uang untuk membayar pajak atas bumi dan bangunan. Kalau ngga bayar pajak rumah disita pemerintah, ngga peduli sertifikat rumah dan tanah atas milik Anda. Sebenernya rumah punya kita apa pemerintah sih? Hahaha…

Rumah akan menjadi aset kalau bisa mendatangkan uang,misalnya dikontrakkan atau dibuat kos-kosan. Begitu juga dengan kendaraan. Kalau Anda gunakan sendiri jadi liabilitas karena keluar duit untuk beli bensin ato pertamax. Akan jadi aset kalau Anda sewakan. Tidak perlu terlalu mahal, tapi bebankan bensinnya ke pihak penyewa. Beres kan!

Perbedaan pemahaman, antara aset dan liabilitas juga yang nantinya membuat perbedaan antara kaum kaya, kaum menengah dan kaum miskin. Saya kupas di artikel berikutnya biar tidak kepanjangan disini.

Intinya, orang-orang yang sukses dan menjadi kaya (sukses pasti kaya, kaya belum tentu sukses) cenderung memiliki kesamaan untuk berinvestasi di aset terlebih dahulu. Kalau kata buku yang mengupas rahasia bisnis orang Cina, ‘Hiduplah prihatin hingga benar-benar sukses’. Artinya, tahan dulu keinginan konsumtif untuk belanja a, b, c, d kalau semuanya adalah liabilitas. Karena ujung-ujungnya hanya akan menguras uang kita lebih banyak lagi.

Balik lagi deh ke Blackberry. Kalau memang merasa itu bisa meningkatkan produktivitas dan membantu menambah pemasukan Anda alih-alih membebani dengan biaya langganan BISnya, maka itu aset. Seperti teman saya, Mashengky, yang akhirnya memutuskan membeli BB untuk meningkatkan produktivitas bisnisnya. Tapi kalau punya BB cuma untuk gaya-gayaan doang, cuma buat facebookan, twitteran, chatting yang ga produktif, mending ngga usah BB. Toh banyak sekarang yang murah-murah bisa mengcover itu semua.

Sama juga dengan modem internet. Kalau sekiranya itu menghemat banyak uang Anda ketimbang harus online dari warnet kenapa ngga? Itu juga dulu yang jadi pertimbangan saya beli modem biar bisa online dari rumah. Tentunya dengan memperhitungkan pendapatan yang masuk lebih besar dari biaya bulanan modemnya. Minimal impas lah.

Sekali lagi saya ingatkan, kunci menjadi sukses adalah memperbesar kolom aset dan memperkecil kolom liabilitas. Kembangkan aset Anda hingga akhirnya dia bisa membayar semua kebutuhan liabilitas Anda. Karena di titik tersebut, Anda sudah passive income.

Ini dua buku yang saya referensikan untuk memperbesar pemahaman Anda akan apa itu aset dan apa itu liabilitas

  • Financial Spiritual Quotient
  • Rich Dad Poor Dad – Robert T.Kiyosaki

Untuk buku kedua, Rich Dad Poor Dad, kalau tidak salah disana dilampirkan balance sheet + cash flow sheet yang bisa Anda gunakan sebagai acuan untuk mengukur aset dan liabilitas.

Semoga bermanfaat dan, sudahkan Anda memiliki aset yang banyak? Aset apa yang mau Anda bangun di tahun berikutnya?

Salam Sukses,
arief maulana
space

Mau Sukses? Kumpulkan Aset, Kurangi Liabilitas
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us
Tagged on:             

137 thoughts on “Mau Sukses? Kumpulkan Aset, Kurangi Liabilitas

      1. @Haris, sebenernya konteks aset ini tdk hanya didunia bisnis. Dlm sgala aspek financial kita, aspek perlu dimiliki.

        Hanya saja salah satu dari sekian banyak aset adalah bisnis bersistem. Makanya bicara aset, bicara bisnis :uhuk:

  • saat ini asset saya masih belum bisa sempurna, dengan kata lain biayanya lebih besar dari pendapatan.

    walaupun masih untung dikit karena bisa dipakai keperluan pribadi dan lebih hemat daripada pakai sarana publik

    1. @dreamfrog, justru itu mas. Harus dipupuk dan dikelola hingga nantinya benar2 menjadi aset.

      Sementara itu kayanya statusnya masih liabilitas, hehehe…

  • Menjaga diri untuk tidak konsumtif emang berat. Iman harus kuat menghadapi gempuran godaan dan tawaran produk.Tapi jika sudah tahu ilmunya,tentu akan lebih mudah :)

    1. @kerja sampingan, semua hanya soal kebiasaan. Sy bersyukur ketika kecil, ortu walau agak berlebih, tapi selalu membiasakan hidup sederhana & tdk konsumtif…

    1. @Dwi Kurniawan, akhirnya muncul jg. Kata mas Ardy Pratama mau ngontak, makanya saya tungguin.

      Salam kenal juga. Saya tahu kok mas member Dynasis, bahkan masuk jajaran elite top score, hehehe… Kalau ga salah mas jg punya dynasis.biz kan?

      Untuk Dynasis, omzet terjun bebas mas. Ga tau kenapa. Banyak yg beralih ke lain hati. Gimana dgn mas?

  • alhamdulillah jarang beli liabilities. Hampir semua dipertimbangkan untu optimal mjd asset…..tp tetap kudu ada liabilites spt yg dimaksud, kalo engga, mau tinggal di rumah yg mana?? Itulah prioritas antara primary asset dan secondary…

    1. @bundapreneur, tahapannya memang liabilitas dulu bun. Terutama yg financial quotientnya kurang. Perlahan, dgn adanya kesadaran tsb, baru mulai ngumpulin aset… :hehe:

    1. @mashengky.com,

      trus masuknya apa mas? :clinguk2: dicari-cari gada? :bisik: heeeeee, nah kalau liabilitas nya menuntut banget ya mau gamau kan mas? asetnya di tunda dulu, kadang saya masih seperti itu, padahal penting juga memiliki aset..

      1. @ipin, awalnya emang gitu mas. Konsumsi kita hanya di liabilitas. Seiring dgn naiknya kecerdasan financial kita, kesadaran utk mengembangkan aset pun tumbuh.

        Bisa dgn menyisihkan sedikit demi sedikit utk menabung modal asset.

        Ohya, kecerdasan finansial ga tumbuh begitu saja lho. Harus dipupuk. Salah satunya dgn membaca buku2 Financial Quotient.

  • Memang kecenderungan manusia, kalau sudah berhasil memperbesar aset / pendapatan, banyak yang memfoya-foyakan untuk kebutuhan yang kadang tidak kita perhitungkan sebelumnya. Sudah seharusnya untuk memperbesar liabilitas harus diperhitungkan untung ruginya baik-baik.

  • Apa kabar Mas…? Tambah eksis nampaknya dan saya turut senang.
    Saya tambahin dikit ya… Kalau kita meningkatkan liabilities dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk dapat meningkatkan asset boleh mas… Haha..bahasanya ribet yach! Gini deh, kalau berhutang untuk beli barang yg bisa diproduktifkan boleh.
    Asal perhitungannya cermat… :belajarkeras::mikir:

    1. @Yanti Suud, Alhamdulillah baik bu. Yah, gini ini Bu, kalau udah ngerasain nikmatnya dpt income spt org kerja umumnya (pdhl blm kerja).

      Boleh2 saja. Itu namanya berinvestasi di jalur asset. Kalau hutang, rasanya terpisah Bu, bukan aset ataupun liabilitas.

      Makanya ada istilah hutang baik dan hutang jelek. Hutang baik, manakala digunakan utk hal2 yg produktif (termasuk aset). Hutang jelek manakala digunakan utk konsumtif belaka.

  • bagus mas! pemahaman seperti ini sangat penting di tebarkan ke khalayak online. moga2 bisa disebar luaskan ke teman-temannya.

    sebab banyak kawan2 yang masih salah kaprah tentang Aset.

    Aset adalah barang2 yang sudah di beli” ini kesalahan fatal!

    tanpa mengolah barang2 yg sudah di beli tersebut menjadi alat produktif.

    1. @fadly muin, yap. Dulu sy jg seperti itu. Ga bisa bedain aset / liabilitas. Padahal ketika kita beli barang, justru pada saat itu nilainya sudah jatuh.

      Aset yg berupa barang, nilainya dari tahun ke tahun akan semakin naik. Like a gold. Berita kemarin emas naik lagi, beruntung yg invest di emas.

      Btw, ayo dishare, punya facebook : klik button facebook di bawah. Punya twitter, tweet yah… :hihi:

  • :sip::sip:untunglah selama ini saya selalu bijak menggunakan uang hehe…ternyata setelah dipikir, uang yang saya belanjakan, tepat guna, sesuai kebutuhan…(bisa dibilang menambah aset)..^_^mantab mas…:sip:

    1. @Alfred Sejuta cinta, ini yg namanya cerdas financial. Lanjutkan bro… Sebarkan info ini ke penjuru dunia, entah lewat facebook atopun twitter.

  • terimakasih mas arief sharingnya…. kadangkala kita lebih mengedepankan gaya hidup dari pada kebutuhan hidup. biar gak makan yang penting gaya gitu…. biar cekak yang pentinng ngakak…. he he he..:ngakak::ngakak::ngakak::ngakak:

    1. @Thiar Theaz, belum ada kata terlambat Mas. Coba mulai mengumpulkan dari sekarang. Paling ngga baca dulu mas Rich Dad Poor Dad.

    1. @ALHIJR ADWITIYA, sebenernya bisa. Cuma soal keinginannya ada apa ngga. Bahkan dgn penghasilan seadanya pun kita bisa bangun aset.

      Coba aja konsultasi dgn para perencana keuangan spt Safir Senduk cs. Ntar kan diberi solusi skalipun duit ngpres.

  • Bagus, gmbaran aset dan liabilitas ckp sdrhana tp jitu. Yg sering jadi hambatan bagi para pemula bisnis :aset blum punya, liabilitas jg blm sami mawon. Mgkn yg perlu lbh digali bagaimana orang berpindah dari kuadran employee ke pemilik bisnis. Mentalitasnya yang perlu diru bah. Nah artikel yang begitu mudah2an nanti banyak ditulis ya.. Thanks

    1. @yanhasanudinmalik, saya rasa liabilitas hampir semua orang punya. Benda kecilpun, ketika membuat kita mengeluarkan uang maka itu masuk kategori liabilitas.

      Tentang perpindahan kuadran, kalau ngga salah saya pernah singgung singkat. Coba cari di kategori bisnis Pak.

      Kalau lengkapnya dibahas tuntas di Cashflow Quadrant.

  • Untungnya daridulu saya gak doyan blanja, klo gak perlu ngapain harus beli. Lebih mengutamakan fungsi daripada cuma gaya, klo perlu diobyekin sekalian biar bisa menghasilkan uang :hihi:

    1. @arkum, kembali ke definisi. Secara natural, org cenderung berpikir liabilitas (meskipun mengira itu aset). Lihatlah berapa banyak benda yg dimiliki hanya menghabiskan uang.

      Sedangkan berpikir soal aset, tidak semua bisa. Hanya yg punya dan mau mengembangkan kecerdasan finansial saja yg bisa. Dan itu ga muncul tiba2.

      Maka itu, saya selalu rekom ke temen2 untuk cari buku2 kecerdasan financial. Paling ngga numbuhin kesadaran punya aset.

      1 lagi, biasanya neeh yg berpikir pengen punya aset adalah mereka yg mengejar passive income. Kenapa? Saat aset kita bekerja (cek definisi), dan hasilnya lebih besar dari pengeluaran kita maka saat itu kita passive income.

      Demikian penjelasan saya mas.

    1. @pasutrisatu, tergantung apakah blog berbayarnya menghasilkan atau tidak mas….

      Salam Kratif,
      Octa Dwinanda

    2. @pasutrisatu, bisa ya bisa tidak. Kalau memang bisa membantu mendongkrak penghasilan, maka bisa dikatakan aset.

      Misalnya : blog yg memang ditujukan utk misi branding, baik itu blognya ataupun pemiliknya.

      Atau bisa juga blog yg dibuat rame sedemikian rupa hingga bisa dimonetize.

  • putar otak…. agar apa yang ada di sekeliling kita dapat jadi asset yang menghasilkan…. :sip::sip:

    yang penting jangan mata duitan…. :hihi::hihi:

    1. @T. Wahyudi, ya putar otak. Mengutip kata R.T. Kiyosaki, mengubah dan menciptakan sistem aset membutuhkan kecerdasan finansial. Maka dari itu, kita jg perlu upgrade.

      Ngga cuma IQ ato EQ, tapi juga FQ. Bahkan yg lebih canggih, ESQ dan FSQ.

      S = spiritual
      F = financial
      E = emotional
      I = intelligent

      1. @arief maulana, dengan kata lain memaksimalkan kecerdasan otak kanan yang merupakan kreatifitas, keberanian, berfikir luas.

        Dengan memaksimalkan kemampuan otak kanan, otak kiri akan ikut terungkit. Ini artinya meningkatkan IQ, EQ, FQ, SQ

        Salam Kreatif,
        Octa Dwinanda

  • Pembelajaran dan Penjabaran yg sangat bermanfaat…

    Terkadang sulit memisahkan atau membedakan antara ASET dan FASILITAS…

    Sekses terus utk mas Arief…

    1. @Jajank, make it simple.
      ASET : mendatangkan uang.
      Fasilitas kalau mendatangkan uang bisa disebut aset. Tapi kalau hanya membuat kita mengeluarkan uang dsbt liabilitas.

      Rumah : liabilitas krn tiap tahun kita keluar duit bayar Pajak Bumi Bangunan.

      Jadi aset, kalau dikontrakkan.

  • Thanks mas memang agak RANCU Asset atau Liabilitas tapi semakin jelas kalau kita waspada dg hal2 kecil tapi yang penting tidak berjiwa konsumtif jadi harus mendidik diri sendiri untuk bw dana secukupnya kl mau jalan2 ke mall sebab mata ini yang kadang2 menyesatkan bila tak hati2 ya khan

    1. @lianawati natawijaya, tul. Kalau saya catatan daftar belanja saja Bu. Soalnya bayar kebiasaan pake BCA Card, males bawa duit banyak.

      Untung bisa kontrol. Yg sulit kalau ke toko buku, godaan besar buat borongan beli banyak buku :ngakak:

  • Ta’ tambahi maneh yo Mas…
    Kalau di accounting dan perbankan, ASSET=HARTA=AKTIVA, LIABILITIES=HUTANG=PASSIVA. Nah terjemahan bebasnya suka2 deh…dan bisa dipahami dari berbagai sudut pandang… :bisik:

    1. @Ajang, kalau kata Safir Senduk (perencana keuangan) dan didukung oleh R.T.K, cara terbaik adalah dengan menyisihkan uang di awal. Jangan kalau ada sisa baru ditabung untuk aset. Bagaimana tips dan kiatnya dibahas tuntas di buku “Karyawan Juga Bisa Kaya – Safir Senduk”.

  • klo saya sementara sdh banyak keluarin uang, tapi selama ini belum jadi asset, mgkin karena pengaruh “humanskill” yg masih minim, jd mesti banyak belajar salah satunya sama yg punya blog ini. trus mengenahi buku yang mas arif rekomendasikan, buku kedua saya udah baca. waktu bergabung dgn salah satu MLM.

    1. @andrik sugianto, Yap. Makanya itu kita mesti selalu berkembang. Terus upgrade diri tanpa batas waktu, meski usia makin tua. Jangan sampai makin tua miskin ilmu. Bout buku, sama toh saya juga membacanya justru ketika aktif di MLM. Dan efek menancapnya konsep itu di benak saat ini begitu kuat, bahkan ketika MLMnya sudah berhenti.

  • menahan nafsu untuk membeli hal2 yang tidak perlu sekarang ini sulit dilakukan apalagi dengan adanya kemudahan kredit baik itu kartu kredit atau kredit konsumtif lainnya, membuat kita semakin banyak liabilitas daripada aset..

    1. @Jimmy, betul mas Jimmy. Makanya gunting credit card dan biasakan hidup apa adanya. Utamakan fungsi daripada hanya sekedar gaya-gayaan.

  • konsep liabilities dan asset nya beda yah dg akuntansi yang sdh umum….liabilities adlh kewjiban, rumusnya hutang+modal dan harus balance dg asset=total harta yg dimiliki. . . Mgkn penulis buku ini pny maksud lain..: jmlh hutang tdk melebihi asset, atau kalau bisa tanpa hutang. Shg asset=liabilities(modal)….Tapi kalau yg dipakai contoh adlh benda yg kita miliki dan hrs keluar uang karenanya….hampir tdk mgkn kita hidup tanpa liabilities. Nti pnya anak tp ga sukses ga dianggap asset tapi liabilities…..Lebih bijak kita memahami konsep mas Kiyosaki ini adalah memaksimalkan harta produktif dan mengurangi beban karena harta konsumtif…..

    1. @bundapreneur, konsep aslinya memang spt yg Bunda paparkan. Hanya saja di buku Rich Dad Poor Dad memang sengaja digambarkan sesederhana itu utk mempermudah pemahaman awal (Hal 62). Krn ngga smua org mengerti dan suka akuntansi.

      Makanya saya referensikan buku tsb agar temen2 bisa lebih mendalami maksud R.T.K.

      Nantinya arahnya seperti yg bunda paparkan. Hanya saja dibahas di buku lain, masih dlm Rich Dad Series.

      Saya menangkapnya pola pengajaran R.T.K bertahap Bun. Ngga langsung total (bs bikin org malah males bljr).

    1. @mashengky.com, gesek kartu klo yg dipake bayar tagihannya profit gpp juga lho mas…

      *profit mengalahkan kebutuhan…

  • Sulit juga membuat yang liabilitas menjadi aset, kalo dijual juga sayang, maunya ada pendapatan setiap bulannya, yah, sepereti sewa, tapi masak BB disewakan? hehe

    1. @Hanif Ilham M, memang mesti kreatif Pak Hanif. Kalau saya BB tdk disewakan, tapi saya gunakan meningkatkan layanan cepat yg berujung pada kenaikan produktivitas.

    1. @A9YnD1LV3R, salam kenal Mas. Kalau pengalaman saya sendiri ada 2 mas yg cukup significant membawa hasil :
      1. Blog –> space iklan, paid review, dll.
      2. Autoresponder –> best for rapid response of best chance in the time limited.

      Keduanya ini membantu saya menambah ‘uang di kantong’ lebih banyak.

  • Betul mas, uang masuk harus lebih besar dari uang keluar, tp aset bukan hanya soal liabilitas, aset erat juga kaitannya dengan sistem bisnis supaya kerja makin sedikit tapi duit makin banyak, bener kan mas?

  • Kita harus ingat… jangan sampai lebih besar pasak dari pada tiang. Pribahasa kuno tapi masih saya pakai sampai sekarang. Dengan rambu-rambu itu kita bisa menyeimbangkan antara aset dan lialibilitas

  • dari dulu hp sy slalu ktinggalan dri tmn2 krn sy jadikn aset. Biar jadul tpi bisa ngasilin fulus.
    Klo yg laine msih liabilitas.
    Kayaknya getu sih. . .?
    Btw, blog sy mau upgrade k brbyr. Itu liabilitas dunk mas?
    (smentara blogger murni, newbie):bisik:

    1. @udin hamd, sama dunk. HP jadul yg tak pake ke bisnis pulsa.

      Tergantung mas. Kalau ngga ada misinya sih liabilitas. Upgrade kalo terus konsisten sy rasa aset mas. Kalo udah populer meski hanya blogger murni, tinggal dipoles dikit mas. Kasih space iklan dah jadi aset tuh blog…

  • Benar mas arief untuk menjadi sukses dalam berbisnis kita harus memfokuskan pendapatan yang kita peroleh selama ini untuk menjadi asset.Dengan begitu income yang akan kita dapatkan akan berlipat-lipat.

  • :sip:
    bener mas..asset atau liabilities tergantung kita memanfaatkan barang tersebut untuk apa? yang pasti kita perlu belajar mengubah liabilities menjadi asset.

  • Salam kenal Mas Arief…
    Sekedar menambahkan mas, sebuah aset yang mampu menghasilkan uang saya biasa menyebutnya Aset Produktif.

  • thanks mas,penjabarannya sederhana sekali shngga sy bs memahaminya.brrti sy trmsk liabilities,bnyk mengeluarkn uang drpda msknya.sprti yg sdh dsinggung okhti liana wati,yg jk k psr mata kita kdng akan mnystkn kita.
    prlu hitung2 lg neh saya….

    1. @sari, sy teruskan terima kasihnya ke Om R.T.Kiyosaki. Saya juga belajar konsep aset dan liabilitas itu dari bukunya dia, Rich Dad Poor Dad.

      Dan sejak itu membuat plan untuk mengembangkan aset, yang nantinya aset tersebut diharapkan bisa membiayai semua liabilitas saya.

      Salam buat keluarga disana Mbak.

    1. @Belajar Bisnis Online dan SEO, harus mas. Biar tau juga berapa mesti menyisihkan utk amal di jalan Tuhan dari pendapatan kita.

  • KOmentar pertama..semoga akan berkelanjutan…dah lama baca2 tp, “males” komentar (ngakuu!!!)

    Salam sukses buat mas arief dah.

    1. @aas elhasanah, :sip:. Wah sayang lho mas ga koment dari dulu. Soale kalo ada waktu senggang, saya sering tlusuri temen2 yg komen disini. Blogwalking gitu …

  • untuk buku pertama saya belum baca, untuk yang punya robert sudah baca beberapa…
    sekarang dapat tambahan versi mas arief…
    trims
    :sip::sip:

  • Pingback: Jangan Menyesali Perjalanan Hidup Anda - pelajaran
  • Pingback: Warta Warga » Blog Archive » Jangan Menyesali Perjalanan Hidup Anda
  • :sip::sip:

    harus dibaca tu buku RICH DADDY|POOR DADDY .

    dmn orang tua yang kaya mengajarkan harus berani ambil resiko . harus berani kluar dari “perangkap tikus”

    sedangkan ayah yang miskin mengajarkan agar skolah yang rajin kuliah trus kerja , tapi tetap tertahan ama nama ny beban seperti pajak .
    krn di skolah tidak di ajarkan bagaimana cara mengolah duit

    regard
    calon punya real state <<
    ahahahaha:melet:

  • assalammualaikum maaf mau memberitahukan ada blog baru niih mohon dikunjungi yaaa
    do you want have quality quote visit blog us in miskinsi.blogspot.com:plis::plis:

  • Ih seneng banget deh kalau baca artikel mas Arief. ga kerasa sudah hampir 1 jam bolak balik halaman di website ini, penuh dengan inspirasi yang membuat diri kita ternyata ada benarnya, terkadang sering boros dan pendapatan selalu merasa kurang, dan memang betul gaya hidup sangat pengaruh terhadap keuangan kita.
    suwun lho mas..artikelnya bagus banget
    gejala sakit jantung recently posted..Gejala sakit jantungMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 470,560 bad guys.