Matematika Kehidupan

Matematika Kehidupan, Matematika Kehidupan Sehari-hari, Matematika Kehidupan Attitude, Matematika Kehidupan 101, Matematika Kehidupan Nyata

Matematika Kehidupan, Matematika Kehidupan Sehari-hari, Matematika Kehidupan Attitude, Matematika Kehidupan 101, Matematika Kehidupan Nyata. (Pic source: Jogja.Tribunnews,com)

Sabtu kemarin, saya datang ke kantor. Tidak biasanya, karena memang bagi kami staf operasional di lapangan Sabtu adalah hari yang tentatif. Boleh masuk setengah hari, boleh juga tidak. Biasanya masuk bila memang ada penugasan survey atau sekedar mengerjakan laporan survey. Namun tidak di hari itu. Saya memutuskan untuk masuk kantor karena memang ada keperluan mengklarifikasi suatu hal kepada bos.

Menjelang siang hari, bos datang. Waktunya menghadap pikir saya. Sembari membawa sejumlah data untuk klarifikasi, saya pun menghadap beliau. Urusan yang memang tidak bisa ditunda hingga hari Senin.

Klarifikasi tidak berjalan lama karena memang data yang saya bawa alhamdulillah cukup lengkap. Tapi obrolan kami tidak serta merta berhenti di situ saja. Sebagaimana layaknya orang tua yang mendidik anaknya, bos pun memberikan beberapa petuah kehidupan yang sarat makna dan pelajaran buat saya. Salah satunya adalah tentang matematika kehidupan. 

“Mas, kalau kamu diminta memilih, menurutmu uang seribu dan uang sepuluh ribu, mana yang pasti bisa ngenyangin kamu?” tanya bos saya.

“Sepuluh ribu, Pak.” jawab saya mantab. Karena saya pikir, di zaman seperti sekarang ini, seribu bisa dapat makan apa? Kalau sepuluh ribu, paling tidak saya bisa dapat satu porsi nasi di warteg.

“Pasti ya, Mas? Berarti kalau ada kata ‘mungkin’, kepastian itu jadi tidak berlaku. Sepakat ya?” tanya bos saya lagi.

“Sepakat, Pak.” jawab saya.

“Katakan lah ada sebuah warteg. Di warteg itu, harga sepotong tempe 500 rupiah. Harga seporsi nasi pecel, lima ribu rupiah. Berarti dengan uang seribu bisa dapat dua potong tempe. Dan dengan uang sepuluh ribu bisa dapat dua porsi nasi pecel.”

“Ada seorang anak kecil, datang ke warteg. Dia memesan dua potong tempe ke ibu warteg. Ya, hanya dua potong tempe karena cuma punya duit segitu. Ibu warteg yang merasa iba, mungkin ngga memberi anak itu lebih? Misalnya dengan menambahkan nasi?” tanya bos saya.

“Mungkin saja, Pak.” jawab saya.

“Nah berarti, karena ada kata ‘mungkin’, kepastian tadi jadi tidak berlaku toh. Uang yang di atas kertas tidak bisa mengenyangkan, ternyata dalam tidak demikian juga. Matematikan kehidupan tidak bekerja seperti itu. Si anak tadi mungkin saja menjadi kenyang hanya dengan uang seribu.”

“Sebaliknya. Dengan uang sepuluh ribu, ada orang yang bisa membeli dua porsi nasi pecel. Bisa kira-kira ngabisin dua porsi nasi pecel? Apa ngga ‘begah’ itu perut?” tanya bos saya lagi.

“Ya bisa jadi begah juga, Pak. Lha buanyak eee porsinya.” jawab saya.

“Ternyata yang menurut kita bisa mengenyangkan malah sebaliknya, bikin kita merasa ngga nyaman. Selain itu, kira-kira… karena warung rame, ada kemungkinan ngga ketika membawa dua piring nasi pecel tadi, kesenggol orang kemudian jatuh keduanya?” tanya bos saya.

“Mungkin saja, Pak.” jawab saya.

“Nah berarti, jadi tidak pasti lagi toh. Yang tadinya kita kira cukup bahkan melimpah, ternyata malah jadi tidak mengenyangkan. Belum lagi karena menjatuhkan piring, eh sama ibu warteg malah diminta mengganti piring yang pecah. Malah tekor.”

“Iya juga ya, Pak.” ujar saya membenarkan.

“Di balik itu semua,” bos saya melanjutkan, “Ternyata dalam kehidupan sehari-hari, si anak kecil tadi sering membantu ibu penjual warteg tanpa diminta, tanpa meminta imbalan. Membantu ya membantu aja. Sementara bisa jadi yang membawa uang sepuluh ribu tadi, sehari-harinya bersikap tidak baik dan tidak ramah dengan ibu penjual warteg. Saking aja tetap dilayani karena sering membeli di situ.”

“Si anak diberi lebih-lebih oleh ibu warteg karena sering membantu. Sementara orang yang memecahkan piring, diminta mengganti piringnya dengan ngotot oleh ibu warteg lantaran sikapnya sehari-hari yang selalu kurang baik. Malah tekor. Itulah gambaran matematika kehidupan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada yang pasti.” kata bos saya menyimpulkan seluruh kisah ibu warteg, ada kecil, dan pembeli nasi pecel.

Dari rangkaian percakapan kami, saya pun mendapatkan beberapa insight.

Pertama, kebermanfaatan kita kepada orang lain akan dibayar dengan sendirinya oleh kehidupan, meskipun nampaknya tidak masuk akal. Yang penting diniatkan untuk selalu memberikan yang terbaik dan menjadi pribadi bermanfaat kepada sekeliling kita. Sama seperti anak kecil yang suka membantu ibu warteg. Yang tadinya cuma bisa beli dua potong tempe, eh malah dapat satu porsi komplit dari ibu warteg.

Kedua, keserakahan hanya akan membuat kita terus merasa kurang namun tidak pernah menikmati apa yang kita dapatkan. Seperti pembeli dua porsi nasi pecel tadi. Dia belikan semua, padahal belum tentu mampu menghabiskannya sendiri. Mending, jika kemudian seporsi tadi diberikan ke orang lain yang membutuhkan.

Ketiga, kesombongan kita yang merasa mampu memenuhi kebutuhan dalam hidup, belum tentu akan selamanya seperti itu. Seperti pembeli dua porsi pecel yang tadinya merasa sanggup membeli lebih-lebih dan mengenyangkan perutnya, eh ternyata malah tidak bisa makan lantaran tersenggol orang lain hingga menjatuhkan kedua makanan yang telah dibelinya.

Ternyata matematika kehidupan dan attitude kita dalam menjalani hidup pun tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Sebuah perhitungan yang jauh lebih fair dari sekedar perhitungan logis kita sebagai manusia di atas kertas.

Sebagaimana yang disampaikan kawan saya, Pak Arif Rh, “Kerja kita akan selalu dibayar secara fair oleh kehidupan. Jika kita bekerja melebihi gaji, ya kehidupan akan memberikan kelebihan ‘lembur’ itu dalam bentuk yang lain. Sebaliknya, jika kita bekerja kurang dari gaji yang kita terima, maka kehidupan pun akan mengambil kekurangan itu dalam bentuk banyak pengeluaran yang tidak terduga.”

Maka dari itu, yuk kita sama-sama bekerja sebaik mungkin dan memberikan kebermanfaatan seluas mungkin. Dengan demikian, kehidupan pun akan membayar kita dengan fair dan berkecukupan bahkan berkelimpahan.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Arief Maulana
Rektor Riset – Universitas Riset Online

Leave a Reply

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 472,313 bad guys.