Manusia Yang Terpilih

Oleh : Arief Maulana

Manusia Yang Terpilih
Manusia Yang Terpilih

Menarik sekali melihat jawaban yang ditulis oleh rekan-rekan di postingan sebelumnya. Bagi yang baru berkunjung bisa cek di postingan “Kenapa Harus Saya?”. Ada sebagian yang menempatkan pertanyaan tersebut dalam konteks sebagai ‘korban’ dan sebagian yang lain menempatkannya dalam konteks sebagai “manusia yang kompeten”. Apapun penafsiran Anda, tidak ada yang salah.

Sebenarnya ketika saya membebaskan pertanyaan itu dalam konteks apapun, Anda tidak harus menjawab 1x saja. Mau menjawab beberapa kali juga tidak apa-apa. Karena saya yakin Anda akan mendapati pertanyaan itu dalam berbagai kondisi, betul?

Saya pribadi pernah mendapatai pertanyaan “kenapa harus saya” dalam dua kondisi yang berbeda. Tentunya perbedaan kondisi ini akan membutuhkan respon dan cara berpikir yang berbeda pula. Inilah yang saya alami :

Kondisi 1

Saat ini saya tengah mencoba untuk menyelesaikan semua tugas yang menjadi prasyarat kelulusan di Jurusan Teknik Perkapalan, ITS. Saya bilang sulit sekali untuk lulus, banyak faktor yang mana salah satunya adalah dosennya juga. Meski mahasiswa rajin, kalau dosennya rada nyeleneh tentu hasilnya juga tidak optimal.

Apa yang saya alami adalah seakan-akan hanya saya yang dipersulit untuk menyelesaikan semuanya itu. Padahal teman-teman lain tidak mengalami kesulitan yang berarti. Misalnya dalam bimbingan 1 dosen yang sama, entah kenapa yang lain dimudahkan begitu saja ketika asistensi eh giliran saya dosen minta didetailkan segala sesuatunya. Ketika yang lain hanya dengan dilihat gambar kurvanya dosen manut-manut, giliran saya beliau minta menunjukkan detail perhitungan dsb.

Awalnya saya sempat jengkel juga. Tapi alhamdulillah tidak berlarut-larut. Saya teringat pada salah satu ayat Al-Qur’an dimana Allah mengingatkan bahwa sesungguhnya tidak akan memberikan cobaan atau masalah melampaui batas kemampuan hambaNya. Dari sana saya belajar beberapa hal :

  1. Ketika masalah yang kita hadapi lebih besar dari orang lain, maka sesungguhnya batasan kemampuan kita lebih tinggi dari orang lain. Sehingga hanya kita yang terpilih untuk menyelesaikannya.
  2. Kesempurnaan sebagai hasil akhir, membutuhkan perjuangan yang berat. Tujuan akhir saya kuliah selain meraih IPK > 3, juga lulus dalam kondisi matang dan memiliki kompetensi. Itu menjadi doa saya. Dan rupanya dengan segala masalah itulah Allah lantas menguji kelayakan saya untuk mengabulkan doa saya atau tidak.

Kondisi 2

Kondisi lain lagi saya pertanyaan itu datang ada dalam konteks “mengenal nilai lebih dalam diri”. Kasusnya saya alami ketika ada calon customer akan membeli satu produk yang saya referensikan. Dia bertanya, “Kenapa harus membeli lewat saya?”.

Maka untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mesti menggali lebih dalam apa nilai lebih yang tidak dimiliki oleh para affiliate lainnya. Kelihatannya sepele, tapi ini justru jauh lebih sulit dari apa yang kita bayangkan. Mengenal diri sendiri itu sulit.

Apapun posisi dan pekerjaan kita, akan selalu ada kondisi dimana orang lain mempertanyakan kompetensi ataupun nilai lebih yang kita miliki sehingga layak untuk mendapatkan posisi yang lebih baik. Sayangnya, yang lebih akrab di benak kita justru sisi negatifnya melulu.

Coba deh, Anda tuliskan dalam satu kertas. Bagi menjadi 2 kolom. Sebelah kiri isi dengan kekurangan Anda. Saya rasa tidak akan ada masalah, dengan cepat Anda akan menuliskan kekurangan-kekurangan tersebut. Nah, kolom kanan isi dengan kelebihan Anda. Ini pasti mikir ngisinya, hehehe…

Jadi apa kesimpulan yang bisa diambil dari “Kenapa Harus Saya?” :

Saat Anda sedang dilanda masalah hebat, ingatlah saat itu adalah saat dimana Tuhan sedang menguji Anda untuk naik ke level selanjutnya. Bisa jadi itu adalah titik kritis ataupun jalan dimana salah satu doa Anda akan dikabulkan. Jadi fokuslah pada penyelesaiannya alih-alih terus mengeluh.

Luangkan waktu untuk mengenal lebih baik siapa diri Anda. Ketika Anda mendapati lebih banyak kekurangannya, coba pilah satu persatu dan cari solusi terbaik untuk meminimalkannya, bahkan kalau perlu jadikan itu sebagai kekuatan Anda. Berubah itu sulit, tapi hasilnya akan membuat hidup Anda jadi lebih baik lagi. Jangan ragu mengembangkan diri sendiri.

Karena Anda semua adalah orang-orang yang terpilih. Semoga bermanfaat. Silahkan jika ada yang ingin menambahkan.

  1. :sip::sip: Pelajaran terbaru yang saya alami belakangan ini, tepat seperti yang mas arief sharekan, sedikit tambahan JUST DO IT no complaining,fokus pada tujuan

  2. Ooo, itu to maksud artikel sebelumnya, terjawab di artikel ini.

    Yang mas Arief alami bener-bener pengalaman yang luar biasa dan anda menyikapi dengan luar biasa juga.

    Terima kasih sudah berbagi, bener-bener memotivasi dan menyegarkan isi kepala saya (rasanya kayak abis mandi + keramas nih :hihi:…)

  3. Yah, kurang lebih benar,,, Pertanyaan kenapa harus saya? Waktu itu saya memang dah menebak, pasti ada hubungannya dengan Tugas Akhir Mas Arief,, tapi untuk ruang lingkup yang lebih besar, belajar dari penjelasan kondisi 1 harus selalu kita miliki.

  4. :ngelamun: masih kagum teringat kata2 “Ketika masalah yang kita hadapi lebih besar dari orang lain, maka sesungguhnya batasan kemampuan kita lebih tinggi dari orang lain” bagus sekali mas:hore:

  5. Ehm..jurusan Teknik Perkapalan rupanya….:sikut:
    Kaya’nya cukup rumit y…wajar juga menyelesaikannya rada :belajarkeras:
    Good Share Mas Arief…saya senang juga membaca artikel ini..:sip:
    Jadilah manusia besi yg makin ditempa makin bagus, bukannya manusia kaca yg sekali pukul pecah berkeping-keping:sliweran:
    C u in next article:ngacir:

  6. hmmmm…..:hihi:

    benar juga ya
    kata tuhan
    ketika kamu minta kekuatan, maka tuhan memberi kamu kesulitan supaya kamu kuat

    ketika kamu minta kebijaksanaan, maka tuhan beri kmu maslah supaya kamu bisa memecahkan

    ketika kamu minta kesejahteraan, tuhan memberi kamu akal supaya kamu berpikir

    ketika kamu membutuhkan cinta, maka tuhan mendatangkan orang2 yg bermasalah supaya kamu tolong….

    • @antibanbocor,

      ketika kamu minta kekuatan, maka tuhan memberi kamu kesulitan supaya kamu kuat

      ketika kamu minta kebijaksanaan, maka tuhan beri kmu maslah supaya kamu bisa memecahkan

      ketika kamu minta kesejahteraan, tuhan memberi kamu akal supaya kamu berpikir

      ketika kamu membutuhkan cinta, maka tuhan mendatangkan orang2 yg bermasalah supaya kamu tolong….

      Quotesnya bagus mas :sip:

  7. herlina mutmainah says:

    untuk kondisi 1, tenang saja mas, anda tidak sendirian hehehe dah warisan turun temurun.. jangankan mhs s1, yang s2 dan s3 pun masih menemukan masalah seperti ini. Tetap semangat ya…pantengin aja terus dosennya.

    aku dulu dapet dosen sulit yang memeng menyulitkan, tapi ada hikmahnya.. aku jadi menguasai materi, ujian akhir nggak berbelit belit dan dapat nilai A.

  8. Wah, Artikel yang sangat bagus sekali. Sebenarnya saya juga mengalami hal yang hampir sama seperti mas arief pada kondisi 1 tersebut. Saya juga mau selesai kuliah nih dan target saya dapat IP 3.5 hehehe, kalah mas arief… :sikut:

    Tapi apapun itu,, Mantaaappp,!! ini baru mas Arief ganteng. Hahahaha:ngakak:

  9. terikasih atas motivasinya mungkin itu piliha Allah yng diberikn pd kami semoga qt lebih nyasari kan kekurang ini.. slam sukses sllu buat AM

  10. Untuk menjadi kupu-kupu seekor ulat menjalani proses yang panjang dan rumit. Tapi semua sepadan dengan hasilnya. Mungkin perumpamaan ini bisa mewakili.

  11. Sip, semuanya burmuara di kualitas kan Mas?
    ===
    Saya yakin kalo orang-orang yang tahu kualitas dirinya dan mau naik derajat tidak takut menghadapi ujian apa pun.
    Sementara orang yang sadar bahwa dirinya berkualitas pasti tidak mau reputasinya menurun akibat kecerobohannya
    ===
    Pokonya sukses dah buat Mas Arief, biar terus meningkat kualitasnya dan teruji biar yang sekitar juga beroleh manfaat :sip:

Leave a Reply

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 471,681 bad guys.