Oleh : Arief Maulana

Umar Puja Kesuma
Umar Puja Kesuma

Alhamdulillah di tengah sibuk-sibuknya menyempurnakan draft Tugas Akhir yang mesti dikumpul tanggal 25 Juni ’10, saya masih bisa memenuhi undangan Mas Agus Siswoyo untuk kumpul blogger di mall langganan, Royal Plaza Surabaya. Kebetulan kita kedatangan bintang tamu blogger dari Sumatera Mas Umar “Bisnis Guru” Puja Kesuma. Yah, sosok guru plus plus menurut saya. Plus blogger, plus bijaksana, dan banyak plus-plus lainnya. Tak lupa juga master wordpress kita, Mas Lutvi Avandi turut hadir disana.

Acara dimulai jam 4 dan saya agak telat datangnya, karena sebelumnya masih ada acara kunjung-kunjung ke adik yang lagi mondok di Ponpes. Malah, yang lebih dulu datang adalah Mas Lutvi Avandi. Baru disusul Mas Agus dan terakhir Mas Umar. Cocoklah, bintang tamu kan dateng suka belakangan. Hingga genap jumlah peserta kumpul blogger ini 4 orang. Kecil, tapi insya Allah ilmu yang kita dapatkan banyak sekali.  

Kritikan dan Masukan Tajam Dari Mas Umar

Di tengah becandaan kita setelah ngobrol-ngobrol ringan, tiba-tiba mas Umar mengajukan pertanyaan maut untuk saya, Mas Agus dan Mas Lutvi. Simpel tapi berat menjawabnya. Apalagi saya di posisi favorit pertama pilihan Mas Umar untuk menjawabnya. Walau selanjutnya, kok Mas Agus sama Mas Lutvi ngga ditanya juga jawabannya apa. Seperti apa pertanyaannya dan apa pula jawaban saya, cukuplah kita berempat dan Allah saja yang tahu. Hahaha…

Tapi dari jawaban itu, saya mendapatkan masukan sekaligus nasihat penting dari Mas Umar. Dengan sebuah analogi sederhana yaitu guru :

Bayangkan ketika kita saat ini sedang duduk di bangku SMA, yang mana ilmu yang didapatkan lebih kompleks dari ketika duduk di bangku SD dan baru belajar 1+1. Maka, apakah di posisi kita sekarang (SMA) lantas kemudian guru SD yang mengajarkan sebatas 1+1 tadi kemudian kita lupakan? Apakah pantas karena yang diajarkan demikian sederhana, lantas kita mencercanya karena sudah dapat ilmu yang lebih komplit di bangku SMA?

Seperti itulah kritikan dan masukan pertama dari beliau untuk saya, namun dalam hal ini lebih spesifik ke bidang internet marketing yang saya tekuni.

Berikutnya Mas Umar juga memberikan nasihat agar saya mulai belajar merumuskan “Teori” sendiri alih-alih terus menulis ala Tugas Akhir / Skripsi yang banyak mengambil literatur atau referensi dari orang lain di setiap artikel yang saya publish di blog. Membangun branding, massa dan fans ala AM sendiri tanpa embel-embel reference orang lain. Termasuk juga di dalamnya bersikap netral dan tidak memihak golongan atau pihak tertentu. Berdiri di atas pendirian dan ditunjang sikap yang bijaksana. Be yourself bahasa mudahnya.

Alhamdulillah, saya bersyukur masih ada yang mengingatkan hal itu. Karena sungguh menilai diri sendiri itu sulit. Kadang kita butuh pihak ketiga yang mampu bersikap obyektif untuk memberikan penilaian serta masukan demi perkembangan kita yang lebih baik ke depannya.

Belajar Shodaqoh Dalam Konteks Out of The Box ala Lutvi Avandi

Setelah Mas Umar izin pamit duluan, tinggallah kita bertiga. Disini obrolan malam minggu berlanjut. Diawali konsep out of the box ala Tung Desem Waringin dari Mas Lutvi, termasuk tabungan emosi (tanya langsung aja ke beliau yah). Kemudian berlanjut pada hakikat serta mindset shodaqoh yang benar.

Konsep shodaqoh yang benar-benar di luar pemikiran kita selama ini. Banyak orang beranggapan shodaqoh harus dengan uang. Padahal tidak. Shodaqoh tidak harus berupa uang, karena balasan berlipat yang dijanjikan Allah juga belum tentu berwujud uang juga. Bisa jadi itu adalah nikmat sehat, yang manakala dicabut bisa saja kita mengeluarkan uang hingga puluhan juta untuk pengobatan. Bisa juga itu keselamatan dan masih banyak lagi. Lebih dahsyat efeknya kalau kita menshodaqohkan apa yang kita sukai.

Termasuk apa-apa yang kita terima hari ini, itu adalah efek dari perbuatan kita di masa lalu. Bisa jadi penghasilan kita saat ini adalah balasan shodaqoh kita di masa lalu, entah itu uang, ilmu, bantuan atau bahkan hanya sebuah senyuman. Konsepnya berbagi lebih dahulu, baru menerima. Banyak contoh dipaparkan oleh mas Lutvi dan saya rasa, beliau lebih pantas menjelaskannya lebih detail lagi. Mari kita tunggu Mas Lutvi mengulasnya lebih dalam.

Dari kedua orang ini, saya mendapatkan banyak masukan dan ilmu. Tidak hanya mengenai dunia tapi juga bekal untuk nanti melanjutkan hidup abadi di akhirat. Dan juga special thanx to Mas Agus Siswoyo yang sudah mau menjadi “EO” event kecil berefek besar ini. Semoga silatuhrami ini bisa terjalin terus ke depannya, tentunya dengan jumlah yang lebih besar lagi.

Oh ya, fotonya menunggu kiriman dari Mas Umar yang membawa kamera. Sambil menunggu, mari kita simak dan kunjungi blognya Mas Agus Siswoyo, Mas Lutvi Avandi, atau Mas Umar P.K. Barangkali ada update atau ulasan ini versi mereka. :D

Salam Sukses,
arief maulana
space

Kumpul Blogger, 19 Juni 2010
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us
Tagged on:                 

51 thoughts on “Kumpul Blogger, 19 Juni 2010

  • Selalu ada hikmah dibalik peristiwa. Sungguh saya tidak menyangka akan secepat ini peristiwa beberapa jam yang lalu terpublish di blog ini. Yang jelas, menyenangkan sekali bisa bertemu dan sharing banyak hal bersama blogger2 Surabaya ini. Moment yang mungkin akan sulit untuk terulang lagi.
    Terimakasih Mas Arief sudah menyempatkan waktu untuk mendengarkan ocehan saya. Haha… Good Luck for you!

    1. @Umar Puja Kesuma, wah akhirnya dateng koment juga :sip::sip::sip:

      Keburu lupa mas point-point yang mau dishare. Disamping itu mumpung ada waktu sebelum nanti ga sempet blogging lagi untuk sementara waktu :hihi:

  • hmmmm, mengenai pertanyaan yang di ajukan… saya terusik juga nih.
    konteksnya di sini memang banyak yang meremehkan profesi guru SD yang notabene gajinya ga jauh dari umr dan pelajaran yang di ajarkan gampang.

    Saya pernah menimbang diri saya apakah saya cukup handal untuk menjadi seorang guru SD? Jawaban saya adalah tidak. mengapa?

    Guru SD tidak hanya harus punya keahlian mengajarkan tentang angka dan huruf . Tapi mereka adalah pionirr, pembuka jalan ke fikiran seorang anak kecil yang tidak punya kesadaran atau kebutuhan akan membaca, menulis dan berhitung.
    Membuka jalan fikiran anak untuk mau belajar di saat anak anak cenderung ingin bermain, tidak tau etika, manja, cengeng, bagi saya itu merupakan perjuangan yang sungguh luar biasa…

    Dan perjuangan luar biasa tersebut, tidak di barengi dengan penghasilan mereka.
    Ada loh gaji guru SD yang setara dengan PRT.
    Padahal sebagai PRT, tidak lagi memikirkan tempat tinggal dan makan karena ditanggung majikan.

    kalo guru????

    1. @herlina mutmainah, Alhamdulillah gaji guru SD di jakarta sudah lumayan, waktu saya kelas 6 sd gajinya 1,5 juta, sekarang saya kuliah belum tau deh berapa gaji mereka, mudah2an sudah naik, hehe

  • wah menarik sekali kelihatnya mas arif mungkin lain kali kita boleh ikutan dong kumpul sesama blogger baik yang sudah master seperti mas arif,mas lutfi atau bpk umar dengan kita yang msih newbie/junior itung2 tambah ilmu/ penglaman yang lebih penting silaturahinnya gak melulu soal uang.
    ok trims mas infonya

  • masih jarang orang yang bisa merefleksikan sebuah obraln kedalam tulisan, sehingga menjadi bentuk tulisan yang memberikan pesan dan pelajaran yang baik buat yang membacanya. Saya salut terhadap Mas Arief.
    Makasih ya… mas Arief atas tulisannya, semoga saya bisa mengambil pelajaran dari apa yang Anda paparkan

    1. @Ajang, sebenarnya semua bisa mas. Hanya dibutuhkan kepekaan untuk menangkap point penting dari pembicaraan.

      Selebihnya tinggal mengembangkan dengan bahasa yang enak dibaca :baca:

  • Wah.. pengen nih mas kenal lebih dekat dengan teman2 blogger di Sby. Bisa sharing dan ngbrol bermanfaat dengan anda dkk.
    :sip:

  • Kapan-kapan kalau mau kopdar lagi, kita sewa kamera shooting. Pembicaraan kemarin terlalu mahal untuk dilupakan.

    1. @Agus Siswoyo, Masak sampai begitu, Mas. Terlalu didramatisir…haha…
      Tapi, boleh juga tuh profesi barunya, sebagai EO KOPDAR..haha..

      1. @Umar Puja Kesuma, sayangnya mas Umar keburu pulang. pembicaraan part 2 tentang pelajaran yang didapat bukan cuma ilmu dunia. tabungan akherat juga.

  • Soal guru itu kemarin mau saya bantah sebenarnya.. hehehe. Karena analoginya salah menurut saya dan nggak cocok disamakan dengan om xxxx.. :)

    Tapi kalau mambaca dari manfaat yang didapat akibat pertanyaan itu, sepertinya bantahan saya nggak diperlukan deh.. :)

    1. @Lutvi Avandi, hidup adalah sebuah proses yang dinamis. kita tidak tahu akan ketemu siapa di tengah jalan. saya pribadi nggak ambil pusing siapa dan apa peranan guru. karena pada akhirnya semua orang yang kita kenal (baik guru maupun bukan guru) akan mewarnai cara berpikir dan bersikap kita ke depan.

    2. @Lutvi Avandi, maklum deh mas.. namanya juga fanatik gitu lho.. plus forbis ngasih komisi 150.000 alias hampir 2x lipat komisi dari cabis.. (orangnya mata duitan sih)

  • Itu hanya sekedar analogi dadakan tanpa riset panjang, Mas. Jika dianalisa secara tajam, jelas analogi itu akan mentah dengan sederet bantahan tak berujung (mirip Bani Isroil, haha..).
    Intinya, sebenarnya cuma ingin mengajak sesama penghuni dunia “MAYA” khususnya Blogger untuk lebih mengedepankan sikap bersahabat, bahkan kepada orang yang menurut kita telah berbuat salah pada kita. Bukan sebaliknya, menebar kebencian dan hasut di mana-mana.
    Bukankah uswahnya juga sudah ada melalui penyikapan Nabi SAW terhadap Abu Jahal dan Abu Lahab.

    Seringkali saya merenung, kenapa SU’UDZON selalu menjadi bumbu utama dalam setiap tindak, pikir, dan penyikapan. Dan itu menjadi pertanyaan besar yang belum terpecahkan pada pertemuan kemarin.

    Note: Maaf Mas Lutfi, kemarin belum sempat minta jawaban sampean, soale keburu ganti topik. Jadi lupa deh, hehe..

    1. @Umar Puja Kesuma, Sistem yang berkembang adalah melebih-lebihkan perbedaan yang ada. The real is not as big as they think. Saya lebih suka membicarakan kesamaan yang kita punyai.

      Biarkan blogging berkembang ke arah pencerdasan emosi dan mental, bukannya malah mengkotak-kotakkan diri dalam pikiran sempit.

    2. @Umar Puja Kesuma, betul mas Saya nyaris melupakan satu hal. Bahkan pada mereka yang ‘cacat’ pun kita bisa mencari sisi positif untuk kemudian diadopsi.

      Ikuti yang baik2 saja, tinggalkan yang kurang baik.

  • widiiww seru keknya ^^…

    :sip:

    Emang ya kalo blogger beken paasti narsisnya ga ketulungan ^^

    :mikir:

    Sayang ga ada blogger ceweknya ^^ jadi kuranggg indah *halah* :ngakak:

  • saya nggak melupakan joko susilo kok mas.. cuma berusaha meluruskan jalannya yang salah… tapi orangnya merasa udah mapan, gak mau dengerin kritikan.. yo wes.. JARNO wae

  • Sesuatu yang kecil-kecil memang tak boleh diremehkan, karena dari yang kecil-kecil itu muncul kebesaran.
    ===
    Dan orang-orang besar itu pasti juga merasakan kecil dulu. Gitu kan Mas? :sip:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 470,551 bad guys.