Oleh : Arief Maulana

Kesempatan Tidak Datang Dua KaliLakukan Sekarang atau Tidak Selamanya.

Kesempatan itu makhluk yang unik. Dia seringkali datang di saat kita sedang tidak menginginkannya. Dia datang dengan wajah yang kurang menarik hingga kita lebih sering tidak mempedulikannya.

Karena tidak pedulinya, kesempatan pun ngambek dan menggerutu. Akhirnya dia pergi tanpa pamit kepada kita. Dan pada saat itu, kita baru sadar. Ternyata kesempatan tidaklah berwajah buruk. Itu hanyalah debu yang menutupi ketampanan ataupun kecantikannya.

Kita pun menyesal, namun sayangnya dia tidak akan kembali lagi. Kalaupun kembali, wajahnya akan sangat berbeda dan bisa jadi kita tidak mengenalinya lagi. Dan tragedi itu, berulang kembali.

Itu adalah cerita pembuka yang singkat bagaimana saya menggambarkan sebuah kesempatan yang sering kita lewatkan begitu saja. Ujung-ujungnya, penyesalan tanpa batas.  

Saya juga teringat sebuah kisah yang sangat menarik dan sarat dengan pelajaran hidup, terkait dengan kesempatan ini (kali ini lebih banyak ceritanya, hehehe…).

Konon di sebuah desa hiduplah seorang kakek yang taat pada agamanya. Dia begitu tinggi keimanannya. Penduduk sekampung hampir menganggapnya seperti nabi karena ketekunan ibadah juga ahlak yang baik. Kakek itu bisa dibilang sangat dekat dengan Sang Khalik (Pencipta).

Desa yang dihuni sang Kakek tersebut sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Masyarakatnya pun hitup tenang dan damai, tidak peduli dengan hiruk pikuk kota-kota modern yang ada di luar sana.

Tidak pernah ada satu prahara pun yang meresahkan masyarakat. Hingga saatnya tiba, Sang Tuhan ingin menguji kesabaran dan ketaatan penduduk desa.

Pada suatu pagi, bencana itu tiba. Banjir bandang datang melanda tanpa permisi. Untungnya masih ada areal pepohonan yang luas sehingga aliran air masih bisa ditahn. Namun demikian perlahan tapi pasti, ketinggian air semakin bertambah.

Ketika ketinggian sudah mencapai betis, seluruh penduduk berlarian untuk mengungsi. Semua panik karena tahu sebentar lagi ada banjir susulan dan areal pepohonan itu tidak akan sanggup bertahan lebih lama.

Namun, tidak dengan kakek yang bijaksana itu. Dia tetap berdiri di dalam rumahnya sembari mengangkat kedua tangannya dan berdoa.

Seorang tetangganya datang dan mengajaknya untuk mengungsi bersama. Namun, kakek itu menolaknya. Ia mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa Tuhannya yang ia sembah selama ini pasti akan menolongnya.

Air pun semakin tinggi. Kini kakek tersebut telah berdiri di atas sebuah kursi sembari mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Seorang wanita paruh baya datang menghampirinya.

Wanita itu menawarkan bantuannya untuk menolong kakek tersebut keluar dari rumahnya dan menuju tempat pengungsian. Namun, sama seperti sebelumnya kakek itu bersikeras untuk bertahan sembari mengatakan bahwa Tuhannya pasti datang dan akan menyelamatkannya.

Air mengalir semakin deras dan ketinggian pun bertambah. Kini sang kakek sudah ada di atap rumahnya. Yang dilakukannya masih sama. yakni berdoa.

Tiba-tiba dari arah selatan seorang pemuda dengan menggunakan perahu karet datang menghampiri. Pemuda itu menawarkan bantuannya untuk membawa kakek tersebut ke tempat pengungsian. Namun, sekali lagi dengan keras kepalanya kakek itu menolak. Ia mengatakan bahwa Tuhannya pasti datang dan menolongnya. Pemuda itu pun pergi.

Air semakin tinggi. Ketinggian air kini sudah mencapai mata kaki kakek yang sedang berdiri di atap rumahnya. Si kakek mulai resah namun mencoba untuk tetap yakin pertolongan dari Tuhan akan datang. Sesaat kemudian datanglah tim SAR dengan helikopter menghampiri. Ketua tim menawarkan untuk menolong kakek tersebut. Namun, kakek tersebut dengan suara keras dan membentak menolak untuk pergi. Ia mengatakan dengan tegas kepada petugas SAR bahwa Tuhannya pasti datang dan menolongnya.

Kisah ini ditutup dengan tragis seiring datangnya berita bahwa kakek tersebut meninggal karena tenggelam… (T_T)

Di alam akhirat. Kakek itu pun protes dan bertanya pada Tuhannya. ”Ya Tuhan…! Seumur hidupku aku habiskan untuk menyembah Engkau. Aku juga telah menyiarkan ajaran agamamu dengan tulus dan ikhlas tanpa meminta imbalan. Namun, mengapa ketika musibah banjir itu datang dan aku berdoa, Engkau tidak datang dan menolongku. Apa salahku…?”

Tuhan pun menjawab, ”Wahai kakek yang sombong. Apakah matamu tidak melihat pertolonganku? Aku sudah mengirimkan pertolonganku padamu.

Tidak tanggung-tanggung sampai 3x. Yang pertama adalah seorang wanita paruh baya yang datang kepadamu. Yang kedua adalah seorang pemuda yang datang dengan perahu karetnya. Dan yang ketiga adalah tim SAR yang datang dengan helikopter. Karena dirimu telah berburuk sangka padaKu, maka masuklah engkau ke dalam nerakaKu.”

Mari kita sama-sama mengambil hikmah dari cerita di atas. Saat ini zaman begitu sulit dan berat untuk dijalani. Kita senantiasa selalu berdoa dan berharap bahwa Tuhan kita akan memberikan solusi dari setiap permasalahan yang kita hadapi saat ini.

Namun sayangnya kebanyakan dari kita bahkan terlalu bijaksana dan sombong, tak ubahnya kakek yang “bijaksana” tadi.

Kita kurang menyadari dan memahami bahwasanya Tuhan tidak akan pernah menolong kita dengan tangannya sendiri. Lantas, dengan apa Tuhan datang menolong kita. Tentu dengan manusia juga. Karena manusia adalah kepanjangan tangan Tuhan di Bumi ini.

Silahkan introspeksi diri! Seringkali setiap ada teman, saudara, tetangga yang datang pada kita dan menawarkan sebuah peluang, kita langsung menolaknya dan berpikir negatif tentang itu. Padahal kita tidak pernah tahu, bahwa peluang yang ditawarkan itu mungkin adalah jawaban atas doa-doa kita selama ini.

Kita lebih mementingkan ego kita daripada mencoba mencari kebenaran dibalik setiap kesempatan dan peluang yang dibawakan oleh teman-teman atau bahkan anggota keluarga yang dekat dengan kita.

Waktu berjalan. Tiba-tiba kita kaget. Teman / keluarga yang dulu datang membawa kesempatan dan peluang yang sempat kita caci maki, kita remehkan, kita acuhkan, kini menjadi sosok figur sukses yang luar biasa. Kondisi finansial, kondisi mental, kondisi spiritual, dll. kini jauh lebih baik 300% dari yang sebelumnya.

Dan Anda pun menyesal. Kenapa dulu tidak mengambil kesempatan itu. Kalau diambil mungkin saat ini kita bisa sama-sama sukses. Tapi terlambat. Kita sudah banyak membuang waktu, padahal untuk sukses ada perjalanan panjang yang mesti ditempuh.

Jadi ingatlah bahwasanya kesempatan tidak pernah datang untuk yang kedua kalinya. Kalau pun ia datang lagi, wujudnya sungguh berbeda. Dan yang akhirnya terjadi adalah penyesalan, sama seperti kakek yang mati dengan penuh penyesalan tersebut. Oleh karena itu, saya hanya ingin mengingatkan saja pada Anda. Rendahkanlah hati dan ego Anda.

Dengarkan dulu setiap peluang dan kesempatan yang ditawarkan oleh teman, saudara atau tetangga Anda. Boleh jadi mereka adalah bagian dari rencana Tuhan untuk menolong dan mengubah kehidupan Anda menjadi lebih baik.

Berpikirlah positif. Bukankah selama ini Anda mempercayai mereka. Dan justru karena mereka mengenal Anda, maka mereka menawarkan berbagai peluang untuk membantu Anda. Karena mereka peduli dengan masa depan Anda. Jangan sampai, di kemudian hari Anda menyesal. Karena keputusan Anda hari ini akan menentukan dimana dan bagaimana keadaan Anda 2 hingga 3 tahun ke depan. Jangan biarkan hal-hal negatif diluaran sana mencuci otak Anda.

Orang sukses adalah mereka yang jeli melihat sebuah peluang dan mengubahnya menjadi sesuatu yang luar biasa dan membuat hidup mereka berubah.

Semoga posting kali ini bisa bermanfaat untuk Anda.

Salam Sukses,
Photobucket
space

Kesempatan Tidak Datang Dua Kali
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us

93 thoughts on “Kesempatan Tidak Datang Dua Kali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 470,560 bad guys.