Keluargamu Atau Keluarga Orang Tuamu ?

Oleh : Arief Maulana

Sebenarnya saya ingin menuliskan ini sejak beberapa hari yang lalu, saat sedang berlibur ke rumah kedua orang kami (saya dan istri). Namun karena fasilitas yang kurang memadai dan saya juga tidak terlalu nyaman untuk menulis blog via tab, jadi lah saya hanya menulisnya sementara di social media path.

Latar belakang saya memilih judul “Keluargamu Atau Keluarga Orang Tuamu” tidak lain dikarenakan belakangan ini semakin sering saya mendengar cerita atau bahkan curhatan dari teman yang keadaan rumah tangganya kurang begitu baik lantaran terlalu dalamnya intervensi orang tua (baik pihak laki-laki, maupun pihak wanita) dalam kehidupan rumah tangga mereka. Bahkan, ada yang sampai cerai akibat si suami tidak mampu tegas dan selalu menjadi “anak mama” saat ibunya ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Miris.

Anda pernah mendengar cerita serupa? Atau jangan-jangan justru Anda sedang mengalaminya saat ini?   

Mari melihat dari berbagai sudut pandang, sudut pandang kedua orang tua dan sudut pandang para pasangan muda yang baru menikah

1. Orang tua selalu ingin yang terbaik bagi anak-anaknya.

Ini adalah alasan paling klasik yang sering menjadi dasar kenapa kedua orang tua kita masih suka ikut campur dalam kehidupan rumah tangga anak-anaknya. Perlu dipahami bahwa, sebelum menikah kita sudah hidup belasan tahun bersama orang tua. Mereka pun selalu berusaha memberi yang terbaik kepada anak-anaknya.

Begitu pun saat kita baru menikah. Saya yakin para orang tua masih belum bisa 100% melepas “kepergian” anaknya yang sedang membangun keluarga kecil miliknya sendiri. Para orang tua masih merasa bertanggung jawab pada kehidupan anaknya, sekalipun si anak sudah menikah.

Ini tidak lain karena pada dasarnya mereka selalu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Mereka tidak mau, anaknya yang dibesarkan dengan susah payah, dengan usaha terbaik, mendapatkan pasangan yang kurang baik atau kehidupan pernikahan yang tidak baik.

Dan seringnya adalah standar yang digunakan para ortu kita dalam menilai pernikahan ideal yang baik adalah versi mereka. Sementara zaman sudah berubah, kondisi masyarakat berubah, pun tantangan permasalahan rumah tangga juga sudah tidak sama lagi.

Orang Tua Yang Mengekang
Orang Tua Yang Mengekang

2. Anak punya konsep keluarga atau rumah tangga sendiri

Di sisi lain, bagi si anak, keluarga kecilnya adalah miliknya sendiri. Memiliki segudang visi dan misi pernikahan sendiri. Punya aturan sendiri. Meskipun, semuanya itu tidak terlepas 100% dari referensi yang mereka punya, yaitu kehidupan pernikahan orang tuanya (dan mertuanya).

Nah, sekarang tinggal kuat yang mana. Apakah si anak bisa tegas kepada kedua orang tuanya, memegang teguh prinsip dan nilai keluarga kecilnya sendiri tanpa intervensi orang tua, atau menjadi “anak mama” yang terus menerus menurut apa kata orang tua, khususnya bagaimana membangun rumah tangga versi orang tuanya.

Beban ini, dalam pandangan saya, kemudian menjadi lebih berat pada pundak suami. Karena banyak para suami “anak mama” di luar sana. Tidak mampu bersikap tegas, sehingga akan selalu ada gesekan antara ibunya dan istrinya (sebagai menantu perempuan). Padahal mestinya suami bisa menjadi fasilitator antara ibunya dan istrinya. Menjadi jembatan yang baik bagi pasangannya dengan keluarga besarnya. Leader atau anak mama?

Keluargamu Atau Keluarga Orang Tuamu ?

Saya percaya bahwa setiap pasangan yang baru menikah, tentu memiliki visi dan misi keluarga kecilnya sendiri, tanpa campur tangan kedua orang tua / keluarga. Mulai dari permasalahan kapan mau punya anak, dimana kota yang dipilih menjadi home base nantinya, dll.

Namun, semuanya akan kembali lagi pada masing-masing pasangan. Apakah bisa tegas dengan orang tua dan membangun keluarganya sendiri, atau ikut arus semua apa kata orang tua dan membangun keluarga orang tuanya. Di sini akan terlihat kedewasaan pasangan dalam menjalani pernikahan seperti apa.

Yang jelas, apapun pilihannya, masing-masing punya plus minus dan konsekwensinya masing-masing. Pun memilih berbeda dan tegas pada orang tua, bukan berarti kita menjadi durhaka dan menentang mereka. Sikap sopan dan santun, tetap harus dipegang teguh.

Jadi, bagaimana dengan Anda. Hidup dalam keluarga Anda sendiri atau keluarga orang tua Anda?

  1. Artikel yg singkat dan sarat “makna”
    Disini saya mau tanya bagaimana menyikapi suami yg belum dewasa (anak mama) hal tsb tidak lain disebabkan didikan orang tuanya yg terlalu memanjakan dr kecil sehingga membentuk karakter yg demikian. Sikap “sayang”ortu tsb tetap berlangsung pdhl kondisi si anak sudah menikah sehingga terlalu mengintervensi visi misi keluarga kecil si anak.

    • @Rahma: Suaminya diajak berdiskusi yang intinya adalah Anda berdua sudah punya keluarga sendiri. Tanyakan saja, pemimpin keluarganya suami atau ortu suami? Namun karena bahasannya cukup sensitif, coba cari momen yang pas ya Bu Rahma.

  2. Apapun permasalahan dalam rumah tangga, sungguh tak boleh sedikitpun bocor sampai keluar rumah.
    Sebisa mungkin selesaikan permasalahan itu dengan pasangan.
    Apabila mentok dan tidak ada titiik temu, lebih baik dengan sangat terpaksa menggunakan jasa konselor rumah tangga ataupun guru agama, bukannya ke keluarga atau orang tua.
    Kenapa ngga ke keluarga atau orang tua?? Karena secara naluriah orang tua atau keluarga pasti akan lebih condong dan memihak terhadap salah satu pihak!! (anaknya/saudaranya), sehingga seringkali hal ini malah menyebabkan masalah menjadi semakin keruh antara suami-istri. Beda halnya dengan konselor pernikahan atau guru agama yang notabenya adalah orang asing yang pada saat memberikan masukan atau saran akan bersifat lebih netral.

    terima kasih atas artikel yang bagus ini

  3. Saya punya suami dan dia terlalu menurut apa yangk di katakan kakak adek dan orang tua nya jadi saya dan suami mengalami suatu masalah dan suami saya menceritakan masalah yang sedang kami hadapi ke keluarga nya tsb dan nama saya di jelekan kekelarga besar nya minta solusi nya bgaimana ya bpak\ IBU yangk nulis artikel di ats???.

    • Suaminya diajak komunikasi. Selama ini pernah tidak saling membicarakan apa kelebihan yang disukai dan kekurangan yang tidak disukai antara kedua belah pihak (suami – istri). Jika tidak pernah dibicarakan, maka wajar jika kemudian suami / istri tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya tidak disukai pasangannya. Jika pembicaraan / komunikasi gagal, kalau saya, lebih baik cerai saja.

Leave a Reply

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 471,991 bad guys.