Jangan Takut, Itu Cuma Ilusi Kita Aja!

Oleh : Arief Maulana

“Cara terbaik mengatasi ketakutan adalah dengan melakukan hal-hal yang berhubungan dengan apa yang kita takuti.” Itu pesan tersirat yang saya tangkap dari salah seorang instruktur pada workshop pengembangan diri yang saya ikuti beberapa minggu yang lalu.

 

Interaksi Sosial
Interaksi Sosial

Masih dalam konteks memperluas social circle, yang salah satu caranya adalah berkenalan dengan orang-orang baru. Seringkali untuk membuka suatu percakapan tertentu, muncul ketakutan-ketakutan yang tidak beralasan di pikiran kita. Biasanya sih takut dengan reaksi yang mungkin timbul. Entah itu ditolak, ataupun takut dengan apa anggapan orang yang kita ajak bicara.

Kecuali Anda adalah orang yang pede abis, biasanya sih kebanyakan orang seperti itu. Dan ini juga kenapa kita lebih suka saling diam dan menunggu orang lain untuk membuka percakapan terlebih dahulu. Karena sama-sama saling menunggu, akhirnya malah tidak terjadi interaksi sama sekali. Bener ngga?

Berkaca dari kondisi ini, sehingga di awal workshop para peserta diterjunkan langsung ke lapangan untuk berinteraksi dengan orang-orang baru. Kalau bisa ngobrol selama mungkin, apapun itu topiknya. Baru kemudian diadakan evaluasi dan pemberian materi Social Skill, termasuk di dalamnya bagaimana berkomunikasi dengan orang yang baru dikenal.

Saya tidak akan membeberkan teknik detailnya disini. Sudah banyak buku tentang komunikasi yang bisa Anda cari di gramedia. Tinggal baca dan praktekkan saja. Beberapa diantaranya yang sering saya rekomendasikan :

Atau Anda juga bisa mencari dan mengikuti workshop bertema social skill atau komunikasi. Saya pikir itu sebuah investasi yang bagus untuk masa depan dan kualitas hidup yang lebih baik. Lihatlah, rata-rata mereka yang punya hidup berkualitas dan menyenangkan dengan memiliki banyak teman, kemampuan komunikasinya bagus.

Kembali pada rasa takut ini, instruktur saya mengatakan bahwa sebenarnya semua ketakutan saat membuka komunikasi dengan orang baru itu tidak beralasan. Kita boleh takut saat seseorang memaksa agar kita melompat dari gedung yang tinggi atau menyeberangi jalan tol yang mana mobil melaju kencang-kencangnya. Kenapa? Tindakan itu sama saja dengan mempertaruhkan nyawa kita.

Lain halnya ketika kita berkomunikasi dengan orang baru. Apakah ketika reaksi mereka tidak menyenangkan ketika membuka percakapan lantas membuat kita seketika mati di tempat? Tentu saja tidak. Hampir tidak ada resiko apapun. Dan lagipula kita masih di Indonesia, yang mana kebanyakan masyarakat kita masih ramah. Kecuali ketika Anda memulai percakapan pasang tampang seseram mungkin. Senyum saja, maka mereka akan tersenyum.

Semua Hanya Ilusi Pada Pikiran Kita

 

Ilusi Pikiran
Ilusi Pikiran

Semua ketakutan tidak beralasan itu lagi-lagi berpulang pada pikiran kita yang terlalu kreatif berimajinasi. Kita mikirnya udah macam-macam. “Gimana kalau … ?” Itu kan yang sering muncul ketika Anda akan mengajak orang di dekat Anda ngobrol. Gara-gara itu juga sesuatu yang seharusnya tidak terjadi, eh malah terjadi.

Ingat sedikit pembahasan saya pada artikel sebelumnya tentang paradigma. Ketika kita memiliki satu set pola pikir yang kurang tepat, maka itu akan mempengaruhi cara kita bertindak. Kalau Anda dari awal sudah mikirnya macam-macam, jelas akan mempengaruhi sikap bahkan bahasa tubuh ketika interaksi pertama kali dilakukan.

Ada beberapa poin yang diajarkan oleh instruktur saya dan bisa Anda gunakan untuk mengurangi rasa takut tidak beralasan ini :

==> 3 Second Rule

Ilusi aneh-aneh muncul dalam pikiran Anda tidak lain karena Anda kebanyakan mikir. Sebelum itu terjadi, segera buka interaksi pertama dengan orang yang mau Anda ajak bicara / kenalan. Jadi kalau misalnya Anda mau ngobrol sama orang di depan Anda, jangan tunggu lebih dari 3 detik langsung buka pembicaraan.

==> It’s Just A Game, Why So Serious

Yap, dengan menganggap ini semua sebagai permainan kita bisa jadi lebih rileks. Ngga perlu terlalu serius. Kalau pun orang yang mau diajak bicara enggan untuk berinteraksi katakan saja, “Oke, thanx yah!”. Game pun selesai. Sesederhana itu. Yang bikin ribet kan kita terlalu memikirkan apapun reaksi dari orang yang kita ajak interaksi. Ngga perlu terlalu serius mikirin hal ini. Toh orang yang Anda ajak ngobrol, nanti-nantinya juga ngga mikirin Anda.

==> Senyum

Jangan lupakan yang satu ini. Karena senyum sampai saat ini adalah pembuka interaksi yang masih ampuh untuk digunakan. Senyumin aja dulu, kalau reaksinya sengak ya ngga usah diterusin ke tahap selanjutnya. Mungkin dia lagi ada masalah dan butuh berdiam diri. Biasanya dan kebanyakan, kalau saya senyum ke orang lain mereka juga balas senyum. Nah, yang ngga biasa senyum coba sering-sering latihan senyum.

Jadi tunggu apa lagi? Buang semua ketakutan ngga beralasan Anda dan mulailah berkenalan dengan orang-orang baru. Punya banyak teman itu menyenangkan sodara-sodara. :p

Ini dulu sedikit dari remah-remah materi yang saya share lanjutan artikel terakhir. Masih ada beberapa lagi yang akan saya bagikan di posting mendatang. Stay tune on my blog. Oh ya, kalau emang merasa bermanfaat, boleh tuh dipromosiin dikit ke teman-teman Anda entah di facebook, twitter, blog, ataupun langsung kasih tahu blog ini.

See you in next blog post.

  1. saya senang dengan ungkapan ” 3 second rule ” soalnya kalo kelamaan mikir untuk membuka pwmbicaraan yang ada akan timbul pikiran2 buruk atau bakalan ga jadi2 untuk berinteraksi,..bravo mas arief.

  2. Banyak teman, banyak rejeki :)

    Asal ngobrolnya bermanfaat aja..
    Satu pertanyaan pertanyaan ampuh: “Anda bekerja dimana?”
    Pertanyaan ini akan membuat org senang dan membuat kita belajar banyak tentang profesi baru dan pelajaran2 baru, dan sektor bisnis baru.

    Jangan tanya bekerja apa!
    Soalnya ini pertanyaan yg org kadang kurang enak menjawabnya jika pekerjaannya “kurang pas”.

    @Mubarok21

    • @ahmad, yup bener banget. Saya lebih suka membuat orang lain bercerita banyak tentang dirinya. Jadi inget di buku yg ditulis dale carnegie, kalau tidak salah “pembicara yang baik adalah pendengar yang baik”

      • formula bisnis mlm says:

        @arief maulana, Ide permulaan yang bagus juga menurut saya untuk menanyakan “bekerja di mana?” dari pada pertanyaan “bekerja apa?” terimakasih mas Ahmad:sip:

  3. Saya punya bukunya “joe vitale” yang kurang lebih sama dengan isi yang mas afief tuliskan disini.

    senang sekali bisa baca2 artikel mas arief. :sip::sip:

  4. Mas ndung ndung says:

    betul..betul..betul…
    cara takut menghilangkan ketemu orang, ya temuin aja langsung… nanti klo dah terbiasa jadi hilang rasa takutnya

  5. Lebih dari 3 second ga ada komunikasi , rasanya seperti kiamat , timbul deh ketakutan-ketakutan itu …. kayanya lebih bagus jadi orang yang spontanitas ya …

  6. terima kasih mas arif,akhirnya ada kelanjutanya artikel sebelumnya,sedikit-sedikit sudah saya terapkan tehnik sebelumnya dan di artikel ini dapet ilmu baru lagi.ok mas sekali trims

  7. Buku wajib orang mlm tuh…pekerjaan saya dibagian layanan mengharuskan berinteraksi dengan orang2 baru..tapi karena di pelayanan yang waktunya terbatas, jadi hanya senyum salam sapa aja Mas…So kepada sobat bloger coba deh rumus 3S ini…siap-siap banyak disenengin :sip:

  8. Maqui Berry says:

    Saya pernah mendengar dari seorang teman yg agak penyendiri dan pemilih, “banyak teman, banyak masalah” saya rasa di kepalanya penuh ilusi negatif, atau memang super pesimis kali ya….:mikir::mikir:

    • @maqui Berry, bener kok itu. Banyak temen emang banyak masalah, KALAU temennya orang-orang bermasalah. Prinsipnya gampang aja. Berinteraksilah dengan orang-orang baru. Kalau pada akhirnya mereka ga bagus untuk dijadiin temen, ya tinggal ‘dibuang’ aja toh.

  9. Lianawati natawijaya says:

    BETUL SEKALI DG MENGAJAK SENYUM KITA SDH MULAI ICE BREAKER MELEKEHKAN BONGKAHAN ES YANG MEMBEKUKAN KEADAAN DAN SEMUA BERJALAN LANCAR KOMUNIKASI INI SADAH SAYA PRAKTEKKAN DI AIRPORT MAUPUN TEMAN SEBANGKU DI PEAWAT DAN SAMPAI SEKARANG BERTEMAN BAIK MALAH JADI MITRA BISNIS SO WONDERFULL THANKS MR ARIEF MAILANA

  10. Artikel yang sangat menarik.

    Memang, hampir di seluruh bidang kehidupan, komunikasi memegang peranan penting. Jika ingin sukses di bidang apapun, kuasailah teknik komunikasi.

    Bagaimana pendapat mas Arief?

  11. Agus Siswoyo says:

    Salam kenal. Saya newbie dan minta bimbingan. Boleh tanya-tanya kan? :)

    Kalimat itulah yang sering saya dapatkan di chat room. Dalam hal berkenalan dengan orang-orang baru, ada satu hal yang nggak boleh kita lakukan: Jangan underestimate sama diri sendiri.

    Apapun posisi kita saat ini, feel free dan be confident waktu mulai percakapan. Jangan merasa diri paling bego waktu buka percakapan atau selamanya kita akan terpenjara dalam mindset buruk yang kita buat sendiri.

  12. Pingback: Belajar Pengembangan Diri dan Menjadi Pusat Gravitasi Komunitas Bersama Arief Maulana | Catatan Motivasi Blogging Indonesia
  13. good artikel…sy org yg agak pendiam mas….mau praktekan artikel ini ach….! doa’in mas semoga berhasil…bismillah….

  14. bener juga yah…say termasuk org yg suka takut ngomong sma org baru..pdhal kan dia juga sama manusia kaya kita..thank’s artikelnya.. ;):sip:

  15. info mas bgs bgt mas, tp kl yang mo diajak ngomong itu orang penting gmn? pejabat gt misalnya.. ada trik khusus ga buat mulai pembicaraan? thx ya

  16. Sya suka dg artikel mas,
    Saya termasuk org yang sgt susah berkomunikasi, baik itw org y sdh lama kenal, apalg dg org y bru sya knal, sya jg susah skali akrab dg orang, sya hanya bebas ngobrol dg org2 tertentu, gmana ych solusinya ? Thanks,

  17. Saya suka dg artikel mas,
    saya itu uisah skali dalam hal berkomunikasi dg org lain, walaupun itw dg org udh lma sy kenal apalagi kalau dg org baru, kalo sya tdk diajak duluan ngobrol sy bisa btah diam berjam2, itwpun klo diajak ngobrol sya cma jawab iya atw tdk, sya bingung,,,, sya jg susah bget akrab dg orang, solusinya gmana ych ?
    Thanks

    • @Ayu, solusinya?

      1. Sering berinisiatif memulai obrolan duluan. Walaupun di awal kaku, gpp. Lama-lama juga biasa.
      2. Ajak ngobrol orang-orang baru.

      Kalau ga ada inisatif dari diri sendiri untuk berubah ya seperti yg mbak bilang, bakal diam (tidak berubah) berjam-jam (bertahun-tahun).

Leave a Reply

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 471,663 bad guys.