Oleh : Arief Maulana

berbagi tidak pernah rugi

Rekan-rekan, jujur saja saya pernah terjebak dalam satu paradigma yang salah mengenai konsep berbagi. Saya share disini agar Anda tidak mengalami hal yang sama.

Flash back ke masa lalu, dimana saya masih aktif di bisnis konvensional modern berbasis network alias MLM dan sering mendapatkan income yang terbilang cukup besar. Saat itu, gaya hidup saya sedikit berubah jadi agak-agak ekslusif gitu.

Maklumlah disamping uang saku rutin yang diberikan orang tua, bonus-bonus yang banyak lumayan untuk menaikkan standar kualitas apa-apa yang saya miliki. Jelas ini menimbulkan sedikit perbedaan yang muncul dengan sendirinya, jika dibandingkan dengan teman-teman seangkatan.

Saat itu, adik-adik saya (Firman dan Wulan) seringkali meminta untuk ditraktir. Entah itu traktiran makan ataupun traktiran nonton film di Cinema 21. Sayangnya setiap kali mereka meminta, saya selalu menolaknya. Terdengar kejam dan pelit yah!  

Alasan yang selalu saya keluarkan adalah, jangan sekarang karena uang itu mau diinvestasikan ulang untuk memperbesar grup MLM sekaligus biaya operasional saya untuk ikutan pertemuan, dan mobilitas saat melakukan presentasi. Yang pasti jelas lebih besar ketimbang bisnis internet marketing.

Selalu seperti itu. Bahkan ketika penghasilan bertambah dan sempat tembus lebih dari 1.5 juta pun saya masih juga enggan sedikit membahagiakan adik-adik saya. Hingga kejayaan itu berakhir dan perlahan income turun drastis dan saya berada di titik dimana tidak punya penghasilan sama sekali. Bahkan tabungan pun tidak ada. Yang pada akhirnya menjadi alasan saya pindah ke bisnis internet marketing.

Dari sana saya instrospeksi. Satu hal yang kurang menurut saya adalah BERBAGI. Ya, saya kurang sekali dalam hal berbagi, entah itu dalam hal shodaqoh ke orang lain ataupun berbagi kebahagiaan bersama adik-adik saya. Dan itu adalah PELAJARAN HIDUP buat saya.

Miracle of Giving
Miracle of Giving

Setelah saya membaca “The Miracle of Giving” karangan Ust.Yusuf Mansur, saya pun semakin yakin bahwa letak kesalahan saya memang disana. Bukan bisnisnya, tapi saya terlalu kikir untuk berbagi. Padahal kunci dari hidup berkelimpahan adalah berbagi. Maka benar adanya ungkapan, “semakin banyak berbagi, semakin banyak kita menerima.”

Karena hal itu, saya pun berkomitmen tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Sejak terjun di bisnis internet dan mendapatkan penghasilan 1 juta pertama dalam 1 bulan (di bulan ke-3), saya langsung keluarkan sebagian hak-hak orang lain yang ada di dalam penghasilan tersebut dan Alhamdulillah bisa konsisten sampai sekarang.

Pun demikian dengan adik-adik saya. Begitu ada sedikit berlebih, saya pasti ajak mereka nonton dan makan di luar. Kebetulan kita bertiga movieholic, hahaha… Sayang tidak bisa sering karena Wulan masih stay di Pondok. Cuma kalau dia pulang aja kita biasa jalan-jalan bertiga. 3 Muskeeters, calon 3 orang sukses di masa depan dari keluarga kami, amin.

Smile Baby
Smile Baby

Jadi, jangan sampai hal yang sama menimpa bisnis Anda rekan-rekan. Berbagilah selagi sempat. Jangan menunggu sukses untuk berbagi, karena boleh jadi justru dengan berbagi itu menjadi faktor X yang akan mempercepat kesuksesan Anda. Dan ngomong-ngomong soal berbagi, ngga mesti duit kan.

Kalau Anda tidak ada penghasilan berlimpah, berbagilah dalam hal ilmu. Seenggak-enggaknya, berbagilah senyum kebahagiaan. Seperti senyum tulus bayi yang selalu membuat kita tersenyum kembali dan melepas beban berat walau untuk sejenak.

Selamat berbagi!
arief maulana
space

Jangan Menunggu Sukses Untuk Berbagi
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us
Tagged on:         

84 thoughts on “Jangan Menunggu Sukses Untuk Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 470,551 bad guys.