Oleh : Arief Maulana

jangan-jadi-pebisnis-sekarangBusinessman isn’t just profession

Halo rekan-rekan pengunjung setia! Mungkin Anda heran kenapa artikel ini saya beri judul, “Jangan Jadi Pebisnis Sekarang”. Tanda tanya tentu muncul di benak Anda, tapi justru itu… makin penasaran Anda, makin serius pula Anda akan berusaha memahami apa yang saya maksudkan.

Jujur saja tulisan ini saya buat untuk men-downkan Anda para newbie. Anda yang akan terjun ke dunia bisnis, entah itu bisnis online ataupun bisnis konvensional. Namun hal ini terpaksa saya lakukan demi kebaikan Anda semua.

Banyak orang mengira menjadi pebisnis hanyalah sekedar berpindah kerjaan. Yang tadinya menyandang status karyawan, sekarang statusnya pebisnis. Keren. Yang tadinya dapet gaji tetap tiap bulan, sekarang gajinya malah ngga jelas (ngga pasti). Dan inilah kesalahan terbesar para newbie yang akan terjun ke dunia bisnis. Ujung-ujungnya… GAGAL TOTAL. Cuma buang-buang waktu, buang-buang uang, buang-buang tenaga, dll. Makin down…? Baca terus! 

Rekan-rekan, berubah menjadi pebisnis bukan sekedar berpindah profesi. Anda harus siap untuk berubah total. Tidak hanya pola kerja, tapi juga mental, pola pikir, paradigma, punya visi, jeli membaca peluang, dll. Yang paling penting dari semua itu adalah merubah nilai inti dari dalam diri Anda sendiri.

Silahkan Anda buka kembali buku The Cashflow Quadrant, karangan om saya Robert. T. Kiyosaki (bagi yang belum punya silahkan pinjam di perpustakaan, atau beli di Gramedia terdekat). Disana Kiyosaki menjelaskan dengan amat sangat jelas dan baik, tentang 4 kuadran yang mewakili bagaimana cara orang mendapatkan uang.

the-cashflow-quadrantSelain cara mendapatkan uang, masing-masing kuadran tersebut ternyata memiliki satu nilai inti yang sangat mendalam dan sangat mempengaruhi kita. Jika kita tidak paham akan nilai inti ini, akan sulit dan mustahil sekali untuk sukses dalam menyeberang ke lain kuadran.

Sebagai contoh, E (employee / karyawan). Nilai intinya adalah rasa aman. Tidak mau rugi, dan senang akan hal yang pasti-pasti saja (gaji tetap, honor tetap, uang pensiunan, dll). Kata yang sering didengar dari kuadran E adalah “Saya mencari pekerjaan yang aman dan menjamin, dengan bayaran tinggi dan tunjangan bagus.”

Ketika seorang karyawan hendak berubah menjadi seorang pebisnis (pindah dari kuadran E ke kuadran B – Business), maka akan ada pertentangan dalam nilai inti orang tersebut. Apalagi E dan B saling bertolak belakang.

Bila E senang yang pasti-pasti, maka pekerjaan seorang B adalah pekerjaan yang hasilnya tidak pasti, bahkan cenderung merugi di awal sebelum sukses. Kuadran B juga menuntut sikap leadership yang tinggi dan mampu mengelola manusia, padahal si-E justru selama ini menjadi orang yang dikelola si-B.

Lantas apa yang terjadi bila si-E memaksakan diri terjun ke kuadran B sebelum benar-benar siap? Sudah bisa dipastikan akan gagal. Biasanya gejalanya seperti ini :

Awal mula melihat sebuah peluang, serasa ada semangat untuk mencoba dan yakin sukses. Dana pun diinvestasikan sebagai modal awal untuk berbisnis (beli perlengkapan, entah itu panduan bisnis, bahan baku, tool, dll). Setelah berjalan agak lama, jangankan mendapatkan tambahan keuntungan, yang ada justru malah rugi dan tidak mendapatkan apa-apa.

Karyawan ini pun kemudian gelisah dan mulai ragu, apa benar saya bisa menjalankan bisnis ini? Katanya bisa sukses, kok malah rugi seperti ini. Dalam hal ini nilai inti si karyawan mulai terusik. Ia tidak lagi merasa aman dan nyaman dalam dunia bisnis tersebut. Mentalnya tidak siap dan ia lupa bahwasanya bekerja sebagai pebisnis tidak sama halnya dengan bekerja sebagai karyawan. Lebih enak karyawan. Kerjaan pasti, gaji sudah pasti terima awal bulan. Yang PNS udah pasti terima pensiun, dll. Ujung-ujungnya… karyawan ini pun gagal.

Ternyata tidak berhenti sampai disitu saja. Karena kegagalannya, si karyawan ini pun merasa bahwa bisnis yang diikuti hanya penipuan belaka. Akhirnya mulai menjelek-jelekkan hal-hal yang berkaitan dengan bisnis yang diikutinya. Dan berkata ke semua orang bahwa bisnis itu jelek dan kejam. Padahal mungkin boleh jadi kegagalannya adalah murni karena kesalahannya sendiri, bukan karena bisnisnya.

Hal ini berlaku juga dengan kuadran-kuadran yang lain. Ingat nilai inti masing-masing kuadran itu berbeda. Tidak saya jelaskan disini, cukup Anda baca langsung di buku aslinya.

Saya disini kembali mengingatkan Anda! Sebelum Anda benar-benar terjun di dunia bisnis, coba yakinkan diri Anda, apakah sudah benar-benar siap atau belum. Jangan berspekulasi karena hanya akan membuat Anda lebih kecewa ketika gagal nanti.

Anda bisa menguji dengan beberapa pertanyaan berikut :

  • Siapkah Anda untuk mengalami kerugian di awal dan tidak mendapatkan apa-apa selama beberapa waktu ke depan?
  • Bagaimana perasaan Anda bila hasil yang didapatkan dari bisnis ngga jelas? Kadang bagus, kadang turun, kadang ngga dapet apa-apa?
  • Sudah siapkah Anda untuk bersaing dengan kompetitor yang mungkin bermain kasar dan licik?
  • Apakah Anda siap berada dalam kondisi penuh tekanan saat bisnis Anda terancam bubar?
  • Seberapa jeli Anda melihat sebuah peluang?
  • Seberapa berani Anda mengambil peluang yang penuh resiko dan mengubahnya menjadi hal yang memberikan penghasilan tanpa batas?
  • Sudah siapkah Anda untuk mengubah kebiasaan, sikap, pola pikir, dan mau untuk terus belajar dan berkembang?

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang bisa Anda tanyakan pada diri sendiri. Jika jawabannya kebanyakan tidak. Maka sebaiknya tidak perlu memaksakan diri menjadi pebisnis (kuadran B) ataupun investor (kuadran I). Toh dari masing-masing kuadran pun Anda masih bisa sukses.

Kuadran E, Anda bisa sukses dengan menjadi pejabat di perusahaan Anda. Kerja yang giat dan tunjukkan profesionalitas Anda. Kuadran S, Anda pun bisa sukses dan bahkan meraih penghasilan besar milik Anda sendiri. Kuadran B, sukses dengan sistem bisnisnya yang berjalan otomatis. Kuadran I, sukses dengan mempekerjakan uangnya (investasi).

Jadi kalau belum siap, jangan jadi pebisnis sekarang. Bekali diri Anda selengkap mungkin. Jika benar-benar sudah mantap… baru ambil keputusan terbaik untuk diri Anda.

Salam Sukses,
Photobucket
space

Jangan Jadi Pebisnis Sekarang
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us
Tagged on:                     

137 thoughts on “Jangan Jadi Pebisnis Sekarang

  • saya salut atas analisis mas arief yang mendalam, apalagi sebenarnya mas arief tidak pernah sekolah bisnis… (kuliah teknik ya mas)..
    rasanya kok seperti menemukan calon guru bisnis yang baru nih..

    kapan2 bikin seminar bisnis ya mas :sip:

    1. @mashengky, sekolah bisnisnya dari kehidupan mas… Dari figur-figur sukses, dari buku-buku bisnis, dan dari pengalaman terjun langsung di lapangan untuk pembentukan sikap, mental dan pola pikir (bisnis network marketing).

      Pengennya sih terjun ke konvensional juga, tapi tunggu adik lulus. Kan dia yg ngerti buat and baca laporan keuangan (modal pebisnis konvensional)!

      Hehehe :mataduitan:

        1. @Fadly Muin, emang enak mas… tapi untuk yg konvensional kan butuh waktu ekstra… makanya tunggu lulus kuliah.

          Prediksi saya ntar lulusnya barengan dengan adik saya. Soale dia D3 Accounting.

          1. @mashengky, di perkapalan emang udah kaya di kedokteran mas. lulusnya lama… lulus boleh lama mas. Yang penting suksesnya duluan..

  • Hmmm…luar biasa artikel ini.

    Saya menemukan sosok Arief Maulana yang berbeda dari biasanya. Tidak ada basa-basi di artikel kali ini, semuanya disajikan secara tegas, lugas, dan berkualitas. Salut!

    Gaya memotivasi seperti ini sepertinya bisa menjadi alternatif baru. Apalagi motivasi yang khusus ditujukan bagi calon pebisnis.

    Bisnis memang tidak selalu menyenangkan pada mulanya. Bahkan justru penuh aral dan rintangan. Karena itulah, pesan dari Mas Arief ini menjadi sangat-sangat penting dalam rangka menggembleng mindset newbie untuk mampu berubah menjadi mindset pebisnis handal.

    Namun sepertinya ada yang perlu saya konsultasikan secara khusus dengan Mas Arief mengenai analisis kuadran-kuadran di atas.

    Label saya sebagai PNS yang sekaligus bergerak dalam bisnis online, agaknya belum klop dengan analisis di atas.

    Berdosakah saya, atau kemarukkah saya jika menjejakkan kaki pada dua kuadran sekaligus?

    Salam Istimewa!
    KLIK BISNIS GURU : Referensi Bisnis Online dan Informasi Pendidikan

    1. @Umar Puja Kesuma, tidak masalah, sepanjang itu bisa membagi dan memposisikan dua kuadran tersebut. namun saya yakin, lambat laun, mas umar akan mulai menentukan pilihan. karena hidup ini tak bisa terhindar dari penentuan pilihan hidup.

      -semoga bisa menambah perspektif-

      1. @Fadly Muin, sepakat mas. Btw Coba dibahas mas… ini kan berkaitan juga dengan masalah motivasi dan mental di masing-masing kuadran.

        Mungkin mas pernah baca bukunya!

    2. @Umar Puja Kesuma, monggo mas. Anyway… maaf kalo menyinggung, terkait masalah PNS.

      Menjejakkan kaki di 4 kuadran pun tak apa mas. Tapi biasanya dari 4 kuadran itu, ada nilai inti yg sangat dominan.

      Dan itu kadang bertabrakan dan saling menjatuhkan. Malah ngga fokus dimana-mana.

      Namun bila bisa menjembatani akan jadi satu sinergi yang luar biasa.

      Di buku Cashflow quadrant dibahas detail mas.

  • sebelum memutuskan terjun bebas ke dunia Bisnis, memang harus baca artikel ini… tapi kalo saya mas mendingan jalan dua2nya… ya jadi pebisnis cerdas yang sukses juga jadi karyawan yang cerdas sukses….. :hore:

    1. @omjun, boleh mas jalan keduanya. Asal, bisa menjembatani dua nilai inti tadi. Ada baiknya beli langsung bukunya dan dibaca mas!

      Mas Omjun kerja di bidang apa?

    1. @erick, itu kiyosakinya yg mantep mas…

      maaf lama ngga berkunjung mas. aku padet banget di dunia offline… ini aja teman2 lain yg sering kesini belum sempet tak kunjungi balik…

      gimana kabar bisnis mas errick?

    1. @rekanbisnisku, biasakan berpikir simpel untuk menyelesaikan masalah yang tampak besar.

      Karena terkadang masalah yg keliatannya besar, tidak sebesar yg kita bayangkan!

  • Mas tentang pernyataan “kalau belum siap, jg jadi pebisnis sekarang”

    Mungkin agak berbeda pendapat sedikit dengan saya.

    Ada waktunya orang dipaksa harus siap. Padahal dia samasekali tdk siap. Resikonya kegagalan waktu dan materi akan dikorbankan. Itu sudah konsekuensi.

    Untuk siapa pola seperti itu?
    Terutama Untuk orang2 yang malas memulai.

    Kalau menunggu sampai benar2 siap. Sampai kapanpun dan siapapun tak akan pernah siap. Manusia banyak alasan untuk memulai langkah awal.

    Dalam suatu kesuksesan “kemauan” modal utama. Ketidaksiapan adlh sarana belajar.

    Siap saya anggap sama dengan sempurna (walau tdk 100%). Kalau kesiapan dijadikanpatokan untuk memulai bisnis/segala hal. Maka orang akan takut memulai. Karena org takut dengan kesempurnaan.

    Kalau semua mesti diwali kesiapan. Seorang bayi tak akan berani belajar berjalan karena takut jatuh.

    Ini pandangan saya dari sisi lain Mas. Mungkin Mas Arif/teman lainnya punya pandangan lain? :matabelo:

    1. @Wawan Purnama, bener sih, kalau nunggu siap tidak akan jalan-jalan. namun yang di maksud siap disini adalah, mau menyadari akibat-akibat yang akan timbul apabila seseorang berpindah kuadran. berarti berpindah pola pikir dan situasi sosial dari yang biasa dia rasakan.

      -semoga bisa memberi perspektif yang lain mas Wawan –

      1. @Fadly Muin, ini bukti mas…

        temen2 butuh tulisan yang merespon tulisan saya… bisa jadi bahan postingan mas Fadly… hehehe

    2. @Wawan Purnama, masuk mas pendapatnya…

      Berarti ada special case disini. Terima kasih tambahannya!

      And seperti yg dibilang mas fadly… fokus disini adalah bagi mereka yg mo lintas kuadran.

      Ketika mereka memutuskan untuk “terpaksa” lintas kuadran… kalo ngga diiringi dengan perubahan sikap dan pola pikir… yg ada malah… GAGAL SELAMANYA mas.

      Itu…

  • Luaaaaaaaaaaaaaaaar biasa mas arief. sangat inspiratif.

    saya sih ingin masuk dalam I= investor. tapi itu butuh waktu. kalau jadi investor, nanti uang yang bekerja untuk kita.

    itu baru nantinya bisa disebut financial freedom.

    jabat erat
    haris, inspiero.com

    1. @Inspiero, B pun bisa financial freedom mas.

      Hati2 terjebak pada definisi yg salah tentang B (business)

      kuadran B adalah posisi dimana bisnis yg kita miliki sudah punya sistem yg kokoh. Cara ngetesnya…?

      Bisnis tsb ditinggal selama 1 tahun tanpa campur tangan mas, masih bisa survive malah, untung.

      Kalo masih butuh kehadiran mas… namanya masih SMALL BUSINESS, alias masih di kuadran S…

      Ketika kita bener2 B… artinya tanpa kita pun bisnis berjalan… passive income deh

      Hehehe

      Gimana menurut mas? Udah pernah baca bukunya kan?

      1. @arief maulana, nah kalau trading forex itu masuk kategory mana rief? dan kalau trading forexnya pakai robot trader yang tanpa campur tangan para trader itu yang bisa mendatangkan profit. wah eank donkkalau gitu langsung freedom:mataduitan: tanpa kerja (berkhayal kali):tendang: Click Here! liat aja bahkan sampai konversi 30% betapa orang2 ingin pasive income tanpa kerja :hehe:

        1. @ADI wardana, wah… ngga tau di. Tapi banyak yg bilang forex itu haram. Makanya ngga ambil penelitian mendalam disana.

          1. @adi wardana, dulu yg aku baca malah haram. DIsamping itu kalau dibawa ke arah berpikir logic, coba liat yg pada mainan forex.

            Kesannya kaya judi. Soale kita ngga pernah tahu kapan nilai naik, kapan turun, dsb. Saham pun demikian. Ketika kita bermain saham untuk mengejar capital gain saja, itu sama aja judi juga.

            Lain halnya ketika kita membeli saham untuk menikmati dividen pertahun.

            Well balik lagi ke masing-masing persepsi orang Di

          2. prinsip dasarnya adalah setiap bidang muamalah (bisnis konvensional,bisnis online,forex dll) adalah mubah alias boleh. kalo bisnis konvensional ada pertimbangan pemilihan produk,tempat jualan dll. Kalo forex ada analisa fundamental dan analisa teknikal teknikal (robot). Kalo pendapat saya judi itu haram karena unsur mengadu nasib tanpa perhitungan. Kalo bisnis tanpa perhitungan bagaimana ? apakah termasuk haram ?
            Well seperti yang mas arief bilang kembali ke pendapat masing2. bravo bisnis online Indonesia

  • capek juga mas, denger orang mau bisnis tapi ga mau bayar harganya. kalau boleh kasih sedikit sindiran orang bugis seperti ini: elo ande tea eco artinya, mau makan tapi ga mau gerak. begitu kira2 ilustrasi buat orang sinis dan menyepelekan persepsi pola pikir tentang bisnis.

    oh iya mas, 80% pertanyaan mas arief, jawaban saya adalah IYA! dan sudah saya lakoni. selebihnya masih dalam proses mas. memang tidak mudah membiasakan diri dalam kondisi yang kritis. tapi lebih fatal kalau tidak mau memulainya…

    1. @Fadly Muin,
      1. berani memulai
      2. berani berubah
      3. berani jalani prosesnya
      4. congratulations… anda sukses

  • maaf sebelumnya pak Arief…
    menarik sekali pembahasan di atas…., beberapa aspek dikemukakan secara detail dan mengena. pendapat “orang luar” sepertinya agak sulit diterapkan dalam kultur (bisnis) di Indonesia? Atau lebih spesifik; dalam kultur dan budaya kita sebagai asli Indonesia?

    1. @munawar am, panggil arief saja mas… hehehe…

      Mungkin bisa dispesifikkan, pendapat yg mana mas… biar rekan2 juga sama2 tahu.

      Atau mas buat respon atas artikel ini juga gpp. Saya nantikan!

      1. @arief maulana, maksudnya, kultur indonesia bukan kapitalis tapi agamis..

        itu dulu mas.. sekarang segala2 nya pake duit.. sertifikat halal MUI pun harus dibayar pake duit..

        jadi yg agamis sudah lama diganti kapitalis..

  • apa kabar mas Arif, saya Alie, menarik sekali artikelnya, semua orang menginginkan keadaan sperti dikuadran kanan, tapi tidak semua mau untuk menjalani prosesnya, berdasarkan informasi yg pernah saya dengar, semua orang di 4 kuadran bisa kaya, tapi hanya orang berada dikuadran kanan yang bisa merasakan pensiun dengan kebebasan financial, sukses untuk anda

    1. @all about loan, bener mas. Semua bisa kaya dari 4 kuadran. Kuadran kanan kaya dengan passive incomenya

      sedangkan kuadran kiri kaya dengan active incomenya.

      Saya pribadi orangnya malas… makanya pengen ke kuadran kanan. Biar males2an duit datang… hahaha

      1. @arief maulana, sama mas Arif, saya juga orangnya malas, makanya sekarang kerja keras, biar 2 tahun kedepan dan seterusnya bisa malas-malasan :sip: get Passive Income, sukses

          1. :hihi: berarti pada ga males dung buktinya sekarang pada bekerja keras. Dan tahun2 ke depan pasti akan ingin lebih maju:sip:

  • Sesuai dengan ajaran agama, jika ragu-ragu tinggalkan saja. Menyikapi judul di atas, maka itulah saya sinergikan antara bisnis konvensional di waktu siang dengan belajar bisnis online di malam hari. Ya konsekuensinya jam tidur jadi berkurang :hehe:

    1. @Sumartono, bener2 kaya romi satria wahono.

      Btw kemana aja mas?
      Kok jarang keliatan di blogsphere?

      Ato aku yg ngga update

      1. @arief maulana, Muncul lagi Mas. Btw, Pak Romi lama gak kelihatan (mungkin sibuk) jadi belum sempat saya sampaikan salamnya. Tapi saya sering ketemu adik iparnya kok (Pak Catur).

        1. @Sumartono, santai aja mas. Ngga usah terlalu maksa ketemu mas Romi. Saya juga tahu orangnya sibuk banget. Hehehe

    1. @keberuntungan, yang penting enjoy. Kalo dah enjoy belajar hal baru itu menyenangkan!

      mas punya bisnis offline apa?

  • Tak banyak yang bisa saya sampaikan mengenai artikel diatas, selain susunan kata” yang luar biasa dan penggunaan bahasa yang dapat memotivasi setiap pembaca.

    Selamat mas arif, tulisan ini cukup bisa menggambarkan konsistensi mas arif dalam menerapkan ilmu” motivasi.

    Tunggulah dalam beberapa tahun kedepan, mungkin orang bisa menjuluki anda Mario Maulana :nyembah:

    -Keep Posting-

    Ricky
    Thebussiness Man

    1. @Ricky, mas… sebenernya namanya nicko apa ricky? Kok sama situsnya?
      :puyeng:

      Amin mas… mudah2an terkabul. Kalo ya… mas tak kasih tiket VIP gratis

      Btw… maaf lum bisa review produknya. Masih agak repot. Insya allah ntar tak review di dua situs langsung!

      1. @arief maulana, Ya ricky to mas. Seperti biasa…seorang affiliate lagi coba cari sesuap nasi. Sapa tau ada yang nyantol :-). Daripada ngiklan langsung, tar bisa dicubit sama pemilik situskan..hehe..

        Tiket VIP nya ditunggu ya mas :sip:

        -salam sukses-

        Ricky
        ThebussinessMan

        1. @Ricky, ngga maksudku… yg di situs itu kan punya nicko. Mas affiliatenya? Kok linknya ngga pake link affiliate.

          kalo ada deal jatuhnya ke mas Nicko lho mas!

          1. @arief maulana, waduh..salah to mas, terlalu semangat mungkin. Maklum masih newbie berat. Kayanya memang harus belajar banyak sama mas arief nih…

            -salam sukses-

            Ricky
            Thebussinessman

  • wah bener mas arief sudah saya cap sebagai motifator muda yang menghasilkan motifasi baru buat orang2 yang membacanya.. oiya mas arief apa sekolah motifasi ya?

    1. @torik, ehm… ngga mas. Saya hanya seorang mahasiswa jurusan teknik perkapalan (ship designer). Ngga pernah menempuh sekolah motivasi.

      Tapi kalau mas perhatikan… banyak kok motivator top, justru tidak pernah sekolah motivasi. Bahkan background pendidikannya juga berbeda.

      Exp :
      Andrie Wongso (SD ngga tamat)
      Wuryanano (D3 Peternakan)

      Dua-duanya top motivator and mindset navigator!

      Yah… semoga bisa menyusul kesuksesan mereka lah!

  • analisa mas Arief bisa sebagai bahan pertimbangan, informasi yang baik dan terserah apa kata anda, dan tindakan, keputusan anda. Bagi saya tidak akan keluar rumah lama sebelum menemukan rumah baru. Tidak akan keluar dari aktivitas lama sebelum punya aktivitas baru. Tidak akan keluar dari pekerjaan lama sebelum punya pekerjaan baru. apalagi pindah jalur…

  • bener sekali mas, sebelum memulai suatu bisnis baik yang offline mauppun online kita harus punya visi dan misi dulu..aduh kayak caleg nich..hehehe..mau di apakan bisnis kita nantinya, dan yang terpenting punya tekad yang kuat, yakinkan pada diri sendiri bahwa kita bisa menjalankan bisnis kita dan bisa sukses….

  • mas arief emang motivator…

    saya sependapat sekali masalah visi dan misi,cuma masalah menahan diri untuk terjun dan langsung belajar…:no:
    rasnya saya kurang sependapat ni mas..:hiks:
    soalnya saya tipe newbie yang merasa akan sukses dengan nekat:wooo: dan belajar:baca:
    tapi secara keseluruhan,anda memang memotivasi:sip:

    1. @febriansyah, bagus itu mas. Sekalian aja mas… buat diri anda dalam kondis terdesak. Itu akan memunculkan suatu potensi terpendam yang luar biasa dan akan memacu semangat juang Anda yang tinggi!

  • wew, artikel yg sngt bgus!!
    memang segla sesuatu yg akan kita jalani hrus punya perencanaan yg mtang

    bnyk bngt nich yg koment:hehe:

    sya hrap bsa punya blog spetakuler kaya bpk:baca:

    kpn2, kunjungi blog saya ya pak.. btuh saran nich dari senior. he-he!!!

    1. @d D4n, panggil mas aja. Saya masih muda kok. Insya Allah ntar saya akan kunjungi balik.

      Rame kaya gini butuh proses dan waktu Pak. Saya memulai ngeblog kan sejak pertengahan 2008 lalu. Hehehe

          1. @arief maulana, wekekekeke… berbalas bisnis ya mas? kereeennn…

            kapan bikin produk sendiri mas?

  • Mas Arif yang bijaksana, nih saya mau numpang ngasih comen sekalian kenalan he..he
    Kalo menurut saya maksud bang Robert Kiyosaki itu sudah saatnya kita tidak hanya berada di satu sisi kwadran tetapi semakin banyak kwadran itu jauh lebih baik. maksudnya kalo kita masih sebagai buruh ya sebaiknya buruh yang nyambi dagang atau buruh yang nyambi dagang tapi juga punya kos-kosan atau lebih baik lagi buruh yang naymbi dagang + punya kos-kosan + bisnis oneline + nggadohke sapi + punya beberapa motor yang diojekkan orang lain + ikut MLM :puyeng: yang penting semua masih dapat menghasilkan gimana?
    Tapi yang jelas maksud bang Robert itu yang penting bukunya laku, ya ndak?

    1. @dev4, salam kenal juga. Iya mas. Robert memang merekomendasikan tidak berdiri di satu kuadran, melainkan bermain di dua kuadran kanan.

  • :sip: salam kenal..mas arief, posting yang bagus…E,S,B dan I adalah sebuah pilihan…so, kuadran B dan I tentu dambaan & tujuan sebagian besar orang termasuk saya pribadi…saya dalam rangka berjuang dari E menuju kuadran kanan..salam sukses!! silakan kunjungi blog baru saya di www. beranimulaiusaha.blogspot.com

    1. @Jockee, sudah berkunjung mas. Ada beberapa point :
      1. Kalo bisa 5-6 baris, buat paragraf baru, biar enak dibaca

      2. Biar bagus, bisa cari template lain diluar standar blogger mas.

      Salam Sukses

  • salam kenal mas areif dari newbie.

    Apalagi klo sdh muncul masalah non teknis, kayaknya perlu siap mental dan muka tebal dlm beberapa dunia bisnis/usaha (konvensional). Baik itu dlm kuadran E,B,S.

    Ambillah beberapa keputusan yang sulit untuk memperoleh hasil yang diinginkan.

    Mau berkorban jangka pendek untuk meraih hasil jangka panjang.

    Jadi, seperti kata mas areif “Kesuksesan adalah milik siapa saja yang mau BERJUANG”

  • Weitt…, luar biasa nih mas…, untung tadi mampir ke sini.
    Setelah membaca artikel ini, pasti banyak pemula yang pikir ulang untuk jalani bisnis, akhir maju mundur…., masuk tempurung lagi deh…hahaha…

    Padahal kondisi ekonomi sesulit apapun ada peluang luar biasa buat yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan Mas Arief di atas.

    1. @hade, sengaja mas. Yaitu kalo emang para newbie mo terjun ke bisnis biar ngga tanggung-tanggung, sekalian basah aja.

      Soale kalo 1/2 – 1/2, hasilnya pun 1/2 – 1/2. Pa lagi kalo dah buruk sangka gara2 itu. Payah deh.

        1. @mashengky,
          Mosok ada sih orang yang gitu Mas…, ada kampanye anti mashengky gitu?

          Kalau ya, itu kan promosi hebat yang gratis…. sangat perlu disyukuri spt posting artikel saya terkahir..hehe…, promo dikit…

          1. @hade, ada lah mas. Itu tandanya kesuksesan mulai menghampiri.

            saya malah kasihan kalo ada yg seperti itu. Soale kalo di awal udah irian and ngga tahan banting… gimana mo survive kaya JS yg dihantam bertubi2?

          2. @arief maulana,
            Kalau JS saya tahu dan kalau saya jadi JS justru malah bersyukur karena justru mjd lebih hebat krn “tuduhannya” tdk benar.

            Tapi Mashengky juga dapat perlakuan samakah?

            Menyedihkan…, tapi sisi positifnya, itu justru promosi hebat yg gratis…, ini kalau ybs benar-benar “hebat”. Kita tahu siapa mashengky, yg suka banyolan hehehe…

  • Arahan bagus buat newbie dan ulasan yang tepat untuk The Cashflow Quadrant by Robert T. Kiyosaki. Dimanapun posisi kuadran anda sekarang, FOKUS lah. Karena tidak semua orang akan menjadi sukses di kuadran yg sama. Kalau semua orang jadi pebisnis siapa yang jadi karyawannya? Kalau semua orang jadi karyawan siapa yang menggerakkan bisnisnya. Kalau semua orang menjadi investor, siapa yang kerja muterin duitnya. Kalau semua orang self employed, siapa yang jadi kliennya?
    Semua saling mendukung satu sama lain. Kita yang menentukan di quadran mana kita merasa nyaman? Karena untuk pindah kuadran butuh kesungguhan usaha. Idealnya memang di quadran kanan untuk time and money freedom. Tapi sekali lagi semua itu pake USAHA…USAHA…dan USAHA….

    1. @Yanti Suud, bener mbak. Makanya yg udah nyaman and comfort di kuadran E dan S pun ngga perlu memaksakan diri ke B. Cukup fokus dan sukses disana.

      Cuma kalo mo passive income ya terpaksa kudu ke kuadran kanan. Hehehe…

  • semoga ini bisa… PErsiapan untuk terjun berwiraswasta atau entrepreneur sangatlah penting. Namun jangan terlalu perfectionist, karena akan membuat kita ragu2 karena masih aja ada yang kurang. Membekali diri untuk meminimkan resiko itu saja saya kira

    1. @robi, bisnis bukan bakat mas… tapi pilihan hidup.

      Saya bisa ngerti bisnis karena belajar and praktek. Upgrade pengetahuan disana.

      kalo bisnis bakat2an… Allah ngga adil namanya! Soalnya jadi pebisnis itu cara untuk passive income!

  • semuanya berbakat..asalkan jalannya benar dan halal.

    Disamping itu, jangan seperti Bang Zalukhu yg bisanya kritik doang. Biasalah… iri tanda tak mampu!

    Yang ketika ditantang untuk masuk dalam 3 orang yg bersedia mencabut tuduhan bila terbukti mas Joko benar, tidak berani.

    1. @uang halal, hehehe.. link nya kok zalukhu? tukang kritik terhebat di indonesia, ngalahin politisi indonesia..

      coba dong kritik blog saya mas

  • Dear Mas Arief,
    Makin bijak banget nih Mas, kemarin baru sempet lihat bukunya dan baca covernya, sekarang lagi baca wasiat terlarang karya Iphung Santosa apa siapa ya mas, karena kebetulan lagi di bahas di ICI sebagai bahan training, salam

    1. @Muklis|BBM, lebih bijak mas muklis lah!

      Wasiat terlarang emang buatannya Iphung Santosa mas. Saya punya bukunya dia yg MARKETING is BULSHIT

      salam sukses juga!

  • Percisss & pas buat saya Mas Arif…Kubaca posting ini jadi ketawa sendiri…Karena ini terjadi pada diriku…Mantan karyawan yang masih taraf pembelajaran ke bisnis…Tak da pilihan lagi aq harus masuk di kuadrant B…
    BTW kunjungi blog ku yang masih belum 100% ok…Kaih komentar yach…
    Tq:sip:

    1. @Does Ichtiah CP, udah mampir mbak. Ngga apa-apa mbak. Ada baiknya mbak cari buku the cashflow quadrant biar bisa membantu proses nyembrang dari E ke B.

      Salam Sukses

      (saya udah mampir lho mbak kesana)

  • Memulai berbisnis bukanlah pekerjaan yang mudah, banyak alasan mengapa seseorang sangat tidak mudah untuk memulai bisnis. salah satunya sering kita dengar adalah ” Saya tidak berbakat bisnis”, padahal kenyataanya para pebisnis sukses saat mengawali bisnisnya tidak berpikir apakah ia berbakat atau tidak. Informasi yang mas Arief sangat bagus untuk membekali mereka yang ingin terjun ke dunia bisnis, bagaimana mempersiapkan mental kita dan menyiapkan mind set kita. Luar biasa mas Arief.
    Salam sukses. Dahsyat !!!

    1. @Sugiana, bener! Saya paling males kalo ada yg bilang bisnis itu bakat.

      Padahal itu adalah pilihan hidup. Kalo emang bakat, saat ini saya ngga nyemplung bisnis. Soale keluarga pada ngga suka bisnis. Cuma saya ja yg nyeleneh… hehehe

  • Pingback: Belajar Bisnis Internet Sambil Jalan |
  • Ini yang paling banyak disekitar kita,apalagi jaman sekarang.Banyak PHK ambil profesi dari E maunya ke B dengan optimisme tapi tidak ada komitmen merubah sikap dan tdk tahan uji, akhirnya pesangon habis untuk modal ke B, kalau yang ke S masih lumayan.
    Salam Dahsyat!

      1. @arief maulana, betul mas sama2 penggemar TDW masih baru, insya Allah pengin ke Surabaya atau Bandung nanti biar tambah semangat dan ketemu para ahlinya dan Mas Arief tentunya.

  • Special thanks to Mas Arief berkenan lagi mampir di BBM, thanks mas atas suport dan mau sharing di BBM, semoga nanti kedepannya materi tentang motivasi di BBM makin berkembang dan makin berisi, thanks one again to you Mas Arief, Mas pernah baca buku karangan ipho santosa belum bagaimana pendapat mas

    1. @BBM, sama-sama mas. Buku Ipho yg saya punya MARKETING IS BULSHIT. Belum sempat baca mas…

      masih ribet sama kuliah (ujian) + workshop IM perdana. Jadi lum bisa koment!

      Cuma liat awal2nya kayanya bagus!

  • Wah arahan yang sangat konservatif dan sangat menjatuhkan sekali mas arief,tega bgt mas menyampaikan itu bagi kami yang ingi maju dan sukses,:nyerah::hiks:,tapi apa yang telah disampaikan diatas dengan semua uraian mas arief,menjadikan hati saya terbakar dan akan terus berjuang sampai titik penghabisan heheheh,saya juga bisa,kalau orang lain bisa,mas arief anda betul-betul memotivasi saya untuk terus belajar dan maju lagi,salam :nyembah::nyembah: :matabelo:

    1. Justru itu mas. Bisnis itu tegaan dan kejam, hehehe…. Makanya kalo ngga siap mental dengan itu semua, mending mundur dari sekarang. Kalo calon pebisnis sukses, kena artikel ini tambah terbakar and can’t be stopped! Yah.. aya mas ini!

  • Cak Arief, judul tulisan sampeyan provokatif tapi harus diikuti sampai selesai.. bukunya om sampeyan Robert. T. Kiyosaki The Cashflow Quadrant ada dirumah tapi belum sempat baca padahal istri yang ngebeliin, kalo pas ke Candi boleh mampir? salam

    1. @Budi Warsana, wah sayang itu mas. Sebaiknya lekas dibaca. SIsihkan waktu 5-10 menit perhari di waktu berkualitas.

      Teman saya malah rebutan mau pinjam buku TCQ saya.
      :baca:

  • Luar biasa mas Arief artikelnya dan analisisnya.. bagi rekan2 yang mau bisnis onlien memang harus baca terlebih dahulu tulisan ini.. agar tidak menyesal di kemudian hari:hihi:

  • Pingback: Gaya Bisnis Rasulullah | ARIEF MAULANA | The Next Success Leader
  • Kalau ndak salah Teori cashflow quadrant (QS) pebisnis sukses ketika telah jadi investor (I), uang bekerja untuk dirinya, tetapi bergerak di sektor non riil. dialah sang kapitalis sejati. Contohnya Seperti yang terjadi krisis di Amerika kemarin, langsung berdampak ke Indonesia. Teori QS telah menjawabnya. Dan… lebih baik jadi pebisnis ala Rasulullah. Salut pak!

  • ya mas arief benar… :sip: dan saya juga ingin pindahkuadran tapi lum siap:ngelamun::ngelamun:, tetapi saya akan berusaha…:wooo::wooo:… o ya mas, saya dulu juga pernah copy artikel mas.. mav ya…:plis::plis:
    salam kenal…

    1. Wah copas ya… hehehe… Gpp mas, asal link dan sumbernya tidak dihilangkan. Jadi orang kalo mo ngtrack artikel aslinya ketemu. Cuma kalo hobi copas hati-hati mas. Bisa di banned ma google and ngga masuk list pencarian di google.

  • Hallo Mas Arif Maulana, salam kenal dari saya!
    Mas, Terus terang saya adalah seorang “anak kecil” yang polos di belantara Internet Marketing.
    Artikel Mas Arif ini membuat saya lebih sadar bahwa kuadran “I” itu adalah “gue banget”. Saya orang yang cenderung mencari dan berada di “zona aman”, suatu keadaan yang “menyenangkan”, tanpa resiko, tapi kurang “tantangan”! Bener gak Mas?
    Disisi yang lain, saya sangat ingin keluar dari “zona aman” itu. Keinginanan itu berbisik terus, perlahan namun pasti, dari dalam sana, yang mengganggu dan cukup menggelisahkan saya terutama beberapa minggu terakhir ini (semenjak saya cukup rutin browsing internet), proses itu diwarnai dengan pertentangan dan konflik antara “kenyamanan” yang melenakan dan “ketidaknyamanan” yang menantang, hingga akhirnya saya sampai pada artikel Mas ini.
    Membaca artikel Mas Arif ini menguatkan keinginan saya tersebut untuk perlahan mencoba keluar dari “kenyamanan” menuju “ketidaknyamanan” yang saya terjemahkan : “kebebasan sesungguhnya”. Kebebasan berfikir, berencana, bersikap, berbuat sesuai keyakinan diri sendiri, dan pada akhirnya kebebasan finansial, ya nggak Mas?
    Tapi Mas, apakah kita harus menunggu segalanya benar-benar siap sebelum memulai?
    Apakah nggak sebaiknya sambil jalan aja? Takutnya nanti nggak siap-siap. (itu pendapat “anak kecil” lo Mas…)
    Oke Mas, skali lagi salam kenal dari saya.
    Maaf kalo coment-nya terlalu panjang…

    1. begini Pak Suyono. Sebenarnya inti dari artikel saya ini adalah, bagaimana kesiapan dalam diri kita (non teknis) untuk terjun di dunia bisnis. Misal, mungkin kita adalah orang yang takut bermain di sektor bisnis yang cukup beresiko (perdagangan saham / forex misalnya). Maka sebelum terjun kesana, tanyalah pada diri sendiri apa kita sudah siap untuk bergelut dengan semua resiko tersebut. Jangan-jangan nanti yang ada kita malah gila.

      Kalau persiapan internal udah oke, saya rasa teknis bisa menyusul. Seperti ketika pertama saya terjun di internet marketing. Saya yakinkan dulu ke diri bahwa saya udah siap “basah” di dunia tersebut. Ketika hati mantap, dengan keyakinan penuh saya melangkah. hal teknis pun saya pelajari pelan-pelan.

      Itu mas. Terima kasih kunjungannya, silahkan dinikmati sajian artikel yang lain!

      1. Oke Mas Arief, kalo gitu saya setuju banget…
        memang utama ya Mas kesiapan mental tersebut, karena pada dasarnya kita mau merubah nilai inti kita…
        sip mas…

          1. kan sudah saya ungkapkan di koment saya pertama kali Mas…
            Tapi rasanya masih cukup berat mas ninggalin “kenyamanan” itu…
            ada saran Mas?
            sukses kembali!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 470,560 bad guys.