Oleh : Arief Maulana

Thanx a lot to my friend, Sieg Freed yang sempat memberikan insight di forum dan membuat saya teringat sebuah postingan lama tentang bagaimana dunia ini bekerja seperti sebuah cermin. Kali ini saya ingin berbicara dalam konteks membangun hubungan sosial dengan orang lain yang juga ngga jauh-jauh dari dunia pengembangan diri, khususnya social skill.

Why? Karena saat ini pun saya sedang melakukan hal tersebut, saat harus bergabung dengan komunitas dan lingkungan baru di Kantor saya yang juga baru, sejak pindah kerja ke Jakarta. Saat harus beradaptasi dengan orang-orang baru yang karakternya beragam. Saat harus menyiasati office politics yang ternyata benar-benar ada (ngga ada office politics soalnya di tempat kerja yang lama).

Menjadi sosok yang populer, diterima dimana pun dengan hangat dan ramah, dikenal banyak orang dalam konteks positif (karena ada juga yang terkenal tapi dari sisi negatif), tentu menjadi idaman setiap orang. Entah kalau ada yang tidak ingin seperti ini dan lebih memilih forever alone tanpa ada kehidupan sosial yang menyenangkan. Betul tidak?

Kehidupan Sosial Yang Menyenangkan

Kadangkala, goal seperti ini yang pada akhirnya membuat kita kemudian mencari teknik-teknik praktis “How To Make People Like Me” atau “How To Be Likeable”. Gimana caranya supaya orang lain bisa suka dengan saya dan menjadikan saya sebagai orang yang berpengaruh bagi mereka, lebih bagus lagi bisa menjadi pemimpin mereka? Dan jujur saja ini menghabiskan energi. Capek. Hidup untuk mencari pengakuan demi pengakuan.

Apakah lantas ada yang salah dengan goal tersebut? Tidak ada yang salah dengan semua goal tersebut. Hanya mungkin kita perlu mencari jalan yang lebih menyenangkan untuk dilakukan. Jalan yang mungkin bisa membuat kita lebih bisa menikmati hidup, tanpa harus susah payah mencari pengakuan orang lain.

Ada sebuah quote bagus yang saya ingat kembali dan dulu sering banget saya jadikan pedoman saat menjalankan bisnis MLM, yang notabene sebagian besar kegiatannya mewajibkan kita berinteraksi dengan siapapun.

“People don’t care how much you know until they know how much you care” – John C. Maxwell

Anda bisa menangkap maksud dari quote tersebut? Lihat fokus obyeknya. Bukan diri kita, melainkan orang lain di lingkungan kita.

Kembali ke persoalan “how to be likeable person”. Yang pertama jelas, Anda harus suka dengan diri Anda sendiri. Hargai diri Anda dan sering-seringlah memberikan reward untuk diri sendiri. Itu yang sifatnya ke dalam atau perubahan internal di dalam diri Anda.

Yang kedua, poin eksternal atau sifatnya keluar adalah apakah ANDA SUDAH MENJADI SOSOK PRIBADI YANG MUDAH MENYUKAI ORANG LAIN? Ini pertanyaan mendasarnya. Ingat bahwasanya ada hukum sebab akibat, hukum timbal balik. Bagaimana Anda bisa mengharapkan orang lain menyukai Anda kalau Anda sendiri tidak bisa menyukai mereka. Bagaimana Anda mengharapkan respect dari orang lain kalau Anda tidak pernah respect kepada mereka.

ramah pada orang lain
ramah pada orang lain

Mengapa kita harus menghargai orang lain? Sekalipun level mereka, mungkin, berada di bawah kita. Lupakah kita bahwa pada dasarnya manusia adalah SAMA di mata Tuhan, kecuali yang membedakan adalah keimanan dan ketaqwaannya?

Jadi, kalau saat ini Anda masih berusaha keras membuat bagaimana orang lain suka kepada Anda kenapa tidak dibalik saja. Anda yang lebih dahulu belajar menyukai mereka dengan tulus. Bukan sekedar baik karena ada maksud. Ketulusan hati itu memancar keluar, Sob. Dan menggunakan cara ini rasanya jauh lebih menyenangkan. Karena sejelek apapun orang di mata kita, biasanya ada satu poin positif dari mereka. Tinggal kita cari dan fokus disana. Ingat, kehidupan adalah sekolah yang luar biasa dan siapapun orangnya bisa menjadi guru kita.

Jadilah pribadi yang ramah pada siapapun. Saya juga sedang belajar menjadi sosok seperti yang saya tuliskan di atas. Mari kita sama-sama belajar. Silahkan bila ada yang mau menambahkan atau mau mengoreksi apa yang sudah saya tulis.

How To Be Likeable
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us

70 thoughts on “How To Be Likeable

      1. @arief maulana, untuk dapat melakukan amal shaleh (apapun) cara terbaik adalah mengetahui keutamaannya. Untuk dapat bersabar tentu seseorang harus tahu keutamaan sabar. Tapi ketika keutamaan itu bukan materi, kebanyakan hamba tidak mau melakukannya sekalipun surga yang akan di dapat. Wallohu ‘alam.
        Toko Herbal recently posted..Madu Al ShifaMy Profile

  • Lama sekali rasanya gak berkunjung ke sini, dan sekarang baru bisa berkunjung. Setelah berkunjung ternyata membaca artikel yang membuat kita mengerti bagaimana caranya kita bisa membangun sebuah hubungan antar sesama dengan menjadi pribadi yang “Exellent”ramah terhadap sesama. Saya selalu mempunyai prinsip seperti ini mas, bila ingin orang lain melakukan sesuatu yang “baik” bagi diri kita,maka perbuatlah itu terlebih dahulu kepada orang lain. Sukses selalu Mas Arief. GBU

  • Bru pertama kali ikut nimbrung nih..salam kenal pak arif.
    Setuju pak,saya pikir setiap orang ingin di cinta semua orang,hanya sja dalam pengaplikasian nya msh sgat sulit,bgtu menurut saya dan yg sya alami..

    1. @Ahmad, halo pak Ahmad, salam kenal juga. Maka dari itulah, jangan fokus pada keinginan untuk dicintai. Fokus saja bagaimana mencintai orang lain dan senantiasa baik kepada siapapun. Nanti otomatis itu :D

  • Ada kalanya kita mau menyukai orang yang tidak kita sukai yang jabatannya di atas kita,tapi karena sikapnya masih tetap tidak kita sukai, ya… setidaknya kita harus menjadi orang yang berbesar hati dan senantiasa bersabar:sip:

  • Agar kita disukai orang, jadilah orang yang siap mendengar dari semua pihak.. itulah kenapa Tuhan memberi kita telinga 2 di kanan dan kiri, setelah mendengar dan melihat baru bisa bicara… itu sudah fitrahnya…Oke mas bagus artikelnya.

  • manusia itu diciptakan di dunia ini bersuku-suku untuk itu jika kita ingin saling mengenal maka kita diharuskan untuk saling bersilaturahmi namun sebelum ketahap tersebut kita diharuskan untuk tegur sapa dengan ramah sehingga terjalin silaturahmi .Dan tahukah anda bahwa silaturahmi adalah alat untuk membentuk jalur rejeki bagi setiap manusia.

    Ramah=>saling mengenal=>silaturahmi=>rejeki:hihi::jigong:

  • Jauh lebih enak ramah dari pada jutek… sebab kalo jutek rasanya malah menyiksa diri.. kalau jutek dibalas jutek itu biasa, tapi kalau jutek dibalas ramah baru luar biasa.

    1. @luki, belajar ngobrol asik. Gimana? Ya banyak-banyaklah ngobrol soal apapun dengan orang lain. Diem-dieman ngga akan bikin kita jago ngobrol. Awalnya memang kaku, tapi itu karena tidak biasa saja. Orang cenderung suka dengan mereka yang bisa ngobrol asik dan ngga ngebosenin.

    1. @Rohiman, kalau saya pribadi sih justru dengan popularitas tersebut, kita bisa berbuat kebaikan dalam skala yang lebih besar. Terutama untuk menggerakkan massa bergerak di jalan kebaikan :D

    1. @KAget, berarti kecintaan pada dirinya sendiri perlu dikalibrasi ulang. Disini mesti ingat tujuannya, yaitu untuk memberikan penghargaan diri atas prestasi sekecil apapun yang kita peroleh.

  • menyenangkan orang lain itu bagus, ramah, dan enak dalam berkumpul atau berbicara, tentunya bisa mmpengaruhi orang utk suka pada diri kita, bahkan bisa saja dirindukan jika kita sedang tidak bersama mereka

    semoga kita menjadi pribadi yg selalu lebih baik :sip:
    Ladida Cafe recently posted..Sejarah Batik di IndonesiaMy Profile

  • Sebelum menumbuhkan keinginan untuk disukai orang lain, kita harus bisa menerima keberadaan orang lain apa adanya.

    Yah, meskipun aura yang dipancarkan orang tersebut berhawa panas, kontrol diri tetap diperlukan supaya kita nyaman berteman dengan siapa saja.

  • mas arief:saya mw nanya gmana sih caranya supaya kita bsa brsikap ramah kepada orang??????
    soal nya banyak teman qu yang bilang kalo aqu tu sombong pdhal qu g mrsa sprti rang sombong?!!!

    1. @apriani, ramah itu mudah. Sering-sering saja memberi senyuman dan ngobrol dengan siapapun.

      Biasanya yg suka dibilang sombong, jarang bergaul dengan siapapun (pilih-pilih). Kemudian suka menceritakan kehebatan atau kelebihan diri.

      Coba cari buku “Bagaimana mencari kawan dan mempengaruhi orang lain” karangan Dale Carnegie. :)
      arief maulana recently posted..5 Kunci Sederhana Untuk BahagiaMy Profile

    1. @fitri, sudah menghargai diri sendiri belum? Dengan memberikan diri kualitas dan pelayanan terbaik.

      Orang yang sudah memperhatikan dirinya sendiri, biasanya akan sangat percaya diri.

      Meski ramah, PD-nya itu yg kemudian memancarkan aura yang membuat orang memperhatikan.

      Tinggal kemudian bagaimana kita bersikap.

      Orang baik dan orang bandel, sama-sama disegani. bedanya yang satu disegani karena keteladanan dan kebaikannya, sedang satunya lagi disegani karena orang takut.
      arief maulana recently posted..Bijak Pada Diri SendiriMy Profile

  • kak arief, gimana kalo orang lain ingin menyukai saya tapi saya tidak nyaman sama keadaan kaya gitu/berusaha menghindar?

  • Halo, Mas Arief.

    Saya punya cerita. Ini terjadi di sekitar saya, yaitu di lingkup keluarga saya sendiri. Saya memiliki 2 orang keponakan, sebut saja Si Kakak dan Si Adik. Mereka lahir dan dibesarkan di lingkungan yg sama dg jarak lahir (+/-) 2 tahun. Saya sendiri hidup serumah & mengamati perkembangan mereka mulai dari mereka bayi hingga SMP. Dari hasil kebersamaan yg sekian lama itulah, saya sangat mengenal karakter kedua adik-kakak tersebut yg entah mengapa sangat jauh berbeda.

    Si Kakak : Tenang. Rajin. Pandai. Penurut. Mengutamakan kepentingan orang lain drpd dirinya sendiri. Suka tersenyum. Suka mendonorkan darahnya. Sangat penyayang terhadap binatang. Sopan. Sedikit pendiam. Dan lain-lain. Simple-nya, Si Kakak ini BAIK dan hampir bisa dibilang NAIF bahkan kebaikan hatinya itu sering membuatnya dimanfaatkan orang lain.

    Si Adik : Periang. Pemalas. Pemarah. Sedikit kasar. Dulu dia sering menganiaya binatang peliharaan kami. Suka teriak2. Suka mengumpat. Agak mesum. Ceplas-ceplos jika bicara, meskipun itu menghina. Sejak dulu suka sekali merengek dan memaksakan keinginannya kepada orang lain tanpa bisa diganggu gugat. Dan lain-lain. Simple-nya, Si Adik ini berjiwa “BERANDAL” yang tidak jarang membuat saya jengkel.

    Tapi anehnya, Mas. Sejak dulu, popularitas Si Adik melesat jauh mengalahkan Si Kakak. Sejauh yang saya perhatikan selama ini, tanggapan orang2 di sekitar kami terhadap:

    Si Kakak, adalah seolah-olah mereka “ME-WAJAR-KAN” kebaikan hati Si Kakak. Namun akan menanggapi dengan TERLAMPAU TEGAS hingga tidak jarang terus diungkit2 ketika Si Kakak sedikit melakukan hal salah yg dianggap “tidak wajar”.

    Sementara itu, terhadap Si Adik, mereka akan memuji setiap kali dia berbuat sedikit lebih baik dari kebiasaan buruknya. Namun NYARIS SEMUA HAL BURUK yang dilakukan Si Adik selalu ditanggapi dengan tawa dan dianggap LUCU oleh orang-orang sekitarnya.

    Hal itu terjadi SEJAK DULU, sejak mereka balita bahkan hingga kini dewasa. Oleh siapapun baik kerabat, hingga orang yg baru mengenal mereka. Sepertinya, Si Adik memiliki “daya pikat” yg lebih POWERFULL daripada Si Kakak. Bahkan saya mulai mengambil kesimpulan bahwa, DAYA PIKAT itu tidak hanya perlu “dipelajari” tapi juga adalah BAKAT.

    Kita harus memiliki “BAKAT” itu jika kita ingin disukai banyak orang. Jika kita tidak memiliki bakat tersebut, sekeras apapun kita berusaha, bukannya sia-sia, tapi… well, Anda harus bekerja EKSTRA – LEBIH – KERAS hanya sekedar untuk mendapatkan “pengakuan” orang lain, yg tentu saja bisa sangat mudah didapatkan oleh orang-orang yg “berbakat” tanpa mereka harus bersusah payah. Mungkin 1:1000 nilai keberhasilannya.

    Salam.

    1. @Panpan, saya tidak pernah setuju kalau bakat mempengaruhi kesuksesan seseorang. Bahkan seseorang yang tidak memiliki bakat pun bisa sukses di bidang tertentu. Kenapa? Karena semua bisa dipelajari.

      Terkait kasus yang mas paparkan, saya kira tidak perlu menjadi berandal untuk jadi populer. Yang diperlukan adalah kemauan untuk mengubah diri secara total untuk menjadi menarik di mata orang lain. Punya karakter, sikap, dan penampilan yang meyakinkan.

      Mari kita analisis sifat2 si kakak :
      – Tenang, Rajin, Pandai : ini sudah bagus. Karena dalam menanggapi segala permasalahan tidak boleh mudah terbawa oleh emosi. Ketenangan mampu membuat kita untuk selalu berpikir jernih dalam mencari solusi. Kerajinan atau ketekunan, menurut saya ini modal sukses yang bagus. Apalagi didukung dengan kepandaian.

      – Penurut : ini yang menurut saya kurang. Kenapa? karena saya melihat si kakak jadi semacam tidak punya karakter yang kuat dan tegas. terlalu penurut dan ikut apa kata orang demi menyenangkan orang lain. Padahal kita harus memiliki sikap dan karakter yang kuat. Berani bilang tidak pada apa yang kita yakini salah. Bukan malah diam dan mengalah. Ga semua hal bisa dituruti.

      – Mengutamakan kepentingan orang lain drpd dirinya sendiri : pada dasarnya manusia adalah makhluk yang egois. Hanya saja seberapa besar kadar egois yang kita miliki. Sifat selalu ingin menyenangkan orang lain adalah tidak benar. Karena dengan demikian, kita akan selalu mengorbankan diri kita sendiri. Bukan berarti saya mengajarkan untuk tidak peduli. Bukan. Namun kita mesti bisa proporsional. Boleh membantu orang lain, tapi jangan sampai mengorbankan diri sendiri. Karena setiap orang berhak hidup bahagia.

      – Sedikit pendiam : dan akhirnya jadi pemalu, dan kurang bergaul. pantas lah kalau akhirnya jadi kurang populer dan tidak menarik di mata orang lain. Solusi terbaik, perbanyak wawasan, perluas pergaulan, dengan siapapun baik yang strata sosialnya tinggi ataupun yang rendah, yang baik, maupun yang sedikit nakal. Sehingga bisa menjadi supel. Sekali lagi, ini bisa dipelajari.

      Tidak perlu jadi berandal untuk bisa mendongkrak popularitas. kuncinya adalah menjadi pribadi yang menarik, supel, mudah bergaul, dan memberi inspirasi bagi sesamanya.

  • Bang arif,,saya mau mintak solusi,,saya ini hanya seorang anak angkat tapi kasih sayang saya begitu besar pada orang tua angkat saya,saya selalu mencoba jadi anak yang terbaik demi kedua orang tua angkat saya sperti contoh saya bekerja keras membantu semua pekerjaan mareka,,bahkan perhatian saya lebih dari pada anak kandung mereka,,akan tetapi dimata mereka saya selalu salah,,,so gimana caranya agar orang tua angkat saya bisa suka dan sayang kpada saya selayak beliau menyayangi anak mereka sendiri,,,terimakasih.

    1. @Dero Febrizan, agak susah mas, karena memang ada kecenderungan ortu akan lebih sayang pada anak kandung daripada anak angkat. Meski demikian, tidak usah terlalu diambil pusing. Mas sudah mencoba melakukan yang terbaik. Saran saya, coba dibicarakan baik2 dengan ortunya. Ungkapkan unek2 mas. memendam masalah tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah itu sendiri. Tapi komunikasi bisa.

      Maka dari itu, jalan terbaik adalah membicarakannya baik2 dengan ortu mas. Boleh jadi, mereka akan terbuka dan bisa mengubah sikapnya untuk jadi lebih adil pada anak2nya, tidak memandang apakah mas anak angkat / kandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 470,560 bad guys.