Oleh : Arief Maulana
Artikel ini seharusnya diposting 1 minggu yang lalu. Entah kenapa, urusan kerja praktek dan tugas akhir di kampus membuat saya sedikit lengah dan lupa. Untunglah setelah membaca beberap kisah Hermes For Charity ingatan itu kembali. Tanpa panjang kata, langsung saja saya ketik dan posting. Tentu saja ini masih erat hubungannya dengan beberapa bencana yang menimpa dan menguji kesabaran serta ketabahan bangsa kita akhir-akhir ini.
Rabu siang menjelang sore waktu itu (7 Oktober 2009), ringtone Traffic by DJ Tiesto tiba-tiba mengusik ketenangan kantor tempat saya praktek kerja. Yah, apa boleh buat saya lupa menyilent HP. Sebuah SMS masuk dari ayah saya. Saya liat sepintas, SMS itu adalah Forward Message yang isinya (singkatan saya panjangkan biar lebih jelas) : Read more »
Share on Facebook
Oleh : Arief Maulana
Alhamdulillah, saya bersyukur ternyata masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk bertemu kembali dengan Bulan Suci Ramadhan. Bulan dimana semua amalan dilipatgandakan pahalanya, bulan dimana segala kebaikan diturunkan, pokoke, bulan yang top abiz lah. Sementara sudah banyak rekan, sanak saudara kita yang tidak bisa bertemu Ramadhan tahun ini.
Bagi yang beragama Islam saya ucapkan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, semoga diberikan kesabaran dan kekuatan untuk selalu meningkatkan kualitas ibadah, khususnya di Bulan Ramadhan ini. Mohon maaf lahir batin”
Hari ini adalah hari pertama kita memulai ibadah puasa. Masih santai karena kebetulan pas dengan weekend yang notabene kebanyakan dari kita libur dan enjoy di rumah. Kalau udah mulai hari senin, mulai virus lemes + males mulai menyerang dan memberikan efek samping turunnya produktivitas kerja kita.
Yah, sudah bukan hal yang baru lagi ketika alasan puasa dijadikan alasan untuk agak “bermalas-malasan” yang berujung pada turunnya produktivitas. Padahal seharusnya bulan Ramadhan menjadi ajang untuk berbuat kebaikan, termasuk tetap produktif. Read more »
Share on Facebook
Oleh : Arief Maulana
Ngga kerasa, udah setahun berlalu. Kayanya baru kemarin ngerayain HUT RI yang ke -63, sekarang udah masuk-64. Ngga banyak yang berubah. Semua masih seperti yang dulu. Dan saya pun masih turut merenungi nasib bangsa ini.
Saya teringat sebuah ulasan menarik yang membahas masalah kemerdekaan bangsa kita 64 tahun yang lalu. Kemerdekaan kita sungguh benar-benar karena rahmat Allah. Coba saja Anda bayangkan, bagaimana bisa kita memenangkan perang kemerdekaan melawan penjajah yang notabene ngga berimbang banget. Senjata mesin vs bambu runcing. Ada senjata pun pas-pasan. Kalau bukan karena Allah sebagai penolong, mustahil kemenangan dan kemerdekaan itu bisa diraih.
Apalagi setelah saya membaca biografi salah satu pejuang kemerdekaan yang sangat saya kagumi, Jenderal Soedirman. Saya sudah membaca hingga yang ketiga kalinya. Entah kenapa tidak ada rasa bosan membacanya. Seakan-akan visualisasi perang kemerdekaan, khususnya perang gerilya tersebut, tergambar dengan jelas. Apalagi penulisnya benar-benar bisa membawa kita hingga hanyut dalam untaian kisah perjoeangan tersebut.
Maka sudah sepatutnya kita benar-benar mensyukuri kemerdekaan tersebut. Bersyukur kepada Allah hingga karena kita bisa hidup tidak lagi di zaman peperangan fisik seperti dulu, dan berterima kasih kepada para Pedjoeang yang telah mengorbankan segalanya demi kehidupan kita saat ini. Read more »
Share on Facebook
Oleh : Bunda Eva
Jika kita pergi ke toko buka, Anda akan dengan mudah menemukan buku-buku yang menjual kekayaan ”…yah bagaimana menjadi kaya…” Siapa sie manusia yang tidak mau menjadi kaya…? Buku-buku tentang internet pun ramai dengan buku mencari uang di internet, melalui situs pribadi maupun situs-situs pertemanan seperti facebook.
Mengapa buku-buku tentang menjadi kaya banyak bermunculan, tentunya karena permintaan akan buku-buku seperti ini cukup besar. Yah, sekali lagi siapa yang tidak mau menjadi kaya. Lalu, jika ternyata nantinya Anda menjadi kaya, apa yang akan Anda lakukan?
Sebagian besar akan menjawab konsumtif, mau keliling dunia, punya apartemen mewah, punya ranch, beli jet pribadi, dll. Kalau ditanya kembali, mengapa Anda memilih menggunakan uang untuk hal-hal tersebut, mungkin jawaban anda adalah mencari kebahagiaan. Benarkah? Apakah hanya dengan memiliki kekayaan baru kita bahagia? Read more »
Share on Facebook
Oleh : Arief Maulana
Posting kali ini lahir gara-gara ada satu pernyataan menggelitik yang dilontarkan oleh Cak Budhi K. Wardana pada sharing tentang review produk. Beliau bilang, “saya kadang berpikir apa bener mas Arief ini kuliah di Teknik? Anda seperti pakar marketing tulen?”. Saya jawab, “Lha wong saya juga bingung, hehehe…”
Flashback dikit. Saya ingat betul ketika ibu sering menceritakan seperti apa sikap saya waktu kecil. Yang pasti bakat teknik itu terlihat sejak kecil, manakala kerjaan saya adalah merusak setiap mainan yang diberikan ayah. Ngerusaknya bukan dibanting atau apa, melainkan dibongkar satu persatu, persis kaya tukang bengkel bongkar mesin. Bedanya, saya ngga bisa balikin lagi itu mainan yang udah dipreteli ke kondisi semula alias rusak. Biar ngga dimarahi, biasanya saya umpetin di lemari pakaian.
Bakat ini lama-lama makin kelihatan. Soalnya kalau udah urusan menggambar, entah kenapa yang sering saya gambar kalau ngga robot pasti mobil atau hal-hal berbau teknologi. Disamping itu saya hobi juga bongkar pasang tamiya. Apalagi dulu sering beli tamiya. Sampai-sampai waktu SMP saya udah bisa cari duit lewat tamiya. Ngapain? Buka jasa ngerancang tamiya yang optimize and kenceng larinya (padahal itu kan tergantung motornya). Disini ketika saya ditanya ntar mo jadi apa, sudah ada satu keinginan mantep yaitu jadi insinyur alias engineer alias orang teknik.
Waktu SMA ya sama milih kelas IPA untuk mendukung keinginan jadi engineer dengan masuk ITS. Disini pemetaan potensi mulai keliatan. Saya menemukan satu lagi hobi baru, yaitu desain. Ini gara-gara guru desain grafis saya memberikan materi DKV (desain komunikasi visual) dasar dengan Corel Draw + Photoshop. Makanya saya bisa dikit-dikit desain banner, e-cover, dll. Akhirnya setelah hunting info kesana kemari ada 4 pilihan yang mau saya masukin : STAN, Architect ITS, Teknik Sipil ITS, dan Program Desain DKV ITS. Read more »
Share on Facebook