Oleh : Arief Maulana

Berhenti Menyalahkan Keadaan
Berhenti Menyalahkan Keadaan

Ditemani secangkir cappuccino, saya menikmati sebuah sore yang tenang di Kota Batam ini. Well, tidak terasa sudah satu tahun saya tinggal di kota ini. Tidak banyak yang berubah, kecuali diri saya sendiri. Entah itu secara pekerjaan, maupun secara status. Yeap, setidaknya sekarang saya sudah tidak sendiri lagi di “negeri” orang. Sudah ada yang menemani.

Terus terang saat ini saya sedang berada pada masa-masa yang tidak menentu. Menunggu kepastian SK Pengangkatan maupun penempatan lokasi kerja selanjutnya, apakah tetap di Batam atau nantinya akan pindah ke suatu tempat yang entah berada dimana. Yang jelas, sejak pernyataan hitam di atas putih saya tanda tangani, bersama dengan itu lah saya menyetujui dan siap ditempatkan dimana saja nantinya sebagai bentuk loyalitas dan profesionalisme kepada perusahaan. Sungguh kehidupan yang dinamis.

Dalam kurun waktu setahun, satu pelajaran penting yang saya dapatkan, tentang hidup yang selalu dinamis dan berubah-ubah dan bagaimana kita menyikapinya. Keadaan sudah berbeda. Dulu saya masih sendiri. Tidak ada beban pikiran apapun. Pindah, ya tinggal pindah. Just pack my stuff and bring to the next destination. Tapi sekarang tidak bisa begitu. Ada tanggung jawab baru yang saya emban, yakni keluarga kecil saya.

Namanya juga hidup. Akan selalu berubah karena hidup begitu dinamis. Jangankan saya yang profesinya kelak harus berpindah-pindah, mereka yang menetap saja akan senantiasa mendapatkan perubahan keadaan. Entah lingkungan kerja yang mulai tidak enak, atau situasi apalah itu nantinya yang memaksa untuk berubah. Saat itu terjadi, hanya ada dua pilihan : mengeluh atau beradaptasi dengan cepat.

Saya sadar, terus mengeluh tidak akan mengubah keadaan. Yang ada justru memberi saya energi negatif. Padahal yang saya butuhkan justru energi positif untuk siap berubah dengan cepat dan menikmati keadaan yang  serba tidak menentu. Seperti sebuah pertanyan singkat dari beberapa orang yang saya kenal :

“Gimana, Mas? Sudah setahun di Batam. Betah?”

Jawaban saya selalu sama dan tidak akan berubah. Saya jawab… “BETAH”. Karena apapun kondisinya betah tidak betahnya kita di suatu tempat adalah bagaimana kita menyikapinya. Kalau memang awalnya membuat kita tidak betah, ya dibuat  bagaimana caranya agar kita bisa betah dan menikmati hidup ini.

Sudah menjadi semacam “Default Response” kalau saya boleh bilang. Ketika kita mendapatkan keadaan yang kurang menyenangkan maka respon yang kita berikan paling mudah adalah :

  1. Mengeluh dan mengeluh.
  2. Menyalahkan keadaan.

Dua respon ini adalah cara paling mudah dalam menyikapi sesuatu, terutama ketika keadaan mulai tidak  berpihak pada kita. Mengambinghitamkan sesuatu, tanpa melihat ke dalam diri kita. Lupa, bahwa kondisi kita saat ini adalah hasil dari keputusan kita di waktu yang lalu. Kita ikut ambil bagian.

Lantas kalau sudah terjadi? Ya seperti yang saya sebutkan di atas, tinggal bagaimana kita belajar menikmati ketidakenakan itu dan membuat semuanya jadi nyaman untuk dijalani, alih-alih terus menyalahkan keadaan. Ibaratnya, nasi sudah menjadi bubur. Ya sudah, tinggal bagaimana menjadikan bubur itu enak dimakan. :D

Seperti kata orang bijak, entah siapa yang melontarkan :

“Akan selalu ada dua hal dalam hidup ini, yang bisa kita kendalikan dan yang berada di luar kendali kita. Kenapa pusing dengan yang tidak bisa kita kendalikan?”

Petuah itu ada benarnya. Daripada berusaha bersusah payah mengendalikan semuanya yang (mungkin) sulit untuk berubah sesuai keinginan kita, mengapa tidak mencoba mengendalikan diri kita sendiri untuk beradaptasi dengan semua itu. Mencari win win solution. Mencoba menikmati semua ketidaknyamanan yang ada saat ini agar bisa dinikmati. Toh roda hidup, tidak selalu berada di bawah. Toh, ini semua juga bagian dari pendewasaan hidup, seperti nasehat babe pada saya. Dan inilah kehidupan. Suka tidak suka, harus kita jalani sampai nafas terakhir kita hembuskan apapun kondisinya. Senang, maupun susah.

Hmmm… sesapan yang terakhir dari Cappuccino saya, tanda akhir dari tulisan ini. Sedikit sharing apa yang ada di benak saya, dan baru sempat ditulis untuk berbagi pada Anda semua. Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan kita semua (termasuk saya pribadi) belajar untuk berhenti menyalahkan keadaan. Have nice day… :)

Berhenti Menyalahkan Keadaan !
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us
Tagged on:         

31 thoughts on “Berhenti Menyalahkan Keadaan !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 470,416 bad guys.