Berguru Pada Bakul Mie Ayam

Oleh : Bang Dje

Pada Mei 2000 saya merantau ke Jakarta. Semula saya tinggal di Condet. Hanya enam bulan di sana saya pindah ke Tanah Abang. Di sinilah saya mengenal seorang bakul mie ayam. Sebut saja namanya Arief.

Arief lulusan Madrasah Tsanawiyah di Kebumen, Jawa Tengah. Dia sudah menikah tetapi belum memiliki anak. Di Jakarta dia mengajar mengaji kepada anak-anak kecil di musholla dekat rumah. Kebetulan rumah kontrakan kami persis berhadap-hadapan.

Awalnya adalah Satu

Arief mencari nafkah dengan berjualan mie ayam. Dia memiliki satu gerobag. Pagi hari sebelum adzan shubuh berkumandang dia telah mengayuh sepedanya ke pasar untuk berbelanja berbagai kebutuhan. Saat bertemu di masjid untuk shalat shubuh biasanya dia telah selesai berbelanja. Setelah itu kerja keras dimulai.

Mengolah ayam, membuat kuah, membagi mie, menyiapkan kompor dan menata semuanya di gerobag. Tidak ketinggalan berbagai peralatan seperti mangkok, sumpit (ini temennya mie), sendok garpu, beberapa buah gelas dan beberapa botol air putih untuk pelanggan yang minta minum (gratis). Ada pula yang tidak boleh tertinggal yaitu kecap, saus, sambal dan acar. Sekitar jam delapan biasanya semua telah siap. Sesekali saya memesan untuk sarapan (ssst… tentu saja saya selalu dapat porsi lebih banyak).

Ternyata masakannya enak. Sehingga dengan cepat dia memperoleh langganan. Belum lagi beranjak dari rumah beberapa mangkok telah terjual. Dia biasa mangkal di Bilangan Slipi. Setelah membuka dasar nanti akan ada orang yang datang untuk menitipkan dagangannya seperti krupuk, gorengan, kacang dan makanan kecil lainnya. Hal ini membuat warungnya jadi kelihatan lebih ramai.

Saat shalat Ashar dia sudah hadir lagi di masjid yang berarti dia sudah pulang dari berjualan. Biasanya dagangannya sudah habis terjual. Tapi bukan berarti dia sudah bisa beristirahat. Setelah shalat ashar tugas lain sudah menanti. Bersih-bersih. Mangkok, sendok garpu, sumpit, gelas, botol air minum, dandang untuk kuah, semua harus dibereskan.

Gerobag juga harus dibersihkan. Bila perlu sekalian dicuci. Tidak perlu waktu terlalu lama. Sekitar satu jam semua sudah selesai dan dia bisa beristirahat. Ini saat santai buatnya.

Suatu hari saya melihat dua gerobag di depan rumah. Satu gerobag saya kenali milik Arief dan satu lagi gerobag baru yang belum dicat. Ternyata Arief mau membuka cabang. Dia akan membuka lahan untuk berjualan di dekat rumah dan akan ditunggui oleh istrinya.

Rencana Berubah

Tetapi belum lagi rencana ini berjalan seorang temannya, sebut saja Bari, datang. Dan rencanapun berubah.

Bari saat itu sedang menganggur. Dia ingin ikut berjualan Mie Ayam. Arief menawarkan kerja sama. Arief akan menyiapkan semua keperluan lengkap untuk berjualan. Bahkan Arief menawarkan tempatnya biasa mangkal di Bilangan Slipi. Tugas Bari hanya berjualan.

Tiap hari Bari harus setor Rp 50.000,- dan sisanya untuk Bari. (Saya dapat bocoran bahwa untuk belanja harian untuk satu gerobag hanya butuh kurang dari Rp 20.000,- sehingga Arief akan mendapat untung Rp 30.000,- per hari) Bari setuju dan akan mulai berjualan esok pagi.

Esok paginya saya melihat dua orang, Arief dan Bari, berangkat bersama. Arief akan menunjukkan pada Bari tempatnya berjualan sekaligus mengenalkan Bari kepada orang-orang di lingkungan sekitarnya dan pada orang-orang yang menitipkan dagangan.

Hari berikutnya saya membantu Arief mengecat gerobagnya yang baru. Dia bercerita akan mencari tempat mangkal lagi di Bilangan Tanah Abang. Dia juga akan membuat gerobag lagi karena rencana membuka lahan untuk istrinya di dekat rumah tetap akan diwujudkan.

Beberapa hari setelah itu, karena kesibukan masing-masing, kami tidak bertemu. Hingga suatu hari saya sedang jalan-jalan di Tanah Abang tiba-tiba ada yang memanggil. Saya menengok dan ternyata Arief. Rupanya dia telah mendapat tempat berjualan. Tampak beberapa orang sedang menikmati mie ayamnya.

Cerita Terulang

Minggu demi minggu berlalu dan Arief telah membuat gerobag lagi. Ini kelanjutan rencana membuka lahan berjualan untuk istrinya. Tapi cerita terulang lagi. Seorang temannya, sebut saja namanya Danang, datang dengan masalah yang sama dengan Bari. Ariefpun menawarkan pada Danang kerjasama seperti yang ditawarkan kepada Bari. Danang menerima dan ‘ditempat-tugaskan’ di Tanah Abang.

Akhirnya rencana untuk istrinya dapat terwujud. Suatu pagi saya melihat tiga gerobag mangkal di depan rumah kontrakan Arief. Terlihat kesibukan Arief dibantu istrinya menyiapkan segala perbekalan. Sekitar pukul setengah sembilan dua ‘pegawainya’ datang dan mendorong dua gerobag.

Lalu giliran Arief menyiapkan dasaran untuk istrinya.

Biasanya pukul sembilan dia sudah bersantai di rumah. Beristirahat atau melakukan aktifitas yang lain. Setelah shalat dhuhur dia menggantikan istrinya hingga saat shalat ashar tiba. Kadang dia mentraktirku makan siang. Tentu dengan menu mie ayam buatannya. (seperti biasa saya pesan menu spesial dengan bakso)

Dan Pelajarannya

Satu pelajaran yang saya petik dari persahabatan saya dengan Arief adalah dia tidak punya mimpi dan rencana yang muluk-muluk. Dia hanya punya satu rencana lalu mengerjakannya dengan sepenuh hati dan segenap tenaga. Lalu sisanya mengalir mengikutinya.

Tentu Arief telah pula mengalami getirnya menjadi pedagang Mie Ayam. Ban bocor saat mau berangkat dan kompor yang ngadat hanya sebagian di antaranya. Tapi Arief tetap maju terus mengatasi segala rintangan.

Pada 2002 saya memutuskan untuk mudik ke Semarang . Saat itu Arief telah memiliki 3 ‘cabang’. Iseng saya menghitung keuntungan Arief. Tiap satu gerobag dia mendapat untung Rp 30.000,- per hari. Tiga gerobag berarti Rp 90.000,- sehari. Maka selama satu bulan paling tidak dia mengantongi Rp 2,7 ┬ájuta. Saya katakan ‘paling tidak’ karena keuntungan dari gerobag yang di dekat rumah dia kantongi seluruhnya.

Seorang yang ‘hanya’ lulusan Madrasah Tsanawiyah berpenghasilan sebesar ini pada tahun 2002 saya pikir tidak terlalu buruk. Lagipula kalau ada lahan Arief masih bisa membuka ‘cabang’ lagi.

Selain itu Arief telah membuka jalan mencari nafkah bagi dua temannya. Dan yang lebih menyenangkan dia punya banyak waktu di rumah atau berkumpul dengan istrinya. Semua itu dicapai dalam waktu kurang dari dua tahun.

Sayangnya sejak saya mudik tahun 2002 hingga sekarang belum pernah kontak lagi dengannya. Beberapa kali ditugaskan ke Jakarta, tapi saya tidak sempat mampir. Semoga dagangannya tambah laris dan usahanya semakin lancar.

BRAVO MIE AYAM.

Ps. Artikel ini ditulis oleh Bang Dje berdasarkan pengalaman pribadi untuk Blog Motivasi, Bisnis, Manjemen Diri (AriefMaulana.com).
space


  1. arief maulana says:

    Luar biasa!

    Rangkaian kata yang mengisahkan pelajaran hidup ini bagus bagus Bang. Jadi saya tidak perlu melakukan editing untuk redaksionalnya.

    Inilah sekolah kehidupan. Kali ini saya belajar banyak dari seorang tukang bakul mie ayam. Saya belajar beberapa hal :

    1. Dalam mengerjakan segala sesuatunya harus dilandasi rasa senang dan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, tidak peduli bagaimana prosesnya.

    2. Arief sudah membuktikan kekuatan bertindak. Rencana tinggal rencana bila tidak ada tindakan untuk merealisasikannya.

    3. Sekali lagi, jangan melupakan faktor Allah dalam setiap usaha kita. Ini tercermin dari sikap dan perilaku Arief yang tetap tidak melupakan ibadahnya bila tiba waktunya shalat.

    Sekali lagi terima kasih atas tulisannya Bang Dje. Saya harap lain waktu berkenan kembali menulis disini.

  2. Benar – benar pengalaman yang hebat bos Bang Dji, bisa berteman dengan seorang yang jenius seperti arief.. Saya harus katakan jenius karena dengan satu tujuan yang dilakukan dengan serius dia bisa menyelamatkan hidup teman-temannya, orang yang hanya tamatan SMA bisa mendelegasikan usahanya agar terus berkembang dengan pesat..Hebat sekali..Saya yang lulusan pergururan tinggi masih belum bisa seperti itu, Thanks artikelnya mas arief, motivasi yang hebat, kalau boleh tak posting di blogku juga ya..

    • arief maulana says:

      @lucky, boleh aja repost. Tapi jangan lupa link ke artikel aslinya ini yah!

      Kasih link juga ke Bang Dje sebagai penulisnya.

  3. Sekolah kehidupan yang enak tuk dibaca ms. Walaupun yg tertulis disini adalah prilaku yg tampak dari si ms Arief hingga mempunyai 2 pegawainya tapi sy yakin cita2 ms Arief sangat besar hingga ia berusaha meraihnya. Terkadang sesuatu yg besar justru berawal dari yg kecil, sperti cerita dsini. Trims ms atas inspirasi simpel dan renyahnya :sip:

  4. Benar-benar perlu acungan jempol mas arif jiwa sosialnya tinggi mau menolong tmn yg kesulitan, dg cara itu rejekinya jg bertambah….Pelajaran jg nih buat kita utk saling bebagi. Tulisannya bagus….

  5. (Arief = artinya Bijaksana) Bersyukurlah pada Allah atas nama yang diberikan orang tua mu untukmu.

    Inspiratif banget mas terutama kat2 ini=> Dia hanya punya satu rencana lalu mengerjakannya dengan sepenuh hati dan segenap tenaga. Lalu sisanya mengalir mengikutinya. :hiks:

  6. mas, sebelumnya aku minta maaf ya udh lancang. Aku kan tadi minta ijin buat posting artikel ini di blog, tapi sampean belum kasi ijin udah tak posting, maaaaf banget, tapi beneran, artikel ini sangat memotivasi buat aku. jadi tujuan copas bukan untuk iseng tapi bener-bener sebagai pengingat supaya aku jadi lebih fokus kerjanya.
    Mohon maaf sekali lagi

  7. jika kita mau berusaha dan istiqomah,Allah akan memberikan jalan
    @Bang Dje, artikelnya :sip:
    @Mas Arief, dengan istiqomah di blog ini mas arief sudah membuktikannya

  8. Wah nama Arief kok banyak yang sukses ya, besok klo punya anak di kasih nama Arief juga ah :hihi:
    Asik juga nie ceritanya, walaupun cuma punya satu rencana, tapi klo fokus dan kerja keras, ternyata hasilnya bisa memuaskan juga :sip:

    • arief maulana says:

      @turisuna, hehehe… bagus. jadi ntar saya ngga susah-susah kalau bikin ‘RIEF FOUNDATION. Isinya arief-arief yang sukses… hahaha…

    • @turisuna, wah bagus tuh mas dikasi nama arief, jangan lupa siapin dari sekarang gerobak mie ayamnya, biar makin cocok..

      :puyeng: bercanda :hehe:

  9. Ada pelajaran penting dari seorang Arief. Bahwa kesederhanaan dalam berpikir ternyata mampu menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Dan Fokus pada tujuan, sepertinya menjadi penuntun kesuksesannya.

    Untuk AM, sepertinya boleh juga tuh buka cabang (domain baru), yaitu: SEKOLAHKEHIDUPAN.com
    Untuk menampung kisah nyata penuh inspirasi dan motivasi seperti ini.

    • arief maulana says:

      @Umar Puja Kesuma, disini aja mas. Biar ngga repot. hehehe…

      dalam dunia engineering pun sama Mas Umar. Kita dituntut untuk bisa menyederhanakan masalah dalam satu model.

      Dengan demikian masalah bisa diselesaikan dengan pemikiran yang sederhana.
      :sip:

  10. Seandainya 10 org yg baca artikel ini menerapkan pelajaran dr kisah arif di atas kemudian memotivasi 10 org lagi lalu menceritakan kesuksesannya ke 10 org lagi dst… kira2 apa yg akan terjadi yah…

    • arief maulana says:

      @Mirzan, viral of success. Akan banyak yang sukses mas. Cuma sayangnya yang open mind dan berani mencoba kan sedikit…

      Jadi tetep aja yang sukses minoritas.
      :hammer

    • arief maulana says:

      @Suarakelana, sudah mas. Makanya untuk AM.com saya terbuka bila memang mau menjadi co-writer disini.

      Harapan kedepannya bisa rame sehingga bisa berfokus di blog satunya AM.net
      :hihi:

    • @fadly muin, disinilah letak perjuangan dan pengorbanan. inilah rumus robert kiyosaki tentang “harga harus di bayar” terjawab.

      • arief maulana says:

        @fadly muin, apa yang kita investasikan ya itu yang kita terima. Semua itu butuhk kecerdasan financial.

        dan hebatnya si ‘arief’ udah membuktikannya tanpa dia sadari.
        :sip:

  11. online-business-story.com says:

    pengalaman nyata orang-orang sukses disekitar kita memang enak untuk dibahas dan dinikmati…

    Salam kenal sekali lagi bang dje

    Salam Kreatif,
    Octa Dwinanda

      • @arief maulana, itulah salah satu kelebihan kang arief maulana, anda banyak memberi motivasi orang. minimal saya senang mampir ke blog anda.
        tapi… kang arief jangan lupa “berguru kepala Allah” blognya cak abbu sangkan.:nyembah::nyembah::nyembah:

  12. Subhanallah….., ini merupakan cambuk bagi saya, mudah2an semua yang sedang saya usahakan hari ini HARUS bisa berarti buat orang2 yang saya cintai….terima kasih artikelnya mas Arief, anda memang insan yang luar biasa..!!

    • arief maulana says:

      @Ardiawan.com, cara berpikirnya konvensional. Kalau bahasa kerennya, kecerdasan financial rendah.

      Si ‘arief’ dalam cerita di atas sudah membuktikan tingkat kecerdasan financial yang oke tanpa dia sadari.

  13. Bila suatu pekerjaan dilakukan sepenuh hati maka semua itu terasa begitu menyenangkan dan tujuan tujuan pun akan tercapai dengan mudah. terlepas apapun profesi apakah seorang pedagang bakul mie ayam atau seorang blogger sekalipun.

  14. Sugiana Hadisuwarto says:

    Mulai dari yang kecil dan kelihatannya sepele tapi justru inilah modal awal untuk pembelajaran bagi bisnis yang lebih besar. Jangan anggap enteng usaha yang kelihatanya kecil dan sepele…padahal perputaran uangnya luar biasa.
    Salam sukses.

    • arief maulana says:

      @Sugiana Hadisuwarto, lebih baik kecil tapi menyebar dan menggurita daripada besar tapi punya cuma 1.

      Ini juga yang menjadi prinsip bisnis frenchise modal kecil.

  15. Fenny Ferawati says:

    Jadi pengen nangis,,,:matabelo:

    Salut dengan mas ARIEF:sip: Ini jadi mengingatkan rencana Fenny pula. Tapi sayangnya karena kurang percaya jadi tersendat.Mungkin ini mengingatkan Fenny untuk lebih membangun kepercayaan pada orang lain.

    Terima kasih Bang Dje,:koprol:

  16. lama ga kesini sekali kesini dari awal ampe akhir ini artikel tak babat abizz…

    mantaps bisa betah aku bacanya mas..

    komentar setelah baca nie :d

  17. Ada beberapa teman yang minta ijin ke saya untuk copy-paste artikel ini. Walaupun saya yang menulisnya tapi artikel ini sudah dimuat dan menjadi milik ariefmaulana[dot]com. Silakan minta ijin kepada yang empunya blog.
    :sip:

    • arief maulana says:

      @surya syahputra, ya. makin banyak bermanfaat bagi orang lain, Tuhan semakin percaya bahwa kita adalah orang yang tepat untuk jadi kaki tangannya dalam membagikan berkat.

  18. Muhammad Arifin says:

    :sip: lama ga mampir ada banyak artikel yang terlewat..

    tapi ini bagus banget mas, menginspirasi, dan tidak harus mencapai yang tinggi dulu untuk bisa sukses..

  19. wah benar-benar kisah yang bagus sekali, arief sangat menginspirasi saya yang selalu melupakan tujuan awal saya dalam menjalani bisnis ini, sering berubah dan selalu berharap banyak tanpa kerja keras..

    luar biasa

  20. Pelajaran hidup yang sangat berharga bang. Mengalir begitu saja namun bukan berarti tanpa tujuan. :thumbup:

    Walau sekecil apapun hasil yang telah dicapai tak luput kita bersyukur insya Allah, Allah akan menambahnya. :thumbup:

  21. Bisnis Hosting Buat Pemula says:

    Itulah hasil sebuah ketekunan dan fokus….
    Kita sering kali melihat keberhasilan orang lain, lalu ingin mengikuti lengkahnya, ketika belum berhasil dan melihat lagi teman yang berhasil, kita pun lalu ingin berpindah ke bidang yang baru itu. Akhirnya tak ada satupun usaha kita yang sukses, karena tidak tekun dan fokus pada satu bidang.

  22. Saya merasakan impresi yang sama dengan mas arief maulana tentang artikel ini, sangat menggugah dan membangkitkan motivasi.

    Seorang pemula hingga pebisnis kelas kakap pun memiliki banyak rencana. Tapi akhirnya harus disadari, keterbatasan waktu dan daya membuat harus 1 rencana saja yang menjadi prioritas.

    Prinsip saya : Mulailah dari yang mudah dan bertekunlah hingga yang tersulit

    Senang membaca artikel ini.

  23. Membaca dan menyimak cerita ini, memberi inspirasi bagi netter. Seperti mengasah pisau kita harus fokus agar pisau tersebut benar-benar tajam. Nice Posting..!

  24. websiteluarbiasa says:

    benar sekali mas, upaya yang dilakukan secara terus menerus dan fokus pasti akan membuahkan hasil…saya yakin dan percaya. salam luar biasa

  25. article ini mengingatkan saya atas kesalahan saya tempo dulue.

    emang di dunia ini yang kita butuhkan sebenarnya hanya sedikit, tidak perlu banyak-banyak, yang penting jalan, nantinya kalau memang bagus pasti nambah sendiri.

  26. Dari cerita tersebut saya menangkap 2 pesan moral,yang pertama kita bisa membantu orang lain yang belum mendapatkan pekerjaan dengan menyuruh mereka mengembangkan bisnis kita dan yang kedua investasikan modal kita untuk meraup laba yang lebih besar

  27. Pingback: Berguru Pada Bakul Mie Ayam - Belajar Ngeblog dotcom

Leave a Reply

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 471,748 bad guys.