Berguru Kepada Valentino Rossi

Oleh : Bang Dje


Valentino Rossi
Valentino Rossi

Casey Stoner melesat sendirian di depan. Di belakangnya Valentino Rossi, Dani Pedrosa dan Nicky Hayden saling berebut posisi. Sementara Andrea Davizioso tak lelah mencari peluang. Tiba-tiba Stoner tergelincir dan tidak dapat meneruskan lomba. Pedrosa mengalami masalah mesin dan posisinya melorot tanpa daya. Jadilah Rossi melenggang tanpa lawan hingga menyentuh garis finish.

Itulah secuil cerita dari seri pembuka moto GP 2010. Saat lampu-lampu Sirkuit Losail, Qatar, menjadi saksi akan keberuntungan yang sedang berpihak kepada Rossi. Masalahnya adalah keberuntungan itu begitu sering berpihak kepadanya. Bahkan mungkin terlalu sering sehingga membuat Max Biaggi patah arang dan memilih hengkang ke SBK.

Bukan Sekadar Bakat

Aprilia

Saya tak hendak bicara masalah bakat. Mengapa ?

Pertama : Bisa dikatakan semua pembalap yang berlaga memiliki bakat yang sangat besar. Stoner telah merasakan manisnya podium pertama sejak masih berusia 6 tahun. Pedrosa sering mengikuti balapan di kelas yang lebih tinggi daripada usianya. Pembalap lainpun memiliki kisah heroik yang serupa. Sehingga dari sisi bakat bisa dikatakan mereka semua setara.

Kedua : Banyak orang yang sepakat bahwa bakat hanya menyumbangkan sedikit prosentase dalam perjuangan  menggapai kesuksesan. Saat ini saya sedang ingin membahas prosentase yang lebih besar. Kerja keras sudah pasti. Lalu apa lagi ? Itu yang ingin kita cari.

Ketiga : Hingga saat menyusun artikel ini, saya belum tahu cara menduplikasi bakat. Kalau ada yang tahu caranya tolong ajari kami. Agar saya bisa menduplikasi bakat Yaro Starak atau Darren Rowse. (ada gak ya bakat internet marketing ?)

Tikungan demi Tikungan

Honda

Di satu seri, saat masih berlaga di kelas 125 cc, Rossi masuk finish di urutan ketiga. Sementara dua pesaingnya berdiri di atasnya. Saya sungguh selalu teringat pada momen ini. Rossi naik, atau melompat ke atas panggung seolah dialah sang juara. Keceriaan benar-benar memancar dari mukanya yang jenaka. Senyumnya selalu terkembang. Dia sangat menikmati suasana. Membuat saya benar-benar terpana.

Seolah dia tidak peduli pada point yang hilang atau posisinya pada susunan klasemen atau peluangnya dalam perebutan gelar. Seluruh bla-bla-bla itu seperti tidak bermakna di matanya. Tetapi anak inilah yang menggenggam sembilan titel juara dunia di lima kelas yang berbeda. Dia adalah contoh yang sangat sempurna.

Valentino Rossi sungguh menikmati proses bukan progres atau hasil akhir

Bila “menikmati proses”, sudah sering dibahas teorinya, maka the Doctor menunjukkan penerapannya secara alamiah yang menjadi contoh sempurna bagi kita. Dia selalu bergairah melakoni seri demi seri. Dia selalu antusias menyongsong musim baru. Dia selalu mendambakan pertarungan yang seru. Seperti yang pernah dikatakan Michael Doohan, sang maestro yang juga mentornya : “Saya menikmati melibas tikungan demi tikungan”. Dan hasil akhir hanyalah efek samping. Dan segala macam gelar bla-bla-bla seolah menjadi keniscayaan. Tidak perlu selebrasi berlebihan walaupun ini dunia hiburan.

Ini Bikin Iri

Yamaha

Bukan pada popularitasnya yang mendunia. Saya bahkan tidak ingin menjadi orang yang populer. Kalau suatu saat saya, entah bagaimana, menjadi orang terkenal, maka hampir pasti itu hanya kecelakaan. Bukan tujuan.

Bukan pada kekayaannya yang melimpah ruah. Saya sudah mendapatkan jatah saya sendiri. Dan … ah … sudahlah. Saya tidak suka membahas perkara ini. Tidak penting sama sekali dan tidak ada relevansi.

Bukan pada pekerjaannya yang sesuai minatnya. Alhamdulillah saat ini saya juga bekerja sesuai dengan background akademis dan minat saya sendiri. Arsitektur dan disain adalah dunia yang menggairahkan bagi saya.

Saya iri karena Valentinik senantiasa mendapatkan tantangan yang diperlukan. Satu per satu pembalap ditaklukkan. Satu demi satu rekor dibukukan. Saat sayap mengepak terlalu dominan, garpu tala menjadi pelabuhan. Dan tim papan tengah itu menjelma menjadi jagoan. Menjadi tim untuk dikalahkan.

Tidak mudah menjaga gairah agar tetap merekah. Saat berada di depan besar kemungkinan dihinggapi rasa bosan. Saat berada di atas mudah sekali dilingkupi rasa malas. Tapi Rossi tidak bosan berada di puncak. Tidak malas menjaga langkah tetap rancak. Selalu ada terget untuk ditaklukkan dan rekor untuk dipecahkan.

Tapi Rossi juga manusia. Ruang hampa itu akhirnya datang juga. Ya. Gairah itu sempat hilang selama dua tahun. Dan prestasinya langsung menurun. Saat tidak ada lagi lawan yang mengancam. Raut wajahnya menjadi muram. Para jagoan seperti menghilang sedang dia tidak mungkin sendirian melenggang. Hingga minatnya sempat bercabang. Rally atau F1.

Dua Pelajaran

Pada kesempatan ini saya ingin memetik dua pelajaran yang bisa diterapkan di Blogosphere. Pelajaran Pertama, menikmati proses. Doohan menikmati melibas tikungan demi tikungan, menyusul setiap lawan hingga finish terdepan. Seorang narablog semestinya juga menikmati setiap proses blogging. Menata tampilan, menulis artikel, blogwalking atau berkomentar mestinya dilakukan dengan kesungguhan hati.

Sudah selayaknya artikel ditulis dengan segenap kemampuan bukan sekadar kejar tayang. Berkomentar dengan baik dan benar bukan menyebar spam. Dan blogwalking bukan sekadar mengumpulkan backlink. Saat seorang narablog bisa menikmati kegiatannya besar peluang blog yang diasuhnya berumur panjang.

Pelajaran Kedua, selalu meletakkan target di depan. Target ini akan menarik garis titian. Jalan untuk menggapai tujuan. Lalu dibuat pula target antara. Biasa disebut pula dengan target jangka panjang dan target jangka pendek. Tanpa tujuan kita akan bergerak tanpa arah. Dan tanpa target antara tidak bisa ditentukan dimana posisi kita.

Setiap narablog memiliki target sendiri sesuai kemampuannya. Ada yang sekadar kira-kira, ada yang menuliskannya. Bahkan ada yang menayangkan target yang sudah ditetapkan untuk jangka waktu satu bulan ke depan. Ada pula yang menetapkan target dalam triwulan atau caturwulan. Target tersebut sebaiknya tidak terlalu jauh tapi juga jangan terlalu rendah. Ibarat pepatah satu langkah satu masalah.

Kini Rossifumi telah mendapatkan kembali gairah yang dia dambakan. Lawan yang sepadan. Pertarungan yang menegangkan. Dan tentu saja kenikmatan melibas tikungan demi tikungan.

Ps.Artikel ini ditulis oleh Bang Dje untuk Blog Motivasi, Bisnis, dan Manajemen Diri.

  1. arief maulana says:

    Artikel ini cukup panjang. Meski demikian, saya bisa begitu menikmatinya.

    Dan seperti biasa, saya pun ngga perlu repot ngedit bahasanya :D

    Terima kasih Bang Dje, sudah mau berbagi disini.

    • Maghfur Amin says:

      @arief maulana, Hahaha… ada-ada saja inspirasinya. Gk nyangka ternyata balap GP bisa berhubungan dengan blogging.
      Artikelnya memang panjang mas…seperti sirkuit balapnya..tp klo bisa menikmati setiap tikungannya (sub Bab) memang menarik koq artikel ini.

    • Maghfur Amin says:

      @arief maulana, Ohya mas… kapan2 boleh dong kita bertukar artikel. Tentunya yg bermanfaat bagi pembaca kita dan belum pernah dimuat di blog kita masing-masing. Bisa seputar Blogging, IM, Affiliate, Facebook Marketing, dls.

    • @arief maulana, Ya, semoga saya bisa menulis lagi. Secara tak sengaja dua artikel saya yang sudah ditayangkan diawali dengan kata “berguru”. Saya berkeinginan untuk meneruskan serial “berguru” ini dan mungkin suatu saat bisa dibukukan.
      Sementara itu dulu. Saya akan berburu untuk berguru kepada yang lain lagi.
      Semoga berguna.

  2. Artikel yg mantaff.. :sip:

    Bisa-bisanya dikaitkan ma blogging..

    B’arti agar trz “menjaga gairah”, harus medapat “lawan” yg sepadan.
    Tiap berhasil dalam satu bidang harus diganti calon “lawan”nya. Istilahnya naik level..

    Salut deh.. :nyembah:

    • @eQ, Pernah lihat ceritanya. Banyak orang meyakini Coca-cola tidak akan sebesar ini kalau tidak ada Pepsi. Walaupun Coke memulai start sekitar satu dekade lebih awal namun Pepsi mampu mengejar sehingga menghadirkan persaingan bisnis yang sangat ketat secara global. Efeknya, kedua perusahaan dituntut untuk terus melakukan inovasi agar tidak diungguli pesaingnya.

  3. Tidak menikmati proses,mungkin ini adalah salah satu penyebab bagi sebagian banyak orang tidak berhasil mencapai cita2nya.apalagi bagi bagi mereka yang berpikiran instan setiap proses bisa jadi merupakan hambatan dan bukan tantangan yang harus ditakhlukkan.

  4. Hampir sama dengan pelajaran dari film Facing the Giants ya. Nikmati saja permainannya, berikan yang terbaik untuk Tuhan sebagai penghormatan. Masalah hasil itu bagian Tuhan.

  5. jericho0407 says:

    Artikel yang cantik. Selesai baca saya langsung meluncur ke situs bang dje. Sebagai pemula yang amat pemula saat ini saya sedang menikmati proses belajar dari nol. Adrenalin yang tersekresi penuh saat belajar, cari info, penasaran, mencoba, tertantang, dan berkhayal sukses. Mungkin itu proses yang sekarang saya alami dan saya coba nikmati. Tapi saya yakin itu sudah tidak dialami lagi oleh bang dje, mas arief, mas lutfi, mas cosa, dll yang sudah jadi master :)

    • arief maulana says:

      @jericho0407, siapa bilang mas.

      Di posisi manapun, selalu ada proses dan proses. Hanya saja mungkin level yang dijalani sudah berbeda.

      Tentunya makin ke atas, prosesnya makin berat karena tantangan semakin besar dan hembusan angin makin kencang.

      Yang penting, enjoy aja… :hihi::hihi::hihi:

      • @arief maulana, betul, Mas. Namun saat kita menginjak level berikutnya berarti (atau seharusnya) kemampuan kita juga sudah meningkat. Bagi yang suka serba instan bisa jadi sudah berada di level dua tapi kemampuan masih level satu. Akibatnya malah puyeng sendiri, mentok dan bisa putus asa.
        :puyeng:

  6. bagi saya artikel ini telah membantu saya dalam memahami arti kesuksesan. bukan hasil yang penting, tapi perjuangan untuk memperoleh hasil itulah yang sebenarnya sangat bernilai. Thanks about your article:sip:

    • arief maulana says:

      @Hafiz, kesuksesan berasa indah itu karena ada proses yang dijalani di tengahnya mas.

      Sama dengan analogi bintang. Bintang untuk bersinar terang harus ada di malam hari yang gelap bukan?

  7. tadinya saya tidak melihat siapa penulisnya..

    disaat membaca, kok merasa gaya menulis AM kok berubah, baru ketahuan pas baca komentar pertamax mas Arief:ngakak:

    kemampuan menadopsi perjalanan karir seorang rossi dan dikontraskan dalam kehidupan nyata.. rasanya cukup nikmat untuk dinikmati bang dje

    • @fadly muin, hati-hati, Pak. Sekarang sedang musim sumbang-menyumbang artikel di blog teman. Makanya saat baca artikel harus dilihat penulisnya karena belum tentu dari pemilik blog. Saya sendiri sudah menyumbang artikel ke empat blog termasuk di sini dan menerima artikel untuk dimuat di blog saya. Asal themanya cocok.

  8. Agus Siswoyo says:

    Dan saya menikmati proses membaca tulisan ini, meskipun sampai keringat bercucuran.
    :hihi:

    Menikmati dan kecintaan pada aktivitas yang digeluti. Itu sudah menjadi cukup modal untuk bertahan di tengah persaingan.

    • arief maulana says:

      @Agus Siswoyo, betul mas. Mungkin itu salah satu alasan kenapa sebaiknya memulai bisnis lewat hobi.

      Kalau sudah hobi, tentu akan selalu menikmati setiap prosesnya…

  9. MasterClickCom says:

    ga nyangka sy baca semua -nya nih. Artikel-nya bagus , spt alur cerita yg melewati setiap tikungan-2 jg hingga mencapai klimaks sebuah cerita

  10. online-business-story.com says:

    ngerasa kok artikel mas Arief sedikit berbeda, eh ternyata tulisannya bang Dje toh…..

    Salam Kreatif,
    Octa Dwinanda

  11. sepertinya bang Dje emg penggemar berat balap motor… kira-kira, Rossi sadar nggak ya tentang semua proses yang ditulis di atas?:mikir:

    • @evan, seperti telah saya tulis dia melakukannya secara alamiah jadi kemungkinan dia tidak sepenuhnya menyadari apa yang telah dia lakukan hingga memukau perhatian saya.
      :matabelo:
      Mungkin inilah yang dinamakan dengan bakat alam …

  12. :sip:Bang Dje emank jempol deh….saya punya pelajaran baru dari ngeblog…..datang awal baca artikel secara utuh, dengan menikmatinya, kemudian datang lagi bbrp hari kmd, untuk menikmati semua komen…hihihi

      • @arief maulana, hehehe….lagi ga demen balapan pertama…pokoke kalao dpt info ada yg baru pasti mampir….kalau msh kosong komen juga biar aja….daripada udah komen pertamax di delete hehehehe,,,padahal saya bisa membaca dan paham cepat loh, cm mau komen panjang2 ga bisa kalau dari mobile:ngakak:

    • @bundapreneur, ini saya juga sedang belajar menulis artikel yang memaksa pembaca untuk menyimaknya secara utuh. Tapi kelihatannya masih banyak yang speed reading sampai tidak tahu kalau penulisnya bukan Mas Arief.

  13. Wah, sudah mulau mempoplerkan istilah narablog nih Mas Arief. Bagus deh. Saya dukung! :sip:

    Trims buat ulasannya yang inspiratif banget. Saya paling suka bagian kesimpulannya. Segala sesuatunya memang harus dinikmati dan dilakukan sepenuh hati.

Leave a Reply

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 471,998 bad guys.