Oleh : Arief Maulana ft Wisna Rihadiani

Wisna Rihadiani
Wisna

Menyandang gelar Sarjana Hukum dengan masa studi 3 tahun 5 bulan adalah memang mimpi saya yang menjadi kenyataan, hal tersebut bisa saya katakan sebagai anugerah sekaligus bencana.

Mengapa bencana? Yaap, karena istilah “bye bye Neverland and welcome to the jungle” selalu terngiang-ngiang di pikiran saya. Menyadari bahwa saya bukan gadis kecil lagi yang bisa bermain-main tanpa ada beban, melainkan seorang wanita yang mempunyai mimpi besar dengan masa depannya.

Bulan April 2009 saya wisuda dan bulan Juli mendapatkan pekerjaan, “akhirnya” pikir saya. Setelah menguras tenaga dan pikiran, mondar-mandir tes, saya diterima disebuah perusahaan property di Surabaya dengan posisi Staf legal (hukum) sesuai dengan background pendidikan saya.

Setiap hari Senin-Sabtu pukul 7 saya berangkat dari rumah di Sidoarjo menuju kantor, berkawan dengan asap, macet, dan bunyi klakson. Satu kata, melelahkan!!!

Akhir November HRD saya resign. Saya pun ditugaskan untuk menggantikan posisinya. Dengan kata lain, saya adalah staf legal yang juga merangkap sebagai HRD. Oke, saya jalani dengan ikhlas meskipun tak ada additional salary.

Menangani kasus-kasuh hukum berarti harus siap dengan segala kebobrokan dan kebusukan-kebusukan di dalamnya, baik dari instansi terkait maupun dari internal perusahaan. Semakin saya terjun dalam dunia ini, semakin bertentangan dengan hati nurani saya. Saya mulai merasa tak nyaman. Saya ingin resign. Tapi kalau saya resign sementara belum menemukan pekerjaan baru, lantas siapa yang akan memenuhi kebutuhan hidup saya?

Satu hari di awal bulan Desember, saya menginap di kost teman kuliah saya yang saat ini bekerja di sebuah bank swasta di Surabaya. Lama tak jumpa, kamipun banyak bercerita. Dia bercerita tentang ayahnya yang sekarang lagi getol trading saham online.

Wah, saya semakin antusias mendengarkan dan bertanya-tanya. Ketertarikan saya akan dunia saham sebenarnya sudah ada sejak saya mengambil mata kuliah hukum pasar modal. Saya sempat mengikuti seminar, simulasi perdagangan saham, sampai kompetisi simulasi perdagangan saham (Stock Exchange Games) yang diadakan Bursa Efek Indonesia.

Sesampainya di rumah, saya browsing dan mencari tau lebih dalam tentang trading saham online. Hmm, menarik untuk dicoba. Lantas, hal ini saya sampaikan ke orang tua yang pada dasarnya senang berinvestasi juga dan jawaban mereka “ok just go on”. Yay! Restu dari orang tua sukses saya kantongi. Sejak saat itu saya semakin getol mencari informasi tentang perusahaan sekuritas yang akan saya gunakan, termasuk mempelajari kembali buku-buku semasa kuliah.

Oke positif! Saya segera mengajukan resign dan pertengahan bulan desember lalu, saya  merealisasikannya. Saya paham betul apa yang akan dihadapi ketika saya melakukan trading saham. Bangkrut dan menjadi stress adalah kemungkinan terburuk.

Sedangkan kemungkinan terbaik? Saya bisa menyalurkan hobby saya, mendapatkan ilmu dan pengalaman baru, dan mendapatkan capital gain, bahkan jika saya beruntung istilah “stock for living” akan menempel pada jidat saya. Amin.

Surat referensi kerja telah saya terima dan dua kata, “Saya bebassss!!”. Ada rasa yang tak bisa dilukiskan dari peristiwa ini, tapi intinya seperti memulai lembaran baru kehidupan saya. Ada satu kepuasan yang luar biasa karena bisa mengalahkan ketakutan saya.

Pertempuran dimulai…

Sempat bingung mau beli saham apa. Berbekal dari forum yang saya baca dan ikuti, market flash dari sekuritas, juga mencermati running trade, saya akhirnya memiliki beberapa pilihan saham untuk dibeli.

Kebahagiaan luar biasa menghinggapi saya ketika harga saham yang saya beli naik dan semenit kemudian raut muka saya dapat berubah karena harga saham turun. Begitulah dunia saham, fluktuatif dan unpredictable sometimes. Namun segala resiko tersebut dapat diminimalisir dengan mempelajari beberapa analisa, antara lain analisa fundamental dan teknikal.

Saat ini saya aktif mengikuti seminar, talk show, dan pelatihan pasar modal sebagai bukti keseriusan saya. Saya meyakini bahwa segala sesuatu itu membutuhkan proses. Tidak mungkin langsung mematok capital gain yang teramat besar.

Saya harus menyesuaikan dengan kondisi saya. Segala sesuatu akan indah pada waktunya, dan saya sedang berjuang untuk sampai pada waktu yang dimaksud itu, dengan campur tangan Tuhan pula tentunya.

“Stay foolish, stay hungry” (Steve Jobs, Apple Inc. Founder) akan selalu saya pegang dalam meniti karir saya, karena dengan memegang prinsip itu, saya tidak akan mudah puas dengan ilmu yang saya dapatkan. Saya akan terus mengembangkannya sampai tujuan saya tercapai.

Semoga berkenan & bermanfaat

Salam hangat,

Wisna Rihadiani Puspita

Catatan Arief Maulana :

Cinta membuat kehidupan ini menjadi indah. Tak peduli apapun rasanya, kerasnya, begitu cinta hadir rasanya jadi adem. Seperti halnya ketika ada seorang laki-laki mencintai seorang wanita. Dunia rasanya hanya ada wajah dia dan dia, betul?

Lebih dari itu, karena cinta inilah laki-laki tadi rela melakukan apa saja demi membahagiakan si wanita. Kalau perlu pengorbanan apapun siap diberikan, asal si wanita senang. Bahkan kadang-kadang saking cintanya, pengorbanan yang tampak tidak masuk akal pun dilakukan.

Seperti halnya teman SMA saya, Wisna yang sudah mau berbagi secuil kisah perjalanan karirnya. Wisna yang sudah berani mengambil keputusan besar, keluar dari pekerjaan yang tidak dicintainya dan menemukan ‘cinta sejatinya’ di Perdagangan Saham.

Kini Wisna begitu menikmati pekerjaan barunya sebagai trader. Dia pun bebas memilih jam kerjanya, yakni kapan akan melakukan transaksi beli/jual saham. Yang jelas, Wisna bisa happy dalam bekerja. Bila kita menyambut Senin dengan malas, maka Wisna lah satu-satunya teman saya yang begitu bersemangat menyambut Senin. Bahkan katanya kalau perlu jangan ada weekend lah, hahaha…

Bagaimana dengan Anda, rekan? Sudahkah Anda mencintai dan menikmati pekerjaan Anda sekarang? Kalau belum, belajarlah mencintai pekerjaan Anda atau cari pekerjaan lain!

Yang jelas, bila kita melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati hasilnya tentu akan baik. Produktivitas pun secara tidak langsung akan terangkat karena saking semangatnya kita bekerja.

Oke, itu sharing dari saya dan teman saya, Wisna. Semoga bermanfaat.

Ps. Bagi Anda yang ingin mendownload versi lengkap dari kisah Wisna, bisa download di link ini (via 4shared.com).

Salam Sukses,
arief maulana
space

Belajarlah Mencintainya Atau Cari Yang Lain
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us
Tagged on:             

121 thoughts on “Belajarlah Mencintainya Atau Cari Yang Lain

  • teori tidak semudah prakteknya mas….banyak pekerjaan yg tidak cocok dengan apa yang kita harapkan, dan tidak semua orang bisa mengambil keputusan yang tepat….

      1. @arief maulana, Mas Arif…Saya pnya pengalaman bekerja dalam dunia Trading. Mgkn mas bisa sampaikan ke mbak Wisna. Berdasarkan pengalaman saya sepertinya akan lebih menguntungkan dan lebih aman kalau kita mengambil perdagangan Indeks daripada Saham. Krn slain fluktuasinya tinggi, di Indeks kita bisa melakukan 2 mekanisme transaksi utk mendapatkan keuntungan. Yakni mekanisme Jual-Beli (saat prediksi nilai Turun) dan Beli-Jual (saat prediksi nilai Naik). Berbeda dg Saham yg hanya memiliki 1 mekanisme transaksi untuk mendapatkan keuntungan (Beli-Jual saat harga naik).
        Selain itu Risk Management-nya jg lebih bagus…hehe, share aja.

        1. @Maghfur Amin, makasih untuk share pengalamannya.. :) sejauh ini saya masih mencoba fokus pada saham, nanti setelah saya sudah menguasai teknik analisanya, tidak menutup kemungkinan merambah ke Index ato Valas.. :)

  • Selamat u Wisna yang telah berhasil menembus tembok ketakutannya. Pengalamannya mirip dengan saya… Dan Saya bersyukur telah mengambil keputusan itu. Semoga sukses Wis…:lompat:

    1. Maul, makasih short storyku uda dimuat di blogmuu.. it means a lot :) senang jg bisa berbagi, bahkan mungkin memotivasi yg lain..
      Puji Tuhan saya menikmati pekerjaan saya saat ini dan sedang berusaha lebih giat untuk mewujudkan tujuan saya..
      kalau saya bisa mengalahkan ketakukan saya, saya yakin anda pun bisa!! sekali anda berhasil mengalahkan ketakutan yg membelenggu anda, maka anda akan lebih optimis mengalahkan ketakutan2 yg lain dalam hidup anda.. :)

  • bener mas Arief, kita memang harus mencintai pekerjaan “sementara” kita ini, karena pekerjaan kita yang sebenarnya adalah mencari rahmat Ilahi yang sesungguhnya di dunia ini sebagai khalifah, setuju?
    :sip:

    1. @belajar autocad, setuju mas. Pada prinsipnya bekerja kan juga masuk kategori ibadah.

      Nah, kalau sudah dalam konsep ibadah masa sih mau main2 and ga serius.
      :hihi:

  • I love my job as my life style. Cinta yang mampu membangkitkan potensi terpendam seseorang dan menjadi berarti bagi orang banyak.

    1. @Agus Siswoyo, “Remember! Say about Profesional Cost Analyst, that’s me!” < -- tambah ini di akhir komentar sepertinya bagus mas. :hihi::hihi::hihi:

    1. @anwar, yap. Seperti bintang yang bersinar di tengah langit gelap.

      Kudu ada gelapnya dikit, biar bintang bisa bersinar terang :hihi:

  • sepertinya hampir mirip dengan kisah hidup saya, cuma bedanya dia mendapat sokongan dari orang tua tercinta , berbeda ketika saya resign orang tua saya bingung, untunglah saya memiliki pendamping hidup yang selalu mengerti apa yang saya lakukan, dan selalu setia mendampingi lelaki kecil ini buat mengejar mimpi mimpinya. Thanks Allah, ternyata saya tidak sendirian. Buat yang nulis maupun yang punya blog semoga sukses ya dan menjadi inspirasi banyak orang.

    1. @dian, amin…
      Wah mas Dian, bikin short story dong. Kalau perlu di-PDF kan juga dan dibagi-bagi. Biar menginspirasi gitu :sip:

  • Hm… Kalau dalam sekolah kadang tidak mudah (bahkan sangat tidak mudah, karena lawannnya banyak) untuk meninggalkannya karena kurang mencintai. Berarti satu-satunya jalan untuk anak sekolah yang salah memilih jurusan adalah belajarlah mencintai jurusan itu.

    Dan untuk yang belum penjurusan, sebaiknya hati-hati dalam memilih. :)

    1. @Hangga Nuarta, betul Dek. Kalau udah kadung salah jurusan, fokus aja. Banyak kok kisah sukses yang diawali dari salah jurusan.
      :hihi:

  • Selamat bergabung di dunia kami (dunia kebebasan) buat mbak Wisna. Yg penting tetap produktif, gak masalah bekerja apa pun yang penting halal dan legal. Dan yang utama adalah pekerjaan yang benar-benar dicintai dan dinikmati.

    Sukses buat kita semua!

  • Ya, ya. Memang harus cinta pekerjaan dan memberi yang terbaik :-)

    Koreksi nih, kutipan dari Steve Jobs yang benar “Stay foolish, stay hungry”, bukan “stay fool”..he2

  • wah sering lemburan malam mbak elsa ya. sampai bikin storynya jam 1 malam. he he…
    ndak papalah saya juga sering lembur malem

    1. @Aryes Novianto, sepertinya mas salah pengertian nih.. yg suka ngelembur itu saya, bukan mbak elsa.. terima kasih :)

      1. weh weh wehhh.betul juga mas arief.nulisnya ngelantur nih. sory deh..kurang konsen. abis komentarnya tak baca semua dari atas. tapi ga pa2lah buat pelajaran kirim komentar.yang pasti ni…lanjut terusssss.sip lahh…thank banget revisinya

    1. @Suarakelana, kan guru kehidupan banyak mas. Kalau pengalaman kita dirasa kurang untuk dishare, kita bisa pake pengalaman orang lain
      :sip:

  • Klo mbak wisna mah hebat, cari alternatif pekerjaan sebelum keluar dari kerjaan lama :sip:
    Klo dulu th 2004 saya Oon banget, keluar kerja buru-buru alhasil jadi gelandangan setahun :hihi: Mau usaha gak punya duwit, ke warnet tiap hari juga gak kuat :puyeng:
    Akhirnya terpaksa lamar-lamar kerja lagi untuk cari modal biar bisa bisnis internet. :yoyo:

    1. @turisuna, kehebatan hanya milik Yang Di Atas.. saya hanya merasa, apa yg telah saya lakukan adalah jalan yang ditunjukkan-Nya.
      terima kasih.. :)

    2. @turisuna, berani boleh. Namun tanpa perhitungan yang matang, keberanian hanya akan menjadi sebuah kenekatan yg berpotensi gagal :hihi:

  • Salam kenal untuk Anda Mbak Wina. Semoga keberhasilan menyertai kita semua. Amiin. Lakukanlah apapun yang kita lakukan dengan senang hati. Tanpa kerutan dan kedukaan.

  • Apapun pilihannya (option a atau b) yang penting berani bertanggung jawab atas pilihannya^_^ makasi sharingnya ya mas arief dan mbak wisna:sip:

    1. @Alfred, bener. Karena hidup itu kan intinya membuat keputusan dan berani bertanggung jawab menjalani keputusan tersebut.

  • Saya sgt setuju dgn keputusan mbak wisna, kalo hati sdh gak nerima mendingan kita cari dimana tempat lain yg memberikan hati ketentraman. Sebab yg kita cari bukan semata2 materi namun ketentraman. Kisah ini pun sama spt yg sy rasakan saat ini, dan akhirnya sy resign dari perusahaan yg terkenal dgn lama pengabdian 5thn lebih. Disebabkan faktor ketentraman hati. Boleh tuh kalo perjalanan karir sy di muat juga di blog ini. Hihii…
    Salam ya mas Arief

  • ya itu sama seperti saya. saya tahu bobroknya sistem di tempat kerja saya dulu.sangat bertentangan dengan hati nurani,dan saya tidak dalam posisi pengambil keputusan.akhirnya saya memilih wiraswasta.dan ini pekerjaan yang saya cintai

  • Mengambil keputusan besar seperti itu memang tidak mudah, harus berpikir matang tentang apa yang akan dilakukan ke depan. Saya sendiri saat ini belum mampu mengambil keputusan sebesar itu

    1. @Cara Dapat Uang, dan akhirnya memutuskan apakah kita akan belajar mencintai pekerjaan tersebut atau beralih mencari cinta yang lain :hihi:

  • mencintai dan dicintai adalah salah satu hal yang membuat dunia ini indah, kalo tidak bisa mencintai maka belajarlah…karena segala sesuatu bisa dipelajari…

  • Kadang bukan sesuatu hal yang mudah untuk bisa mengambil keputusan yang benar. Tapi berani memulai sesuatu dengan penuh keyakinan adalah hal yang sungguh luar biasa. Karenanya kita akan membuktikan bahwa keputusan yang kita ambil adalah benar dan layak tuk diperjuangan.Maaf mas arif sambil lewat nih,:ngintip: lama ta sua pa kabar? Kenapa ya… emailnya msk Boxbe WL aja? :sliweran:

    1. @Agus Shadiqin, Alhamdulillah baik.

      Saya juga ga tau kenapa itu masuk boxbe. Malah saya diminta sign up biar email nyampe.

      Email saya udah disimpan dalam daftar kontak belum?

  • Dengan mencintai pekerjaan, perasaan kita jadi nyaman sehingga hasil yang akan diperoleh juga akan maksimal. Sukses untuk Wisna

  • kalau saya, saat ini masih dalam taraf menjalankan tugas kantor dengan tanggung jawab, belum sampai mencintai…. karena saya tahu ada yang lebih saya cintai diluar sana, yaitu dunia usaha….

    Salam Kreatif,
    Octa Dwinanda

  • :nyembah:
    kebanyakan orang di negeri kita menginginkan sesuatu yang pasti, gaji pasti tiap bulan, kerja pasti berangkat tiap hari dengan jadwal yang pasti, tak peduli dia nyaman atau tidak, sesuai hati nurani atau tidak.

    Banyak anak muda seperti kita yang masih enggan keluar dari hal seperti itu dikarenakan ketakutan akan kehilangan gaji pasti tiap bulan. Namun wisna telah mengingatkan saya bahwa kita adalah generasi muda masa kini, kita tidak hidup sebagai generasi muda dimana feodalisme masih berlaku.

    Tp kita tengah berdiri di suatu era pengetehuan dan teknilogi yang sedemikian pesat bahkn lebih pesat dari detik bergulir. wisna mampu mendobrak paradigma berfikir picik generasi muda masa kini yang hanaya berjiwa pegawai.

    Wisna mampu menunjunkkan bahwa dia bisa berlari sambil membawa obor kemenangan mengikuti arus waktu realita kehidupan yang tentu saja dengan melewati banayk angin kencang yang mengganggu nyala obornya. Walau saat ini dia belum mencapai puncak, namun dia tetap yakin obor itu akan trerus menyala bahkan semakin berkobar hingga di gaaris finis.

    Dan saya pun sangat salut terhadapa ortu wisna yang demikian terbuka pola pikirnya dan membiarkan wisna menemukan sendiri kesuksesannya. semoga saya pun bisa melakukan yang terbaik dalam hidup saya,.. menyadari bahwa kita adalah wanita dewasa seperti yg wisna kata, semoga saay mampu menciptakan masa depan saya dengan cara saya yg terbaik

    1. @lina budiarti, so the last question is… sudahkah kamu berada di titik dimana pekerjaan yang dilakukan terasa menyenangkan? :hihi:

        1. @ismail, ada dua pendapat sih. Soalnya trading ini kan seperti menunggu naik / turunnya yg mirip2 dengan judi.

          Lain lagi kalau investasi yg sifatnya didiamkan dan diputar sebagai modal usaha.

          1. @ismail, nah itu yg saya maksudkan beli saham untuk investasi. jadi kita ngejar pembagian deviden pertahunnya.

            Bukan capital gain dari hasil trading.

  • salah satu hal yang menyenangkan adalah ketika kita melakukan hal yang kita sukai dan kita itu dibayar… padahal jika kita tidak dibayar pun kita akan tetap melakukkannya karena itu membuat kita merasa senang..
    SALAM SUKSES!!!

  • Setuju, Mas! Kalau kita ga mencintai pekerjaan kita, apa ya pekerjaan mau mencintai kita dan memberi kepuasan kepada kita?
    Lho…boleh berkenalan, kan?

  • terlepas dari kontroversi ttg bermain saham itu judi apa tidak, saya rasa trading adalah salah satu investasi yang baik untuk dilakukan…

    yuk berburu bluechip ma IPO … salam trader!!

      1. @KangAsep, yang haram yg trading mas. Beli arep2 harga naik jual. Kalau harga turun rugi.

        Mirip judi kan?

        Lain kalau misalnya beli sebagai investasi. Incomenya didapat dari pembagian hasil usaha tahunan (dividen)

    1. @evan, ini mas yg suka bikin rancu. Banyak orang menyamakan trading sebagai investasi.

      Padahal investasi sendiri, keuntungannya disebut dividen (pembagian keuntungan usaha).

      Sementara trading capital gain. Didapat dari selisih harga jual dan beli.

      Yang tidak diperbolehkan dalam agama Islam yg capital gain, karena mirip judi.

      Well, semua balik lagi sama masing2 orang kok. Saya kebetulan berprinsip seperti itu.

      1. @arief maulana, ikutan nimbrung dong.. :p awalnya aku juga bertanya2 maen saham itu judi bukan sih?! setelah terjun, akhirnya aku tau.. kalau investasi (long term trading, 1 tahun ke atas) sudah jelas itu bukan judi.. untuk investasi bisa dapet berlipat2 gain, seperti capital gain, dividen, dll.. kalo trading (short term, harian-bulanan), emang rentan samaaa istilah judi.. tergantung dr pemainnya.. selama pemain mengandalkan teknikal analisis n fundamental, saya rasa itu bukan judi.. :)

  • belajar mencintai pekerjaan :sip:
    hal yang harus dilakkukan,,tp kalo ud berusaha tetapi tetap ga suka,,sebaiknya ganti pekerjaan y,,hehe

    1. @maya chan, betul. Buat apa membebani diri. Makanya sejak zaman sekolah, kalau bisa memilih jurusan sesuai minat. :hihi:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 470,429 bad guys.