Belajar Sedekah Dari Tukang Becak

Oleh : Arief Maulana

Bai Fang Li
Bai Fang Li

Rekan-rekan adalah wajar manakala kita kemudian rajin bersedekah di saat berada dalam kondisi yang berlebih. Namun sebaliknya, saat kondisi benar-benar pas-pasan masih adakah keinginan untuk bersedekah itu?

Kisah ini saya dapatkan dari milis fakultas. Entah dari mana orang yang mempublish mendapatkan sumbernya. Yang jelas kita bisa banyak belajar dari Bai Fang Li.


Bai Fang Li menjalani hidup dengan sederhana sebagai tukang becak. Ia tinggal di gubuk kecil dan sederhana di daerah Tianjin, China.

Namun demikian semangatnya dalam bekerja selalu tinggi. Dengan tidak mengenal lelah Bai Fang Li pergi pagi pulang malam, mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya.

Saat menarik becak Bai Fang Li hampir tak pernah membeli makanan. Makanan ia dapatkan dengan cara memulung. Begitupula dengan pakaiannya.

Apakah hasil mengayuh becak tidak cukup untuk membeli makanan dan pakaian?

Jangan salah. Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup sedikit lebih layak.

Namun Bai Fang Li lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.

TERSENTUH

Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun.

Saat itu ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari para ibu yang tertolong jasanya.

Yang membuat Bai Fang Li heran adalah si anak memungut makanan di tempat sampah untuk makannya. Padahal ia bisa membeli makanan layak untuk mengisi perutnya.

Ketika Bai Fang Li bertanya, anak itu menjawab bahwa ia tak mau mengganggu uang hasil jerih payahnya itu untuk membeli makan.

Ia akan menggunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk tempat mereka tinggal. Anak kecil itu hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah di mana.

Bai Fang Li tersentuh manakala ia mengantar anak itu ke tempat tinggalnya. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh.

Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.

TAK MENUNTUT APAPUN

Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya.

Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk.

Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000. Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.

Nah rekan-rekan, bagaimana menurut Anda. Masih kah kita beralasan untuk enggan bersedekah?

Apalagi saya kira kita seringkali mendengar ungkapan-ungkapan seperti ini :

  • Makin banyak memberi makin banyak menerima.
  • Di sebagian rezeki yang kita terima, ada sebagian hak orang lain disana. Dll.

Kalau Anda berpikir sedekah harus dalam nominal yang besar, rasanya kurang tepat menurut saya. Saya memang bukan TUHAN, tapi mungkin saja yang DIA nilai bukan nominalnya, melainkan nilai usaha untuk bersedekah.

Katakanlah 5000. Buat sebagian dari kita, mungkin 5000 itu mudah. Tapi buat mereka yang hidup kekurangan, 5000 bisa sangat berarti. Dan bila sama-sama menyumbang nominal tersebut, masa mau disamakan?

Intinya, apapun kondisi Anda sekarang cobalah untuk bersedekah. Semampunya, seikhlasnya. Dan jangan coba-coba untuk menipu TUHAN. Mampu, pura-pura tidak mampu. DIA Maha Tahu atas segalanya.

Semoga kisah di atas bisa menginspirasi kita semua, saya khususnya, untuk lebih meringankan tangan membantu saudara-saudara kita lewat jalur sedekah.

Kalau ada yang tau sumber posting kisah ini, bisa share di form komentar. Nanti saya publish disini sumbernya. Thanx.

Salam Sukses,
arief maulana
space

  1. Lukman Nulhakiem says:

    Sungguh ini teladan yang sangat baik. Malu rasanya. Terima gaji kurang dari biasanya saja sering mengeluh, boro2 memikirkan kesulitan orang lain.

    Pelajaran yang bisa kita ambil bukan saja selalu memposisikan diri untuk membantu orang lain, akan tetapi bagaimana berlaku ikhlas dengan benar. Berbuat baik dan lupakan..

  2. gak kuliah gak kiamat says:

    temen saya di madiun pernah cerita ada tukang becak yang dia bersedekah setiap hari jumat.. tapi karena dia seorang yang tidak banyak uang… maka sedekahnya berupa menggratiskan ongkos becak bagi siapa saja yang naik pada hari jumat… bahkan dia menolak kalau ada orang yang membayarnya…

    ya kadang kita HARUS belajar kepada orang2 sderhana seperti itu , meski kita mempunyai peluang yag seharusnya lebih besar untuk berbuat baik..

  3. Lho kok sama … tapi di link ada gambarnya … duluan mana?
    Bai Fang Li, Tukang Becak Penyumbang Ratusan Juta untuk Yatim Piatu

    • @Sm_E, kan sudah sy tuliskan di atas, saya dapat cerita ini dari milis. Hanya saja publishernya tidak menuliskan linknya darimana.

      Sehingga mungkin saja ceritanya sama. Dan di akhir posting jg saya tanyakan kepada rekan-rekan pembaca, barangkali ada yg tahu siapa yg mempublish cerita ini pertama kali.

  4. Zainur Rochim says:

    satu kalimat yang bisa diucapkan…orang kaya yang bersedekah itu biasa, tapi orang miskin yang bersedekah baru luar biasa…

    mantap mas, inspiratif sekali, mirip seperti kisah salah satu khalifah yang rela miskin karena menyumbangkan seluruh hartanya untuk kesejahteraan rakyatnya, sampai beliau sendiri menjadi orang wajib diberi zakat, karena miskin,tapi dia sedekahkan kmbali

    adakah pemimpin yang seperti itu sekarang?:bingung

    yang ada, pemimpin yang ikhlas menjadi kaya demi kemiskinan rakyatnya…

      • @arief maulana, artikel yg bagus jgn di selingi komentar yg berbau ghibah. Walau tdk menyebut nama yg merasa pemimpin akan tersinggung lo mas. Bos anda skrg jg pemimpin bg anda, klo dia baca kena jg dgn komentar anda. Salam.

        • @Jaka Swara, dicermati sedikit dong. Saya menjawab ga ada karena memang hampir tidak ada kan pemimpin yang “rela miskin karena menyumbangkan SELURUH hartanya untuk kesejahteraan rakyatnya” spt yg diutarakan oleh mas Zainur.

          Adapun statement saya bahwa pemimpin sekarang banyak dzolimnya tentu bukan bermaksud menggeneralisasikan semua. Makanya saya tidak mengatakan semua pemimpin.

          Saya malah bersyukur klo atasan saya baca. Kalau memang tersinggung justru itu jadi wadah baginya untuk introspeksi diri. Walau faktanya saya cukup nyaman dengan atasan saya yg sering memikirkan kesejahteraan karyawannya.

          Jangan-jangan Anda yg tersinggung yah? Peace.

          • @arief maulana, Pernah dengar mas ungkapan kalimat: “Berkatalah dgn benar, tapi jgn semua yg benar kamu katakan”. Mgkn yg anda katakan benar, atau bahkan telah menjadi rahasia umum. Sy tdk punya tendensi apa”, apalagi tsinggung. Hanya tergerak saja hati ini meluruskan kalimat anda. Coba bandingkan kalimat ini ya mas. “Pemimpin2 skrg byk dholimnya” dgn “Pemimpin2 skrg byk yg dholim” mana yg lbh mengarah pada pengertian SEMUA. Klo kalimat yg terakhir yg anda pakai, mgkn pengertian sy sm dgn yg anda maksud. Please.. jgn buruk sangka dgn comment saya. Biar tetap terlihat kearifan seorang Arief Maulana di mata saya,yg selama ini paling rajin saya baca artikelnya. Salam.

  5. ini yang kelima kalinya saya membaca kisah “Bai Fang Li” dalam seminggu ini,entah kenapa saya merasa Tuhan sedang Mengingatkan saya (belum sampai di tegur) dengan cara saya selalu saja menemukan kisah2 seperti ini… yang pasti kisah yg sangat inspiratif dan menggugah,

    (btw mas Arief M sedang di Serang, Banten ya? kebetulan saya di jakarta, kl ke Jakarta Mampir ya,,,… hehehehe)

  6. Cecep Saprudin says:

    semoga kita bisa meniru apa yang dilakukan Bai Fang Li. Bersedekah atau membantu dengan keikhlasan. Baik dalam kondisi mampu maupun tidak mampu.

  7. Pingback: Belajar Sedekah Dari Tukang Becak | ARIEF MAULANA.com - Bisnis pulsa gratis - Bypulsa.tk menyediakan layanan bisnis pulsa elektrik dengan pendaftaran gratis yang memungkinkan anda mendapat income ratusan juta
  8. rumus pasti(alam): memberi=menerim. ketika ngasih, kelimpahan terpikir dlm otak nyampe ke alam semesta balik lg mantul ke energi dahsyat manusia. ihi..Gak ya tuh the secret?? Tp asalkan jangan menganut seperti ilmu lilin, hihi.. Orang lain di terangi kite sendiri yg kegelapan waduhh brabee tuh, abis raga ini di makan cacing ntar :(

  9. Salam kenal semua… khususnya untuk yang punya rumah Mas Arief MAulana… Mudah2an semakin banyak yang baca kisah ini…, maka akan semakin banyak pula yang sadar & terinspirasi bila “BERSEDEKAH” itu bagian dari Iman. Saya juga mengikuti kajian Ustadz Yusuf MAnsur di facebook. Terima kasih postingannya Mas, mantafs…Wass

  10. Memang beberapa hari saya tak bisa akses cerita si Tukang becak yg Dermawan pasti heran kita skarang mana ada lagi manusia seperti dia Yang Kaya pun banyak yang pelit kog Jadi malu kita baca kisah yg bagus ini

  11. thats a good inspiration mas..
    malu rasanya sebagai orang yang masih muda, mampu bekerja tapi enggan sedekah hanya karena takut hidupnya akan terlunta karena kekurangan uang, padahal Allah tidak pernah menyia-nyiakan sedikitpun sedekah yang kita berikan pada orang lain, dan pasti diganti dengan berlipat ganda..

  12. menurut saya tukang becak tersebut terlalu berlebihan sehingga dia tidak bisa membeli nasi sendiri….
    ini namanya menyiksa diri

  13. Jika kita sedang lapang bershadaqah itu mah biasa. Tapi jika kita sedang susah bershadaqah ini yang luar biasa. Semoga kita bisa merutinkan shadaqah baik ketika lapang maupun susah. Dan jagalah keikhlasan. Semoga Allah mudahkan.
    rohiman recently posted..Istriku, Aku MencintaimuMy Profile

Leave a Reply

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 471,681 bad guys.