Belajar Lebih Menghargai Orang Lain

Oleh : Arief Maulana

Ada satu fenomena menarik yang saya tangkap sejak bekerja di Serang, Banten. Khususnya di shipyard (galangan kapal) dimana saya ditugaskan untuk mengawasi pembangunan kapal riset. Shipyard yang tidak terlalu besar dan memang mereka spesialis dalam membangun kapal kecil.

Pengamatan saya tujukan pada bagian security alias satpam yang bertugas di pos masuk. Sebelum memasuki kawasan shipyard, ada pos security dan portal melintang. Setiap tamu yang akan masuk wajib lapor, barulah kemudian diperbolehkan untuk masuk.

Di awal saya kerja disana, orang-orang security ini nampak ogah-ogahan menjalankan tugasnya. Meski begitu mereka tetap mengikuti prosedur yang berlaku karena memang tugas mereka menjaga keamanan. Cuma yaitu, ekspresinya itu loh semacam ngga ikhlas dan kurang bersemangat.

Beberapa minggu kemudian, team security dibelikan seragam baru, dimana sebelumnya mereka hanya menggunakan pakaian bebas (kemeja + celana jeans, kadang malah kaos). Dengan seragam tersebut mereka nampak gagah, ngga kalah dengan Provost TNI. Dan apa yang terjadi? Saya melihat ada perubahan sikap dalam bekerja.

Sekarang mereka lebih bersemangat. “Sergep” kalau saya bilang. Pun para tamu dari luar yang datang juga jadi lebih respect dan menghargai kedudukan mereka sebagai “benteng terdepan” yang rela berkorban demi shipyardnya (halah, melebay). Dan sebaliknya manakala kita menghargai mereka tak jarang sikap menghormat layaknya pasukan kepada Jenderal kita terima. Sungguh menyenangkan. Mengingatkan saya pada pelayanan Satpam Indosat.

Cycle Of Respect
Cycle Of Respect

Dari semuanya itu kita bisa belajar bahwasanya pada dasarnya siapapun orangnya, dengan level kedudukan mulai dari yang tertinggi hingga sampai pada level terendah, butuh untuk dihargai. Manusia butuh penghargaan, itu tidak bisa dipungkiri.

Beberapa dari kita mungkin mengejar segala sesuatu yang bisa menaikkan status sosial. Misal, ada yang rela sampai ngutang untuk membeli gadget mahal, mobil, atau apalah. Tujuan akhirnya agar bisa dihargai dan diterima oleh lingkungan sosialnya. Ya, kita butuh penghargaan karena kita semua memiliki nilai.

Sayangnya, kehidupan ini bagaikan sebuah cermin. Seringkali kita ingin untuk dihargai tapi enggan untuk menghargai orang terlebih dahulu. Bahkan kadang saking inginnya kita menggunakan power yang tidak semua orang miliki. Misalnya : jabatan. Bisa sih, hanya seberapa tulus orang menghargai Anda. Kalau sudah tidak menjabat? Anda dibuang!

Lain dengan pemimpin yang biasa menghargai timnya. Mereka akan mendapatkan penghargaan balik + loyalitas yang luar biasa dari tim yang dipimpinnya. Bahkan pemimpin model ini bakal dielu-elukan, kalau perlu dipertahankan oleh timnya.

Mari rekan-rekan, kita mencoba belajar menghargai orang lain. Jangan melihat status sosialnya atau apa pekerjaannya. Mereka semua manusia, sama seperti kita. Dan lagipula di mata Tuhan, bukan harta, materi atau status sosial yang membedakan antar manusia tapi ketakwaannya terhadap Tuhan. Boleh jadi mereka yang tidak kita hargai karena levelnya di bawah kita jauh lebih mulia di mata Tuhan.

Mulailah dari sekarang. Setidak-tidaknya dimulai dari memberikan senyuman yang tulus kepada mereka yang biasa Anda remehkan. Tunjukkan penghargaan Anda! Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mampir di blog saya, maaf kalau belum sempat berkunjung  balik. Semoga ada manfaatnya.

Salam Sukses,
arief maulana
space

  1. Kalau bekerja dengan ogah-ogahan berarti tidak menghargai pekerjaan sendiri, kali ya. Tapi memang ada berbagai faktor yang bisa membuat semangat naik turun. Saya juga sering merasakan. kalau semangat lagi menggebu bekerja rasanya ringan sekali dan pekerjaan cepat sekali selesai. Kalau lagi letoy, bekerja rasanya berat dan hasilnya juga seringkali tidak maksimal.

  2. Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesia says:

    Benar kehidupan itu bagaikan sebuah cermin. Dan takkan pernah sia-sia kebaikan yang telah dilakukan. Suatu saat, kan membias pada diri.
    Makasih.

  3. catatan penting says:

    iklas dalam berbuat kebaikan akan membuat kita puas,, sehingga tidak sangat berharap untuk dibalas,, karena balasan yang lebih besar yang diharapkan, yaitu dari NYA yang memiliki segalanya… :sip::sip:

  4. Kalau orang jawa bilang “Nguwongke” alias “meng-orang-kan”.

    Saya punya tips tersendiri soal satpam. Setiap ketemu satpam kantor maupun perumahan saya berusaha mungkin menyapa dan menunjukkan sikap hormat.

    Nah, pas kesitu lagi, wajahnya udah beda dari pertama kali ketemu.. hehehe :sip:

  5. ALHIJR ADWITIYA says:

    hem…..Justru dengan Memberi penghargaan kita akan DiSayang ALALH,inget Sebuah hadits. Sayangilah Yang Ada di Bumi, Maka …

  6. Betul mas terkadang kita hanya mementingkan ego kita, harta dan jabatan kita hanya untuk dihargai. Padahal kalau kita mau menghargai, minimal diri kita sendiri Insa Alloh kita pun akan jauh lebih dihargai

  7. Repot juga ya mas. Kenyataannya respek dan penghargaan terhadap orang lain sering didominasi pada faktor jabatan dan uang. Apakah harus ada pembeda yang tegas yang harus ditarik sebagai benang merah antara menghargai karena jabatan dengan menghargai karena humanisme?

  8. Nongkrong Online says:

    Akhrnya bs bknjung jg..mklum modem ge ngmbek..:nangis:
    yg pntg dlm jalani hdp hrus ikhlas..tnp bhrp imbalan dr mnusia,bhrp hnya pd Sang Pencipta…klo slalu bhrp dpt pa2 dr manusia,ea klo sesuai sm yg dhrpkan..klo g sesuai,bs kcw 1/2 matang…:hehe: (pglmn prbadi ni yee:sliweran:)

  9. Zainur Rochim says:

    betul, dengan menghargai orang lain tanpa melihat embel-embelnya, kita tentunya juga akan menjadi manusia yang berharga tanpa harus memiliki embel-embel terlebih dahulu..

  10. :sip:

    tpi bagaimna caranya kita sebagai pemimpin menghargai oranglain dengan reward atau apa
    namun dengan sifat yang terlalu cuek denngn segalannya jadi belum bisa memberi penghargaan ?

    • @rusliandi, itulah mengapa saya menggunakan gambar “Recycle of Respect” untuk artikel ini. Pertama Bapak bisa coba pahami dan resapi bagaimana ‘respect’ ini bekerja.

      Memberikan penghargaan bisa macam-macam. Mulai rewards khusus, perlakuan kepada bawahan yg lebih manusiawi, penghargaan dalam bentuk pujian dihadapan orang banyak, dll.

      Silahkan digali lebih dalam di buku-buku leadership karangan John C. Maxwell. Dan ada 1 lagi, “25 Ways Winning With People” karangan dia juga.

  11. :2thumbup benar sekali mas kehidupan itu sebuah cermin untuk kita sendiri, karena dengan melihat cermin kita dapat melihat sebuah kebaikan dan keburukan kita :thumbup . sukses selalu, terima kasih atas pencerahannya ini.
    Salam kenal :)

  12. tepo saliro, saling menghormati kecil besar tua muda dsb, harus dipupuk agar tidak hilang, terutama di kalangan generasi muda. Saya melihat hal tersebut sudah mulai hilang.

  13. Muhammad Arifin | Belajar Menjadi Affiliate Marketer says:

    :sip: tamparan berat bagi para master nih, nubie kadang di remehkan…

    nah nubie juga orang …butuh di hargai sebagai orang.

    sharing artikelnya mengena mas, mungkin jika nubie juga di hargai akan memacu semangat mereka…

    semangat memunculkan ide-ide baru dan bahkan bisnis-bisnis baru…

  14. Senangnya dihargai orang lain, tapi kadang kita lupa menghargai orang lain. atau sebaliknya kita menghargai orang lain tapi belum tentu dia membalas yang sama. Intinya ikhlas….. nice artikel

  15. Cara Mengobati Penyakit Asam Urat says:

    setuju mas,,semua orang ingin di hargai,,semua orang akan berusaha sebaik mungkin menjadi pribadi yang dihargai oleh orang lain,,begitupun saya,,selalu ingin dihargai dan di perhatikan,,namun terkadang untuk mencapainya sulit ya mas,,hehe..
    Cara Mengobati Penyakit Asam Urat recently posted..Obat Penyakit Maag HerbalMy Profile

Leave a Reply

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 471,855 bad guys.