Oleh : Arief Maulana

Siapa bilang beasiswa untuk mereka yang tidak mampu?

Sebelumnya mohon maaf kepada segenap pengunjung setia blog ini sudah agak lama saya tidak menghadirkan postingan baru. Sebenarnya beberapa artikel sudah siap, hanya saja cuaca buruk membuat koneksi internet sangat parah. Jadi untuk ngepost saja sulitnya setengah mati. Disamping itu, kesibukan kerja praktek juga semakin menjadi-jadi seiring tugas-tugas dari para Surveyor BKI yang dibebankan kepada saya dan teman-teman.

Untuk posting kali ini, saya ingin sekedar cuap-cuap melontarkan opini pribadi. Boleh dong, karena ini kan blog saya. Yang akan saya singgung kali ini adalah masalah beasiswa. Kebetulan beberapa hari yang lalu (senin, 2 Februari 2009), saya mengurus dan mengajukan beasiswa ke ITS. Gambling, pengen ngetes sistem seleksi beasiswa di ITS seperti apa.

Dulu kita semua tahu betul bahwa beasiswa pendidikan ditujukan untuk mereka yang menyandang status KURANG MAMPU namun menunjukkan potensi luar biasa untuk berprestasi. Artinya beasiswa benar-benar mereka butuhkan untuk membiayai pendidikan agar potensi itu tidak terbuang sia-sia. 

Ini tentu membuka kesempatan besar bagi pelajar / mahasiswa yang kondisi ekonominya kurang, untuk tetap bisa melangsungkan pendidikan dan berkembang serta sukses. Dengan demikian harapan kita adalah dia bisa memotong garis kemiskinan di keluarganya dan menjadi pilar perekonomian baru bagi keluarganya sendiri. Atau simpelnya ”memperbaiki keturunan”.

Namun, beberapa tahun terakhir saya amati (sejak pertama duduk di bangku kuliah), ada semacam perubahan pola atau tren terkait masalah beasiswa. Saat ini beasiswa bukanlah diburu karena KEBUTUHAN melainkan hanya untuk GAYA HIDUP.

Pada awal saya kuliah dulu, yang terlihat pada awalnya mereka yang mengajukan beasiswa adalah mereka yang kurang mampu namun secara akademis baik atau ada tren kenaikan prestasi akademik. Sehingga terbersit rasa malu pada saya untuk ikut mendaftar. Saya merasa buat apa mendaftar karena mereka lebih membutuhkan. Pun secara ekonomi, alhamdulillah keluarga kami sudah berkecukupan.

Namun, asumsi saya salah besar. Di kampus begitu ada pengumuman beasiswa keluar, segenap mahasiswa (80%) langsung beranjak mengurus beasiswa. Sudah tidak ada lagi kesenjangan. Mau miskin, menengah, atau kaya, yang penting diurus dulu. Siapa tahu kebagian.

Hal yang saya sebutkan di atas sebenarnya cukup membuat saya muak. Mengapa? Tidak ada kesadaran di benak mereka yang mampu secara ekonomi, bahwasanya dengan mereka ikut maka tingkat persaingan untuk memperoleh beasiswa semakin tinggi. Toh tanpa mengikuti beasiswa pun, mereka cukup mampu (minta ortu). Kalau pun mau mandiri, ya bekerja / berbisnis lah (seperti saya saat ini, hehehe…). Akibatnya kemungkinan mereka yang benar-benar membutuhkan untuk mendapatkan beasiswa semakin kecil.

Dan yang lebih memuakkan lagi dan membuat saya marah adalah, yang sering dapat beasiswa adalah mereka yang kondisi ekonominya bisa dibilang relatif baik. Ditambah lagi mereka dapatnya terus menerus. Akibatnya, penggunaan dana beasiswa tidak pada tempatnya. Bukan karena kebutuhan tapi untuk memenuhi gaya hidup mewah semata (foya-foya).

Sebagai contoh, kawan saya satu jurusan. Saya tahu betul dari bisnis yang dijalankannya, dia memiliki penghasilan 2-3 juta / bulan. Artinya, dia sudah cukup mapan lah dari segi penghasilan. Namun, gitu itu ya dia tidak pernah mundur dari perburuan beasiswa. Dan yang lebih dahsyat, anaknya selalu dapat.

Saya tidak tahu ini yang salah siapa. Apakah teman saya menggunakan trik-trik licik ataukah pihak birokrat kampus kami yang begitu bodoh dalam menyeleksi mereka yang pantas mendapatkan beasiswa.

Akhirnya begitu dana cair, tanpa pikir panjang langsung dipakai beli HP baru, tas, pakaian (yang terbilang agak ekslusif) dll yang kalau dilihat ngga ada hubungannya dengan dunia akademis. Just for have fun belaka.

Sementara disisi lain, saya melihat beberapa teman saya satu jurusan juga ngga pernah dapet beasiswa. Di setiap perburuan dia selalu gagal. Padahal saya tahu betul kondisi ekonomi mereka kurang sekali. Untuk beli komputer saja ngga mampu. Dan alasan pihak birokrasi menolak adalah mereka berasal dari daerah jakarta dan sekitarnya.

Ada asumsi bodoh bahwa daerah jakarta dan sekitarnya udah pasti kaya dan banyak duit. Apalagi mereka kuliahnya lintas provinsi jauh-jauh ke ITS. Padahal kondisi realnya justru sebaliknya.

Mereka kuliah di ITS karena dapet PMDK dari pihak sekolah. Sehingga dengan demikian mereka bisa masuk tanpa harus membayar sumbangan-sumbangan, layaknya mahasiswa reguler. Namun untuk SPP tetap harus bayar sendiri.

Teman-teman saya ini ada yang pernah sharing bahwa untuk biayanya sekolah, ada yang sampai orang tuanya kudu jual motor dan mengganti kendaraan sehari-harinya dengan angkutan umum. Andai dia dapat beasiswa, paling ngga untuk uang hidup dan biaya SPP bisa tercover.

Sayangnya impian dan angan-angan itu hanyalah mimpi belaka. Sejak semester 1 hingga saat ini, dia tidak pernah mendapat kesempatan itu hanya gara-gara ADA TEMANNYA SENDIRI YANG TIDAK TAHU DIRI, SUDAH MAMPU MASIH SAJA IKUTAN MENCARI BEASISWA.

Bagaimana dengan saya sendiri? Saya pribadi belum pernah mengajukan beasiswa. Saya berpikir, ekonomi keluarga alhamdulillah baik hingga tanpa beasiswa pun saya masih bisa sekolah walau dulu pernah terpuruk (bagaimana perubahan ekonomi keluarga saya berubah akan saya share lain waktu).

Nah, kemarin saya mengajukan hanya ingin mengetes saja. Apakah benar seleksi birokrat benar-benar payah. Kebetulan nilai-nilai kemarin cukup bagus lah. Andai benar dan kejadian goal, sudah ada niatan untuk saya alihkan ke teman saya yang kesulitan ekonomi. Andai ngga dapat ya ngga masalah. Alhamdulillah dari bisnis online, semester ini saya bisa bayar kuliah sendiri.

Sebagai penutup, saya hanya ingin berpesan kepada Anda yang saat ini mungkin masih pelajar / mahasiswa merangkap ”pemburu beasiswa”. Kalau lah Anda merasa orang tua sudah lebih dari cukup, ya ngga usah pakai ikutan dalam kompetisi. Hilangkan mental pengemis dari diri Anda. Dan untuk pihak birokrat kampus yang dipercaya untuk menjadi selektor (kali aja ada yang baca), tolong benar-benar diteliti apakah mahasiswa yang Anda pilih tersebut benar-benar kurang mampu.

Semoga curahan hati orang yang peduli ini tersiar ”ke penjuru dunia” dan menyadarkan mereka yang ngga tahu diri.

Salam Sukses,
Photobucket
space

Beasiswa, Kebutuhan Atau Gaya Hidup
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us
Tagged on:                         

47 thoughts on “Beasiswa, Kebutuhan Atau Gaya Hidup

  • :sip: APAPUN YANG TERJADI TETAP POSTING MAS.
    =================
    ORANG YANG SEPERTI ITU MENTAL BISNIS YANG MENGHALALKAN SEGALA CARA.(BERBURU BEASISWA):mataduitan:
    =================
    MAS ARIEF KAN AKTIFIS
    GIMANA KLO BIKIN PENGAWAS INDEPENDEN PEMANTAU BEASISWA
    =================

    PASTI BANYAK MANFAATNYA
    SEKEDAR SARAN

    1. @rekanbisnisku, memang akan terus posting mas, hehehe :hihi:

      Saya bukan aktivis kampus mas. Cuma seorang trainer Pelatihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa :uhuk:

      Percuma membentuk yg begituan di kampus. Ngga direken. Ujung2nya kita dibungkam dengan ancaman DO. Makanya jadi males.

      Disamping itu, aktivis kampus sekarang banyak omong kosongnya. Masih mahasiswa memperjuangkan rakyat, ketika udah lulus eh no 1 dalam menghianati rakyat (ketika duduk jadi anggota dewan).
      :waaa::wooo:

      Saya lebih suka tindakan nyata. Action membantu orang susah dengan membagikan ilmu, termasuk diantaranya lewat blog ini. :ngupil:

      Oh ya mas Dadang, maksud emailnya apa tuh? Saya belum ngeh! :puyeng:

          1. @arief maulana, Iya mas. saya lagi iseng2 memantau:clinguk2: apa yang membuat mas arief menjadi sukses.:baca:
            eh salah satunya dengan ilmu SEO nya. ga taunya, skrng SEO dibahas di blog tetangga.:hore:

            REKANBISNISKU | blog rekan bisnis:tidur:

        1. @Joko Susilo, untung ketemunya sama Mas Joko… jadinya bisa dapet banyak “beasiswa” gara-gara nerapin ilmu yg ada di SMUO:sip:

  • Halo Mas Arief, saya setuju dengan pendapat Mas. Beasiswa saat ini memang sudah mulai berubah maknanya seperti yang Mas Arief jelaskan diatas. Yang seharusnya diberikan kepada orang yang membutuhkan, justru yang terjadi malah sebaliknya.
    Kita tidak bisa merubah dunia memang. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan hal-hal kecil tetapi mengena seperti yang Mas Arief lakukan. Saya salut dengan niatan Mas Arief jika Mas mendapatkan beasiswa akan diberikan kepada yang membutuhkan. GBU.

    1. @Arswino Sonata, wanna change this world! Change your self first. Ntar tak posting deh artikel itu. Idenya udah siap kok, tinggal diolah jadi artikel aja. :sip:

      Thanx udah mampir. Salam Kenal mas

  • Hiks:hihi:
    jadi gimanaaaa gitu yang sedang on the road di jalur pendidikan.
    Btw, Jika begitu berarti telah terjadi pergeseran paradigma dalam menyikapi beasiswa.
    Intinya, saya sangat sepakat dengan idenya Mas Dadang tentang pembentukan komisi Pengawas Beasiswa di negeri ini. Jika beasiswa itu diambil dari APBN maka berarti sama saja dengan BLT, Raskin, dan Jamkesmas yang semuanya perlu pengawasan. Saya yakin jika pemerintah tahu bahwa telah terjadi salah sasaran seperti itu akan dibuat kebijakan baru tentang pengawasan beasiswa.
    Kasihan anak cucu kita nanti jika sekarang saja sudah terjadi hal yang kurang menyenangkan seperti itu.

  • wah itukan tergantung penyeleksinya rief.
    n yang ga dapet mungkin orangnya kurang usha ato kurang cari info bisa jadi memang tidak mengajukan beasiswa.
    sitem seleksi payah yang nyeleksi kan juga manusia seperti kita,yang punya kekurangan seperti kita juga.

    kemarin alhamdulillah q dapat beasiswa walaupun g seberapa tapi kubuat bantu ortu buat kebutuhan sehari2.
    padahal nilaiku ga nyampe lho syaratnya ip ku ga nyampe tapi karena mungkin adapertimbangan lain jadi kudapat beasiswa.

    n ga q pake voya2 juga, sebagian ditabung kasih ortu n lain2

    1. @adi wardana, tenang bro… ngga nyindir kamu kok.

      Makanya itu, perlu ada transparansi kriteria apa yang menjadi penilaian.

      Soalnya menurutku tetep aja ngga bisa sembarangan dalam nentuin siapa yg berhak menerima.

      Kalo emang ngga mampu pun, harus dilihat juga apakah punya potensi untuk maju atau ngga.

      Karena kalo ngga gitu, sama aja dengan “makan uang rakyat / amanah” untuk hal yang sia-sia.

      Oke!
      :uhuk:

  • Selamat berjuang mas…mendapatkan beasiswa. Saya udah lama gak mahasiswa jadi lupa deh.. Tapi yang jelas, saya dukung bagi yang otak encer namun gak mampu biaya. Semoga dapat beasiswa. sukses selalu

    1. @sumartono, saya sih percaya aja bisa dapet. Bukan beasiswa ngga mampu mas, tapi beasiswa prestasi.

      Cuma selektornya itu… tanya kenapa?

  • Sebenarnya beasiswa itu disediakan bagi mereka yang mampu atau tidak mampu ya mas arif. Apa kategori “mampu” disini apakah ekonomi, intelegensia, lobi, kemampuan berpikir, atau yang lain. Kalo saya pribadi menganggap beasiswa adalah sarana yang disediakan bagi mereka yang mempunyai kemampuan berpikir paling baik, entah dari golongan ekonomi apapun, lobi bagaimanapun, dll. Karena zaman sekarang persaingan untuk mencapai posisi No 1 yang dituntut adalah kemampuan berpikir dan kreativitas kita sebagai individu bukan latar belakang kita. Seperti contoh blog mas arif yang sukses menembus posisi no 1 keyword pake blog, nah saya rasa itu murni karena kemampuan mas arif dalam SEO, bukan latar belakang mas arif :). selamat ya mas.

    -salam kenal-

    1. @Ricky, Anda benar. Sayangnya terkadang udah latar belakang mampu, prestasi nol, eh masih dapet juga. Berturut2 lagi. Gimana tuh … :puyeng:

  • Sangat menarik mas artikelnya…

    saya sendiri juga heran.. teman saya banyak sekali yang mengajukan beaseswa.. padahal kedua orang tuanya juga pegawai negeri.. setelah beasiswa cair, langsung dibikin foya2, padahal masih banyak yang membutuhkan, gimana ini para petinggi2 kampus kita ITS ini.. ada yang ga beres rupanya…

    oh ya.. link mas udah saya pasang di blog saya http://LendraAndrian.com

    silahkan di cek.. dan saya tunggu di blognya sampean.. otrehhh..

    oh ya, habis KP dari mana ini? saya semester depan jug udah KP. masih bingun mau kemana.. kali aja ada referensi..

    tetep semangat…

    1. @Lendra Andrian, tuh bener kan. Sesama anak Kampoes Pedjoeangan pasti ngerasain atmosfer yg sama. Hehehe…

      Link udah tak pasang balik mas. Oh ya anchor textnya tolong ganti jadi “motivator muda” ya mas!

      Aku sekarang KP di Biro Klasifikasi INdonesia Surabaya. Instansi khusus untuk mengklasifikasikan kapal dengan disurvey terlebih dahulu.

  • Selalu saja ada orang-orang kotor disekitar kita. apalagi menyangkut pembiayaan/uang.

    jadi teringat waktu masih kuliah. semoga perjuangann bathinnya bisa terobati mas Arief

  • hidup berkomunitas berarti hidup berdampingan dan saling membantu. semoga Allah melimpahi hidup dan karya kita dengan berkat berlimpa dan berjuang bagi sesama yang membutuhkan bantuan.

  • wedew…ini artikel terbaik yang diposting mas arief….(versi agunawanika.com)…bener2 dari hati yang paling dalam….pure sharing…but informasinya bisa dijadikan pelajaran….keren euy…hehhehee…:sip:
    Mental Pengemis??? BABAT ABIS…!!!

    1. @Agung Jatnika, siapa bilang beasiswa mental pengemis mas… sekarang para pelajar (selain mahasiswa yang sudah tahu kebutuhan lain tentunya).. pada berlomba-lomba mendpat beasiswa dengan prestasi mereka…

      1. @madhysta, ooow… ada yg sensi neeh mas agung.. :lempar:

        gini mas, yg saya maksudkan mental pengemis adalah, mereka yg sebenarnya secara materi udah mampu, masih aja memburu beasiswa.

        Ketika seseorang itu berprestasi, okelah kita hargai. Tapi kalau memang dia secara finance mampu, bukan kah lebih baik bila kesempatan itu diberikan kepada orang lain yg juga prestasinya baik, tapi finance ngga mampu.

        Setuju? :no:

      2. @madhysta, hehehhee…bukan beasiswanya yg membuat bermental pengemis mas…coba deh baca artikelnya diresapi lagi…heehhee…seperti penjelasan dari mas arief di atas ini….peace mas…:hehe:

      1. @arief maulana, maksudnya artikel terbaik versi “dalam hati” mas..hehehe, kalo yang lain mantap2…kalo in english “best of the best”, susah ngartiinya yaa…baik dari yang terbaik gitu…hehehhhee…intinya semua artikelnya selalu menginspirasi mas…hehehhe..:sip:

    1. @Mohammad Aspuri Hz,
      Assalamu’alaikum Pak Aspuri, gimana kabar sekeluarga?

      Ngga mencoba membuat blog juga pak? Untuk media sharing pengalaman Bapak. Banyak lho peljaran yg bisa didapatkan dari pengalaman hidup Bapak. :nyembah:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 470,556 bad guys.