Oleh : Arief Maulana

Antri, Budaya Antri, Antrian
Budaya Antri

Pagi tadi dengan terpaksa, saya harus kembali ke dealer Yamaha di daerah Tiban, dekat dengan tempat dimana saya tinggal selama kerja di Batam. Ini semua lantaran kemarin pagi, ketika saya datang untuk service sepeda motor tidak kebagian nomor antrian. Selain karena hanya buka setengah hari, kemarin mekanik bengkelnya juga tidak dalam formasi yang lengkap.

Jadi ceritanya begini :

Kemarin pagi, saya datang agak pagi (sekitar jam 8) ke dealer sepeda motor ini dengan harapan mendapatkan nomor antrian yang tidak terlalu jauh. Bahkan kalau beruntung, mungkin jadi yang pertama datang karena pagi. Namun apa dikata, setibanya saya disana ternyata sudah ada 10 orang yang datang lebih dahulu. Ya mau apa lagi, terpaksa nanti ketika rooling door dibuka dan nomor antrian dibagikan, saya terpaksa mengakui mendapat urutan ke-11. Dan setelah kedatangan saya, masih bertambah lagi sekitar 5 orang baru lagi.

Tidak selang berapa lama, datang lah yang punya dealer. Membuka pintu dan melanjutkannya dengan kegiatan menata sepeda motor baru di bagian bengkel keluar agar spacenya agak lapang dan nyaman bagi mekanik bengkelnya untuk bekerja.

Sebagaimana biasa, nomor antrian sebenarnya sudah disiapkan dari hari sebelumnya dan hanya ditaruh begitu saja di atas etalase bagian resepsionisnya. Ini memang “fasilitas” yang diberikan oleh pemilik dealer bagi mereka yang datang pagi, agar sesuai dengan urutan, nanti ketika pelayanan diberikan.

Dan terjadilah “insiden kampungan” itu.

Setelah rooling door dibuka, tiba-tiba seluruh orang yang ada disana berlari, rebutan dan saling tarik-menarik untuk mengambil kertas nomer antrian.

“Oh my God…, ini orang-orang norak dan kampungan sekali. Apa tidak pernah diajarkan budaya antri?” tanya saya dalam hati, melihat kelakukan orang-orang yang norak dan kampungan tersebut.

Antrian, Antri, Budaya Antri
Rebutan Antrian

Awalnya saya biasa saja, mengingat saya memang datang urutan ke-11. Apalagi ketika kepala mekanik mengatakan bahwa kemarin hanya bisa melayani 10 sepeda motor saja dengan alasan keterbatasan SDM dan jam kerja yang hanya setengah hari. Tidak jadi soal, memang saya tidak kebagian.

Namun, yang membuat saya marah adalah tidak jauh dari tempat saya berdiri ada seorang bapak tua, yang ternyata dia sudah lama antri (dari jam 7 pagi) dan datang pertama kali, ternyata malah tidak kebagian nomor antrian sama sekali. Di sisi lain, saya lihat mereka yang mendapatkan nomor antrian beberapa diantaranya adalah orang-orang yang bahkan baru datang setelah saya. Padahal bapak tua ini, tidak punya waktu lagi untuk menyervis sepeda motornya selain hari ini (kemarin). Dan ironisnya, tidak ada satu pun yang mau mengalah pada bapak tua ini, meskipun dia datang pertama.

Urusan antrian ini, memang sudah menjadi penyakit lama bangsa Indonesia. Lihat saja, dimana ada antrian, kalau petugasnya tidak tegas pasti akan ada jalur antrian baru atau ada yang menyerobot dengan jalan membuyarkan antrian jadi serabutan tidak karuan. Kondisi ini diperparah juga kadang dengan petugas yang tidak mau tahu dan tetap melayani saja mereka yang menyerobot antrian. Hingga pada akhirnya, menyerobot antrian sudah jadi hal yang dimaklumi.

Buat mereka, ini mungkin hanya persoalan tentang antrian. Namun bagi saya, ini lebih dari itu. Budaya antri sebenarnya bukan lah hal yang besar, namun disini ada beberapa nilai yang tersirat di dalamnya :

DISIPLIN – Ini yang utama. Budaya antri membiasakan kita untuk disiplin sebenarnya. Kalau mau dilayani pertama, ya datanglah terlebih dahulu. Disiplinkan diri untuk bangun lebih pagi, berangkat lebih pagi, hingga mendapatkan nomer antrian yang pertama. Bukan malah datang seenaknya kemudian menyerobot antrian.

Etika, ethics
Etika, Prinsip Moral

ETIKA – Menyerobot antrian, sama halnya dengan menunjukkan kepada orang lain bahwa kita tidak punya etika. Bangsa bar-bar yang tahunya hanya main gubrak sana gubrak sini, serobot sana serobot sini. Kampungan! Bahkan mungkin lebih parah dari orang kampung yang mengerti etika kesopanan dengan mendahulukan yang datang duluan.

CURANG – Apa bedanya para penyerobot antrian dengan orang yang suka bermain curang dengan melanggar aturan? Tidak ada bedanya.

TIDAK TAHU MALU – Mungkin hukuman paling pas untuk para penyerobot antrian adalah ditelanjangi di depan umum. Toh, mereka juga sudah tidak punya rasa malu lagi saat menyerobot antrian. Kalau perlu difoto wajahnya, dan dipajang dengan tulisan besar “Awas, Penyerobot Antrian Yang Tidak Tahu Malu!”.

MERUGIKAN ORANG LAIN – Tidak ada orang yang senang dirugikan. Pun orang-orang yang disalip antriannya, mereka termasuk orang-orang yang dirugikan. Mereka yang berusaha hadir lebih dahulu, akhirnya malah dapat urutan buncit, atau malah tidak dapat sama sekali. Apalagi kalau bukan dirugikan namanya.

Maka tidak heran kalau bangsa ini jadi tidak maju, kalau mental-mental masyarakatnya sudah begini. Bagaimana diajak berpikir visioner, kalau masalah budaya antri saja masih jadi masalah yang tidak selesai-selesai.

Tapi mau bagaimana lagi, inilah bangsa kita. Di negara ini lah kita tinggal dan hanya bisa mengelus dada. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah mendisiplinkan diri dan membudayakan tertib antri pada diri kita sendiri. Tunjukan bahwa kita bermartabat, berkarakter, dan punya etika yang baik.

Hayo, Anda termasuk yang suka menyerobot antrian juga?

Antri Saja Tidak Bisa, Bagaimana Mau Maju?
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube
Contact us
Tagged on:             

7 thoughts on “Antri Saja Tidak Bisa, Bagaimana Mau Maju?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
Please leave these two fields as-is:

Protected by Invisible Defender. Showed 403 to 470,556 bad guys.