Selingkuh, Iseng-Iseng “Berhadiah”

Oleh : Arief Maulana

Disclaimer dulu… tulisan ini dibuat bukan karena saya pernah diselingkuhi atau berselingkuh. Namun demikian, saya kerapkali dapat banyak curhatan dari para korban yang diselingkuhi ataupun memergok sendiri teman yang berselingkuh (padahal nampaknya baik dan setia).

Selingkuh… paling mudah menggambarkannya adalah iseng-iseng “berhadiah”. Awalnya iseng dan main-main eh keterusan enaknya. Hadiahnya? Macam-macam. Mulai dari hubungan yang rusak, menyakiti korban yang diselingkuhi, ketagihan selingkuh, dan masih banyak lagi hadiah merugikan lainnya.

Awalnya Sederhana…

Continue reading

Salah Satu Cara “Membunuh” Anak Di Usia Muda

Oleh : Arief Maulana

Sudah dua tahun lebih, saya tinggal di Kota Batam. Kota yang menurut saya cukup nyaman untuk ditempati di usia produktif. Kotanya tidak terlalu padat. Jalanan lebih sering lapang daripada macet. Kalau pun ada macet, tidak lebih karena ada kendaraan mogok atau kecelakaan biasanya.

Tapi jangan salah, begini-begini fasilitas di Pulau Batam lumayan lengkap. Mall ada, bioskop ada, tempat karaoke banyak, dan segudang fasilitas hiburan lainnya. Kalau masih merasa kurang, ya tinggal nyebrang ke Singapore yang konon biaya transportasinya PP dari Batam hanya +/- Rp.300.000,- saja.

Hanya satu yang saya tidak suka di Batam. Orang tua di sini suka sekali “membunuh” anak-anaknya di usia muda. Bagaimana bisa? Continue reading

Cepat Punya Anak Atau Menunda Punya Anak?

Oleh : Arief Maulana

Kemarin sore, kawan saya yang baru saja punya anak, mengirimkan pesan kepada saya. Menanyakan apakah program diet “Sarapan 3 Menit”, bisa dan aman dilakukan oleh Ibu menyusui. Dari sana, obrolan kami via chatting messenger pun berlanjut tentang masalah cepat atau menunda punya anak.

Teman saya ini baru punya anak setelah 5 tahun usia pernikahan mereka. Saya tanya apakah mereka memang selama itu belum diberi anak atau kah memang ada program menunda punya anak. Ternyata kawan saya ini memang memutuskan untuk tidak langsung punya anak alias menunda program punya anak.

Diskusi kami pun mengalir lebih dalam lagi. Saya dan kawan ini rupanya punya kesamaan tentang prinsip kenapa kami masing-masing akhirnya memutuskan untuk tidak buru-buru punya anak.

Oh ya, maaf sebelumnya, apabila ada pembaca yang mungkin sudah lama mengidamkan anak namun belum diberi juga. Tulisan ini adalah murni opini saya pribadi dan setiap pasangan saya yakin punya pertimbangan atas pilihannya, apakah mau cepat-cepat punya anak atau menunda punya anak.

Kembali lagi ke topik. Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi berbagai alasan yang melatarbelakangi saya dan istri memutuskan untuk menunda punya anak di usia pernikahan yang terbilang masih terlalu muda. Termasuk hasil diskusi dengan kawan saya tadi dan juga hasil curahan para istri rekan-rekan kerja saya melalui istri saya. Ini dia beberapa alasan yang menjadi pertimbangan kami menunda :   Continue reading

Kelas Menengah “Ngehe” dan Semua Gaya Hidupnya

Oleh : Arief Maulana

Beberapa waktu yang lalu kawan saya di dunia maya, Vladd Voltaire, berbagi sedikit tentang gaya hidup masyarakat miskin yang cenderung lebih boros daripada orang yang kaya (silahkan baca di sini) Menarik. Mengingatkan saya pada sebuah pernyataan yang pernah saya baca di buku.

“Banyak orang dewasa membelanjakan uangnya tidak jauh berbeda dengan cara anak kecil membelanjakan uangnya.”

Jangan tersinggung. Tapi coba amati bagaimana Anda menghabiskan gaji atau pendapatan Anda setiap bulannya. Kalau setelah menerima gaji, Anda lantas menghabiskannya untuk belanja ini itu, apa bedanya dengan anak kecil yang setelah menerima uang saku dari ortunya kemudian menghabiskan uangnya begitu saja?

Jadi jangan heran saat pendapatan Anda naik, Anda akan tetap merasa kurang kurang dan selalu kekurangan.

Satu yang sering saya amati selama ini adalah ketika pendapatan kita bertambah, naik gaji misalnya, cenderung yang dilakukan adalah menambah liabilitas (baca aset vs liabilitas di sini) . Hal-hal yang justru malah menguras keuangan kita. Contoh :    Continue reading

Farm Ville 2, Cara Asyik Belajar Tentang Hidup

Oleh : Arief Maulana

Anda suka bermain game? Kalau iya, berarti kita sama. Hanya saja, saya lebih suka game-game ringan yang bisa dimainkan di waktu senggang dan dimana pun saya berada. Biasanya sih game-game yang ada di tablet.

Belakangan ini saya sedang menggandrungi game yang cukup menyenangkan. Namanya Farm Ville 2. Dari namanya saja, sudah ketahuan kalau inti permainan ini adalah tentang mengembangkan pertanian dengan gaya kita sendiri. Tapi tidak hanya itu. Semakin berkembang permainannya, ternyata tidak hanya hasil pertanian yang kita produksi. Melebarnya bisa kemana-mana, mulai dari industri tekstil, industri kemasan (botol, toples, dll), kerajinan tangan, dll. Namun semuanya dibuat saling berhubungan.

Farm Ville 2

Farm Ville 2 – Ini desa saya :D

Awalnya mungkin bingung memainkan game ini. Tapi, tenang… akan ada sosok karakter wanita koboi dalam game itu yang memandu Anda bagaimana memainkannya. Pelan tapi pasti Anda akan mengerti seluk beluk Farm Ville 2, bahkan mungkin memiliki strategi tertentu untuk pencapaian hasil yang maksimal.

Terlepas dari itu semua, saya mendapati ada beberapa pelajaran kehidupan yang bisa dipetik dari permainan Farm Ville 2 ini. Saya coba uraikan satu-persatu di bawah ini :  Continue reading

Selamat Idul Fitri 1435 H, Mohon Maaf Lahir Dan Batin

Ramadan telah usai, maka perkenankan saya mengucapkan…

Selamat hari raya Idul Fitri 1435 H, mohon maaf lahir dan batin. Semoga semua amal ibadah kita selama sebulan penuh di Bulan Ramadan kemarin diterima oleh Allah S.W.T, aamiin…

Bagaimana kabar Anda semua? Semoga senantiasa sehat dan dimudahkan semua urusan. Dan bagaimana juga berkah di Bulan Ramadan kemarin, kecipratan juga? Atau hanya sekedar lewat begitu saja sebagaimana 11 bulan sebelumnya dan tidak ada yang spesial. Semoga tidak begitu, ya.

Alhamdulillah Ramadan yang lalu saya dan istri merasa diberi nikmat dan berkah yang banyak oleh Allah. Yang pertama tentu saja nikmat sehat. Ini tentunya menjadi bekal utama untuk memaksimalkan ibadah kami berdua. Malah rasanya semakin sehat. Apalagi saya yang notabene aktivitas kerja tidak hanya di dalam ruangan saja, melainkan di lapangan juga.

Berkah kedua yang kami rasakan adalah pada saat berbuka puasa. Alhamdulillah tahun ini acara buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh rekan-rekan kantor secara bergiliran, sudah banyak yang melibatkan keluarga. Tidak seperti tahun lalu, yang kebanyakan hanya untuk kalangan karyawan kantor semata. Tentunya ini adalah berkah untuk istri saya. Bila tahun lalu istri lebih sering berbuka puasa sendiri di rumah (lantaran undangan bukber hanya untuk karyawan), maka tahun ini kami sekeluarga banyak berkumpul bersama keluarga karyawan yang lainnya.

Adapun berkah ketiga yang kami dapatkan adalah dibukanya pintu rezeki seluas-luasnya oleh Allah S.W.T. Bagaimana tidak, yang tadinya tabungan untuk pendaftaran haji yang masih jauh dari cukup, ternyata di selepas Bulan Ramadan kemarin tahu-tahu sudah hampir cukup. Tinggal sedikit saja. Mohon doanya juga dari rekan-rekan, agar kami berdua bisa menutup seluruh biaya pendaftaran haji tahu ini, aamiin…

Efek lainnya adalah dengan berkah yang melimpah, kami berdua jadi bisa lebih banyak berbagi lagi dengan saudara-saudara yang membutuhkan. Baik itu saudara-saudara yang ada di sekitar tempat tinggal kami, maupun yang jauh dari kami. Senang rasanya bisa banyak berbagi.

Intinya Ramadan tahun ini, berkah yang kami terima begitu melimpah lebih daripada Ramadan tahun yang lalu. Semoga kita semua bisa dipertemukan kembali dengan Ramadan tahun depan. Bagaimana dengan Anda, merasakan juga berkah Ramadan tahun ini?

Advertisement

Daftarkan diri Anda di newsletter saya secaca GRATIS & saya akan berikan informasi yang akan membantu bisnis pertama Anda, mulai dari sekarang.

First name

E-mail address

Privasi Anda sangat penting buat saya & Anda boleh mengundurkan diri setiap saa.t

Kategori Tulisan

Arsip