Oleh : Arief Maulana

Logika Cinta
Kalau ada waktu paling berkualitas untuk membicarakan hal-hal yang sifatnya mendalam berdua bersama istri, biasanya kami lakukan justru di tengah malam menjelang tidur. Saat cahaya begitu temaram, suasana yang hening, dan gadget tak lagi berada pada genggaman masing-masing. Ya maklum lah, kami berdua sama-sama social media addict dan bertemu juga gara-gara social media.
Iseng sebuah pertanyaan saya luncurkan kepada istri saya, perihal kriteria apa saja yang membuat ia akhirnya menerima pinangan saya dan jadilah kami seperti saat ini, sudah menikah. Dalam hening istri saya pun mulai bercerita banyak, menjawab sebuah pertanyaan saya. Membangun kedekatan emosi yang lebih dalam lagi.
“Bapak pernah bilang ke aku, kalau memilih pasangan itu ngga cukup pake mata dan hati (cinta). Tapi juga logika.”
Read more »
Oleh : Arief Maulana

Berhenti Menyalahkan Keadaan
Ditemani secangkir cappuccino, saya menikmati sebuah sore yang tenang di Kota Batam ini. Well, tidak terasa sudah satu tahun saya tinggal di kota ini. Tidak banyak yang berubah, kecuali diri saya sendiri. Entah itu secara pekerjaan, maupun secara status. Yeap, setidaknya sekarang saya sudah tidak sendiri lagi di “negeri” orang. Sudah ada yang menemani.
Terus terang saat ini saya sedang berada pada masa-masa yang tidak menentu. Menunggu kepastian SK Pengangkatan maupun penempatan lokasi kerja selanjutnya, apakah tetap di Batam atau nantinya akan pindah ke suatu tempat yang entah berada dimana. Yang jelas, sejak pernyataan hitam di atas putih saya tanda tangani, bersama dengan itu lah saya menyetujui dan siap ditempatkan dimana saja nantinya sebagai bentuk loyalitas dan profesionalisme kepada perusahaan. Sungguh kehidupan yang dinamis.
Dalam kurun waktu setahun, satu pelajaran penting yang saya dapatkan, tentang hidup yang selalu dinamis dan berubah-ubah dan bagaimana kita menyikapinya. Keadaan sudah berbeda. Dulu saya masih sendiri. Tidak ada beban pikiran apapun. Pindah, ya tinggal pindah. Just pack my stuff and bring to the next destination. Tapi sekarang tidak bisa begitu. Ada tanggung jawab baru yang saya emban, yakni keluarga kecil saya.
Read more »
Oleh : Arief Maulana
Ada adat jawa yang mengatakan bahwasanya pengantin baru seharusnya tinggal di rumah ortu pihak wanita, minimal seminggu. Sayangnya berhubung saya jawanya cuma numpang lahir, ngga jawa-jawa banget, ya adat tinggal lah adat. Malah saya maunya H+3 setelah menikah malah sudah balik ke Sidoarjo. Ternyata Allah berkata laen. Ada saja urusan yang membuat saya tetap tinggal di rumah mertua, di Malang sampai seminggu.
Namun, lewat momen itu pula saya jadi belajar tentang bagaimana bapak mertua yang sekarang sudah berusia 74 tahun ini kokoh memegang prinsip dalam menjalani kehidupan. Terdengar sok dan terlalu idealis mungkin, tapi memang benar itu adanya. Apalagi dengan karakter bapak yang sungguh keras, meski bisa saya “taklukkan” juga hingga akhirnya bisa menikahi anaknya. :p
Saya belajar tentang 3 prinsip hidup yang dipegang oleh bapak selama ini. Karena bagus, maka saya share disini agar bermanfaat bagi kita semua. Ini dia 3 prinsip hidup tersebut :
Read more »
Oleh : Arief Maulana

Kedamaian Batin
Sore ini saya menghabiskan waktu untuk menonton sebuah film kartun lucu yang cukup menghibur. Mungkin Anda semua sudah pernah menontonnya, Kungfu Panda 2. Mengisahkan tentang perjalanan Po, si panda lucu yang mendapatkan gelar kesatria naga dan juga Furious Five dalam membasmi Lord Shen.
Bukan isi filmnya yang akan saya bahas disini, melainkan sebuah nilai dan pesan yang disampaikan oleh Master Shifu, guru Po dan kawan-kawan Furious Fivenya. Inti pesannya adalah untuk memaksimalkan kungfu yang dimiliki, setiap master harus menemukan kedamaian batin di dalam dirinya, apapun caranya. Bisa melalui meditasi atau mengalami satu fase menedihkan dan menyiksa dalam kehidupannya.
Read more »
Oleh : Arief Maulana

Rezeki
Sering ngga, Anda melihat ada rekan kerja Anda di kantor yang suka gelisah melihat temannya dapet insentif tambahan atau bonus atas prestasi pekerjaan tertentu? Atau jangan-jangan Anda sendiri juga seperti itu. Merasa panas melihat orang lain selalu berkelimpahan tambahan rezeki, sementara Anda gitu-gitu aja. Dan terus berandai-andai, “Andai saya seperti dia…”
Itu berarti belum sepenuhnya memahami konsep bahwasanya masing-masing orang sudah ada rezekinya dan rezeki tidak pernah salah alamat. Tidak tanggung-tanggung, rezeki ini sudah diberikan semenjak kita baru lahir. Hanya saja tentu tidak langsung, melainkan melalui perantara orang tua.
Read more »